13

2297 Words
Dear Opa. Ini pertama kalinya Kean ngeliat Papa n' Mama berantem. Mereka diem-dieman, nggak pernah ngobrol dan Kean nggak tau harus ngapain. Opa.. Kean cuma pengen Papa n' Mama tau, Kean sama Kinan sayang mereka. Dua hari lagi, Papa katanya mau ke luar kota. Papa belum bilang apa-apa sama Mama. Kean harus gimana, Opa? ××|×× "Makasih Om Mario!" Kean melambaikan tangannya. Pria itu mengangguk sambil tersenyum lebar dan mengangkat tangan. "Tos dulu?" "Tos!!" Dengan Enerjiknya Kean membalas high five dari Mario. "Bye Om!" Kinan melambaikan tangan, lalu anak itu tak sengaja melirik Gio yang ada di dalam mobil. "Gio!! Bye Bye!" Mario mencubit hidung Kean gemas. "Jangan nakal, ya!" "Sip!" Kean mengacungkan jempolnya. "Makasih, ya Om!" Mario mengangguk. "Sama-sama, Om pulang dulu, ya?" Setelah Kean dan Kinan mengangguk, Mario mulai menaikkan kaca mobilnya. Detik selanjutnya, Mobil hitam metalik itu akhirnya meluncur dari pekarangan rumah. Kean dan Kinan memutar tubuh mereka. Sama-sama nggak tahu harus melakukan apa setelah ini. Harusnya Mama menjemput mereka di sekolah, tapi Kean dan Kinan tidak mengambil pilihan yang sama seperti sebelumnya; menunggu Mama di sekolah. Mereka akhirnya menerima tawaran Mario untuk mengantar sampai rumah. Begitu pintu terbuka. Aura-nya aneh. Ruang keluarga terasa sepi dan senyap. Meja makan masih dengan kondisi semula. Bahkan dua gelas s**u yang sudah kosong sejak tadi pagi masih ada disana tanpa ada yang memindahkannya ke dapur. Biasanya ada menu makan siang yang menyambut mereka setiap kali pulang sekolah. Aroma ayam goreng dan masakan khas buatan Mama biasanya langsung menyerbak dan membuat Kean tergugah untuk langsung menarik kursi tanpa mengganti seragam. Sekarang tidak. Untuk pertama kalinya, Kean dan Kinan baru menghadapi situasi ini. Kean dan Kinan ingin bertanya, apa waktu mereka masih bayi Papa dan Mama sering bertengkar? Kean dan Kinan juga ingin bertanya, Apa yang harus mereka lakukan di situasi seperti ini? Kean dan Kinan hanya ingin tahu jawabannya. "Laper?" Tanya Kean. Kinan menggeleng. "Nggak," Lalu kepalanya menoleh, menatap pintu dengan ukiran kayu yang akhir-akhir ini sering tertutup rapat. "Mama... udah makan belum, ya?" Kean mengangkat bahu. "Nggak tau. Emang kita harus ngapain kalau Mama belum makan?" Kinan mengulas senyum tipis. "Sandwich isi telor, kayanya enak? Mau bikin?" "Emang bisa?" Kean mengangkat sebelas alisnya, remeh. "Bisa, dong!" *** April menoleh, begitu mendengar pintu kamarnya terbuka. Dua orang anak mungil dengan pakaian seragam sekolah lengkap dan wajah kusam masuk dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sandwich isi telur dan segelas s**u. Kean dan Kinan menyimpan nampan itu di atas meja. Lalu kaki-kaki mungil mereka naik ke atas ranjang. April berkedip, menatap kedua buah hatinya dengan tatapan bingung. Dua pasang mata cokelat itu menatapnya nanar. Seolah meneliti setiap detail yang ada di tubuh April. Pandangan mata Kinan meredup, karena tahu, Mama sedang tidak baik-baik saja. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Mama terlihat kurus dalam beberapa hari. Hampir tiga hari terakhir, Perempuan itu selalu mengurung diri di kamar. Dan selama itu pula; Arion, Kean dan Kinan tidur dalam ranjang yang sama. Berangkat lebih pagi dari biasanya dan selalu sarapan dengan menu yang sama berturut-terut. Semangkuk sereal dan s**u. Enggak, bukannya bosan.. Kean dan Kinan cuma kangen nasi goreng hangat buatan Mama. Denting segala perabotan dapur yang selalu mendominasi setiap pagi. Istana pribadi Kean dan Kinan seolah berubah menjadi sebuah kastil penyihir dalam beberapa hari. Sunyi. Senyap. "Mama sakit?" Kinan menempelkan punggung tangannya di kening April yang berkeringat. April menggeleng lemah. "Nggak papa." "Mama belum makan siang," Kean menarik nampan dan menaruhnya di pangkuan. "Kita cuma bisa bikin ini, nggak papa, kan?" April tersenyum lembut. Lalu mengambil setangkup dan mulai mengunyahnya. "Makasih udah inget," Kean dan Kinan tersenyum bersamaan. April mengunyah sandwich tersebut masih dengan menyembunyikan wajahnya. Nggak tau, April hanya merasa... malu. Mulutnya berhenti mengunyah. Mual. "Mama kenapa?!" Tanpa kata-kata, April langsung turun dari ranjang, sosoknya menghilang di balik pintu kamar. Lalu beberapa detik kemudian, terdengar suara keran air juga suara muntah-muntah. Kinan meraih tangan April, setelah perempuan itu duduk di kursi makan. Wajahnya semakin pucat. Belakangan ini April sering mengeluh mual dan sakit kepala. Lebih tepatnya, semenjak kejadian itu yang Kinan dan Kean tau, Mama berubah menjadi pendiam seperti menanggung beban pikiran. Ketika Kinan menggenggam tangan April. Suhu badannya tinggi. "Ma? Mama sakit?" April menggeleng lemah. "Nggak...pusing dikit doang, kok." April mengerjapkan matanya. Berusaha menetralkan pandangannya yang mulai mengabur. Samar-samar, semuanya berubah buram dan tak jelas, wajah Kean dan Kinan hanya berupa siluet-siluet. "Mama!" Saat April merasa badannya oleng, semuanya berubah hitam. Benar-benar gelap. *** "Kean sama Kinan tunggu di rumah, ya?" "Tapi Mama, gimana?" "Nggak papa, kalian jangan panik, ya." Arion berusaha menenangkan Kean dan Kinan. Padahal ia sendiri juga sama paniknya. Laki-laki itu langsung menutup pintu mobil dan tancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesekali ia melirik tubuh seorang perempuan yang kini setengah sadar duduk di sebelahnya. April berkeringat, wajahnya pucat dan suhu tubuhnya tinggi. Jantungnya langsung berdegup dua kali lebih cepat setelah menerima telefon dari Kinan dengan suara bergetar. Saat itu juga, pikirannya buyar. Kecuali satu gagasan; April sedang tidak baik-baik saja. "s**t!" Arion mencengkram erat setir mobil gusar. Dalam keadaan seperti ini, Di depan sana sebuah mobil berhenti. Macet. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Jakarta seringkali terserang virus jalan raya satu ini. Arion semakin gelisah. Disisi lain, ia tidak dapat menyalip mobil lain. Posisi mobilnya berada di sisi kiri jalan. Tepat di depan sebuah apotek dan beberapa meter lagi adalah gedung rumah sakit. Laki-laki itu berdecak, melirik April sekali lagi. Tanpa pikir panjang, Arion membelokkan mobilnya, memarkirkan lexus hitam itu di halaman parkir sebuah apotek. "Gue tau lo kuat, Pril." Arion turun dari mobil dan memutarinya untuk membuka pintu mobil sebelah. Laki-laki itu memilih meninggalkan mobilnya dan menggendong tubuh April hingga beberapa meter sampai rumah sakit. Peduli setan dengan tatapan orang-orang sekitar. Yang menjadi masalah utama adalah keadaan perempuan yang ada dalam gendongannya. Begitu sampai di lobi, beberapa orang perawat langsung berkerumun mengambil alih tubuh April dan membawanya masuk ke Unit Gawat Darurat. "Sus, dia nggak papa, kan?" "Anda tenang saja, kami akan berusaha." Suster menahan tubuh Arion untuk masuk. Terakhir, ia tersenyum sebelum akhirnya pintu kaca itu tertutup. Arion menghapus keringat di dahinya. Ia tak bisa tenang sekarang. Rasa cemas yang ia rasakan sekarang bahkan lebih parah saat Arion menunggu Kean dan Kinan lahir lewat operasi waktu itu. Maafin aku, Pril. *** Pintu di ketuk sekali. Seorang laki-laki dengan perawakan tegap dan kemeja merah marun masuk dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas air dan beberapa pil dalam botol kecil. "Minum obat dulu." Marvin melengos. Begitu melihat Daniel, ia langsung menghempaskan tubuh ke ranjang dengan mata terpejam. "Lagi nggak kambuh," "Obat ini nggak punya aturan untuk harus lo minum waktu kambuh doang." Marvin diam. Menghindari kontak mata Daniel dan beringsut untuk menarik sesuatu dari dalam laci. Sebingkai foto. Yang di belakang figura-nya terselip secarik kertas memo yang sudah lama ia tulis beberapa bulan yang lalu. "Gue udah denger kabar soal reuni kemarin dari Tamara." "Terus?" Daniel berdecak. "Saran gue, lo berhenti sia-sia in waktu lo, Vin! Ya, meskipun gue emang nggak ada hubungan apa-apa sama lo. Tapi jujur, gue prihatin.." "Terakhir, Gue ikut prihatin sama hidup lo. Lo keliatan menyedihkan, Man." Ia kenal kalimat ini. "Gue nggak butuh rasa kasihan lo, Dan." "Gue kasihan, udah nggak sepantasnya lo tetep ngejar April yang pada kenyataannya udah sama Arion," Daniel tertawa kecil. "Gue tau Arion, Dan lo tau April. Yang gue tau, Arion nggak akan semudah itu ngelepasin apa yang udah jadi milik dia sekarang." Marvin terduduk. Meletakkan bingkai foto dengan figur dua orang anak laki-laki dan perempuan berseragam putih biru sedang tersenyum ke arah kamera. Lalu ia menatap Daniel tajam. "Lo bahkan masih ngebela Arion padahal lo tau, Arion pernah ngeham—" Kalimatnya belum tuntas sampai ia merasa wajahnya basah tersiram air. Segelas air yang tadi Daniel bawa di atas nampan langsung ia siramkan tepat di wajah Marvin sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya. "b******k!" Marvin tersenyum, mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan lalu menatap Daniel lagi. "Menurut lo, lebih b******k mana? Ngehamilin cewek orang, atau ngerebut cewek orang?" Daniel bangkit berdiri lalu tersenyum sinis. "Gue cuma bisa doain, semoga lo cepet sembuh!" *** "Dari hasil pemeriksaan, Istri anda mengalami gejala tipes. Demam tinggi dan mual-mual mungkin akan segera berkurang dalam beberapa hari, tapi kabar baiknya.. Janin dalam perut pasien baik-baik saja." . . . . . Deg. . . . . "J-janin?" Pria dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya itu mengerutkan dahi. "Betul. Pasien sedang mengandung, usia kehamilannya memasuki minggu ke delapan." Arion membeku. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal kehamilan April. Ia juga tidak tahu apakah April mengetahui kehamilannya dan berusaha menyebunyikan fakta ini dari Arion, atau... April memang tidak sadar sama sekali. "T-tapi, Dok.. yang saya lihat, Istri saya baru akhir-akhir ini mual-mual. Kenapa tiba-tiba aja langsung masuk minggu ke delapan?" Dokter Adrian—begitu ia di panggil—hanya tersenyum. "Mual dan muntah nggak selalu menjadi patokan usia kehamilan. Dan mual yang di alami istri anda sekarang merupakan salah satu gejala tipes yang pasien alami." Arion menghela nafas, mengusap wajahnya lelah. "Jadi tindakan selanjutnya apa, Dok?" "Saya sarankan, Pasien di rawat inap agar kondisinya terkontrol. Kemungkinan dari beberapa kasus gejala tipes yang saya tangani, Pasien akan pulih dalam waktu tiga sampai empat hari." Arion mengangguk. Tatapan matanya meredup. "Kalau gitu, Terima kasih ya, Dok." "Baik, sama-sama." Sepuluh detik setelah Arion keluar dari ruangan. Ponselnya bergetar. Dahinya bekerut menatap caller id di layar ponsel. Sebuah panggilan masuk dari rekan bisnisnya. "Hallo, Pak?" "..." "Iya, saya bisa," Arion memberi jeda sejenak untuk bepikir. "Tapi.. Istri saya lagi di rumah sakit, Pak. Saya nggak bisa sampai seminggu di Bandung." "..." "Saya usahakan, ya Pak. Proposal yang kemarin sudah assisten saya taruh di ruangan Bapak." "..." "Oke. Terima kasih." Arion menghembuskan nafas kasar. Ia mendudukan tubuhnya di kursi tunggu rumah sakit dan menunduk. Satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaan mentalnya sekarang adalah; Bingung. Arion bingung harus bagaimana memulai dan mengakhiri situasi ini. (samaauthorjugabingungharusgimanasamaalurceritaini-,) *** "Jangan nakal, ya, sayang." Tangan lembutnya yang berbalut jarum infus mengelus kepala Kean dan Kinan bergantian. April berusaha memposisikan dirinya agar bisa duduk untuk memeluk mereka. Dua anak kembar itu memanjat ke bangkar rumah sakit, memeluk April seerat mungkin. "Cepet sembuh, Ma." Kinan berbisik. "Amin, Kean sama Kinan jangan nakal, ya." April mengelus punggung mereka lembut. "Mama nggak takut sendirian?" Tanya Kean. April tersenyum kecil. Melirik Arion yang berdiri di sampingnya dengan kemeja rapi. Sebelumnya, Arion bilang kalau siang ini ia akan meluncur ke Bandung. Kabar yang begitu mendadak, sekaligus obrolan singkat itu adalah obrolan pertamanya setelah beberapa hari Arion menutup suara. Iya, Mama takut sendirian. "Nggak, Mama nggak takut sendirian. Kan ada suster yang nanti jagain." "Jangan lupa, mau tidur baca do'a. Nggak boleh berantem sama Gio, ya?" Kali ini Kean mendengus. Sebelum akhirnya mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Detik selanjutnya, anak itu mencium pipi kanan April. "Kean sayang Mama." Kinan ikut mencondongkan tubuhnya. "Kinan juga sayang Mama." "Iya, jangan kangen Mama, ya?" Prilu tertawa kecil. Senyumnya bahkan masih terlihat cerah meskipun wajahnya pucat. Arion mendekat menyingkirkan rambut yang menghalangi dahi perempuan itu lalu mengecupnya lembut. "Aku berangkat. Cepet sembuh." Dingin. Datar. Tanpa intonasi. Tapi setidaknya, Kali ini Arion mau buka suara. Ketika pintu kamar rumah sakit di tutup. Ruangan langsung terasa hening. April benar-benar sendirian. Tapi, kecupan lembut itu masih terasa hangat di dahinya. *** "Gue titip anak-anak, ya." "Pasti. Lo nggak perlu khawatir."  Mario tersenyum, menepuk pundak Arion ringan. Arion berjongkok. Mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kean dan Kinan. "Papa pergi dulu, ya?" "Jangan lama-lama, Nanti yang jagain Mama siapa?" Kinan cemberut. "Iyaa, Papa pasti cepet pulang. Kalian nggak boleh nakal, ya. Harus nurut sana Om Mario juga Tante Ghita. Nggak boleh berantem sama Gio.." Kean mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca dan tubuh mungilnya langsung memeluk leher Arion. "Cepet pulang, ya Pa.. Kean pengen petualang ke Negeri Dasar Laut lagii.." Arion tertawa lalu menarik Kinan agar bergabung ke sesi pelukan perpisahan mereka. "Kita pelukan teletubies dulu, deh.." *** Suara alat pencukur rambut langsung berdengung ketika laki-laki itu menghubungkannya ke listrik. Perlahan dan penuh dengan hati-hati Marvin mengarahkan alat pencukur ke kepalanya. Memangkas seluruh rambutnya yang mulai rontok akhir-akhir ini. Sampai lima menit, Rambut di kepalanya mulai terpangkas menjadi lebih pendek dan bentuk wajahnya terlihat lebih jelas. Ia mengusap permukaan kulit kepalanya, Tersenyum tipis sampai kemudian senyum itu memudar. Ia memandangi wajahnya di cermin. Kulitnya berubah sedikit kekuningan dan pucat, belakangan ini laki-laki itu sering merasa mudah kelelahan, mual-mual, nyeri perut dan kehilangan nafsu makan. Pil-pil itu sudah lama menghuni laci meja. Setiap kali Tamara menengok rumahnya, yang perempuan itu tahu, selama ini Marvin mengkonsumsi obatnya. Padahal pil-pil itu berserakan dan mungkin kadaluwarsa di dalam sana. Pintu terbuka. Menampilkan sosok wanita tinggi berambut cokelat sedang menggendong seorang anak lelaki. "Kok cukur rambut?" Rega langsung meminta turun dari gendongan Mara. Berlari ke arah Marvin dan mendekatinya. "Om botak, hehe." Marvin tertawa. "Nggak botak juga perasaan." Mara menatap sepupunya itu lembut. "Sampai kapan lo kaya gini? Kalau lo mau sembuh, lo harus usaha." Marvin mengabaikan kalimat yang Mara ucapkan. Laki-laki itu justru pura-pura tak mendengar dan malah sibuk bergurau kecil dengan Rega. Ya, Rega. Darah daging pria yang selama ini membuatnya jijik sendiri. Mara berdecak. Sadar kalau nasehatnya tak akan pernah mempan untuk Marvin. Dan fakta yang membuatnya terkejut baru-baru inu adalah; Marvin teman kecil April. Marvin cinta monyet April. Dan tujuan laki-laki itu kembali ke Indonesia ternyata untuk menjemput kembali masa lalunya yang kenyataannya sudah memiliki masa depan. Seandainya Mara tahu fakta itu lebih awal. Ia takkan membiarkan Marvin pergi, takkan membiarkan Marvin menahan rasa sakitnya, takkan membiarkan Marvin terluka, takkan membiarkan Marvin melihat semuanya. Mara bahkan lebih dari tahu apa yang Marvin rasakan sekarang; Menyadari fakta bahwa Marvin juga salah langkah. "Udahlah, Vin. Adakalanya lo harus ngelihat ke depan. Ngelihat apa yang bakalan lo hadapin selanjutnya. Selama ini lo selalu ngelihat ke belakang. Lo cuma fokus sama satu ambisi. Dan sekarang, waktunya lo fokus sama Masa depan lo. Apa yang udah ada di depan mata udah seharusnya lo hadapin. Kalau kaya gini, lo cuma buang-buang waktu, dan lo juga nggak akan pernah bangkit," Mara melambaikan tangannya, memberi gestur pada Rega agar menjauh dari Marvin. "Ayo, Rega. Om Marvin lagi butuh waktu sendiri." Marvin menghela nafas, Sedetik setelah pintu kamarnya di tutup. Lo bener, Mar. Lo bener, Dan. Lo juga bener, Ar.. Gue emang memprihatinkan. Gue emang menyedihkan. Marvin menarik laci satunya. Meraih sebuah bingkai foto dan memisahkan figura dengan lembaran foto lama tersebut. Sebuah kertas memo yang beberapa bulan lalu ia tulis masih ada disana. To do list, before I die. 1. Date sehari full sama April 2. Menyusun rencana masa depan sama April 3. Menikah dan punya dua anak laki-laki yang lucu. (April) ~Beijing, China Sebuah kertas memo yang ia tulis dua hari sebelum keberangkatannya ke Indonesia dua bulan lalu. Banyak orang yang mengatakan Marvin tidak tahu diri, seperti orang gila, atau perkataan buruk lainnya yang sampai ketelingannya. Ia hanya ingin mereka tau, apa yang di lakukannya selama ini bukan tanpa alasan. Mereka semua tidak tahu. Diam-diam Marvin menyimpan luka, ketika Marvin mengetahui semuanya. Luka fisik. Juga luka psikis. Laki-laki itu mengambil spidol merah dari dalam kotak kecil di dalam laci yang sama. Mencoret kalimat nomor tiga dan dua dalam daftar memo yang ia buat. Marvin berharap option pertama yang ia sisakan dalam daftar to do list before I die yang ia buat bisa terwujud. 1. Date sehari full sama April. Ah, mungkin bukan Date. Sehari full sama April. Ia hanya butuh sehari saja. Setelah itu, Marvin berjanji, akan menghilang dari segala jalan cerita kisahnya yang rumit. Janji, Marvin akan belajar menerima kenyataan. . . . (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD