Bab 2. GGPPM

1504 Words
Yanan memilih mandi sebentar untuk menyegarkan tubuhnya yang sejak pagi melakukan aktivitas. Setelahnya, pria itu menuju ke Cafe Lugo yang ada di sudut kota Surabaya. Yanan sudah menjadi pelanggan tetap di Cafe yang biasa dihuni segerombolan anak muda untuk mengerjakan tugas. Hiruk pikuk kota metropolitan terbesar di Jawa Timur itu sudah biasa Yanan hadapi. Kemacetan di jam berangkat dan pulang kerja sering terjadi. Setelah kemacetan yang lebih dari lima belas menit, akhirnya Yanan sampai di Cafe Lugo. Secangkir caffe macchiato yang selalu Yanan pesan untuk menemaninya. Dengan ditemani vapor di sampingnya, Yanan duduk anteng sembari mengeluarkan handphonenya. Saat-saat santai begini, Yanan tengah memainkan game online yang sangat dia gemari. Pria yang termasuk dalam kategori tampan itu tidak jarang membuat orang-orang yang di sana mengagumi Yanan. Apalagi Yanan sudah bisa dipastikan setiap hari akan ke sana, terkadang seorang gadis yang biasa disebut cabe-cabean pun sengaja datang hanya untuk melihat Yanan. Yanan tidak peduli, pria itu terus fokus pada gamenya. Hingga saat dia mendongakkan kepalanya ke depan, Yanan melihat seorang gadis berkuncir kuda, memakai kacamata purple dam menjinjing tas ransel. Yanan melirik jam di pergelangan tangannya, Yanan tau betul gadis yang baru datang itu adalah gadis yang menurut Yanan gila. Gadis itu sama seperti Yanan yang datang sekitar jam empat sore. Yanan menganggap gadis itu gila karena saat gadis itu mengeluarkan laptopnya dan duduk di seberang tempat duduknya, gadis itu akan tiba-tiba tertawa seorang diri, lalu menangis dan tidak jarang marah tanpa sebab. "Mas seperti biasa, satu gelas caffe macchiato dan satu porsi pisang coklat!" ucap gadis yang entah bernama siapa itu pada Mas-mas pelayan cafe. Suara gadis itu yang tumben sekali agak kencang masuk di indra pendengaran Yanan. "Em … rupanya kesukaan kita sama," batin Yanan menatap gerak-gerik gadis itu. Setelah memesan, gadis itu segera duduk di meja seberang Yanan. Tempat itu adalah tempat yang selalu kosong, dan akan ditempati oleh gadis itu saat gadis itu datang. Setidaknya itu menurut pandangan Yanan yang sudah setiap hari ke sana. Gadis itu mengeluarkan laptop, buku, bolpoin dan meletakkannya di atas meja. Karena sibuk memperhatikan gerak-gerik gadis itu, Yanan pun meletakkan game yang dia mainkan setengah babak itu. Gadis itu sangat manis bila tertawa, gadis itu juga tidak kalah cantik saat berekspresi marah, karena mata lebar gadis itu sangat menggemaskan. Yanan memperhatikan gadis itu yang sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya, sesekali gadis itu menyesap kopinya yang sudah datang dengan pelan. "Hikss hiksss …." Suara isak tangis membuat Yanan menajamkan penglihatannya, gadis di seberangnya tengah menangis terisak-isak entah karena apa. Yanan melihat sekelilingnya, orang-orang yang lain tampak acuh dengan gadis di seberang sana. "Hiksss hikss … Hikss …." Yanan makin gelagapan melihat gadis itu yang menangis. Hasrat ingin menghampiri gadis itu meronta, tapi dia tidak mempunyai alasan yang tepat untuk mendekat. Yanan melihat dengan jeli laptop si gadis, ada garskin yang menempel di laptop itu seperti sampul buku. Yanan makin menajamkan penglihatannya, benar kalau garskin itu seperti sampul buku. Judul buku itu 'Pelan-pelan, Mas! Membuat otak Yanan seketika traveling. "Apakah dia seorang penulis?" tanya Yanan pada dirinya sendiri. "Pasti penulis m***m, dari judulnya sudah aneh," tambah pria itu bermonolog pada dirinya sendiri. Gadis itu yang merasa diperhatikan pun mendongakkan kepalanya. Matanya bersih tubruk dengan mata Yanan.  Gadis itu menatap nyalang ke arah Yanan yang dirasa sudah mengganggunya. Tangan gadis itu terulur untuk menggerakkan seolah memenggal leher. Yanan membulatkan matanya, buru-buru pria itu mengambil hpnya kembali dan mefokuskan dirinya pada game. Selama ini Yanan terbiasa mengintimidasi dan mendominasi, tapi kali ini dia yang diintimidasi oleh gadis kecil. Karena kesal, Yanan bermain game dengan membabi buta. Pria itu mengalahkan lawan mainnya yang berupa sistem komputer. Saat kesal dan emosi, pria cenderung melakukan apa saja dengan totalitas, seperti saat ini contohnya. Dalam beberapa babak, Yanan berhasil terus-menerus menumbangkan lawan mainnya. Yanan juga berhasil mengeruk banyak dollar yang langsung dia tarik via akun bank. Yanan menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, pria itu merasa lelah setelah tangannya beradu kecepatan memencet ikon. Yanan menyesap caffe macchiato yang dia pesan, seperti biasa minuman itu lah yang selalu menenangkan dirinya di saat penat. Yanan memejamkan matanya menikmati alunan musik merdu yang disetel di cafe tersebut. Namun, suara tawa yang tiba-tiba terdengar membuat Yanan yang sedang merelaksasi diri langsung terganggu. "Hahaha … syukurin!" "Hahaha … hahahah …." Gadis yang Yanan tebak seorang penulis itu kini tertawa dengan nyaring, dan anehnya tidak ada satupun orang yang menegur. Saking ngakaknya gadis itu tertawa, gadis itu sampai menjatuhkan bolpoin yang dia pegang. Yanan yang melihat itu segera berdiri, pria itu mengantongi hp dan kunci mobilnya sebelum berjalan mendekat ke meja gadis yang kini tertawa itu. Pesanan caffe macchiato sudah Yanan bayar ketika tadi memesan. Suara derap langkah yang pelan membuat gadis itu menghentikan tawanya, gadis itu mendongak menatap Yanan dengan pandangan sengit. Gadis itu seolah sangat tidak ingin diganggu ataupun didekati. Di matanya seolah tertulis 'jangan mendekatiku. Namun, gara-gara tulisan 'Pelan-pelan, Mas! Di laptopnya, membuat pemimpin klub olahraga virtual itu tertarik untuk mendekat. Yanan merendahkan kepalanya sedikit, pria itu mengambil bolpoin yang jatuh. Dengan pelan, Yanan meletakkan kembali di meja gadis itu. "Bolpoinmu jatuh, gadis gila!" ucap Yanan dengan suara khas seraknya. Dipanggil gila membuat gadis itu membulatkan matanya, tanpa aba-aba gadis itu berdiri dan mencengkram kerah baju Yanan. Yanan terpekik kecil, kini kerah bajunya ditarik kuat oleh gadis yang membuatnya tertarik. “Siapa yang kamu katai gadis gila?” tanya gadis itu dengan tajam. Yanan mengerutkan alisnya, ternyata perangai gadis di hadapannya sangat buruk. Yanan melirik buku kecil yang ada di meja, ada nama Shena yang tertera di sana. “Shena, nama yang bagus,” ucap Yanan mengangguk-anggukkan kepalanya. Shena melepas cengkraman tangannya pada Yanan, gadis itu menutup buku kecil itu dan memasukkannya ke dalam tas. “Lancang!” desis Shena. “Harusnya seorang wanita kalem, lemah lembut, bukan judes dan galak,” ujar Yanan yang sengaja memancing emosi Shena yang terlihat sangat labil. “Tidak ada undang-undang yang mengharuskan seorang wanita menjadi kalem dan lemah lembut!” ucap Shena menepuk d**a Yanan dengan pelan. Shena kembali duduk dan fokus pada laptopnya, ia tidak memperdulikan pria yang sudah sering dia lihat di cafe lugo juga. “Menarik,” batin Yanan tersenyum tipis. Yanan melenggang pergi meninggalkan Shena. Aura pria itu yang biasa suram dan termasuk spesies manusia datar, kini tiba-tiba tersenyum di sepanjang jalannya menuju mobil. Yanan memasuki mobilnya dan menjalankan menuju Jalan Ahmad Yani di mana Klub KAK berada. Sepanjang perjalanan Yanan tidak berhenti tersenyum sembari mengetuk-ketukkan tangannya di setir mobilnya. Yanan tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun, meski dia dikelilingi rekan kerja yang cantik-cantik, dia tetap saja tidak tertarik. Namun gadis yang over ekspresif bernama Shena itu mampu menarik perhatian Yanan. “Sebagai sesama pecinta caffe macchiato, pasti kita mempunyai prinsip yang sama,” ucap Yanan seorang diri. Saat sampai di  klub, Yanan segera mengarah ke ruang belajar yang ada di sudut paling ujung. Yanan mendengar suara bisik-bisik yang menyebut-nyebut namanya. Namun, saat Yanan membuka pintunya, semua yang ada di sana langsung kicep, terdiam membisu. Yanan melihat buku-buku yang berserakan di meja panjang itu. "Sudah belajar dengan benar?" tanya Yanan yang sudah seperti bapak yang mengawasi pembelajaran anak-anaknya. “Sudah, kapten!” jawab mereka dengan kompak. “Varel, sini!” titah Yanan menggerakkan jari telunjuknya mengisyaratkan Varel untuk mendekat. “Tapi, Kapten. Aku tidak melakukan kesalahan apapun,” ucap Varel yang sudah ketakutan. Varel bersembunyi di belakang tubuh Rolan karena takut dengan Kaptennya. Yanan tetap menggerakkan tangannya mengisyaratkan Varel untuk mendekat. Vero, Darren dan lainnya mendorong tubuh Varel untuk mendekati Yanan. “Kap, maafkan aku, Kapten. Aku janji gak akan ghibah lagi. Beneran, janji deh!” ucap Varel bertubi-tubi. Karena tidak sabar dengan Varel, Yanan pun menarik tubuh Varel untuk mendekat ke arahnya. “Kyaaaa ….” jerit Varel ketakutan. Yanan menatap tajam Varel, baru dipegang saja sudah menjerit tidak karuan. “Menurutmu, apakah seorang gadis bisa tertarik dengan game?” bisik Yanan dengan pelan agar yang lainnya tidak mendengar. Mendengar kata perempuan membuat Varel langsung girang, dia mengira bosnya sudah mempunyai gebetan. “Menurutmu juga, apakah gadis gila akan tertarik dengan programmer?” tanya Yanan lagi. “Siapa perempuan itu, Kapten? Cantik? Apakah gebetan, Kapten?” tanya Varel bertubi-tubi. “Aku yang tanya kenapa kamu balik tanya?” tanya Yanan dengan tajam. Varel langsung gelagapan. “Eh … bisa, banyak juga cewek yang pintar bermain game dan programer,” jawab Varel dengan cepat. Yanan melepas cekalannya pada lengan Varel, pria itu mengganggukkan kepalanya puas atas jawaban Varel. “Ya, cewek pasti bisa main game dan programmer,” ucap Yanan sembari tersenyum seorang diri. Dengan kompak anggota Cruash Club membulatkan matanya dengan bibir yang menganga lebar melihat Si Kapten yang tersenyum, ini pemandangan langka yang patut dirayakan. Mereka tidak tahu saja kalau pikiran kapten-nya tidak sama dengan mereka. Pikiran kapten-nya hanya terfokus pada game, dan saat ini ia sangat yakin Shena bisa ikut andil besar untuk kesuksesan gamenya. Karena mereka sama, sama-sama pecinta caffe macchiato yang memiliki ambisi besar pada sebuah kesuksesan. * * * Haii selamat datang di cerita baru aku Cerita ini genre fiksi ilmiah yah. Yang belum follow akunku silahkan follow, gratis.  Selamat membaca Terimakasih. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD