✍ PART 11 :| Special Cuisine by a Wicked Chef — Masakan Spesial ala Koki Jahat

1629 Words
◦•●◉✿❁ 2006 ❁✿◉●•◦  ⠀ ✒️ ❝ Ada rasa dalam setiap masakan.  Bukan hanya rasa yang bisa dilacak dengan lidah.  Bukan sekedar enak atau tidaknya.  Bukan pula tentang tampilannya.  Tapi tentang, bagaimana seorang chef memasak dari hati.  Hanya masakan dari hati yang menyentuh ke hati. ❞  ⠀ { Notes 12 - Wim — Cooking with you (Memasak denganmu) } ✒️  ⠀ ⠀ NGIIIIIIIING ….  Bunyi ketel pemasak air sudah sejak tadi melengking. Tutup tekonya sudah terbuka dan terkatup sendiri berkali-kali.  Ck! Kenapa bisa ia melamun, Wim membatin. Ia mengusap keringat di dahinya dengan tissue, lalu segera mematikan kompor gas dengan tangan kirinya. Sementara itu tangan kanan Wim sibuk mengaduk nasi goreng.  Wim sudah menyediakan gelas berisi bubuk vanilla latte untuknya dan s**u cokelat untuk Selva. Sayangnya harus menunggu diseduh dulu, karena air galon dispenser Selva ternyata sudah habis. Jadi Wim terpaksa memasak air dulu.  Bahan-bahan lain, telur mata sapi, irisan sosis dan nugget, sudah sejak tadi terhidang di meja makan. Kerupuk juga sudah di goreng.  Hmmm ... yummy ...!  Wim menghirup aroma nasi goreng yang sudah matang. Wanginya ...! Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Ia menjilat bibirnya. Air liurnya berasa ingin menetes. Wim mengambil piring sosis dan nugget yang sudah dimasak dan iris tadi, kemudian mencampurnya ke dalam nasi goreng.  Sekarang tinggal menyalin nasi goreng ke piring. Atau mungkin, bisa ditambahkan tomat dan timun karena tadi Wim sempat melihat ada timun di kulkas. Matanya luar biasa jeli kalau menyangkut makanan.   Ia mengambil piring di rak bersamaan dengan kemunculan Selva di dapur.  ⠀ “Hai …. Satu jam kurang lima belas menit. Cukup cepat,” sapanya seraya mengedip pada Selva.  Selva berpikir, itu sindiran atau memang benar-benar pujian? Baginya memang kali ini adalah rekor mandi tercepat kalau sedang libur.  “Ada yang bisa aku bantu?” Selva mengabaikan kata-kata tadi.  “Ada, kalau kamu bisa masak rendang, silahkan. Aku suka sekali makan rendang.”  “Hah ...?” Selva melongo.  Wim menoleh padanya dengan senyum jail. “Cuma bercanda. Aku tahu kamu nggak mungkin bisa masak.”  Selva melotot sebal. Dikatakan tidak mungkin bisa masak membuat harga dirinya seperti keset. Serasa diinjak-injak! Ngomongnya jujur banget lagi! Biasanya, 'kan, cowok suka ngomong bohong buat nyenengin cewek. Yang nggak enak pun bisa dibilang enak .... Huh!  Sayangnya Selva tidak tahu kalau Wim bukan cewek yang suka nyenengin cewek.  “Aku bisa masak, 'kok!” bantahnya sengit.  Wim mengalihkan perhatian dari timun yang akan dikupasnya. Mengangkat sebelah alisnya.  “Kalau gitu kamu bisa tolong bukain timun ini buat pelengkap nasi goreng kita?” ujarnya menantang.  Tanpa komentar Selva langsung merebut pisau di tangan Wim. Dengan hati panas karena merasa diremehkan, apalagi tatapan Wim yang terlihat menyangsikan seperti sekarang ini, membuat semangat memasak Selva berkobar-kobar.  Panas! Dan makin panas karena ditambahi tingkah Wim yang bersiul-siul melantunkan lagu ‘Cicak-cicak di Dinding’ versi Arab dengan senyum terkulum.  Selva melirik keki. Kembali mengiris timun dengan konsentrasi penuh. Membuat seulas senyum yang sejak tadi ditahan Wim lepas seketika.  Selva menoleh. “Apanya yang lucu?!”  “Kamu sedang mengiris timun atau lagi mencincang daging, sih? Udah kayak kepingan apa, nih ...?” Wim mencomot timun dari papan tilesan. Memperhatikannya dengan saksama dengan bibir menekuk ke bawah. Lalu melahap timun yang ada di tangannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Selva semakin cemberut.  “Sekarang jadi pemarah, ya?” ujar Wim terkekeh lagi. Masih dengan senyum jahil.  “Habis, kamu pikir aku nggak bisa masak apa!”  Wim mengangkat alisnya.  “Tuh! Nggak percaya! Oke! Besok aku akan bikin masakan, kamu harus cobain!”  Wim mengangguk-angguk, sambil beranjak menaruh piring ke meja makan. Sekalian berdoa, semoga setelah ia mencicipi masakan Selva besok, Tuhan masih berbaik hati memberi perpanjangan umur, karena selama ini Wim sadar, belom sempat bertobat.  Selva kesal. Timunnya dicincang lebih tipis dan … berkeping-keping ….  Namun ….  “AUCH ...!!!”  Wim yang sedang membuka tudung makanan terperanjat kaget. Setengah berlari, ia menghampiri Selva.  “Tuh, 'kan. Tangan kamu jadi luka.”  Ia menyeret Selva duduk di meja makan.  “I'm really sorry (Aku nyesel banget). Seharusnya aku nggak nyuruh kamu ngupas timun,” ucapnya merasa bersalah seraya memegang jari Selva. “Angkat ke atas seperti ini," tambah Wim lagi sambil mengarahkan telunjuk Selva agar tetap mengacung ke atas. "Kotak P3K di mana?”  “Di sana,” tunjuk Selva pada lemari di samping bufet. Ia meringis menatap jarinya yang mulai meneteskan darah.  “Tunggu, ya,” kata Wim seraya berlari mencari obat.  Selva mengamati tangannya yang berdarah. Rasanya panas. Mungkin awalnya tidak terasa sakit. Tapi sekarang, sungguh mengiris.  Wim datang dengan membawa kapas, dan perban. Lalu sebuah kotak di tangannya yang lain. Ia menuang air hangat dari ketel ke dalam wadah, kemudian menaruhnya di hadapan Selva.  “Seharusnya kamu lebih hati-hati,” ujarnya seraya membasuh luka di tangan Selva. “Untung lukanya nggak terlalu besar.”  “Sakit banget.” Selva merajuk.  “Tahan, ya.”  “Itu obat apa?” tanya Selva ketika Wim mau mengoleskan obat yang kelihatannya tidak berasal dari kotak P3K-nya.  “Obat paten. Nggak sakit, kok. Wangi lagi,” ujarnya seraya menyodorkan obat itu ke hidung Selva. Putih. Seperti salep.  “Ini salep?”  “Bukan. Ini obat yang aku pakai waktu jariku luka habis mengiris kentang. Nggak tanggung-tanggung, telunjukku jadi tumpul. Lihat nih, bekasnya,” ujarnya seraya memperlihatkan telunjuknya. “Masih ada sedikit lingkaran putih di ujungnya, 'kan?”  Selva mengangguk. Sebenarnya ia tidak melihat luka Wim. Hanya membandingkan, jarinya lebih mungil ketimbang jari Wim.  “Obat ini khasiatnya banyak. Asalnya dari dua macam produk. Dicampur jadi satu. Mahal, sih. Sampai ratusan ribu. Kotak kecil pula. Tapi, bener-bener manjur. Nggak cuma buat luka. Jerawat bandel, juga bisa hilang.”  Promosi rupanya, pikir Selva geli.  “Aduh …,” Selva meringis saat Wim mengoleskan obat itu ke lukanya.  Wim meniup-niupnya agar rasa sakitnya tidak terlalu kentara. Lalu membalut dengan perban.  Sepanjang masa pengobatan — atau mungkin Selva lebih setuju menggunakan ‘sesingkat masa pengobatan’ — Selva terus menerus menatap wajah Wim. Matanya yang seperti elang. Irish amber yang menawan. Hei … bulu matanya lentik banget! Kayak cewek. Hidung Wim mancung dan lurus. Alisnya keren. Bibir juga tipis. Napasnya wangi, kayak wangi papermint. Bersih. Nggak ada jerawat barang sebiji pun. Mungkin karena sering dikasih obat ini, pikir Selva. Cakep banget. Lesung pipi nya lucu. Ehm ... tapi, kalau Wim dikasih make-up, gimana ya? Selva membayangkan. Lalu tersenyum dikulum, cantik! Mirip cewek!  “Udah beres.”  Secepat itu? batin Selva kecewa. Seharusnya bisa lebih lama lagi. Ia menatap Wim dengan lesu. Apa sebaiknya Selva mencoba melukai jarinya yang lain?  “Iya, aku ngerti. Biar aku aja yang ngupas timunnya," Wim mengoceh.  Apanya yang ngerti! Tatapan kayak gini sama sekali nggak ada hubungannya sama ‘timun’! Wim nggak peka banget, sih!  Selva pasrah. Dia paksakan juga percuma. Lagian sekali-kali Selva pengen juga ngeliat cowok masak. Bosen ngeliat Rudi Khoirudi terus yang masak di TV.  Wim mengiris timun begitu cepat. Melebihi koki restoran. Ia menatanya ke piring Selva. Membuatnya seperti mata kemudian mengiris telur mata sapi menjadi senyum yang lebar. Mengoles bagian tepi nya dengan saos sambal. Lalu menghiasinya dengan selada sebagai rambut, dan tomat serta timun ditumpuk di atas selada.  “Well ..., Ini wajah kamu …. Lucu, 'kan?” katanya seraya memperlihatkan mahakarya nya pada Selva.  Selva tersenyum senang dengan mata berbinar-binar. Ternyata dia tidak menyebalkan!  "Nah ini," Wim mengambil botol kecap. Menuangkannya sedikit di bawah timun. "Maskara yang beleber."  Aaseemm...! Selva melotot. Menggigit bibirnya sebal. Kenapa selalu maskara yang dibahas ...?!  Selva mengejar, mencubit dan memukul lengan Wim dengan kesal. Membuat Wim tambah terbahak karena berhasil mengerjai Selva. Air matanya nyaris keluar melihat wajah Selva yang memerah. Dan cewek itu masih terus menimpuknya dengan baki.  "Okay ... okay .... Ampun ... ampun .... I'm sorry my lady ...," ucap Wim masih terbahak.  Selva berkedut dengan bibir cemberut.  Wim mengulum senyumnya, mengubahnya menjadi deheman sok serius. Ia kembali menghidangkan kentang goreng crispy yang baru ia buat tadi, besarta saos sambal dan tomat di mangkok kecil.  Selva mencicipinya. Ia penggemar berat kentang goreng. Sudah sejak tadi ia melirik kentang itu.  Hmmm ..., renyah dan kriuk banget. Enak sekali. Ini dikasih apa, sampai bisa seenak ini, batinnya.  "Beneren, lezat banget. Kamu pintar luar biasa masaknya, Wim," puji Selva tulus.  “Aku sudah lama mempelajarinya waktu jadi pelayan restoran. Yeah … meski bukan yang masak, aku sering melihat mereka memasak.  Kalau kentang goreng itu, aku dapat resep dari teman chat ku. Dia kerja Part time di restoran juga. Tapi di luar negeri," Wim menerangkan.  Ia menatap Selva dalam. Membuat jantung Selva berdebar kencang.  Apa yang dilihat Wim? Apa ada yang aneh di wajah Selva? Hati Selva bertanya-tanya.  Tiba-tiba tangan Wim terulur ke arahnya.  "Makan aja belepotan."  Wim menghapus sambal di ujung bibir Selva. Membuat wajah Selva memerah seperti kepiting rebus.  "Kamu juga … seharusnya bisa masak! Masa baru mengupas timun saja langsung luka! Apalagi kalau cuci piring. Bisa-bisa udah tangan kamu luka, piringnya juga pecah.”  Selva mendelik menatap Wim yang sedang makan dengan lahap. Bisa juga dikatakan dengan, ‘makan sambil kalap’. Sepertinya dia kembali menyebalkan!  “Kenapa?” tanya Wim sadar dipandang begitu. Tapi agaknya dia salah sangka. “Mau disuapi?” ujarnya menyorongkan nasi goreng di sendoknya.  Dia kembali menyenangkan, sorak Selva dalam hati.  Tanpa malu-malu lagi, Selva memakan suapan dari Wim. Enak. Lebih enak dari nasi goreng di piringnya sendiri. Ternyata memang benar, rumput tetangga memang kelihatan lebih hijau.  Bekas sendok Wim, pikir Selva berbunga-bunga. Berarti… ciuman secara tak langsung …. Ia tertawa ngikik.  “Hei! Luka di tangan nggak nyasar ke otak, 'kan?”  Selva merengut.  Dia kenapa, sih???  . . . ◦•●◉✿❁♥❁✿◉●•◦
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD