Apa-apaan ini? Ada seorang laki-laki muda berkemeja putih polkadot yang membuat orang lain terkapar di tanah tak berdaya. Ini bukanlah pemandangan yang ingin dilihat Giselle di hari pertamanya kuliah. Sungguh mengerikan.
“AAAAAAAAAAAAAA.” Giselle refleks berteriak dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya. Tentu saja laki-laki dengan anting hitam itu langsung menatap ke arah Giselle dengan mata melotot. Dia sama sekali tidak menyangka apa yang dilakukannya akan dilihat oleh orang lain.
“Hey.”
“Aku tidak melihat apa-apaaaaaaaaaaaa.” Giselle lekas berbalik badan dan berlari secepat mungkin. Dia tidak ingin berurusan dengan seseorang yang dengan mudahnya membuat orang lain terkapar. Tentu saja, Giselle tidak ingin menjadi korban berikutnya.
Setelah sekian lama berlari, Giselle pikir dirinya akan selamat, tapi ternyata tidak. Laki-laki bercelana jeans dongker dengan robekan di bagian lutut itu tidak tinggal diam, dia juga berlari mengejar Giselle seperti seekor singa yang sedang berusaha menerkam mangsanya.
DEG
Jantung Giselle semakin berdetak kencang saat laki-laki itu berhasil meraih rompi biru muda Giselle dan menariknya dengan kuat.
“Kau-“ perkataan laki-laki itu terpotong karena Giselle melemparkan segelas greentea latte panas yang baru saja dibelinya dari mini market.
“Arghh?!” Laki-laki itu terlihat sangat kaget dan juga kepanasan. Hal ini membuat Giselle bisa melepaskan diri dari cengkramannya.
“Menjauh dariku!” seru Giselle sambil menggigit bibir bawahnya. Dia kembali berlari secepat yang dia bisa dengan perasaan campur aduk.
Ini adalah hari pertama Giselle pergi ke kampus barunya. Dia sengaja pergi sendiri karena ingin mampir ke minimarket untuk mencoba greentea latte yang iklannya sempat Giselle lihat di sosial media. Sayangnya greentea itu harus lenyap sebelum Giselle merasakannya.
Giselle sama sekali tidak menyangka harus melihat pekelahian antar laki-laki yang tidak bisa disebut dewasa, tapi juga tidak cocok disebut anak-anak. Kalau saja Giselle tahu akan ada perkelahian, Giselle tidak akan memilih untuk melewati g**g kecil di samping mini market. Oh tidak, lebih tepatnya sedari awal Giselle tidak akan pergi sendirian ke kampus.
“Astaghfirullah... Semoga aku tidak akan melihatnya lagi. Bisa jadi gawat kalau aku bertemu dengannya lagi,” lirih Giselle dengan napas yang terengah-engah. Dia baru saja melewati gerbang kampus dan sampai di depan ruang dosen.
“Aaah... Apa yang aku lakukan?” Giselle berjongkok sambil menaruh kedua tangannya di samping kanan dan kiri kepalanya. Dia ingat dengan jelas kalau Giselle telah melemparkan greentea latte panas hingga baju kemeja laki-laki itu basah.
Pasti panas. Apa dia terluka? Dia pasti akan sangat marah. Batin Giselle tidak berhenti bergemuruh. Dia benar-benar berharap tidak akan melihat laki-laki itu lagi, tapi mungkinkah itu terjadi? Giselle tidak yakin.
DING DONG
Bel pertanda kelas dimulai terdengar. Giselle pun menepuk-nepuk kedua pipinya sebelum kemudian pergi menemui wali kelas barunya di ruang dosen.
Giselle tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, tapi Giselle tahu kalau dirinya harus tetap maju dan menghadapinya. Setidaknya Giselle pernah belajar bela diri meski hanya gerakan dasarnya saja. Kalaulah Giselle tidak bisa melawan, minimal Giselle bisa menghindar dan lari. Ya, itu adalah rencana yang Giselle miliki untuk saat ini.
“Jadi namamu Giselle, ya?” tanya sang wali kelas yang bernama Ron. Seorang dosen laki-laki muda yang usianya berbeda 10 tahun dari Giselle. Melihat wajahnya yang bersih dan rambutnya yang tertata rapih sudah cukup memberikan angin segar bagi Giselle.
Bukankah Giselle beruntung karena punya wali kelas yang masih muda, tampan, dan juga ramah? Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan? Hal ini membuat segaris senyum terlukis di wajah Giselle.
“Iya, Pak.” Giselle mengangguk dengan perasaan senang.
“Buku paketnya baru ada tiga. Ada kemungkinan sisanya besok,” ujar Ron sambil menyerahkan buku paket pengantar ilmu komunikasi, filsafat, dan bahasa Indonesia.
“Tidak apa, besok pagi aku datang ke sini lagi.” Giselle memeluk buku yang diberikan oleh Ron.
“Yuk, sekarang kita pergi ke kelas.” Ron tersenyum. Dia bangkit dari kursi setelah mengambil beberapa dokumen. Giselle hanya mengangguk dan mengikuti sang wali kelasnya.
Giselle pikir mood-nya akan terus membaik, tapi pikirannya ini langsung lenyap begitu Giselle memasuki ruangan kelas. Kedua bola matanya menangkap seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pojok kelas. Laki-laki itu tidak memakai kemeja putihnya, tapi justru memakai kaos hitam polos berlengan pendek.
Suasana kelas yang semula ramai dengan obrolan berubah menjadi lebih hening saat Ron dan Giselle masuk ke dalam kelas. Semua tatapan pun tertuju pada Giselle. Termasuk tatapan dari laki-laki yang paling ingin Giselle hindari untuk saat ini.
“Zachary, kenapa kau tidak memakai kemeja?” tegur Ron sambil menatap sinis. Mendengarnya sudah cukup bagi Giselle untuk tahu nama orang yang telah dia ganggu.
Zachary. Dia adalah orang yang sempat Giselle lempari segelas greentea. Kali ini dia tidak memakai kemeja putih polkadot miliknya, tapi memakai kaos hitam polos berlengan pendek.
“Basah, Pak. Tadi enggak sengaja ketemu orang gila,” jawab Zachary sambil tersenyum aneh. Dia tersenyum bukan karena ingin bercanda, tapi dia senang karena bisa mulai membuat perhitungan dengan Giselle.
Tawa pun pecah. Semuanya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zachary. Berbanding terbalik dengan apa yang Giselle rasakan. Dia tersinggung disebut orang gila, tapi bulu kuduk Giselle juga merinding merasakan pikiran jahat seorang Zachary.
Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Mulai saat ini hingga lulus nanti Giselle akan selalu bertemu dengan Zachary. Apa yang akan lebih buruk dari ini? Giselle menggigit bibir bawahnya khawatir.
“Jangan membuat alasan. Cepat pakai kemejamu!” Seru Ron kesal.
“Baik, Pak.” Zachary membalas dengan nada suara malas.
“Anak-anak tenang, kali ini kita kedatangan mahasiswa pindahan baru.” Ron berusaha mengontrol situasi, semua orang pun kini mengalihkan perhatiannya pada Giselle. Seorang anak perempuan berambut panjang dengan retina mata berwarna biru.
“Ayo, perkenalkan dirimu.” Ron tersenyum pada Giselle.
Setelah mengangguk, Giselle pun mulai memperkenalkan dirinya dengan sebuah senyuman cerah. “Hallo semuanya, namaku Giselle Alette Fischer. Kalian bisa memanggilku Gisel.”
Beberapa orang saling berbisik. Meski Giselle tidak terlalu bisa mendengarnya, tapi Giselle tahu kalau mereka tengah membicarakan Giselle.
“Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Giselle masih dengan senyumnya.
“Ada.” Zachary mengangkat tangannya tinggi. Dia masih belum memakai kemejanya, hanya menaruhnya di pundak kanannya.
Dari sekian banyak siswa, kenapa harus Zachary? Giselle terkejut, tapi naluri alaminya menyuruh Giselle untuk tetap tenang dan bersikap seolah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya.
“Ya, mau tanya apa?” tanya Giselle sambil tersenyum dan nada suara riang. Tindakan ini membuat Zachary kaget meski hanya sebentar.
“Kau ini buta atau apa? Daripada memakai lensa, kena tidak pakai kacamata saja?” tanya Zachary yang lebih terasa seperti penghinaan. Terlebih karena nada suaranya yang terdengar sangat arogan.
“Haha.” Giselle tertawa ringan. “Ayahku berasal dari Jerman dan ibuku dari Indonesia. Jadi ya beginilah diriku.”
Suasana menjadi semakin riuh setelah Giselle mengatakan kalau dirinya adalah blasteran Indonesia-Jerman. Zachary pun tidak mengatakan apa pun lagi, dia hanya menatap Giselle dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan lekat seperti sebuah scanner.
“Gisel, kau bisa duduk di depan Zachary. Kau juga bisa meminjam buku paket padanya untuk sementara waktu.” Ron tersenyum pada Giselle. Meski begitu, Giselle justru merasa seperti sedang disambar petir.
“Baik, Pak. Terima kasih.” Giselle menjawab dengan riang. Dia memang ahli untuk urusan berpura-pura menyembunyikan apa yang tidak disukainya.
“...” Zachary terdiam menatap Giselle yang berjalan ke arahnya dan duduk tepat di depannya. Dia merasa terganggu dengan senyuman yang ada di wajah Giselle.
“Dasar ikan busuk,” sindir Zachary sambil menendang kaki belakang kursi yang diduduki Giselle. Tentu saja hal ini membuat Giselle kesal, dia kemudian berbalik pada Zachary dan menampar wajahnya dengan buku paket matematika yang tebal.
“Kau berani?!” Zachary melotot kesal. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Giselle akan berbuat seperti itu padanya.
“Kenapa lagi Zachary? Cepat pakai kemejamu,” ujar Ron yang terlihat sudah siap melemparkan kapur di tangannya.
“Dia yang-“ perkataan Zachary terpotong oleh Giselle.
“Zachary bilang dia mau mengantarku berkeliling kampus,” ujar Giselle. “Aku enggak mau repotin dia, tapi dia tetep maksa.”
“Cieeeee.” Seisi kelas kembali riuh. Beberapa orang bahkan bersiul untuk menyindir Zachary.
“Buset, Zachary udah langsung main mepet aja nih.” Begitulah nada sindiran yang terdengar.
Zachary terhenyak. Dia terdiam menatap sinis Giselle, tapi Giselle terlihat seperti dirinya tidak memiliki rasa bersalah apa pun.
“Bagus kalau begitu, tapi jangan lupa pakai kemeja kampusmu,” tandas Ron yang masih kesal karena Zachary belum kunjung memakai kemejanya.
Zachary menghela napasnya kasar. “Baik, Pak. Aku akan memakainya nanti.”
“Bagus.” Ron kemudian mulai mengkondisikan kelasnya lagi sebelum memulai pelajaran.
Giselle tersenyum. Meski dirinya masih merasa takut, tapi Giselle sudah berhasil membuat Zachary tersudut dengan tingkah sok polos yang dia lakukan.
“Hey.” Zachary menepuk pundak Giselle. Bukan hanya menepuk, tapi juga menaruh kemejanya di pundak Giselle hingga Giselle bisa mencium aroma greentea latte meski samar-samar.
“Aku tidak punya tisu. Jadi keringkan itu,” ucap Zachary yang seketika saja membuat Giselle terkejut. Dia seolah sedang diingatkan dengan dosa yang telah Giselle lakukan pada Zachary.
BERSAMBUNG