Hari ini adalah hari minggu. Tentunya Maisha libur hari ini. kesempatan itu ia gunakan untuk menghabiskan waktunya bersama keponakannya. Kebetulan hari ini Naura dititipkan padanya karena kakaknya sedang ada urusan di luar kota dan tentunya Kakak iparnya turut ikut bersamanya. Maisha pun dengan senan hati mengurusi keponakannya yang menggemaskan itu.
“Onty kita ke mall yuk. Nau mau main-main.” Ucap gadis polos itu kepada Maisha. Perempuan cantik itu tak mampu menolak permintaan dari keponakannya yang lucu itu.
“Nau mau main apa sih?” tanya Maisha kepada Naura.
“Main kuda-kudaan Onty.” Jawabnya dengan nada yang menggemaskan membuat Maisha tak henti-hentinya menciumi pipi keponakannya itu.
Maisha pun mengajak Naura untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum pergi. Tak lupa ia meminta izin kakaknya untuk mengajak Naura pergi ke luar. Setelah mendapat izin baru ia berangkat ke Mall.
“Mau kemana Mai?” tanya perempuan paru baya yang sedang menonton televisi itu.
“Mau ke mall bu, Naura ngajak main.” Jawab Maisha.
“Mbah ti ayo ikut Nau.” Ajak gadis kecil itu dengan suara lucunya sambil menarik-narik tangan Bu Sarah untuk ikut dengannya. Maisha tertawa kecil melihatnya.
“Mbah Ti kakinya lagi sakit, jadi Nau main sama Onty aja ya.” jawab Bu Sarah mencoba memberikan pengertian pada cucunya. Awalnya Naura kecewa tetapi kemudian ia mengangguk mengerti.
Mereka pun berangkat ke Mall bersama Maisha menggunakan grab agar cepat sampai. Dirinya terlalu malas untuk menyetir sendiri. Hanya butuh waktu beberapa menit dirinya sampai di sebuah Mall besar di Yogyakarta. Naura pun berjingkrak senang melihatnya saja. perempuan itu hanya tertawa melihat tingkah lincah keponakannya itu. ia pun mengajak Naura untuk naik eskalator menuju lantai dua tempat timezone berada. Melihat banyaknya mainan, Naura tak berhenti mengoceh sambil menunjuk-nunjuk wahana permainan yang hendak ia mainkan. Maisha pun menuruti gadis itu sampai ia puas.
Setelah selesai bermain dan Naura sudah kelelahan. Maisha pun mengajak Naura untuk makan terlebih dahulu di salah satu restoran disana. saat ia hendak masuk ke dalam restoran itu, tak sengaja pandangannya menangkap sosok seorang yang sangat ia kenali. Ia pun menoleh ke belakang untuk mencari sosok tersebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaannya. Sampai dia menemukan sosok itu. dia pun spontan berlari mengejar orang itu sampai-sampai ia melupakan Naura.
“Shaffiya.” Panggil Maisha kepada gadis yang dicarinya sedari tadi. gadis itu menoleh dan benar saja, ia adalah Shaffiya. Saudara kembar dari Maisha.
“Ngapain lo disini?” bentak Shaffiya kearah Maisha. Maisha berusaha selembut mungkin berbicara dengan Saudaranya itu.
“Sha, ibu kangen sama kamu. tolong kamu temui ibu Sha.” Pinta Maisha tetapi langsung ditolak oleh Shaffiya.
“bullshit. Bertahun-tahun perempuan itu nelantarin gue, gak pernah jenguk gue. Ngapain dia tiba-tiba peduli sama gue? Gue gak pernah mau ketemu lagi sama dia dan juga Lo.” Ucapnya dengan suara meninggi sampai-sampai pengunjung disana menatap kearahnya. Shaffiya kemudian pergi meninggalkan Maisha sendiri disana.
Maisha menitikkan air matanya. Ia tak habis pikir kenapa saudara kembarnya bisa seperti itu. padahal dirinya bermaksud untuk mengajak saudara kembarnya itu untuk bertemu ibunya. Melepas kerinduan mereka setelah bertaun-tahun tidak bertemu. Tapi sayang, keadaan sudah berubah. saudara kembarnya sudah menjadi orang lain sekarang.
Sesaat Maisha baru tersadar jika ia tak bersama Naura. Ia langsung berlari ke restoran tempat ia meninggalkan Naura. Tetapi nihil. Naura sudah tidak ada. Dirinya berlarian kesana-kemari untuk mencari Naura. Ia takut Naura hilang karenannya.
“Onty Mai.” Teriak sebuah suara dari arah belakang Maisha. sontak Maisha menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis kecil sedang tersenyum kearahnya. Maisha langsung berhambur memeluk gadis kecil itu. ia bersyukur gadis kecil itu bisa ditemukan.
“Nau, maafin Onty ya. onty ga sengaja ninggalin kamu tadi.” pinta Maisha tulus. Naura hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. gadis kecil itu tengah asik menikmati es krim di tangannya.
“Ini dapat dari mana Nau?” tanya Maisha penasaran.
“Ini dari Om itu Onty.” Ujar Naura sambil menunjuk seorang lelaki yang terlihat sedang berdiri di depan outlet yang menjual es krim. Sepertinya lelaki itu sedang membayar es krim yang dibeli oleh Naura tadi.
“Yaudah, kita bilang terima kasih dulu yuk sama om itu.” ajak Maisha lalu melangkah mendekat kearah lelaki itu.
“Mas terimakasih udah..” Maisha tak melanjutkan ucapannya karena terkejut melihat orang yang telah memberi Naura es krim.
“Pak Shaka.” Gumamnya pelan sambil mengerjapkan matanya masih tak percaya bahwa lelaki itu adalah Arshaka Wijaya. Guru baru di sekolahnya yang kebetulan juga baru ia kenal itu.
Lelaki itu tampak tersenyum lembut pada Maisha. “Ternyata Bu Maisha Onty nya Naura toh.” Ucap Shaka dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Tanpa lama Maisha pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Shaka tadi.
“Oh ya, terimakasih bapak sudah menjaga Naura. Saya tidak tau lagi bagaimana jadinya kalau terjadi apa-apa dengan Naura. Saya ceroboh menjaga keponakan saya.” Ucap Maisha dengan nada bersalahnya. Ia memang benar-benar tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan Naura. Bisa-bisanya dia meninggalkan gadis kecil berusia tiga tahun itu.
“Tak apa bu, memang hakikatnya manusia kan saling tolong menolong. Dan tentang kecerobohan ibu, itu juga pasti ada alasan yang kuat kan. Tidak mungkin bu Mai bertindak ceroboh dengan sengaja.” Ucapan lelaki berparas tampan itu membuat Maisha spontan mengangguk. Ya, dia memiliki alasan yang kuat untuk itu. dia melihat saudara kembarnya yang sudah lama tak ia temui. Tapi apa daya, adiknya itu tidak mau menganggapnya lagi. bahkan ia tak mau bertemu ibu juga. Hati Maisha kembali redup mengingat hal itu. Shaka yang melihat raut sendu itupun mencoba menyadarkannya kembali dan membawa Maisha ke alam sadarnya.
“Are you okay Miss Mai?” Tanya Shaka khawatir dengan perubahan mimik wajah Maisha yang redup itu. dia takut jika ia salah mengucap sesuatu.
“Oh, I’m fine.” ucap Maisha bersikap setenang mungkin dan menutupi kesedihannya itu dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya. Shaka pun mengangguk mengerti. Ia tak mau terlalu dalam mengulik masalah yang terjadi pada Perempuan yang baru dikenalnya itu. walaupun ia tau, Bu Mai sedant tidak baik sekarang.
“Naura, ayo bilang terimakasih sama Om nya.” Ucap Maisha pada gadis kecil yang tengah asik menjilati es krim di tangannya. Bibir mungil gadis cilik itu sudah penuh dengan lelehan es krim.
Gadis cilik itu tersenyum sampai memperlihatkan gigi susunya ke arah Shaka, “Maacih ya Oom udah beliin Naura Es Krim.” Ucap gadis cilik itu dengan logatnya yang menggemaskan membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum melihatnya. Shaka mengangguk sembari mengusap lembut puncak kepala Naura.
“Sekali lagi terimakasih ya Pak Shaka. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum.” Ucap Maisha lalu pergi meninggalkan Shaka yang masih berdiri mematung disana.
"Entah ini kebetulan atau bukan, jika memang dia jodoh hamba dekatkanlah Ya Allah. Jikalau bukan, semoga hamba berjodoh dengannya Ya Allah." Ucap Shaka dalam hati sembari mengamati punggung Maisha yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.
***