6- One Fine Day

981 Words
Dengan cepat Keyra langsung memakai masker yang biasa ia bawa lalu melepas name tag di  sebagai topeng agar wajahnya tak dikenali oleh Rayhan. "Keyyy!" panik Gilang. Keyra menoleh dan mendapati wajah melas Gilang yang bercucuran keringat. "Eh lo kenapa?!" tanya nya yang tak kalah panik. "Aduh! Lo ngapain sih pake masker segala!" protes Gilang. Keyra memutar bola matanya malas. "To the point aja bisa ga sih!" geram Keyra. "Anterin makanan ke nomor 47 dong! Gue lagi ada panggilan alam nih!" tanpa menunggu persetujuan Keyra ia langsung berlari menuju toilet. "Udah gue bilang jangan makan pedes ngeyel banget bocah nya hiiiiihhh" kesalnya. Keyra membawa nampan yang berisi makanan dan minuman dengan malas. Sepasang matanya menelusuri letak meja bernomor 47 secara teliti. Ia terkejut bahwa meja yang ia tuju adalah tempat dimana Rayhan dkk duduki. Dengan langkah slow motion Keyra menghampiri meja bernomor 47. Sesampainya ia di meja Rayhan dkk Keyra langsung meletakan nampan tersebut tanpa mengucapkan 'permisi'. Ia membungkukkan badan nya lalu segera pergi dari meja Rayhan dkk. Usahanya untuk menghindar dari Rayhan gagal saat pergelangan tangannya dicekal oleh orang yang sangat ia hindari sekarang. Keyra menoleh sambil menunduk. "Mba nasi gorengnya satu lagi ya" pesan Rayhan. Fyuhh. "Untung nih jantung ga pindah ke usus 12 jari" batin Keyra. Ia mengangguk lalu benar benar meninggalkan meja Rayhan dkk. "Aneh banget sih!" ceplos Arul dan langsung mendapatkan jitakan keras dari Juna. "Lemes banget mulut lo!" "Njingg! Gausah jitak juga sat! Lagian juga dari banyak pelayan disini dia doang yang penampilan nya aneh mana kaga ngomong sama sekali!" kesal Arul. "Mon maap nih kita kesini kan gara gara elu tong". Arul menyengir tanpa dosa. Bukan hanya Arul yang merasa aneh bahkan Rayhan pun menyadari sebuah kejanggalan saat dirinya menyentuh tangan mungil milik Keyra. "Ngerasain aneh juga?" tanya Arul. Rayhan mengangguk. "Tuhkan!" "Apaan lagi sih! Daritadi gue pengen makan ada aja halangan nya!" kesal Juna. Arul terkekeh. "Btw ada bisikan setan mana lo tiba tiba nembak si Keyra?" tanya Juna • • • • "Langsung balik jangan keluyuran!" peringat Gilang. Keyra memutar bola matanya jengah. "Iye makkkk!" jawabnya lalu menyalimi tangan Gilang layaknya seorang anak yang meminta izin untuk pergi bermain. Sambil mengayuh sepeda nya Keyra tersenyum, ia merasa beruntung karena Tuhan mempertemukannya dengan seorang Gilang sebagai pengganti sang ayah sekaligus sang ibu yang selalu ada disisinya baik dititik terang maupun titik terendahnya. Begitupun sebaliknya. • • • • "Ini rumah apa arena dunia lain sih hihhh merindingg gue!" gumam Keyra setelah membuka pintu rumahnya. Pencahayaan yang minim, dinginnya penyejuk ruangan juga lantunan sinden membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri serentak. Dengan keberanian penuh Keyra menekan saklar lampu. Ia terperanjat saat pandangan nya langsung dihadapkan dengan sang mama yang sedang memakai masker wajah sambil bersantai di atas sofa tak lupa dua potong timun yang menutupi kedua matanya. "Astagfirullah! Hampir aja gue teriak setan!" katanya sambil mengelus dadanya. Keyra menghampiri Hana yang masih tetap pada posisinya. "Mah?" panggil Keyra. Tak ada jawaban. Ia menyenggol pelan lengan Hana. Bukan nya membuat Hana bangun dari alam mimpinya Keyra malah menjatuhkan sebuah bingkai kecil dari tangan Hana. Bingkai tersebut jatuh dengan keadaan terbalik yang memperlihatkan sebuah foto keluarga nya dulu lengkap dengan"Ini rumah apa arena dunia lain sih hihhh merindingg gue!" gumam Keyra setelah membuka pintu rumahnya. Pencahayaan yang minim, dinginnya penyejuk ruangan juga lantunan sinden membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri serentak. Dengan keberanian penuh Keyra menekan saklar lampu. Ia terperanjat saat pandangan nya langsung dihadapkan dengan sang mama yang sedang memakai masker wajah sambil bersantai di atas sofa tak lupa dua potong timun yang menutupi kedua matanya.  "Astagfirullah! Hampir aja gue teriak setan!" katanya sambil mengelus dadanya. Keyra menghampiri Hana yang masih tetap pada posisinya. "Mah?" panggil Keyra. Tak ada jawaban. Ia menyenggol pelan lengan Hana. Bukan nya membuat Hana bangun dari alam mimpinya Keyra malah menjatuhkan sebuah pigura kecil dari pelukan Hana. Pigura tersebut jatuh dengan keadaan terbalik yang memperlihatkan sebuah foto keluarga harmonis nya dulu saat masih bersama Raidan dan Rama.  Keyra tersenyum haru, dibalik tegas dan keras seorang Hana setidaknya ia masih menyayangi keluarganya termasuk dirinya. Keyra meletakkan bingkai tersebut ke atas meja lalu mendekatkan wajanya tepat di telinga Hana. "Lala janji Lala bakal banggain mamah dan buat mamah sayang lagi sama Lala tanpa harus diem diem kayak gini lagi. I still love you mah" bisiknya. Dengan perlahan ia melepas masker serta timun dari wajah Hana dan membuangnya ke tong sampah berukuran kecil di samping sofa. Keyra beranjak dari duduknya dan berniat mengambil selimut dikamarnya untuk menyelimuti tubuh Hana.  "Mamah juga sayang sama kamu La" gumam Hana.  • • • • "Ck! Si Naya kalo mau curhat emang suka ga kenal waktu!". Dengan malas ia menangkat panggilan dari ponsel nya yang sedari tadi berdering. "Besok aja gue mau tidur!" niatnya untuk memutuskan panggilan terhenti saat ia mendengar suara bariton yang sangat ia rindukan sejak lama. "Halo apa benar saya berbicara dengan tuan putri Lala?" Keyra memastikan dugaannya dengan melihat nama si pemanggil. "PAPAH?!" Rama terkekeh. Gadis kecilnya masih belum berubah. Pendengarannya seakan menjadi tuli setiap Keyra menggunakan nada tingginya. "Papah ganggu kamu ya?" tanya Rama. "Dikit" jujur Keyra. "Lagian papah lupa ya kalo kita beda negara ya pasti beda waktu dong!" protesnya. "Iya deh papah salah maafin ya? Ini juga papah baru istirahat mangkanya bisa nelfon kamu"  emosi Keyra langsung menghilang mendengar penjelasan dari Rama. "Yaudah Lala maafin! Tapi inget! Papa jaga kesehatan! Kalo udah capek istirahat dulu!" tegas Keyra. Rama terbahak. "Anak siapa sih kok cerewet banget!" gemasnya. Keyra menggembungkan pipinya. "Gatau nih anak siapa ya kira kira?" sindir Keyra. "Utuk utuk masa gitu aja ngambek sihh" goda Rama. "Lagi kangen malah diledekin ngajak brantem?!" tantang Keyra.  "Uuuuu galak amat neng" ledek Rama. "Eh udah dulu ya telfon nya papah masih ada berkas yang harus diurus nih. Abis ini kamu langsung tidur jangan main hp mulu jaga kesehatan juga!" lanjutnya. Keyra memutar bola matanya malas. "Ih padahal Lala masih kangen loh sama papah tapi yauda lah nelfon sama papah itu bawaannya pengen meluk teruss." geram Keyra. Sungguh, Rama juga ingin secepatnya kembali ke tanah air dan menemui keluarganya. Namun urusan pekerjaan nya membuat ia tak bisa bergerak. "We will meet soon. I promise"  • • • • "Pokoknya besok gue bakal buktiin kalo dugaan gue ga salah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD