Kedua wanita itu sontak menoleh ke sumber suara dan membulatkan mata ketika melihat sosok bosnya sudah berada di hadapan mereka.
“Apa pantas kamu memarahi karyawan barumu seperti itu hah?!” lanjut Alex dengan wajah tegas.
“M–maaf Mr.” Leona segera menundukkan kepalanya supaya terkesan ramah di hadapan bosnya itu.
Namun sepertinya bosnya itu tidak memperdulikannya. Dia melihat apa yang di tatap oleh Alex. Ternyata mata Alex menatap ke arah Crystal.
Wanita itu dalam bahaya!
“Crystal? Tau kan dia karyawan baru di sini? Seharusnya kamu bersikap lembut pada dia. Bukan malah memaki dia seenak kamu,” kata Alex dengan nada tegas.
“Ma––maaf Mr. Saya tadi reflek karena pakaian saya basah,” kata Crystal ketakutan. Kalau dipikir-pikir kasihan juga kalau karyawan itu dimarahi oleh atasannya.
“Engh ... Mr, tadi saya yang salah. Jangan marahin dia ya.” Leona angkat bicara. Jujur saja dia sangat merinding jika melihat Alex marah seperti ini.
Alex menatap ke arah Leona. “Kamu sudah minta maaf. Harusnya dia mengerti. Berbeda lagi jika kamu belum minta maaf sama dia,” jelas Alex.
“Tapi Mr, dia tidak memarahi saya kok. Mungkin dia kaget, makanya seperti itu,” kata Leona lagi.
Pria itu melirik ke Crystal. “Kamu kembali ke ruangan. Jangan bikin onar lagi,” kata Alex kepada Crystal. Leona melihat Crystal melirik dengan tatapan kesal.
Kini hanya mereka yang berada di dapur kantor.
Leona sangat kikuk. Apalagi Alex menatapnya dengan tatapan datar.
“Lain kali hati-hati. Saya mungkin tidak akan bersikap seperti itu lagi kalau kamu teledor seperti tadi,” kata Alex sembari melirik minuman yang berada di tangan wanita itu. “Itu buatanmu?”
Leona mengangguk kecil, kemudian melihat apa yang diambil oleh pria itu. “O–oh itu coffe buatanku Mr. Engh– j–jangan diminum!” kata wanita itu spontan, karena Alex akan meminum coffenya itu.
Kening Alex mengkerut, pria itu menatap ke Leona heran seperti berbicara kenapa? “Kenapa saya tidak boleh meminumnya?”
Leona terdiam, tak lama dia menggelengkan kepalanya. “Itu coffenya pahit Mr. Nanti Mr kepahitan bagaimana?” ringisnya.
“Berapa shot?”
“De–delapan Mr,” katanya sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Alex nampak memandangi kopi itu, tak lama dia meletakkan coffe di meja. “Kenapa baru bilang?”
Leona sempat shock, matanya membulat seketika. Padahal baru saja dia bilang kalau kopi itu pahit, kenapa malah bicara seperti itu di depannya?
Kalau bukan CEO disini mungkin dia sudah tendang jauh ke langit sana. Tangannya mengepal di bawah, menahan amarah karena Alex.
“Buatkan saya coffe, pakai gula sedikit. Saya tidak suka pahit ataupun manis. Nanti bawa ke ruangan saya,” kata pria itu sebelum pergi dari hadapan Leona.
Wanita itu menghela napasnya pelan. Jari-jemarinya direnggangkan. Dia menatap punggung Alex yang sudah menghilang dari pandangannya.
“Ternyata dia belum berubah-ubah. Bukan hanya menyebalkan, tapi tukang perintah,” gerutu Leona. Dia langsung mengambil cangkir untuk meracik bahan coffenya di sana, lalu menuangkan air panas. Kemudian mengaduknya dengan rata.
Setelah siap racikan coffenya, Leona berjalan ke arah ruangan Alex di lantai atas. Dia membuka pintu ruangan Alex pelan dan masuk. “Mr. coffenya sud––”
Leona menghentikan langkahnya ketika ada wanita bersama pria itu berciuman di sana. Dia memicingkan matanya, tak lama matanya membulat seketika ketika melihat pemandangan yang kurang bagus di mata gadis itu. “Astaga, apa yang aku lihat barusan?”
Segera Leona memalingkan wajahnya ke samping. “S–udah siap,” lanjutnya. Sungguh pria itu tak kenal tempat ternyata. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam sini? Astaga, pasti pipinya merah sekarang!
“Alex! Siapa dia? Berani-beraninya wanita itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu! Punya sopan santun tidak sih!”
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. “Letakkan di meja sana, lupakan kejadian barusan,” kata Alex dengan nada santainya.
Leona terus mengumpat dalam hati, dia melirik wanita yang berada di belakang Alex. “Ternyata mereka sama saja,” batinnya. Tanpa melihat Alex dia langsung berjalan cepat untuk meletakkan coffenya di meja pria itu.
“Maaf mengganggu, Nyonya, Mr,” kata Leona sembari menundukkan kepalanya. “Saya permisi.” Setelah itu dia langsung berlari kecil untuk keluar dari sana.
“Tunggu! Saya ingin bicara sama kamu. Rose, kamu pulang dulu. Kita ketemu nanti okey? Aku ada urusan habis ini,” kata Alex ke wanita itu.
Leona menghentikan langkahnya. Dia melihat keromantisan mereka. Bukannya ingin di posisi itu, malah dia sangat geli melihat mereka.
“Yasudah, awas saja kalau kamu ngapa-ngapain sama wanita jelek itu!” kata Rose sebelum pergi dari tempat tersebut.
Leona sempat meringis pelan ketika Rose meliriknya dengan sakarsitik. Sepertinya wanita itu sangat dendam dengannya? Aneh, padahal dia tidak melakukan kesalahan buat mereka.
“Tutup pintunya, saya ingin bicara sama mu,” suruh Alex.
Wanita itu mengikuti instruksinya. Dia menutup pintu, sebelum melangkah mendekati Alex. “Ada apa ya Mr?”
“Silakan duduk!?” perintah Alex tanpa menjawab. Leona melirik ke kursi yang berada di hadapan pria itu. Tak mau menghabiskan waktu lama di ruangan ini, akhirnya diapun duduk di kursi.
“Ada apa Mr?” tanyanya sekali lagi.
“Saya ... mau tanya sama kamu. Soal tadi,” ucap Alex seperti penasaran.
Leona sempat terdiam, kening Leona mengkerut tidak mengerti. “Tanya soal?”
“Sebenarnya ini tidak penting sih buat kamu. Tapi ... Aku penasaran dengan itu.” Alex menggantungkan pembicaraan, lalu melanjutkannya kembali. “Apa kamu kenal sama saya?”
Deg! Wanita itu kembali terdiam, mencerna apa yang ditanyakan oleh Alex. Apa dia harus bicara yang sebenarnya?
Leona melihat Alex yang sepertinya menunggu jawaban. Tapi, kalau di lihat-lihat pria itu tidak kenal sama dia. Lantas, kenapa Alex bisa tidak mengenalinya? Apa pria itu ada masalahnya dari ingatannya?
“Leona? Saya butuh jawabanmu. Apa kamu kenal saya?” tanya Alex dengan nada lembut.
Leona masih diam, tak lama dia menggelengkan kepalanya cepat.
“T-tidak, saya tidak kenal sama Mr,” jawabnya dengan gugup.
“Terus? Kenapa tadi bilang seperti itu pada saya?” tanya Alex sekali lagi.
“Reflek Mr, wajah Mr hampir sama dengan orang yang saya maksud. Bahkan namanya juga sama. Tapi sepertinya nama panjangnya tidak sama,” alibi Leona. Bibirnya di gigit disana untuk menahan rasa gugupnya. Tangan di bawah sana di mainkan di bawah sana.
“Apa kamu serius?” Kening Alex nampak mengkerut. Seperti tidak mempercayai jawaban darinya.
Leona mengangguk kecil. “Iya Mr. Siapa sih yang bohong? Saya tidak mau di pecat karena bohong sama Mr,” kata Leona.
Alex menganggukkan kepalanya paham. “Hm okey, saya paham ... Oh ya, saya menarik ucapan tadi. Saya tidak ingin kamu kerja di sini.”