Part 1

2876 Words
Aku sudah menyiapkan kejutan untuk ulang tahun sahabatku, Ocha, sejak 2 bulan yang lalu. Aku sengaja order action figure Sailor Moon yang jadi kesukaannya sejak dulu. Aku bahkan harus menunggu proses pengiriman barangnya, karena pemesanannya dilakukan hingga ke luar negeri. Saat aku bertabrakan dengan perempuan itu, aku mendengar bunyi sesuatu yang patah. Semoga saja tidak rusak berat. Ocha tinggal bersama denganku karena apartemenku letaknya dekat dengan tempat dia bekerja dan akan terasa terlalu besar jika dihuni sendiri. Lagi pula dia jadi tidak perlu membuang-buang waktu terlalu lama untuk berangkat kerja. Kalau ada Ocha, aku tidak merasa sendirian di malam hari. Walau kami jarang ada di apartemen hingga malam hari karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing tapi kami sering bertemu di café disaat senggangnya. Aku duduk berpikir di dalam mobil, sepertinya aku harus membeli hadiah lagi walau tidak sesuai dengan rencana awalku. Semoga keburu karena jam sudah menunjukkan hampir jam 6 sore, artinya sebentar lagi Ocha pulang kerja. Aku segera pergi dengan mobilku menyusuri jalanan yang agak padat menuju toko kue Nina's Kitchen. Dengan cepat aku memarkir mobil dan jalan terburu-buru memasuki toko kue. Tante Nina adalah sahabat Bunda sejak di bangku SMA. Sama sepertiku, Tante Nina pun jatuh hati dengan pesona kota Jogja sehingga memutuskan untuk kuliah disini dan bertemu jodohnya yang merupakan orang asli Jogja, Om Satyo. "Eh, Renata sayang. Mau ambil pesanan kue ya?" sambut Tante Nina sambil mencium pipiku. Astaga kenapa dia harus di sini, bisa telat kalau aku harus basa basi dulu. "Iya. Sudah siap, Tante? Aku buru-buru. Takut macet," jawabku cepat. "Sudah, Sayang. Oh iya, Bunda apa kabar? Masih sibuk ya? Kapan main ke Jogja lagi? Duh, Tante kangen banget sama Bunda," sahutnya sambil melayaniku. Aku memasang senyum datar. "Bunda belum pulang , belum tahu juga kapan datang ke sini." Aku menjawab cepat karena aku tidak ingin ada lebih lama di sini hanya untuk berbasa-basi dengan Tante Nina. Sepertinya Tante Nina merasa sedikit terintimidasi dengan nada suaraku yang datar. Tapi dia berusaha tetap ramah karena dia cukup tahu karakterku yang menurutnya sangat berbeda dengan Bunda yang ramah dan hangat dengan siapa saja. Aku mengikutinya menuju etalase pendingin kue dan melihat karyawannya membungkus kue pesananku dengan hati-hati. Setelah membayarnya, akupun langsung berpamitan. Aku berjalan cepat menuju mobil sambil membawa paper bag berisi kue. Dengan hati-hati aku menyimpannya di jok baris kedua. Aku melanjutkan perjalanku menuju toko Ourgift, membeli hadiah pengganti untuk Ocha. Setibanya di toko, mataku langsung tertuju pada boneka Minnie Mouse ukuran 50 cm yang terpajang di etalase. Minnie Mouse merupakan salah satu karakter kesukaan dia sewaktu SD. Tanpa banyak pikir aku langsung membelinya tanpa dibungkus. Tidak ada waktu lagi kalau aku harus menunggu karyawan toko membungkusnya. Aku berjalan menuju mobil sambil membawa boneka besar dan menyimpannya di mobil dengan posisi duduk di kursi depan. Segera aku masuk ke kursi pengemudi, mataku tiba-tiba menatap spion dengan pemandangan ban belakang sebelah kananku kempes. Astaga! Ini kenapa lagi sih?! Pantas dari tadi aku merasa laju kendaraanku agak berat. Kenapa harus kempes saat begini? Apa tidak bisa bertahan sebentar saja hingga tiba di apartemen? Aku lantas keluar dan membanting pintu mobil dengan perasaan dongkol. Aku menelepon salah satu karyawan café untuk membantuku mengurus mobil sialan ini. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk menggantinya dengan ban serep. Sudah hampir jam 7 malam, lebih baik aku naik taksi saja. Aku menggendong boneka Minnie Mouse sambil menjinjing paper bag berisi kue di tangan kanan dan paper bag berisi kado di tangan kiri seraya berpikir, kenapa harus seribet ini sih?! Kalau bukan karena Ocha, aku tidak akan mau repot begini. Aku berdiri di trotoar, menunggu taksi lewat sambil meratapi kesialan yang menimpaku. Di tengah lamunan, aku mendengar klakson sepeda motor dibarengi dengan suara cempreng. "Hey!! Hey kamu!!" teriak seseorang dengan suara cempreng yang sepertinya tidak asing di telingaku. Aku sontak memalingkan wajah dan mendapati sebongkah eh seonggok perempuan mungil dengan senyum takut-takut sedang duduk di atas sepeda motor matic. Aku memandang tak percaya. Ya Tuhan, kota Jogja luas begini kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Dosa apa aku ya Tuhan sampai 2x dalam sehari bertemu dengannya, udah kayak minum obat aja. "Ya?" sahutku dengan datar sambil menaikan alis kanan. Dia terlihat salah tingkah. "Eh, anu itu nggg anu..mmmm..." jawabnya gugup dan tidak berani menatapku. "Kenapa anumu?" sahutku dingin. "Anuku tidak kenapa-kenapa kok. Eh! Ish usil kamu!" Mukanya memerah karena malu dan kesal karena aku kerjain. "Kamu kenapa bawa barang banyak dan berdiri di pinggir jalan?" tanyanya. Ah iya aku jadi teringat kembali dengan mobilku. "Ban mobilku kempes, aku buru-buru. Aku tidak ada waktu untuk menggantinya. Aku mau pulang dan sekarang sedang nunggu taksi lewat," jelasku kembali dengan nada datar. "Oh gitu. Kalau aku yang antar kamu pulang gimana? Yah hitung-hitung permintaan maaf aku karena sudah nenyusahkan kamu hari ini. Kalau kamu mau sih," tawarnya. Dia masih saja terlihat takut berbicara denganku. "Tidak usah. Bawaanku banyak," sahutku. "Bisa kok, yuk naik. Kalau naik taksi pun jalanan macet kalau jam segini," ucapnya sedikit memaksa. Aku berpikir sejenak, dia ada benarnya juga. Aku melihat jam sudah menunjukkan jam 7 kurang 5 menit, sebentar lagi Ocha pulang. Kalau menunggu taksi pasti aku akan terlambat. Ya sudahlah untuk kali ini saja. "Baiklah. Antarkan aku ke apartemen Imperia. Tahu kan? Aku harus segera tiba sebelum Ocha pulang", sahutku. Dia terlihat kaget tapi akhirnya tersenyum dan mempersilahkan aku naik ke boncengannya. Aku terdiam, seketika aku merasakan perasaan tidak nyaman. Aku agak trauma naik sepeda motor. Dulu aku pernah mengalami kecelakaan sewaktu aku masih SMA. Aku pulang sekolah bersama Bang Reno, saat di tikungan dia kehilangan kendali sehingga menyebabkan kami berdua terjatuh. Aku terpental, untungnya ke arah rerumputan. Aku sempat melihat Bang Reno yang tergeletak tak sadarkan diri, dia terseret motornya. Aku ketakutan setengah mati melihat ada darah yang mengalir di kepalanya hingga akhirnya aku pingsan dan terbangun di rumah sakit. Untungnya kami tidak mengalami luka yang terlalu parah. Hanya saja pelipisku harus dijahit karena sobek dan meninggalkan bekas hingga kini. Semenjak itu aku trauma untuk naik motor. "Sini kuenya gantung di depan aja, susah kalau kamu harus kamu pegang semua di belakang. Hey! Hello!! Ada orangnya tidak ya?" ucapnya seraya melambaikan tangannya di depan mukaku karena aku melamun. Segera aku menyerahkan paper bag kepadanya. "Kamu kenapa? Kesambet ya? Iiih takut," ucapnya sambil bergidik ngeri. Apa sih?! "Tidak kenapa. Kamu bawa motornya pelan-pelan aja," ucapku sambil naik ke boncengannya dengan rasa cemas dan takut sambil berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa. Tasnya dipindahkan ke depan supaya aku bisa lebih leluasa duduknya. Tanpa sadar aku mencengkram erat jaketnya, sementara tanganku yang lain memeluk boneka. Untungnya jalanan tidak macet sehingga aku tidak harus terlalu lama dalam kecemasan ini. Setibanya di depan areal apartemen, aku langsung turun mengucapkan terima kasih. Dia cukup pandai berkendara sehingga aku bisa bernafas lega karena tidak terjadi apapun selama perjalanan. Aku langsung pergi meninggalkannya begitu saja karena aku tidak mau dia melihat aku yang pastinya masih menyisakan kecemasan di wajahku. Aku tidak terbiasa basa-basi mengajak orang mampir, apalagi aku memang tidak pernah mengajak orang lain ke apartemen, begitu juga Ocha karena dia tahu aku tidak suka ada orang lain yang memasuki wilayah pribadi. ~ Untunglah kejutan untuk Ocha berjalan dengan lancar. Meski akhirnya dia menertawakan aku yang masih saja mengomel gara-gara hadiah yang rusak itu. Tapi kami tetap menikmati kue yang kubeli pake "perjuangan". Lupakan diet kata Ocha, dia menikmati kue yang ada hingga ke remah-remahnya dengan lahap. Sambil membuka kado 'rusak' yang kusiapkan, dan aku pun merasa lega saat mengetahui action figure itu hanya patah sedikit di bagian tangan, masih bisa diperbaiki kata Ocha. Aku menceritakan hal-hal yang aku alami hari ini. Dia bengong sambil memeluk boneka Minnie Mouse saat aku bercerita kalau tadi aku naik motor dengan perempuan itu. "Seriusan, Rain?? Kamu naik motor dengan dia? Kamu sudah tidak takut lagi? Sudah tidak trauma? Naik motor?? Bahkan naik motor denganku saja kamu tidak mau. Denganku! Aku yang sahabatmu saja kamu tidak mau berboncengan naik motor, tapi tadi kamu dengan orang lain?? Ocha sedih. Hiks.." cerocos Ocha menyebalkan tanpa jeda. "Ocha! Lebay deh!!" protesku kesal. Dia langsung tertawa dan mencubit hidungku. Menyebalkan. "Becandaaaaaa," sahutnya. "Iya, aku naik motor sama dia karena aku harus buru-buru sampai di apartemen sebelum kamu pulang. Aku ter-pak-sa. Aku masih merasa kecemasan karena teringat kejadian yang dulu," ucapku seraya meraba bekas luka di pelipisku. "Hahahaha.. Eh tadi bilang makasih tidak? Jangan bilang kamu main ngeluyur aja. Kamu suka kurang ajar kadang," sahutnya sambil mencomot potongan kue. Rakus banget nih perempuan tapi badannya tetap aja bagus. "Bilang kok, tapi setelah itu langsung aku tinggalkan. Makannya yang rapi. Belepotan," jawabku sambil mengambil tisu dan membersihkan sudut bibirnya yang belepotan krim kue. "Ughhh so sweet banget sih kamu," goda Ocha sambil mengoleskan krim kue ke pipiku. Aku sontak kaget sementara dia langsung tertawa. "Ocha!! Rese kamu!" teriakku sambil balas mengoleskan krim kue ke mukanya. *** Uang beasiswa masih belum cair juga padahal aku sangat memerlukan uangnya. Aku sampai berulang kali memeriksanya. Uangnya tidak seberapa tapi cukuplah untuk membantu meringankan beban orang tuaku. Bukan beasiswa Bidik Misi yang aku dapatkan tapi beasiswa prestasi yang entah kenapa uangnya lebih kecil. Tapi tidak apa-apa sih, sudah bersyukur aku bisa mendapatkannya meski aku harus belajar ekstra keras agar IP-ku tidak menurun hingga bisa terus aku ajukan permohonannya tiap tahun. Berbeda dengan Bidik Misi, beasiswa ini selalu melakukan pembaharuan peserta tiap tahunnya. Entah kenapa, hari ini sepertinya dewi keberuntungan sedang tidak menghampiriku. Uang beasiswa belum cair yang akhirnya aku tidak bisa membeli buku kuliah yang disarankan oleh dosenku, menabrak seseorang dan menumpahkan kopinya sampai kemejanya jadi kotor. Eh ngomongin tentang kemeja, aku tadi menyimpan kemeja kotor yang dibuang olehnya itu. Aku mengeluarkan kemeja putih yang agak lembab karena tadi sepertinya coba dibersihkan dengan air oleh tuh perempuan galak. Ini orang pakai parfum apa sih, kok wanginya awet banget. Baju mahal, parfum mahal, mobil mewah, apartemen mewah, itu perempuan sangat kaya sepertinya. Aku bergegas ke kamar mandi untuk merendam kemejanya, siapa tahu bisa bersih lagi, nanti aku kembalikan ke orangnya. Aku sudah tahu dia tinggal di mana, eh tapi aku tidak pernah masuk ke dalamnya. Yah terus bagaimana mengembalikannya? Masa dititipkan dengan satpam sih? Aku juga tidak tahu namanya dan nomor apartemennya, tadi tidak sempat menanyakannya, tidak terpikirkan juga untuk bertanya. Duh b**o banget sih aku. Ah tidak tahu lah, yang penting dicucikan dulu saja kemejanya. ~ "Ra! Yara!" Aku sontak memalingkan wajahku mengikuti arah sumber suara. Aku melihat Dafa melambaikan tangannya ke arahku, akupun balas melambaikan tanganku sambil memaksa senyum. Ada urusan apa lagi dia? "Ada apa, Dafa?" tanyaku sedikit malas tapi tetap berusaha ramah. Aku ingin bergegas pergi ke café langgananku, menumpang wifi gratis. Mau mengerjakan tugas sekalian mau baca w*****d. "Kamu mau pulang ya?" tanya Dafa sambil menjajari langkahku. Dafa ini teman satu angkatanku hanya saja berbeda jurusan, dia gigih mendekatiku meski aku sering kali mengabaikannya. Aku berjalan ke arah parkiran dan berusaha untuk tidak disadari oleh orang lain tapi entah kenapa Dafa selalu saja bisa menemukanku. Mungkin dia menanamkan chip GPS di badanku seperti di film-film. Ah aku kebanyakan mengkhayal. "Iya, memangnya kenapa?" sahutku. "Makan bareng yuk, kamu bebas pilih tempatnya deh, itu pun kalau kamu mau sih," ucapnya. Dia berusaha mengajakku jalan untuk yang kesekian kalinya. "Duh... gimana ya, Daf? Besok ada quiz jadi harus cepat pulang, mau belajar. Maaf ya," tolakku halus. Aku terpaksa berbohong untuk menghindari ajakannya. "Yah, selalu saja begitu. Hehe ya sudah kalau begitu, next time semoga kamu bisa. Hati-hati, Yara," ucapnya. Dia berusaha tetap tersenyum meski aku tahu dia kecewa. Aku bergegas menyalakan motorku dan berlalu segera dari parkiran meninggalkan Dafa yang melambaikan tangannya kepadaku, aku hanya membalasnya dengan senyuman. Aku melajukan motorku menyusuri jalanan kota Jogja menuju café langgananku, Oregano, café Italian Western Food. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati secangkir Caramel Machiato hangat, kesukaanku. Sembari mengerjakan tugas dan membaca cerita di w*****d kalau sempat. Setibanya aku di Oregano, aku langsung disambut dengan wangi kopi yang menguar, membuat para pecinta kopi manapun akan merasa betah disini. Bangunan tinggi dua lantai ini memiliki desain interior yang bagus menurut aku. Dinding batanya dibiarkan tanpa plesteran jadi warna merah bata yang asli mendominasi ruangannya. Dindingnya dipenuhi dengan poster dan foto-foto dalam bingkai kecil yang menggambarkan Italia zaman dulu hingga sekarang. Di dinding belakang ada perapian yang tertempel ke dinding, tentu saja itu hanya hiasan bukan perapian sesungguhnya. Tapi kalau malam hari ada api yang menari di dalamnya, waktu itu kupikir api yang sesungguhnya, ternyata hanya lampu LED. Keren. Tapi katanya, café ini memang punya perapian asli untuk membuat pizza, mungkin itu rahasianya dalam membuat pizza yang enak banget. Hebat. Ah dasar 'ndeso aku ini. Begitu memasuki café ini, yang akan aku kagumi adalah interiornya yang memanjakan mata banget. Kalau kata anak gaul nan hits sekarang instagramable banget. Tatanan kursinya terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama ada kursi dan meja ala bar yang menghadap ke arah jalan, jendelanya cukup tinggi dan besar sehingga yang nampak dari luar hanya setengah badan kita. Cocok kalau datang kesini hanya berdua dengan pasangan karena bisa semakin intim kelihatannya. Yang kedua, 2-4 kursi yang mengelilingi sebuah meja, letaknya agak di belakang café. Pasnya untuk yang datang bareng teman-teman, karena mejanya bisa disatukan untuk lebih dari 4 orang. Tinggal bilang ke waiters-nya untuk minta tambah meja seperti yang dilakukan sekelompok remaja di dalam sana. Sepertinya ada yang ulang tahun. Oh iya, disini juga katanya diskon bagi mereka yang sedang ulang tahun, tentu saja syarat dan ketentuan berlaku. Yang ketiga, kursi nan empuk single seat mengelilingi sebuah meja kaca kecil, biasanya untuk 2-3 orang. Bagi para penikmat kopi yang ingin bersantai biasanya memilih seat ini. Letaknya di tengah-tengah café, dekat dengan meja bar. Kalau malam hari nuansanya remang-remang dengan lampu yang tergantung rendah, tapi bukan lampu LED putih, melainkan yang warnanya kuning itu loh tapi tentu saja yang kualitasnya bagus, tidak seperti lampu di kamar mandi rumahku yang gampang putus itu. Ditambah dengan alunan musik yang lagi hits, dengan volume yang tidak mengganggu tapi bisa membuat suasananya jadi asyik menenangkan. Aku memilih duduk di pojokan, sendirian saja karena aku ingin mengerjakan tugasku sekalian menikmati kopi kesukaanku. Harganya cukup terjangkau untuk mahasiswa sepertiku. Beruntung sekali aku bisa berkuliah di kota Jogja ini, biaya hidup tidak semahal kota besar lainnya. Segera setelah aku selesai memesan dan langsung membayarnya, aku mengeluarkan notebook dari dalam tas dan meletakkannya di meja. Sementara aku menunggu notebook nyala, aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru café. Pojokan memang spot yang pas untuk melihat isi café secara keseluruhan, tapi dari pojokan yang satunya. Kalau dari sini agak terhalang meja bar. Spot yang nyaman itu sudah ada yang menempati, entah siapa, tadi orangnya tertutup oleh waiter yang sedang melayani pesanannya. Begitu notebook menyala langsung terkoneksi ke wifi café dan aku pun akhirnya konsentrasi browsing untuk mengerjakan tugas kuliahku. Aku harus segera menyelesaikann tugasku karena nantinya kami akan ditunjuk secara acak untuk melakukan presentasi di depan kelas. Aku tidak masalah dengan pengerjaan tugasnya, yang membuatku takut adalah presentasinya. Aku takut untuk tampil di depan umum karena aku tidak merasa nyaman saat diperhatikan oleh orang lain. Pesananku tiba, begitu waiters meletakkan pesananku di meja, aroma caramel macchiato hangat yang menguar dari cangkir di depanku ini menenangkan pikiranku. Sesaat aku memalingkan wajahku ke arah kiri dan mendapati sesosok perempuan sedang duduk sambil menikmati kopinya. Kok sepertinya tidak asing ya? Aku kembali mengamatinya. Ah itu kan perempuan galak yang tidak sengaja aku tabrak di Amplaz dua minggu yang lalu. Dia meminum kopinya dengan gaya yang santai tapi terlihat anggun dan berkelas banget. Sepertinya dia sangat menikmati kopinya. Rambutnya yang berwana sedikit kecokelatan dicepol asal-asalan, messy hair bun. Dia memakai kemeja flannel merah biru yang lagi-lagi lengannya dilipat hingga siku, kemejanya terbuka hingga menampakkan kaos putih dengan print YSL, branded. Celana jeans putih, tidak takut kotor apa ya? Eh tapi dia kan pakai mobil, tidak takut jadi kusam terkena polusi debu. Sepatu putihnya keren banget. Huft.. Aku membandingkan diriku dengannya yang sangat jelas jauh berbeda. Hari ini aku mengenakan kaos putih bergambar wajah perempuan, aku memadankannya dengan jaket hoodie warna hitam, dan sepatu Converse KW hitam yang aku beli lewat online berbeda dengan dia yang pastinya original. Seketika aku menyembunyikan kakiku karena merasa malu. Padahal aku yakin banyak diluar sana yang sepertiku. Aku mengamati sosoknya, dari samping begini siluetnya terlihat cantik. Auranya terasa berbeda. Matanya tajam menatap sekelilingnya namun terlihat natural sehingga tidak nampak bahwa dia sedang mengamati. Sesekali dia bersender dan memainkan gadget-nya. Dia mengambil ponselnya dan tersenyum samar, sepertinya dia sedang chat dengan seseorang dan membicarakan hal yang lucu. Sesekali dia mencubiti bibir bawahnya seolah sedang memikirkan sesuatu kemudian sibuk dengan gadget-nya kembali. Menopang kembali dagunya dan mengetukkan jari ke pipinya. Posisi duduknya yang sedikit menyamping dengan posisi kaki yang menyilang menghadap ke arah luar. Aku bergegas mengambil sketch book dan pensil khusus dari dalam tasku. Aku suka sekali menggambar, apalagi membuat sketch wajah seseorang. Aku masih belajar, secara otodidak sih, karyaku belum bisa dibilang rapi. Dan aku menyimpannya untukku sendiri, aku tidak percaya diri untuk memamerkannya kepada orang lain. Aku mulai menggoreskan pensil di kertas. Sambil mengamatinya dari kejauhan, aku menggambarnya dalam posisi dia sedang menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menatap ke arah depan. Beberapa lama aku berkonsentrasi menggoreskan coretan di atas kertas sampai aku melupakan tujuanku ke sini gara-gara perempuan yang bahkan namanya saja aku tidak tahu. Tiba-tiba dia berdiri dan melirik ke arah aku, kemudian beranjak pergi keluar dari pintu. Apa dia menyadari kehadiranku atau hanya kebetulan saja? Mataku tak lepas memandangnya dalam kekecewaan karena aku belum selesai. Aku akhirnya menyelesaikannya berdasarkan ingatanku, untungnya hanya tinggal penyempurnaan detail. Aku langsung kembali ke notebook dan melanjutkan pencarianku untuk bahan membuat tugas. Aku mesti cepat pulang, langit sudah mendung, sepertinya mau hujan. Segera setelah selesai membereskan notebook aku bergegas pulang. Aku memasang headset dan menyalakan music player agar aku tidak kesepian selama perjalanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD