Zefa memejamkan mata saat merasakan tangan Reinhart mulai membuka paksa baju tidurnya. Satu per satu kancing piyamanya pun terbuka hingga terpampanglah bagian atas tubuhnya. Zefa ingin sekali memberontak dan menutupi tubuhnya dari Reinhart. Namun tangannya yang masih ditahan pria itu membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa. Sementara Reinhart memandang Zefa dengan jakun yang naik turun. Kulit putih mulus wanita ini mengingatkannya akan malam penuh gelora yang pernah mereka lewati bersama. Meskipun kala itu ia melakukannya karena dendam, tetapi tak dapat disangkal bahwa ia menikmatinya juga. "Sudah siap?" "Lakukan saja sesukamu, untuk apa bertanya? Bukankah kamu merasa puas setelah melihat harga diriku hancur?" jawab Zefa dengan napas tersengal. Ia sedang berusaha menahan air matanya aga

