Ketegangan di bar malam itu menyisakan sisa-sisa adrenalin yang masih berdenyut di pelipisku. Zurich kembali diguyur hujan es yang membasuh noda-noda kegelapan di distrik Langstrasse, namun di dalam mobil Rolls-Royce yang membawaku dan Snow kembali ke kediaman kami, suasana terasa jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan. Snow tidak meledak. Ia tidak memerintahkan tim keamanannya untuk langsung membakar bar itu. Snow justru duduk diam, menyandarkan kepalanya di jok kulit yang empuk, matanya menatap rintik hujan di jendela dengan pandangan yang sangat jernih, sesuatu yang jarang kulihat darinya. "Snow?" panggilku pelan. "Kau baik-baik saja?" Snow menoleh, lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku baru saja menyadari sesuatu, Jelita. Ricardo dan Sofia ... mereka bukan sedan

