17

1758 Words
2 Month later... . . . "Abisin dong, nggak sayang sama uang aku?" "Aku sayangnya sama kamu." April tersenyum lebar, pipinya mengembung masih penuh dengan kunyahan Waffle Keju di mulutnya. "Nggak ah, kenyang." Arion mencebikkan bibirnya. Lalu kembali fokus pada menu penutup makan siang-nya hari ini. Yang juga berupa Mochi Waffle. Kebetulan, Arion sedang ada jam kosong di kantornya. Memilih untuk pulang sejenak dan sekedar menikmati menu dessert di Restoran yang tak jauh dari rumah. Rencananya,  setelah makan siang, Keduanya akan menjemput Kean dan Kinan di sekolah. "Eh inget nggak? Dulu, waktu aku hamil Kean sama Kinan, aku ngidam apa?" Arion menaikkan alisnya. Menatap April dengan tanda tanya. "Ngidam apa, ya?" Laki-laki itu berusaha mengingat-ingat. "Ah, seafood, deh kalau nggak salah." April menjentikkan jarinya di depan wajah Arion. Seakan mengiyakan. "Nah, sekarang aku lagi ngidam yang manis-manis, deh kayanya." "Oh, ya?" "Hmm," April mengangguk. Matanya berbinar-binar. Dan belakangan ini April sangat sering bertingkah seperti anak kecil. "Dari kemarin pengennya yang manis mulu.. Oh, ya, kamu balik ke Kantor lagi?" "Iya. Abis anterin Kamu sama Anak-anak, aku mau balik lagi ke Kantor. Sekarang masih break dan belum masuk Jam pulang." April mengerutkan hidung. "Tumben, ada Quality Time berdua gini. Biasanya pulang malem." "Soalnya Bulan kemarin Tim aku udah nyelesain beberapa program waktu di Bandung kemarin. Jadi begitu sampe ke Jakarta, nggak terlalu numpuk. Jadi ya gini... agak nyantai." "Ya sering-sering aja ada Quality Time gini. Berdua doang tapi. Kan sweet gitu, ya.." "Mulai, deh," Arion memutar bola matanya. Lalu tersenyum simpul. "Eh, mau ada rencana USG nggak?" April membulatkan matanya. Mengunyah potongan waffle terakhir di dalam mulut. "Emang udah bisa keliatan?" Arion berdecak. "Ini udah lewat trimester pertama, kan?" April mengangkat bahu. "Nggak tau, aku nggak inget. Kita sama sekali belum periksa ke Dokter, kan? Terakhir juga aku tau kalau aku hamil dari suster yang ganti selang infus waktu itu." "Minggu depan, yuk?" April tersenyum lebar. "Ah, serius?! Ini bakal jadi first experience buat aku!" Arion mengerutkan dahi. "Emang... waktu hamil Kean-Kinan, kita nggak pernah USG?" April menggeleng, seraya memanyunkan bibirnya. "Kan, kamu tau... waktu itu..." Arion tergelak. "Ah, Iya. Iya. Aku ngerti, udah nggak usah di bahas lagi, ah." "Beneran deal minggu depan, ya?!" "Iya, deh." "Sip!" Sejak saat itu April tak berhenti tersenyum. Dan senyum itu perlahan menurun lagi, ketika merasakan ponsel yang perempuan itu taruh di tas-nya bergetar. April melirik Arion, "Bentar, ya?" "Siapa?" Nada bicaranya datar. April hanya menggeleng sambil menunjukkan layar ponselnya. Tidak ada caller id di sana. Tapi Arion mengangguk, "Angkat aja. Mungkin penting." Awalnya April ragu. Tapi setelah melihat Arion meng-iyakan, Pada akhirnya April menempelkan benda itu ke telingannya. "H-Hallo?" "..." April membeku untuk beberapa saat. Setelah mendengar si penelepon menyebutkan identitasnya. Lagi, April melirik Arion. "I-Iya, emang lagi sama gue, K-Kenapa?" "..." Arion mengerutkan dahinya, menatap April bingung. "Siapa yang telfon?" April menjauhkan ponsel dari telingannya. Dan menyodorkannya ke arah Arion. "D-Daniel. Dia mau ngomong sama kamu." Arion mengerjap. Da ni el. Da niel. Daniel. Daniel..? . "Hallo?" Arion membuka suaranya. "Hai. Ar. Apa kabar?" "B-Baik, lo gimana?" "Baik, kok. Kita ketemuan aja gimana?" Arion melirik April. "Tapi gue lagi sama April." "Iya, gue tau. Deketan, kok. Gue ada di Cafe seberang Restoran tempat lo duduk. Nggak ada lima belas menit." "Jangan lama-lama, ya. April sendirian soalnya." "Aman, kok." Panggilan pun di tutup. Arion menatap April dengan pandangan meyakinkan. "Aku keluar bentar, ya. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana. Oke?" April mengangguk lesu. "Jangan lama-lama, ya?" "Pasti." *** Begitu masuk, Dengan cepat Arion langsung menemukan Daniel. Pria dengan rambut hitam legam, kemeja biru gelap dan potongan rambut yang membuatnya terlihat masukulin itu sedang duduk termangu di dekat jendela sambil... Memangku seorang anak laki-laki. Arion melemas. Sesak di dadanya kembali menyeruak ke permukaan. Semakin Arion mendekatkan langkahnya, semakin sesak itu menguasai paru-parunya. Arion mengenal anak ini. "Hai," Arion menjatuhkan bokongnya di depan Daniel dan... Rega. Mungkin Rega tak merwarisi wajahnya. Tapi, Arion mengenalnya, karena anak itu mewarisi wajah Tamara. "Hai,.. R-Rega?" Daniel menghela nafas. Berusaha untuk berlapang d**a melihat pemandangan ini. Karena ia sadar diri, Rega bukanlah miliknya sepenuhnya. "Iya, Ini Rega." Rega hanya bergelayut di lengan Daniel. Lengan Papa-nya. Seolah terlalu enggan atau justru malu bertemu dengan Arion. Ada sedikit rasa sesak ketika melihat Rega begitu dekat dengan Daniel. Tapi, sesak itu akan berubah menjadi sakit yang luar biasa kalau Kean yang seperti itu. "Umur berapa?" Arion tersenyum lebar. Berharap sirat kekecewaannya tidak terlalu kentara. "...tujuh, nanti bulan depan aku delapan.." Suaranya kecil, lembut. Dan jauh dari Kean yang lebih cerewet tanpa tahu tempat. Daniel berdeham. "Lo.. udah ketemu Rega, kan?" "Terakhir, waktu dia masih bayi. Dan gue nggak nyangka dia udah sebesar ini. Thanks, karena udah mau jaga dia." Daniel mengangguk. "Suatu saat nanti, mungkin dia bakal balik ke elo, Ar." "Gue siap. Itu udah jadi kepastian, Kinan dan Rega bakal tau kenyatannya." "Arion, gue kesini cuma mau bilang Sorry. Gue mungkin nggak akan halangin lo buat komunikasi sama Rega. Tapi suatu saat nanti, Apapun kenyatannya. Jangan.. ambil Rega. " Arion menatap Daniel sendu. "Kenapa?" "G-Gue tau, Ini egois. Tapi lo nggak ngerti. Rega udah jadi bagian dari hidup gue. Nggak peduli dia siapa." Rega hanya diam. Anak itu sepertinya tak peduli dengan apa yang di bicarakan orang tuanya. Rega tak se-peka, dan se-dewasa Kean, buktinya, ia fokus pada Game pada ponsel Daniel tanpa mau tahu apa yang di bicarakan kedua orang ini. Ada hening beberapa saat sampai Arion mengangguk. "Tapi, kalau dia udah besar nanti, Izinin dia tau kebenarannya. Seenggaknya dia tau, Gue adalah..." Arion mengurungkan niatnya untuk melanjutkan. "Yah, meskipun suatu saat nanti, begitu dia tau faktanya, itu nggak ngerubah apapun. Gue cuma bisa bilang makasih, karena mau nerima Mara dan mau nerima Rega juga karena mau ngejaga mereka. Gue ngerasa beruntung." Terakhir, Daniel mengangguk samar. Ada keheningan yang melingkupi atmosfer di antara mereka untuk beberapa saat. Tapi, Arion berhasil mencairkan suasana. Daniel membiarkan Arion meraih tangan mungil Rega yang sejak tadi sibuk bermain gadget. "Om punya sesuatu buat kamu." Rega hanya menatap Arion bingung. Masih terlalu asing dengan sosok pria di hadapannya. Arion melepaskan sebuah gelang yang ada di pergelangan tangannya. Gelang sederhana yang terbuat dari kepangan tali sepatu. Ini mungkin terlalu sederhana dan nggak bernilai. Tapi menurut Arion, ini berharga. Arion dan Kean mengepang sendiri tali sepatu itu dan menyulapnya menjadi sebuah gelang. "Kean punya satu," Dahi Rega berkerut. "Kean? Siapa?" Sambil mengikatkan gelang itu di pergelangan tangan Rega, Arion tersenyum. "Dia itu jagoan kecil Om. Kita punya klub kecil, dan gelang ini tandanya kamu masuk di klub kita. Om, kamu dan Kean.." Rega mengamati benda yang tersemat di pergelangan tangannya lalu tersenyum lebar. "Bagus." Komentarnya. "Om janji, Suatu saat nanti kamu bakal ketemu Kean. Dan kamu nggak akan nyesel karena udah ketemu dia." Arion mengacak rambut Rega lembut. Daniel hanya bisa meringis dalam hati. Lalu menarik nafas, karena masih ada satu topik yang belum tersampaikan. "Oh, ada satu lagi.." "Apa?" Arion mengalihkan pandangannya. "Soal Marvin," Daniel memperbaiki posisi duduknya agar tetap nyaman. "Gue udah denger semuanya dari Mara. Dan.. gue ngewakilin Marvin, buat minta maaf sama lo. Mungkin, Marvin nggak sanggup buat ketemu lo, yang pasti lo mungkin tau alasannya." Malu? Tapi Arion hanya menerka-nerka dalam hati. Ia lebih memilih mendengarkan penjelasan lebih lanjut dark mantan sahabatnya itu. "Gue cuma mau minta lo buat ngasih waktu Marvin sehari aja. Sebelum dia bener-bener ngehilang." "Maksud lo?" Daniel menghela nafas. "...Marvin kena Hepatocellular, Kanker Hati Primer.." Arion tercengang. Diam untuk beberapa detik dan membeku seperti patung. Jujur, ia cukup terkejut untuk saat ini. "S-Sejak kapan?" "Kabarnya, Waktu masih study di Beijing. Awalnya gue nggak tau apa maksud utama dia balik ke Jakarta. Selama di Jakarta pun dia keliatan baik-baik aja, kecuali... Ya, gitu.. sering muntah-muntah dan nyeri perut. Marvin selalu nolak untuk periksa ke Dokter. Dan setelah gue tau, ternyata sejak di Beijing, dia udah sadar penyakit yang dia derita. "Setelah gue dan Mara tau, penyakit dia. Marvin nggak nyerah, bahkan gue udah berusaha buat paksa dia ke Singapur untuk operasi. Dia nolak. Dan Mara cerita, kalau ternyata... dia cuma mau ngewujud-in sesuatu sebelum dia meninggal. Nikah sama April... salah satunya. Gue yakin, itu alesan dia kenapa ngejar-ngejar April kaya orang gila." Arion menarik nafas. Menyandarkan punggungnya di kursi. Ia bingung bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini. Disisi lain, Arion juga masih menyimpan rasa sakit atas kejadian beberapa bulan lalu. "Terus, lo mau gue ngapain? Dan kenapa nggak Mara aja yang ngomong langsung, kenapa harus lo?" "Gue rasa, ngomong dari cowok ke cowok akan lebih gampang ngerti. Dan gue cuma mau minta, lo ngasih waktu untuk hari ini aja. Marvin sekarang lagi nemuin April untuk yang terakhir kali sebelum dia berangkat ke Singapura, Besok." "J-jadi? Ini udah ada rencana?" Arion mulai tersulut emosi lagi. "Lo tenang, Man. Gue udah bilang, kan? Gue minta pengertian lo. Hari ini aja. Untuk lima belas menit ke depan." Arion menghembuskan nafas kasar. Mengusap wajahnya frustasi. "Stadium berapa?" "Pertama kali, waktu Gue dan Mara tau, Diagnosis-nya stadium dua. Dan terakhir kemarin check up, Sel kankernya hampir merambat ke kelenjar getah bening dan Diagnosis-nya naik jadi stadium tiga." Arion berdecak. "Gue nggak tau harus ngomong apa. Rasanya masih ruwet antara dendam atau justru ikut sedih denger kabar ini. Intinya, gue harap dia bisa sembuh." *** April berjengit ketika melihat sosok kurus seorang laki-laki dengan kulit kekuningan menghampirinya. Bentuk wajahnya masih dapat April kenali, dan begitu April sadar siapa sosok di depannya, Perempuan itu langsung bangkit berdiri. "Tunggu, Pril." Suaranya serak. Lemah. Tanpa daya. Membuat April mau tak mau terpaksa kembali menjatuhkan bokongnya disana. "Gue nggak mau berurusan lagi sama lo, Vin." "Gue juga. Tapi ini yang terakhir. Setelah ini gue janji, lo nggak akan ketemu gue lagi." April diam. Berusaha bertahan di situasi yang membuatnya kalang kabut. Matanya tak bisa berhenti untuk mengedarkan pandang ke sekeliling, takut-takut Arion akan memergokinya. Lagi. Dan April nggak mau ada salah paham untuk kesekian kalinya. Marvin mengerutkan dahinya. "Lo nggak perlu gelisah. Arion udah tau, kalau kita ketemuan." "Tau atau enggak, Intinya gue nggak punya banyak waktu buat lo." "Gue tau," Marvin mengangguk. Detik selanjutnya ia mengeluarkan sebuah kotak sepatu yang sudah usang dan berdebu. "Gue cuma mau ngembaliin ini ke elo." April mengerjapkan matanya. Ia ingat benda ini. Kotak sepatu ballet yang sudah tak terpakai. Marvin mendorong benda itu ke arah April. Tangannya berubah lembab ketika April membukannya. Dan ternyata, Isinya masih sama seperti dulu. Barang-barang favorit mereka. Sebuah kaset pita, tumpukan foto hasil jepretan kamera polaroid lama yang di ikat dengan karet gelang dan beberapa carik kertas dengan tulisan lama yang tinta pulpennya mulai menguning termakan waktu. "Kenapa... masih lo simpen?" "Gimana pun juga, Ini adalah bagian dari kenangan. Udah sepatutnya gue jaga baik-baik. Sekarang, gue bakal kembaliin ini ke lo. Gue harap lo bisa jaga ini buat gue." "Maksud... lo?" "Lo pernah jadi bagian dari kenangan gue. Dan gue juga berharap, gue bisa jadi bagian dari kenangan hidup lo. Seenggaknya, lo bisa mengenang gue sebagai sahabat." April diam. "Kenapa.. lo tiba-tiba kaya gini? Sebenernya lo kenapa, sih?" Marvin mengulas senyum tipis. "Gue pengen ngeliat lo buat terakhir kali, sebelum gue berangkat ke Singapura besok." "B-Besok? Kenapa tiba-tiba? Terus buat apa lo ke Singapura?" Marvin tersenyum. "Gue... baik-baik aja, kok. Cuma sakit biasa. Jangan khawatir." "Bohong," "Nggak papa, Pril." "Lo nggak—" "Arion udah nunggu," Marvin menunjuk sosok Pria yang berdiri di depan pintu Restoran sambil memegang sebuah payung.  Entah bagaimana, April dan Marvin sama-sama tak sadar bahwa di luar langit mendung dan hujan sudah turun dengan perlahan. "Lo nggak mau ada salah paham lagi, kan? Pulang, gih." April bangkit berdiri, meskipun lututnya lemas. Matanya sudah memanas dan sebisa mungkin perempuan itu mengontrol diri agar tangisnya tidak pecah. "Sampein salam gue sama Kean dan Kinan, ya?" "Bye.." April berucap lirih. Lalu membawa Kotak Sepatu yang di titipkan Marvin tadi bersamanya. Arion langsung merangkul tubuh mungil April agar terhindar dari rintik air di bawah lindungan payung. Sekali, Arion melirik ke belakang. Melihat samar-samar sosok Marvin yang rapuh di balik kaca Restoran. Gue nggak tau harus maafin lo. Atau justru terus dendam sama lo. *** . . (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD