Seorang lelaki berjalan gontai menyusuri sepinya jalan di malam itu. Dengan pandangan sendu lelaki itu berjalan tanpa tau arah. Entah kemana kakinya akan membawanya pergi. Dadanya sesak kepalanya pening. Sesekali dia menendang batu kerikil atau apapun yang menghalangi jalannya. Sesekali ia juga berteriak frustasi seakan ia ingin memuntahkan segala beban di benaknya.
Lelaki itu duduk di bangku halte yang tampak sepi karena hari memang sudah larut malam. Lelaki itu duduk bersandar di kursi itu sembari mengeluarkan sebuah kertas dari saku jelana Jeans nya. Dia menatap nanar kearah kertas itu.
Tak terasa airmata lelaki itu jatuh mengenai kertas itu. Tangisnya semakin menjadi. Dirinya menunduk sampai keningnya mengenai lututnya. Di kesunyian malam itu menjadi saksi betapa rapuhnya lelaki yang selalu tampak kuat itu. Hati yang selalu bersikeras untuk mengatakan tidak kini merasa ragu ketika ingin mengatakan tidak lagi. Hatinya bimbang, pikirannya melayang.
Haruskah dia melakukannya? Atau mengabaikannya. Haruskan dia melanggar apa yang telah ia ucapkan? Bisakah dia melakukan itu semua. Menelan ludahnya sendiri.
“Jangan sampai lo nyesel Win. Lo tau? gue udah kehilangan Ayah dan Ibu gue. Gue gak punya siapa-siapa sekarang. Disaat itu gue juga sama kayak lo. Hubungan gue sama Orangtua gue gak baik. Sampai akhirnya mereka capek dengan tingkah gue dan memilih untuk pergi. Tuhan lebih sayang sama mereka Win. Gue nyesel banget gak bisa manfaatin waktu gue buat berdamai dengan mereka dan menjalani kehidupan yang harmonis. Tapi sayang, gue telat. Dan sekarang gue hidup di dalam penyesalan.”
Ucapan Shaka tiba-tiba melintas di pikirannya. Lelaki itu menghapus air matanya. Dia menatap sekali lagi kertas di genggamannya untuk memantapkan hatinya. Ya inilah yang harus ia lakukan. Lelaki itu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke alamat yang telah tercantum di kertas itu.
Dengan menepis segala keraguan yang merambati hatinya, akhirnya ia sampai di tempat yang tertera di alamat tersebut. Dia memasuki sebuah gedung besar yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki berbagai macam keluhan penyakit. Aroma alkohol dan obat-obatan menyapa hidungnya ketika ia melangkahkan kakinya lebih dalam ke rumah sakit tersebut. Dia bertanya pada salah satu suster yang berjaga malam itu dimana letak kamar Ayahnya. Setelah ditunjukkan ia pun melangkahkan kaki kesana. Untung saja disana buka 24 jam. Ia awalnya tidak boleh menemui tetapi ia mengakui bahwa ia anak dari pasien. Dengan sedikit perdebatan dia pun diperbolehkan untuk menjenguk ayahnya.
Langkah kaki Aldwin berhenti di salah satu ruangan. Ia hanya berdiri mematung disana. Ia tak tau harus membukanya atau tidak. tangannya sudah memegangi ganggang pintu tapi kemudian ia turunkan kembali. Kemudian ia pegang lagi lalu ia turunkan lagi. ia bimbang. Ia berusaha meyakinkan dirinya untuk masuk ke dalam tetapi entah kenapa hati dan tangannya seakan saling bertolak belakang.
Satu desahan lolos dari bibir Aldwin. Dia berbalik dan menjauh dari ruangan itu. mungkin ini belum waktunya. Ia juga tak mau mengganggu istirahat ayahnya di dalam. akhirnya Aldwin memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. baru sampai beberapa langkah sebuah suara menahan langkahnya.
“Aldwin.” Suara indah nan lembut itu mengalun indah di telinga Aldwin. Aldwin menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. seorang perempuan berdiri disana. perempuan itu menampakkan wajah senang campur terharu.
Aldwin masih mematung di tempatnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dan tanpa ia sadari kedua tangan lembuh milik mamanya sudah melingakar di perutnya. Mamanya memeluknya dengan beruraian air mata. Sedangkan Aldwin masih diam tak bereaksi.
“Mama tau kamu akan datang. Mama tau kamu sayang sama Papa.” Ucap Sang Mama disela isak tangisnya. Perempuan paru baya itu semakin mengeratkan pelukannya.
“Kenapa Mama sepercaya itu?” Tanya Aldwin penasaran.
Bagaimana mamanya masih bisa berpikiran positif tentangnya sedangkan ia sudah berbuat kelewat batas sebagai anak.
“Karena kamu anak Mama. Mama yang melahirkanmu dan yang merawatmu sejak kecil. Mama yakin anak mama ini masih punya hati yang tulus. Sekeras apapun kamu berusaha untuk mengabaikan kami, kamu akan semakin merasa bersalah nak. kami tulus menyayangimu terlepas dari apapun yang telah kamu lakukan dengan kami.” Ucap mamanya terdengar sangat tulus. Mata Aldwin memanas. Tak terasa air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah juga. Tangannya bergerak membalas pelukan sang ibu. Ia pun menangis di pelukan ibunya.
Benar kata mamanya. Sekeras apapun dia mengabaikan orangtuanya semakin sakit juga perasaannya. Tanpa ia sadari ia menyakiti perasaannya sendiri. Ia tak sadar orangtuanya begitu tulus menyayanginya. Ia menuruti egonya dan memilih untuk meninggalkan mereka. Ia menuruti emosinya tanpa berpikir panjang ke depannya. Menyesal. Itulah yang ia rasakan. Tapi beruntungnya ia sudah memutuskan rasa penyesalan itu. ia akan memperbaiki semuanya.
“Kenapa Papa bisa sampai masuk rumah sakit Ma?” Tanya Aldwin khawatir.
Kini dirnya sedang duduk di sofa ruang rawat milik papanya. Ia menatap tubuh Papanya yang terbaring lemas di brankar dengan selang infus yang melekat di tubuhnya.
“Papamu jatuh dari tangga. Untung saja tidak terlalu tinggi jadi tidak ada benturan yang serius.” Jelas Bu Rahayu pada Aldwin.
Mamanya tersenyum sembari menyentuh tangan putranya. “ kamu tahu nak? Papamu itu sama keras kepalanya dengan dirimu. Dia itu juga egois sepertimu dan dia sangat pintar menutupi semuanya dengan sikap kerasnya itu.” Bu Rahayu memberi jeda sejenak lalu menatap putranya dalam.
“Tapi dia tidak bisa membohongi Mama. Papamu memang terkesan tak peduli padamu. Tapi yang perlu kamu tahu, dia selalu memikirkanmu. Papamu sebenarnya Khawatir dengan keberadaanmu. Tetapi ia malu untuk mengakuinya.” Aldwin menatap mamanya dengan raut wajah tak percaya. Benarkah yang diucapkan Mamanya? Benarkah Papanya peduli dengannya selama ini? benarkah papanya mengkhawatirkannya?
Rasanya Aldwin masih tak percaya, mengingat perdebatan dengan papanya tempo hari yang membuat dirinya harus menyingkir dari keluarga itu. kata-k********r Papanya masih terngiang di pikirannya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana raut penuh amarah milik Papanya yang menatapnya tajam seakan-akan penuh kebencian. tak hanyai itu, ia juga ingat kata-kata Papanya yang mengatakan bahwa ia malu memiliki anak seperti dirinya.
Rasa sakit hati dan kecewa itu sulit sekali dihilangkan. Apa mungkin kata-kata mamanya tadi hanya omongan manis belaka agar dirinya mau kembali ke rumahnya? apa itu hanya omong kosong hanya untuk menyenangkan hatinya. Terlalu sulit bagi Aldwin untuk mempercayainya.
“Apa mama yakin dengan perkataan mama tadi? mama tidak sedang membuat omong kosong hanya untuk membuat aku senang kan bu?” Tanya Aldwin penuh selidik. Mamanya menghela napas sejenak mendengar pertanyaan itu.
“Tanyakan pada hatimu. Dan lihatlah sendiri bukti nyata yang ada di hadapanmu itu. memangnya karena apa lagi Papamu bisa seceroboh itu dan jatuh dari tangga. Papamu itu orang yang selalu berhati-hati. Hanya saja kemarin ia banyak pikiran dan banyak melamun.” Tanpa sadar Aldwin membenarkan ucapan mamanya.
“Apa kamu masih ragu?” Tanya mamanya kepada putra semata wayangnya itu. Aldwin mengendikkan bahunya tak tahu. Ya, memang ia tak tahu harus percaya atau tidak. tapi ada sedikit rasa lega di dadanya mengingat Papanya memang masih mengkhawatirkannya.
“Tak apa nak, mama tau rasa sakit hati kamu atas kata-k********r Papamu sulit dihilangkan. Tapi percayalah, setelah melihat Papamu nanti sembuh karena melihatmu rasa sakit hatimu itu pasti hilang dengan sendirinya.” Ucap mama Rahayu sambil mengusap kepala anaknya sayang. Aldwin hanya diam tak merespon apa-apa.
****