“Lihat aku baik-baik.” Zachary menatap kedua bola mata Giselle dengan lekat. Dia kemudian menunjuk dadanya yang kemerahan dan sedikit melepuh.
“I-itu.” Melihat luka yang ada di d**a Zachary membuat Giselle teringat dengan greentea miliknya tadi pagi. Greentea yang dipesan Giselle memang greentea panas. Sudah menjadi hal wajar bila itu membuat badan Zachary terluka.
“Kau sudah melihatnya kan?” Kali ini Zachary bangkit dan duduk di samping kanan Giselle.
“...” Giselle bangkit dengan perasaan bersalah. Dia memang tidak menyukai Zachary yang sudah melakukan k*******n pada murid lain, tapi Giselle pun juga bersalah karena telah membuat Zachary terluka. Paling tidak Giselle harus meminta maaf.
“Bukankah aku sudah memberimu uang? Kau pakai saja untuk berobat. Kalau kurang nanti aku tambah.”
Bukan hanya Zachary, Giselle sendiri pun kaget dengan ucapannya. Perkataan yang keluar dari bibir Giselle berbanding terbalik dengan apa yang ada di hatinya.
“Kau pikir semua ini bisa selesai dengan uang?” Zachary melotot pada Giselle.
“Lantas kau maunya apa?” tanya balik Giselle dengan nada suara yang meninggi.
“Setidaknya kau minta maaf padaku,” protes Zachary dengan nada suara yang sama tingginya.
“Untuk apa aku minta maaf? Kau memang pantas untuk mendapatkannya,” balas Giselle. Dia kemudian berdiri dan melangkah pergi keluar.
“Kau berani padaku?”
“Anak nakal sepertimu memangnya harus aku kasihani? Kau bahkan tega membuat orang lain terluka.” Giselle menyindir apa yang telah dilakukan Zachary tadi pagi.
“Memangnya kau tahu apa, huh?!” Zachary bangkit sambil menggenggam baju kemejanya.
“Aku tahu. Aku melihat semuanya dengan jelas.” Giselle masih tidak mau kalah.
“Ah, sudahlah. Kau membuat waktuku terbuang.” Giselle membuang muka dan berjalan keluar meninggalkan Zachary yang menatapnya dengan mata penuh kekesalan.
Tanpa diketahui Zachary, dibalik sikap angkuh Giselle, jantungnya sedang berpacu karena takut Zachary akan marah dan melakukan k*******n. Giselle hanya pandai berakting, bukan berarti dia benar-benar tidak berperasaan.
Waktu pun berlalu. Giselle sedikit tersesat saat dirinya pergi ke kantin, tapi dia bersyukur karena bertemu dengan teman kelasnya yang lain. Berkat kemampuan berkomunikasi Giselle yang baik, dia bisa dengan mudah menjadi akrab dengan dua teman barunya yang bernama Naya dan Moza.
“Kau serius membelikan ini untuk kita?” tanya Moza dengan mata berbinar. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Giselle akan membelikannya satu cup besar ice greentea latte. Biasanya Moza hanya membeli ukuran sedang dan itu pun tidak setiap hari.
“Ya, tentu saja. Lagipula kalian sudah mau mengantarku ke kantin.” Giselle tersenyum.
“Terima kasih, Gisel. Sebaiknya kau segera membeli makananmu. Kita sudah bawa bekal sendiri dari rumah,” ujar Naya ramah.
“Kalian serius tidak mau makan bersamaku?” tanya Giselle. “Aku yang traktir lho.”
Naya dan Moza saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Giselle masih mau mentraktir mereka. Memangnya seberapa besar uang saku Giselle?
“Ah, enaknya.” Giselle tersenyum senang setelah meminum ice greentea miliknya. Dia sengaja membelinya karena masih terpikirkan dengan greentea panasnya tadi pagi. Meski bukan greentea panas, tapi es juga tidak masalah.
“Eh, di sana kok pada ngumpul ya?” Naya menunjuk sebuah meja yang ada di depan gerobak lumpia.
“Jangan-jangan ada yang berantem lagi,” sahut Moza. Mendengar ini seketika saja membuat Giselle teringat pada Zachary.
Apa anak laki-laki itu membuat keributan lagi? Kenapa dia tidak bisa diam? Giselle membatin sendiri.
“Lebih baik kita ke kelas saja. Lagipula aku sudah membeli beberapa roti,” ujar Giselle. Dia tidak ingin kembali terlibat dengan segala hal yang berkaitan dengan Zachary meski Giselle pun tidak yakin kalau yang membuat keributan itu adalah Zachary.
“Oke.” Naya mengangguk.
“Tapi kayaknya bukan berantem deh.” Moza semakin memperhatikan kerumunan yang ada di meja. Pengelihatannya ini jauh lebih jelas dan tajam daripada Naya dan teman-temannya yang lain.
“Kau lihat apa di sana?” tanya Naya sambil sedikit mengubah posisi kacamata bulat tipis miliknya.
“Ada kakek-kakek pake sweater abu. Matanya biru kayak Giselle.” Moza berjinjit lebih ke atas. Mendengar hal ini membuat Giselle menggigit ujung sedotan.
Seorang kakek tua bermata biru yang memakai sweater abu. Ini terdengar seperti kakek Giselle. Dia tahu betul kalau kakeknya ini sangat suka memakai sweater berwarna abu ke mana pun dia pergi. Lantas apa yang dilakukan kakeknya sekarang? Apa Giselle tidak salah dengar?
“Ada Zachary juga.”
Giselle terbelalak. Dia kemudian berlari menuju meja tempat orang-orang berkerumun. Meninggalkan Moza dan Naya yang sedikit kaget, tapi langsung menyusulnya.
Semakin Giselle mendekati kerumunan, semakin jelaslah apa yang ada di hadapannya. Semua yang dikatakan oleh Moza benar. Kakek tua itu memang kakeknya dan orang yang ada di depannya adalah Zachary.
“Anak muda, kau memang hebat,” ujar kakek Giselle yang bernama Marc. Dia terkagum pada pergerakan Zachary di atas papan catur.
“Kakek jug-“ perkataan Zachary terpotong.
“Kakek?! Apa yang sedang Kakek lakukan di sini?” tanya Giselle setengah berteriak. Meski begitu, Marc tidak terkejut sama sekali. Dia sudah tahu kalau Giselle akan bereaksi seperti ini kalau melihatnya.
“Ah, cucuku. Aku datang ke sini untuk mengantar bekal makan siangmu yang tertinggal,” kata Marc sambil mengeluarkan sebuah tempat makan berwarna merah muda dari tas selempangnya.
“Kakek tidak perlu melakukan hal seperti ini. Lagipula ayah sudah memberiku uang saku,” protes Giselle setengah tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kakeknya.
Bukan hanya Giselle yang terkejut, tapi Zachary juga. Dia mulanya hanya iseng bermain catur dan Zachary sama sekali tidak menduga kalau lawannya adalah keluarga Giselle. Meski warna matanya sama-sama biru, tapi Zachary tetap tidak menduganya.
“Kakek harus pulang sekarang!” seru Giselle dengan wajah cemberut. Naya dan Moza hanya memperhatikan sambil meminum ice greentea mereka.
“Kakek masih ingin main,” tolak Marc.
Giselle ingin sekali membanting kepalanya ke dinding. Dia kesal karena punya kakek yang senang sekali bermain-main di kampus cucunya. Di kampus sebelumnya pun sama, kakeknya sering datang hanya untuk bermain catur dengan sembarang orang yang dia temui.
Dan kali ini lawan mainnya adalah Zachary. Bukankah ini hal yang sangat mengerikan?
“Hey, Kakek tua,” panggil Zachary setelah sekian lama diam memerhatikan.
“Ah ya, anak muda. Maafkan cucuku yang sedikit mengganggu.”
“Apa?!” Giselle tersindir.
“Bagaimana kalau kita bertaruh?” tanya Zachary dengan sorot mata yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Marc tersenyum, tapi kali ini sorot matanya terlihat jauh lebih serius. “Memangnya apa yang bisa kau tawarkan padaku?”
Zachary terdiam sesaat, tapi kemudian menjawab, “Aku akan menemanimu bermain catur kapan pun yang kau mau.”
“Hmmm.” Marc berdehem sambil mengusap-usap dagunya yang tidak gatal.
“Jangan mau, Kek. Lebih baik kau pulang saja sekarang,” ujar Giselle dengan alis yang berkerut.
“Baiklah.” Marc tersenyum lebar. “Kalau kau menang, kau bisa menikah dengan cucuku.”
“Hah?” Giselle terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh kakeknya. Naza dan Moza bahkan sampai sedak.
“...” Zachary kehilangan kata-kata. Dia mulanya hanya ingin meminta uang, tapi malah ditawari pernikahan dengan Giselle. Bukankah ini gila? Ternyata bukan hanya Giselle yang aneh, tapi kakeknya pun sama anehnya.
"Baik, Kek. Aku setuju." Zachary menyodorkan tangannya.
“Bagus.” Marc pun menyalami Zachary tanpa keraguan sedikit pun.
“Taruhan macam apa ini?!” Giselle mengepalkan kedua tangannya tidak terima.
Kalau kakeknya kalah, Giselle harus menikah dengan Zachary? Di antara milyaran laki-laki yang ada di bumi, kenapa harus dengan Zachary? Mereka bahkan masih belum tamat kampus. Entah kehidupan seperti apa yang akan dijalani oleh Giselle nantinya. Batin Giselle bergemuruh luar biasa.
BERSAMBUNG