Malam ini, Arion janji akan pulang.
Kean dan Kinan nggak bisa berhenti membayangkan bagaimana acara ulang tahunnya sekarang. Imajinasi tentang puluhan kado yang bertumpuk, kue tart yang siap di potong dan nyanyian lagu Selamat Ulang Tahun itu tak pudar.
Sekali, Kean mengintip ke lemari pendingin. Disana sudah ada sekotak Kue cheesecake yang masih tersegel di dalam kotak. Anak itu tak berhenti tersenyum, dan ingin buru-buru tidur agar malam cepat larut.
Keluarga kecil ini mempunyai tradisi sederhana. Setiap pukul dua belas malam tepat pada menit pertama pertambahan umurnya, Pintu kamar akan di ketuk sekali.
Siapapun itu; Mama, Papa atau Kean&Kinan, tergantung siapa yang sedang ber-ulang tahun hari itu akan di kejutkan dengan nyanyian ulang tahun di tengah malam yang sunyi dan sekotak Kue Ulang Tahun dengan lilin yang menyala terang.
Ah, Kean dan Kinan nggak sabar nunggu.
***
.
.
.
Semua lampu mati. Kecuali satu ruangan yang masih di biarkan menyala dengan penerangan berupa lampu kuning yang agak meredup. Jam menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit larut malam.
Di depan wastafel April memejamkan matanya. Menunggu sekitar beberapa menit agar hasilnya akurat. Setelah lama menunda, April memutuskan untuk mencobanya malam ini.
Benda pipih tersebut ia angkat dari segelas kecil berupa urine, sebelum akhirnya membuka mata untuk melihat bagaimana hasilnya.
Dan, dua garis.
Positif.
April sudah menduganya. Suster itu benar. Ia sedang mengandung.
Perempuan itu menghela nafas dengan deruan yang sedikit tersendat. Entah ini kabar buruk atau kabar bahagia. April nggak yakin untuk membicarakan ini dengan Arion.
Situasinya sedang tidak tepat.
Tapi... semoga.
Semoga ini bisa mencairkan Es yang selama ini membuat mereka membeku.
Kepalanya mendongak, begitu melihat siluet seorang Pria dengan kemeja hitam menembus penerangan di Dapur.
Arion meletakkan koper kecil dan jaket kulitnya di dekat kursi makan. April segera menyembunyikan test pack yang ia pegang di belakang punggung. Setiap kali melihat Pria itu, kakinya melemas dan seluruh tubuhnya bergetar.
Arion bertransformasi menjadi sosok monster dingin yang membuatnya membeku di tempat. Bukan lagi sosok yang menghangatkan hatinya.
"K-Kamu udah pulang?"
Arion mengerutkan dahinya.
Bodoh. Itu bukan pertanyaan yang tepat.
"Hmm," Arion hanya bergumam, sambil mengangguk. Meskipun tak ada nada ketus di sana, tetap saja.. April merasa tak nyaman.
Arion melangkah, mengambil dua gelas kosong dan mengisinya dengan air putih. Satu gelasnya ia berikan pada April, dan perempuan itu meraihnya dengan sebelah tangan. Karena tangan yang satunya sibuk memegang sesuatu di belakang tubuh.
Semenit.
.
Dua menit.
.
.
Lima menit.
.
.
.
Tak ada yang memulai berbicara. Antara Arion dan April larut dengan pikiran masing-masing. Arion berdiri memunggungi April, menghadap ke meja pantry sambil sesekali meneguk air.
Sedangkan April tak membiarkan bibirnya menyentuh gelas. Kakinya mengetuk lantai, menyusun serangkaian kata yang ingin ia utarakan sejak lama.
"Aku...," April bersuara. Terdengar sedikit serak karena perempuan itu tak bisa menetralkan degupan jantungnya sekarang. "A-Aku.., aku mau ngomong."
Arion menjauhkan gelas dari bibirnya. Tidak menjawab. Tidak juga memutar tubuhnya untuk sekedar menghadap April. Arion tau, Ini sama sekali nggak gentle. Arion hanya tidak bisa. Tidak bisa memandang bagaimana wajah April sekarang.
April harap Arion akan mendengarkannya. Meskipun tidak, Tapi April tetap akan mencoba berbicara. "Aku capek,"
April menarik nafas dan menahannya. Perempuan itu mengerjapkan matanya, mendongakkan kepalanya ke atas agar air mata itu tak mudah jatuh. "K-Kamu nggak capek?"
"Aku tau, aku salah. Dan aku udah coba minta maaf sama kamu, tapi kamu..."
Gagal.
Pada akhirnya, buliran itu jatuh juga mengenai pipi, Sebisa apapun April untuk menahan, situasi ini akan tetap membuat air matanya turun.
"...kamu nggak berusaha buat dengerin aku.." April mengusap pipinya cepat, menetralkan suaranya yang bergetar agar tidak terlihat lemah. "Aku tau aku salah, tapi aku pikir sekali lagi.. aku nggak sepenuhnya salah.."
April meremas kuat testpack yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuh hingga tak berbentuk lagi. "Maaf kalau aku kurang ajar, Tapi.. selama ini kamu selalu hubungin ini sama masa lalu aku.. Dan itu artinya, aku juga berhak ungkit masa lalu kamu.."
Kali ini April menarik senyum. Senyum sinis, tapi terselip kerapuhan di balik sana. "Soal aku, Soal Tamara, Soal Rega, Soal Kean sama Kinan? Mau kamu bawa kemana itu semua?"
Di balik sana, Arion mengepalkan tangannya, berusaha menarik nafas agar dadanya tidak sesak. Tapi Arion tak kunjung berbalik, mulutnya juga tak bisa terbuka bahkan untuk sekedar meluruskan semuanya. Arion bodoh.
"Kenapa dari dulu selalu aku yang harus ngertiin kamu? Kenapa selalu aku yang harus maafin kamu? Coba kamu pikir, Li! Rasa sakit yang aku rasain bahkan lebih dari apa yang kamu rasain sekarang.. Tapi, karena aku percaya sama kamu.. itu alesan kenapa aku masih berdiri sama kamu sampai sekarang.
"Aku nggak minta apa-apa, aku cuma minta pengertian dari kamu, aku cuma pengen kamu ngerti dan ngasih waktu aku buat berubah, buat ngelurusin semuanya. Waktu dulu, aku juga ngasih pengertian buat kamu, kan? Karena aku percaya, kamu bakal berubah.. Bukannya selama ini kita udah janji buat saling percaya?"
***
Di balik itu, Kean dan Kinan meringkuk di bawah selimut tebal. Kean sengaja tidur di kamar Kinan, berharap cheese cake yang tadi ia intip di lemari Es akan menghampiri mereka malam ini.
Mereka sengaja mematikan lampu agar menambah ke seruan. Kinan menyalakan senter dan menyorot wajah Kean yang justru terlelap di bawah selimut. Sedikit informasi, mereka membangun area kemah berupa bentangan selimut di bawah tempat tidur.
"Yan! Banguuun.."
Kean melengguh. Mengerjapkan matanya yang perih terkena sorotan senter. "Apa, sih?"
"Kayanya di bawah, Papa udah pulang, deh. Aku denger suara mereka.."
Keduanya sama-sama merangkak, keluar dari tempat persembunyiannya. Kinan menyorotkan cahaya senter ke jam weker di meja. "Udah jam satu malem, Kue-nya belum otw juga."
Kean mendengus. Sambil mengucek matanya. "Aku intip ke bawah, deh. Bentar, ya."
Matanya berbinar begitu sampai di anak tangga pertama. Kean mengurungkan niatnya untuk tetap turun ke bawah. Bisa jadi, Papa dan Mama sedang menaruh lilin dan Kean nggak ingin merusak kejutan malam ini.
Ia bejongkok di ujung tangga. Berusaha untuk menguping sesuatu. Tubuhnya yang mungil sama sekali tak terlihat karena di sembunyikan oleh gelapnya ruangan. Kean tersenyum dan setelah beberapa detik senyumnya pudar, ia menggigit jarinya,
Sama sekali tak seperti ekspetasinya.
"...Bahkan setelah aku ngomong panjang lebar gini, kamu nggak mau ngeliat aku? Apa kamu bener-bener nggak percaya sama aku? Apa kamu pikir semua omonganku tadi itu omong kosong buat kamu?"
Kean yakin. Itu suara Mama. Suaranya lirih, dan Kean hanya berharap mendengar suara Papa di sana.
"...Apa kamu mau kita sampai di sini aja?"
Kean memejamkan matanya kuat-kuat. Kendati ruangan ini sudah gelap, tapi Kean terus memejamkan matanya. Menggigit jempolnya agar tak menimbulkan isakan. Ia terus bertahan di tempatnya dan meringkuk di ujung tangga.
Sampai terdengar suara pecahan kaca Kean baru mulai bangkit berdiri, sedikit tergopoh untuk menggapai gagang pintu kamar Kinan. Tubuhnya dingin dan bergetar semuanya.
Kean merasa, Istana ini bukan hanya berubah menjadi Kastil nenek sihir, tapi juga berubah menjadi Kastil yang terkutuk, dan akan runtuh perlahan-lahan.
Kean nggak mau dongeng mengerikan itu juga terjadi.
***
"...Bahkan setelah aku ngomong panjang lebar gini, kamu nggak mau ngeliat aku? Apa kamu bener-bener nggak percaya sama aku? Apa kamu pikir semua omonganku tadi itu omong kosong buat kamu?"
April tak menaikkan nada suaranya. Menatap punggung tegap Arion, dan berharap tubuh Arion berbali menatapnya. April tak tahu, berapa banyak lagi air mata yang harus mengalir malam ini.
Kesal. Marah. Merasa bersalah. Semuanya campur aduk. Antara Arion dan April juga sama-sama merasa, hubungan yang mereka jalani masih belum dewasa. Dan mereka juga belum tau, bagaimana cara yang tepat bagi orang dewasa menyelesaikan masalah ini.
"...Apa kamu mau kita sampai di sini aja?"
Deg.
.
.
.
Saat itu juga, Arion meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke meja Pantry dengan dentuman yang agak keras hingga menimbulkan suara nyaring. Setelah beberapa lama Arion memunggunginya, Laki-laki itu berbalik.
April berjengit. Ia justru terkejut dan malah bergetar ketika melihat sosok laki-laki di hadapannya berbalik. Matanya berkilat tajam. Dan dalam hitungan detik, Arion mendekat, menarik bahu April, mendorongnya ke meja pantry hingga punggung perempuan itu membentur sisi meja. Lengannya tak sengaja menjatuhkan gelas kosong yang tadi Arion simpan hingga benda itu terjatuh dan pecah di lantai.
Ketika bibir mereka bertemu, April merasa ada adrenalin aneh yang bermain disana. Ada secercah amarah yang terselip di setiap ciuman yang Arion berikan. Nafsu.
April mendorongnya, berusaha melepaskan Arion yang mulai di luar kendali. Testpack yang ia genggam di tangan tadi sudah hilang entah kemana. Tangannya sibuk mendorong d**a Arion agar menjauh. Dan pada akhirnya, April justru tenggelam dalam ciuman itu.
Arion menarik diri, kemudian menangkup wajah April, berusaha menatap lurus tepat pada lensa cokelat milik perempuan-nya. Bibirnya masih terkatup dan tak juga mengeluarkan kata-kata. Ibu jarinya langsung sigap menghapus air mata yang jatuh di wajah April. "Jangan pernah ngomong gitu lagi..,"
Bulu kuduknya meremang, begitu April mendengar suara serak yang keluar dari mulut Arion. April tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menangis. Nafasnya tersendat dan April menghindari tatapan mata laki-laki di depannya. "Kamu nggak sayang sama aku—"
"I love you. Karena kalau aku cinta sama kamu, kamu nggak perlu ragu lagi aku sayang atau enggak sama kamu."
April terdiam. Membeku. Yang bisa Arion dengar sekarang hanya suara isakan tangis. Arion menahan nafasnya, "Maafin aku," Lalu detik selanjutnya, Arion menarik April dalam dekapannya. Memeluk tubuh perempuan itu dan berharap isakan tangisnya berhenti. "Maafin aku karena nggak pernah ngertiin kamu, karena nggak pernah dengerin kamu.. Dan kamu juga nggak pantes nangis gara-gara aku."
Arion menepuk lembut punggung April, berharap bisa memberikan ketenangan. Arion mengelus rambut April yang terurai, "Yang aku butuhin bukan ke setiaan kamu, tapi kejujuran kamu. Karena kalau kamu udah jujur, aku yakin, kamu pasti setia."
Arion dapat merasakan April mengangguk samar. Ia melonggarkan pelukannya. Mengapus sisa air mata yang ada di wajah April. Arion mengecup keningnya, matanya, pipinya dan terakhir bibirnya dengan singkat. Ia melirik ke lantai dua, memastikan pintu kamar Kean dan Kinan tertutup rapat. "Jangan bicara disini, mereka bakal keganggu."
Arion menarik tangan April pelan, menuntunnya melewati gelapnya ruangan di tengah malam. Masih banyak hal yang perlu mereka bicarakan di Kamar.
***
Kinan melepaskan earphone yang menancap di sebelah telingannya. Anak itu mengerti alasan kenapa Kean masuk ke kamarnya dengan gemetaran dan memilih untuk mendengarkan lagu.
"Kamu kenapa?" Kinan bertanya, Kean masuk dan langsung mencari-cari iPod di dalam laci meja belajar Kinan.
"K-Kita dengerin lagu aja, yuk, Ki.."
Kinan menggeleng, memutar tubuh Kean agar menghadapnya. Anak itu menyorotkan cahaya senter ke wajah Kean yang terlihat pucat. "Bilang sama aku! Kamu kenapa? Mama sama Papa kenapa?"
Kean menepis tangan Kinan, berusaha menyingkirkan cahaya senter yang menyilaukan matanya. Setelah berhasil menemukan iPod di tengah kegelapan, Kean menarik Kinan ke kasur, mengajaknya agar duduk di sebelahnya. Mereka berbagi sebelah earphone.
"Jangan pernah dengerin suara apapun."
.
Kinan bangkit dari kasur, memutar knop pintu. Ia membawa senter itu bersamanya, sekali di arahkannya ke arah Kean yang sedang memejamkan mata dan terlarut dengan lagu klasik.
Ketika sampai di anak tangga terakhir yang meliuk ke ruang makan dan dapur, Kinan sedikit terkejut melihat ada pecahan beling di sana. Anak itu dengan hati-hati melangkah agar kakinya tak terluka. Kemudian ia membuka lemari pendingin dan merasakan sensasi sejuk dari sana.
Sekotak Cheesecake yang belum tersentuh itu masih tetap seperti semula. Mendingin. Mengeras. Karena terlalu lama di simpan di dalam Lemari Pendingin.
Kinan mengambilnya dengan hati-hati. Setelah menutup pintunya kembali, Anak itu membawanya ke atas kamar.
***
Seketika kamar yang gelap gulita menjadi terang benderang ketika ada sorot kuning yang masuk perlahan. Kean langsung berjingkrak dari kasur karena ia yakin Mama dan Papa ada di depan pintu kamar.
Begitu ia melihat lebih jelas lagi. Sosok yang membawa Cheesecake yang di atasnya terdapa lilin berbentuk angka delapan itu hanyalah sosok Kinan yang tersenyum sendu.
"Happy birthday... Happy birthday.. H-Happy... B-Birthday... to.. Me..."
Hati Kean mencelus ketika mendengar lantunan lagu ulang tahun dari Kinan. Suaranya lembut. Bahkan Kean merinding ketika saudara kembarnya itu menangis di pertengahan lagu.
Kinan memegang Kue Ulang Tahun itu dengan kokoh agar tak terjatuh, meskipun tangannya sudah gemetaran.
Keduanya meniup lilin yang menjadi sumber penerangan itu secara bersamaan. Mengambil beberapa detik untuk mengucap do'a dan permohonan.
Dalam ke gelapan, Kean dan Kinan berpelukan, saling memberikan kehangatan masing-masing. Berusaha untuk berdamai untuk beberapa saat dan menyingkirkan pertengkaran yang pernah mereka lalui selama ini.
"Happy Birthday.. Kinan.."
"H-Happy B-Birthday juga buat kamu... Buat kita.."
Kean menepuk punggung Kinan pelan. "It's okay, Ki.. semuanya bakal baik-baik aja."
***
Dear Mama n' Papa.
Kean sama Kinan nggak minta hadiah di umur ke-8 ini. Kean sama Kinan cuma pengen Papa sama Mama berhenti berantem.
Kangen Papa yang selalu banyak bercanda kaya anak kecil. Kangen masakan Mama.. Kangen suasana ruang makan yang suka rame!
wish kali ini, nggak susah, kan?
.
.
.
(TBC)