Hening yang mencekam mendadak jatuh di ruang tamu yang pengap itu. Suara kipas angin tua yang berderit di langit-langit seolah menjadi satu-satunya detak jantung di ruangan tersebut. Jelita masih berlutut, tangannya menggenggam jemari Yunus yang kurus, sementara matanya menatap Yuna dengan binar penuh tanda tanya. "Yuna ... Yunus ... kalian bilang tadi Ayah sedang tidur di kamar, kan?" suara Jelita bergetar, ada nada penyangkalan yang sangat kuat dalam setiap kata yang ia ucapkan. “Mbak,” lirih Yuna. “Yuna, kenapa kalian menangis? Mbak bingung.” Snow yang berdiri di belakang Jelita, mengerutkan kening. Meskipun ia tidak paham setiap kosa kata, ia bisa merasakan perubahan tekanan udara di ruangan itu. Jelita melihat Yuna menunduk dalam, bahunya berguncang hebat, sementara Yunus mulai

