"Ginjal adalah salah satu organ penting dalam tubuh yang mempunyai bentuk seperti kacang, berukuran sekepalan tangan, terdiri dari dua bagian dengan posisi kanan lebih rendah daripada ginjal sebelah kiri......."
"Al... Al... Al... Alfi..."
"Auhh" Pekikku begitu ada cubitan kecil mendarat di tanganku. "Apaan sih Mi?" Tambahku.
"Apaan-apaan,, Kamu mau disuruh keluar dari kelas? Mau kamu dianggap tidak hadir sehingga mempengaruhi daftar absensimu"
"Astaghfirullah gak mau lah Mi, aku kan pengen lulus tepat waktu"
"Makanya fokus, daritadi ngelamun aja"
"Ami, Alfi apa yang kalian diskusikan? Apa ada yang dipertanyakan?" Tanya ibu dosen di depan dengan wajah tegang dihiasi alis mengernyit dan matanya yang melotot. Mampus,, Ibu Kinan adalah dosen yang killer, yang tidak ada kata terlambat, ribut, acuh, dan bengong di kelasnya. Begitu salah satu diagnosa ditemukan dikelasnya, maka dengan terpaksa kaki harus melangkah keluar dan absensi dicoretkan kehadirannya.
"Emm... Bagaimana kondisi ginjal pada orang dengan Gagal Ginjal Bu?" Tanyaku sekenanya untuk menyelamatkan keberadaan kita berdua di dalam kelas. Meskipun mata kuliah sudah berlangsung lama dan kurang setengah jam tapi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka usai sudah nasib kita.
"Nanti ya, ini masih belum sampai sana. Sekarang dengarkan dulu nanti ibu jelaskan lebih jelas jika sudah pada bab itu"
Selamat.. seperti biasa, beliau juga tidak mau menjelaskan dengan penjelasan yang melompat-lompat, beliau selalu menjelaskan dengan terstruktur dari awal sampai akhir, dari A sampai Z.
"Al" Bisik Ami sambil menyenggol pelan lengganku.
"Sst.. diam, nanti aja dilanjut."
Kamipun mencoba untuk mendengarkan dan mengikuti apa yang dijelaskan Bu Kinan. Mencoba sekuat tenaga untuk keluar dari lamunanku, mencoba kembali ke realita dan fokus pada apa yang ada di depan. Dua jam berlalu setelah sekian lama penantianku, akhirnya kami berdua keluar kelas dan pergi menuju kantin kampus. Sesampai di kantin kampus, tidak banyak terlihat mahasiswa yang menempati kursi-kursi kantin sehingga membuat kami berdua leluasa memilih untuk duduk dimana. Setelah mengambil beberapa camilan roti dan minuman dingin, kamipun memilih duduk diujung kantin yang menghadap ke taman. Belum musim hujan tapi taman sangat indah dipenuhi dengan rumput gajah yang menutupi tanah, beberapa bunga yang bermekaran, ada beberapa kupu-kupu yang berterbangan, ah sungguh indah rasanya.
"Al"
"Apasih?"
"Kamu tuh yah, daritadi banyak bengong dan ngelamunnya. Ada apa sih?"
Aku hanya terdiam kembali mengingat pesan w******p dari Auliya, pesan yang sangat ingin aku balas tapi belum terbalas sampai sekarang. Pesan yang sangat membuatku penasaran sehingga ingin cepat-cepat segera maghrib dan langsung menemui si pengirim pesannya.
"Al.. tuh kan ngelamun lagi. Ada apa sih? bikin penasaran aja"
"Hehe" Tanpa menjawab pertanyaan Ami, segera aku keluarkan HP dari dalam tasku. Dengan cepat kubuka applikasi hijau dan memperlihatkan isi pesan Auliya pada Ami.
"Seriusan?" Respon Ami begitu membaca isi pesan itu.
"Tau"
"Trus kamu belum tanya balik?"
"Tuh lihat aja aku belum kirim pesan balasan"
"Lah kenapa? Kamu g suka?"
"Bukan karena g suka"
"Trus?"
"Tapi terlalu suka, karena saking sukanya aku jadi bingung harus merespon gimana. Mau aku balesin tapi malu"
"Kamu tuh ya, udah dikasih lampu hijau tapi diabaikan"
"Antara percaya dan tidak percaya Mi, aku takut ke GRan dan kepedean Mi, aku ketemu sama Om Yusuf aja baru dua kali bagaimana bisa"
"Bisa aja Al. Sini HPnya biar aku bantu buat balesin"
"No no... g sah dibalas Mi, nanti aja pas ketemu orangnnya biar aku tanya langsung."
"Hari ini ngasih privat lagi?"
"Yup"
"Yakin g terlalu lama kamu nunggu kepastiannya?"
"Hahaha rese' ih"
"Hahaha"
# # #
"Assalamualaikum wr wb"
"Waalaikumsalam wr wb, eh nak Alfi.. ayo masuk." Jawab Ibu Ratih yang menggiringku masuk keruang tengah karena di ruang tamu terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang asyik mengobrol.
"Maaf yah nak Alfi, nanti belajarnya disini dulu, masih ada temen-temen tante."Tambahnya sambil mempersilahkan duduk di sofa yang berhadapan dengan TV kurang lebih 43 inch, di sampingnya terdapat taman dengan joglo ditengah-tengahnya sebagai musholla, gemericik air yang sangat menyatu dengan alam.
"Sebentar ya, saya panggilkan Auliya dulu" Tambahnya lagi sambil pergi menaiki anak tangga demi tangga sampai lantai dua.
"Adiknya Jeng Ratih kok g kelihatan ya"
"Iya Bu Rani, biasanya jam segini sudah pulang dari Masjid, nanti Isya baru berangkat lagi"
"Ibu Sari hafal banget jadwalnya adiknya Jeng Ratih ya"
"Lah tetangga Bu Rani ya tau kalau ada yang pergi keluar masuk"
Samar-samar terdengar percakapan ibu-ibu di ruang tamu. Oalah tetangganya Tante Ratih, kirain kerabat jauh. Dan apa yang samar-samar aku dengar tadi? Beliau-beliau membicarakan adiknya Tante Rati yang tak lain adalah Om eh Pak Yusuf. Wah.. Nambah lagi ini saingan ibu-ibu.
"Sebentar ya Nak Alfi, Auliya masih shalat maghrib"
"Iya Tante"
"Tante tinggal dulu ya"
"Iya Tant."
Setelah tante Ratih kembali ke ruang tamu, obrolan pun dimulai yang tidak sengaja terdengar, bukan menguping ya, tapi tidak sengaja memang terdengar. Mereka secara terang-terangan membicarakan Om eh Pak Yusuf.
"Iya Jeng Ratih, saya kesini itu sebenarnya mau ketemu sama adeknya Jeng Ratih. Katanya ibu-ibu komplek Jeng Ratih mau mantu"
"Iya Bu Ratih, makanya saya mengantar Bu Rani kesini"
Loh loh.. Tante Ratih mau mantu, mau mantu Auliya atau Pak Yusuf?
"Bisa aja Bu Rani sama Bu Sari ini"
"Lah trus mana adeknya Jeng Ratih? Siapa namanya? Yusuf?"
"Iya bener Bu Rani Yusuf"
"Oh Yusuf masih di masjid, kayanya dia ndak pulang lanjut shalat isya Bu."
"Yaa belum rejeki saya dong buat ketemu calon anak mantu"
"Bisa aja Bu Rani ini"
Obrolan mereka terus berlangsung hanya seputar Yusuf si calon anak mantu, entah siapa yang akan dijodohkan sama adiknya Tante Ratih, rasanya penasaran juga dengan obrolan ibu-ibu di luar.
"Kak Alfi, maaf yah nunggu lama." Sapaan Auliyah begitu turun dari tangga.
"Wah emak-emak lagi ini" Tambahnya begitu melihat ibu-ibu di ruang tamu.
"Kenapa Aul?"
"Itu para tetangga itu Kak sering datang kerumah, sering nanyain Om Yusuf, sering minta dijodohkan sama anak-anaknya"
"Oalah.. terkenal ya Aul Om kamu, hehe"
"Itu dia kak, kenapa coba ibu-ibu itu pada naksir sama Om Yusuf. Padahal Om Yusuf itu pendiam banget, heran deh sama emak-emak. Jangan-jangan Kaku Alfi juga ya, iya kan, hehe"
"Hehehe"
Andai kamu tahu Aul, pesona dan wibawanya Om kamu itu dapat banget, g heran kalau semua emak-emak mendambakan menantu seperti dia.
"Eh kemaren Om Yusuf sempet nanyain Kakak lohh, makanya aku langsung w******p Kakak"
"Oiyah Maaf ya Aul, mau aku balesin tapi tengah malam takut mengganggu kamu tidur. Besoknya mau aku balesin tapi lupa."
"Santai aja Kak, hehe.. "
Tanya apaan Aul? Rasanya pertanyaan itu ingin sekali aku ucapkan tapi rasanya tertahan di tenggorokan. Malu dan takut KeGRan mau tanya kaya gitu.
"Yaudah Aul, kita mulai ya keburu malam nanti."
"Oke Kakak"
Akhirnya berhasil fokus juga setelah penuh perjuangan mengabaikan obrolan ibu-ibu di ruang tamu. Kamipun fokus mengerjakan lembar demi lembar sampai tidak terasa ibu-ibu sudah pamit duluan, serta waktu satu setengah jam sudah lewat tapi belum terlihat sosok yang ditunggu datang.
"Pamit dulu ya Aull, Tante."
"Iya Nak, Hati-hati ya"
"Makasih ya Kak."
"Sama-sama."
# # #