"KYAA!!!!!!"
Darren tersentak bangun mendengar teriakan itu. "Ada ap—"
BUGH!!
BUGH!!
BUGH!!
Pukulan dari bantal bertubi-tubi datang dari Annabelle yang sebelumnya berteriak. Darren segera mengambil bantal yang digenggam oleh Annabelle namun gerakan itu membuat tubuh polos Annabelle menubruk d**a polos Darren. Keduanya sama-sama terdiam saat menyadari wajah lawan jenisnya sangat dekat bahkan hidung mereka menempel dan napas keduanya saling terasa di wajah.
"Apa aku akan mendapat seks di pagi hari?" ucapan vulgar nan datar dari Darren membuat Annabelle segera menjauhkan wajah dari Darren dan duduk sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Kenapa harus kau yang memperawaniku???"
"Siapa suruh kau masih perawan di usia 28 tahun?"
"Darren!!!"
"Apa?"
"Kau menyebalkan!"
Darren hanya mendengus. "Kau tidak akan menangis?"
"Bolehkan?"
"Boleh. Asal keluar dengan segera. Aku paling benci mendengar wanita menangis."
"Kau memang membenci apapun." Annabelle cemberut maksimal. Dia menutup wajahnya dan mengacak-acak rambutnya dengan brutal. "Aarrrghh! Memalukan! Kenapa aku tidak bisa menahannya??? Kenapa harus kau?? Kenapa tidak laki-laki yang kemarin memberikanku botol saja??? Jika saja kau tidak datang, aku pasti takkan tidur denganmu!!!"
"Kenapa ini menjadi salahku? Kalau kau tidak mengikutiku dan memelukku, nafsuku pasti takkan naik."
Annabelle membenarkan ucapan Darren dalam hati. Jika saja Annabelle tidak mengikuti Darren, mereka pasti takkan berakhir di atas tempat tidur itu dengan tubuh polos tanpa busana. Tunggu. Tanpa busana??? Batin Annabelle panik. Dia menatap sekitar lantai dan lemas seketika saat melihat gaun mahalnya teronggok dan sobek. "Oh tidak. Gaunku???"
"Akan kuganti. Aku kaya, jangan lupa."
Annabelle menatap Darren dan mendesis kesal. "Aku minta 100 juta dollar!!!"
Darren melotot. "Kau bilang gaunmu seharga tas channel?"
"Ya! Tapi kau juga harus membayar keperawananku yang kau ambil."
"100 juta untuk sebuah keperawanan?"
"Ya! Aku memberi diskon untukmu agar kau tidak membocorkan tentang malam kemarin pada semua orang. Dan siapapun itu termasuk keluargamu."
"Kalau begitu, kau seharusnya memberikanku uang tutup mulut."
"Aku miskin. Tidak punya uang. Pokoknya, 100 juta dollar! Titik!!" kesal Annabelle sambil turun dengan membawa selimut. "Selimutnya aku pinjam dan—KYA!!! BENDA ITU BERDIRI!!!"
Darren terkekeh santai melihat Annabelle yang terlihat panik berlari ke arah kamar mandi sambil menutup matanya dengan tangan. "Benda ini yang memuaskanmu semalam, Anna."
BRAK!!
Darren kembali terkekeh saat mendengar debuman pintu yang tertutup kencang dan juga geraman kesal dari Annabelle.
∞ ∞ ∞
1 bulan kemudian
"Mohon maaf, anak ibu tidak dapat terselamatkan. Dia meninggal pukul 9.38 pagi ini."
Hal tersulit dalam menjadi dokter adalah menyatakan sebuah laporan kematian dari seseorang. Annabelle sudah sering melakukannya. Namun dia tetap tidak terbiasa. Tidak terbiasa dengan tatapan penuh kesedihan yang kosong, lalu setelah itu disusul dengan teriakan tangis dari keluarga yang ditinggalkan.
Annabelle hanya dapat menghela napas panjang dan memerintahkan para perawat untuk membawa mayat ke kamar jenazah. Dia kemudian pergi diiringi suara tangis yang saling bersahutan di belakangnya. Annabelle menundukkan wajah sepanjang jalan. Dia tidak berani berbalik ke belakang. Dan suatu kesalahan jika memang dia berbalik ke belakang karena walaupun tidak menengok ke belakang, pipi Annabelle sudah dibanjiri air mata.
"Makan siang?"
Annabelle menoleh ke sampingnya, dan mendapati Alex yang tersenyum cerah kepada Annabelle. Namun senyum itu tergantikan dengan raut wajah khawatir ketika melihat air mata di pipi Annabelle.
Alex menangkup kedua pipi Annabelle dengan tangannya. "Hey, kenapa menangis?" tanyanya sambil mengusap air mata di pipi Annabelle.
"Hiks!" Tangis Annabelle mengencang. Dia segera memeluk pinggang Alex dan menyembunyikan wajahnya di d**a Alex. "Alex-ku... Tadi aku mengumumkan kematian seseorang dan keluarganya menangis setelah mendengarku."
"Lalu kenapa kau menangis? Biasanya tidak pernah menangis begini." Kata Alex sambil mengusap punggung Annabelle.
"Tidak tahu. Akhir-akhir ini aku sangat sensitif mengenai apapun. Percayalah, melihat Spongebob dibodohi Mr. Krab saja aku menangis. Kasihan sekali Spongebob."
Alex terkekeh. "Kau mungkin akan mendapatkan tamu bulanan."
"Entahlah. Tanggal tamu bulananku terlewat minggu kemarin. Aneh sekali karena biasanya tidak pernah melenceng."
Alex melepaskan pelukannya dan menatap Annabelle dengan tatapan heran. "Apa maksudmu? Kapan terakhir kali kau dapat tamu bulanan?"
"Lupa. Mungkin, sebulan lebih 3 minggu? Hey Alex, kenapa wajahmu ada 2?"
Alex mengerutkan alisnya melihat Annabelle yang terlihat tidak fokus saat ini. "Apa maksudnya, Anna? Apakah akhir-akhir ini kau sering muntah-muntah?"
Annabelle malah tertawa. "Hey, Alex, sekarang kau ada 3."
"Apa mak—ANNA!!"
Annabelle jatuh tak sadarkan diri di pelukan Alex sebelum Alex menyelesaikan ucapannya. Alex yang merupakan dokter kandungan dan memiliki kecurigaan pada Annabelle membuat Alex mengumpat kasar dan membawa Annabelle ke ruangannya.
∞ ∞ ∞
"Sir, teman Anda datang bertamu." Richard, sekretarisnya membuka pintu ruangan Darren setelah mengetuk pintu sebanyak 3 kali sebelumnya. Sekretarisnya itu sangat tahu bagaimana sifat Darren yang bahkan tidak pernah mau—atau bahkan malas untuk menanggapi ucapan orang lain.
Darren mengangguk singkat, namun kemudian mengerutkan alisnya heran. "Aku punya teman? Sejak kapan aku punya teman??"
"Jahat sekali. Kami tidak pernah dianggap." Makiel dan Felix memunculkan dirinya di hadapan Darren dengan raut wajah dibuat cemberut kesal.
Darren mengerutkan alisnya dengan jijik. "Kenapa kalian mengaku-ngaku? Aku bahkan tidak pernah menganggap kalian kenalanku."
"Si Mulut Pedas itu!!!" geram Makiel. "Awas saja jika mencari kami saat ada butuh!"
"Tidak akan. Jadi, keluarlah dari ruanganku."
"Oke. Kami akan masuk." Kata Makiel dan masuk dengan semangat diikuti oleh Felix. Dua-duanya sama-sama tidak tahu malu.
Darren menghela napas panjang. Dia melepaskan kacamata bacanya dan menyandar di kursi kebanggaannya. Darren mengedikan dagu ke arah Richard dan langsung dimengerti sekretarisnya itu dengan langsung keluar dari sana.
"Ada perlu apa kalian ke sini?" tanya Darren jengah dengan keberadaan temannya sendiri.
"Kiel, sekarang jam berapa?" tanya Felix pada Makiel seolah tidak mendengar ucapan Darren.
"Pukul 10 malam, Felix sayanggg." Kata Makiel manja sambil memonyongkan bibirnya ke arah Felix. Dan Felix segera menampar wajah sahabatnya itu.
"Menjijikan!!" kata Felix kesal.
"Tidak bisakah pada poinnya saja?" tanya Darren sambil menghela napas panjang.
"Kita ingin mengajakmu ke kelab." Kata Felix.
"Aku sibuk."
"Ayolah, yang bekerja di kantormu hanya sisa kau dan Richard."
"Aku sibuk."
"Bagaimana kalau ke bar saja? Sejam?"
Darren menghela napas panjang. Dia kemudian berdiri. "Baiklah. Sejam."
"Yeay!!!" seru Felix dan Makiel. Mereka semua berlari ke arah Darren dan merangkul sahabatnya itu. Darren memulangkan Richard dan Darren juga sahabatnya pun akhirnya pergi meninggalkan kantor perusahaan Darren. Namun, bodohnya Darren, dia mempercayai 2 teman iblisnya yang malah membawanya ke kelab malam. Darren mengamuk sepanjang jalan yang hanya dibalas oleh tawa 2 iblis itu. Sialnya lagi, Darren pergi dengan mobil yang sama dengan teman-temannya sehingga ia tak membawa mobil sendiri.
Hal yang paling membuat Darren malas ke kelab malam adalah kebisingan dan wanita-w************n di sana. Mereka selalu membuat Darren jijik apalagi saat menyentuhkan bagian dadanya pada tubuh Darren. Dengan kesal dan tak ingin masuk lebih jauh lagi, Darren memilih duduk di bar, tempat yang paling dekat dengan pintu dan jarang ada w************n yang lewat. Darren pun memesan minuman yang berkadar alkohol rendah. Ia sedang malas mabuk hari ini.
"Oi! Alarick!"
Felix memanggil temannya yang Datang dengan sukarela. Mereka bertiga melambai pada Alarick, membuat Alarick mendengus dan berjalan malas saat mengetahui jika teman-temannya berada di tempat low-buget.
"I've told you guys," kata Alarick saat duduk di kursi tinggi yang terdapat di bar, bergabung dengan teman-temannya. "Kita ini adalah bos besar. Sudah seharusnya kita masuk ke ruangan VVIP daripada duduk di bar murahan ini. Aku sangat tidak sudi duduk di kursi yang harganya bahkan lebih murah daripada harga kaos kakiku. Membuat kharismaku berkurang saja."
"Tapi kau sudah duduk di kursi murahan ini, Anak Iblis," balas salah satu temannya. Pria itu adalah Makiel Zander McKennedy.
"Ya, Pria b******k, seharusnya kau melakukan apa yang kuinginkan sehingga aku tidak duduk di kursi murahan ini," desis Alarick dengan mata tajamnya yang menatap kesal pada Makiel, dan dibalas Makiel dengan tatapan jahilnya.
"Oh come on, Man. Kita di sini untuk bersenang-senang, bukan membuat keributan." Ucap Darren kesal karena Alarick selalu saja bersikap tidak ingin berbaur dengan orang-orang yang berkedudukan rendah di bawahnya.
"Right. Kita ambil keuntungannya saja jika perempuan-perempuan murahan yang cantik akan melemparkan diri mereka dengan senang hati." Kata Felix. Mata Felix menggeriling, menggoda para wanita yang sedari tadi menatap mereka seolah keempat pria itu adalah tontonan seru.
Tidak heran, sih. Selain tampan, aura mereka juga membuat orang-orang di sana berhasil tepukau. Selain meniliki badan dengan porsi yang sangat diinginkan para wanita, pakaian mereka yang mencolok dengan barang-barang bermerek yang menjadi aksesoris, membuat mereka sukses menjadi santapan para wanita di sana. Namun, karena aura mereka juga mengeluarkan aura intimidasi, membuat para wanita di sana hanya dapat berharap disapa oleh salah satu pria di sana, dan setelahnya perempuan itu pasti akan rela mengangkang di bawahnya.
Lagian, siapa yang tidak tahu dengan grup The Devils ini? Selain mereka sering muncul di televisi, majalah, koran, dan radio, mereka juga pewaris tunggal dari perusahaan-perusahaan terkenal. Dan Darren sendiri, sudah menjadi pemilik VR Corporation, di mana perusahannya sudah menempati seluruh kota di negara Eropa. Perusahaan yang memiliki lebih dari 10 jenis bidang yang digeluti.
"What's wrong, dude?" tanya Felix kemudian, sambil merangkul bahu Alarick. "Kau kelihatan sama jeleknya dengan Darren."
Alarick dan Darren sama-sama mendelik jengah. "C'mon."
"Aku tidak berbohong. Wajah kalian sama-sama terlihat sedang menahan kentut. Benar bukan, El?" tanya Felix, sambil menoleh pada Makiel yang ternyata sudah sibuk berciuman panas dengan salah satu perempuan di sana. Felix memutar bola matanya dengan jengah. "Si Playboy b******k itu." Geramnya, lalu kembali menoleh pada Alarick. "What's wrong?"
"Aku tidak sedang menahan kentut."
"Lalu apa? Sedang menahan buang air besar? Kau tidak perlu melakukannya. Banyak toilet yang tersedia di sini."
"Right, kiddo. Kau membuatku makin kesal."
"Oh? Jadi, itu yang membuat wajahmu sejelek ini?"
Alarick hanya menggeram kesal, membuat Felix tertawa kencang.
"Ada apa? Apa sekertaris polosmu itu yang membuatmu begini? Lagi?" tanya Felix dengan senyum miring bermain di bibirnya, membuat Alarick mendelik jengah. Felix tertawa kencang. "Come on, dude. Sudah kubilang berikan dia obat tidur dan ikat dia di ranjangmu."
"Aku tidak mau."
"Why?"
"Sudah kubilang, aku ingin dia yang melemparkan dirinya padaku." Ucap Alarick sambil berdecak kesal. "Lagipula, aku tahu dia tidak sepolos itu." Ucapnya, membuat Felix mengangkat sebelah alisnya dengan heran. "Kau tahu, orang polos akan gugup, atau setidaknya, pipinya akan merona saat melihat pemandangan orang b******u di depannya. Dan lebih mengesalkannya lagi, dia tidak merona saat aku peluk."
Felix tertawa mendengarnya. "Kau seharusnya melakukan hal lebih daripada pelukan, bro." Katanya sambil memukul bahu Alarick. "Kau harusnya mengecup lehernya atau menjilat telinganya."
"Sama saja dengan aku menggoda dia, kalau begitu."
"Tapi dia akan merangkak di bawahmu saat mengetahui jika sentuhanmu benar-benar nikmat."
Kali ini, Alarick terdiam. Matanya menerawang lurus, dan memikirkan ucapan Felix.
Namun, Felix seolah tidak mengizinkan Alarick berpikir lebih lama saat pria itu tersenyum miring dan berucap, "Kau tahu? Kami akan membantumu dengan senang hati untuk menjaga pintu keluar."
Darren mendelik mendengar omongan tidak penting itu. Namun, sialnya Darren berteman dengan mereka yang mana dia kembali dipaksa membantu Alarick menjebak sekretarisnya, Valerie.
∞ ∞ ∞
Mata Annabelle mengerjap perlahan ketika kesadarannya sudah berkumpul. Tenggorokannya yang terasa kering membuktikan jika ia sudah lama tidak sadarkan diri. Annabelle mencoba beradaptasi dengan cahaya dan membuka matanya sepenuhnya.
"Kau sudah bangun?"
Suara itu membuat Annabelle menatap ke samping dan mendapati sahabatnya di sana. Annabelle mencoba bangun dari tidurnya dan dibantu oleh Alex. "Berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanya Annabelle sambil mengernyit melihat tangannya diinfus.
Alex mengedikan bahunya pelan. "Dari pagi hingga tengah malam. Menurutmu, berapa lama?" tanya Alex dingin.
Annabelle mendengus. "Jutek sekali. Kau sudah memeriksaku? Aku kenapa?"
Alex diam sejenak. Dia menatap Annabelle datar. "Anna, kapan terakhir kali kau melakukan seks?"
Annabelle mengangkat sebelah alisnya dan menggaruk pipinya dengan heran. "Kurasa itu urusan pribadi, kawan."
"Jawab saja."
Annabelle menerawang jauh. "Sekitar sebulan yang lalu."
Alex menganggukkan kepalanya. "Datangilah pria sebulan yang lalu itu."
"Kenapa aku harus melakukannya? Malas sekali."
"Kau harus."
"Untuk apa?"
"Karena dia adalah ayah dari anakmu yang sekarang berumur sebulan."
Annabelle tertawa. "Kau gila? Aku tidak punya an...." Annabelle tak meneruskan ucapannya. Dia melotot pada Alex. "Alex, jangan bilang kalau—"
"Tebakanmu benar. Kau hamil."
Tubuh Annabelle gemetar kuat. Wajahnya seketika pucat. Matanya yang melotot penuh keterkejutan menatap Alex dengan tidak percaya. "Kau tidak serius, bukan?"
Alex berdiri dan beralih duduk di atas brangkar di samping Annabelle. Dia mencengkram bahu Annabelle. "Dengar, kau melewati tamu bulananmu. Kau juga menjadi sensitif. Apa kau tidak merasakan hal yang aneh padamu, Anna?"
Air mata Annabelle luruh seketika. Dia terisak sambil menggelengkan kepalanya kuat. "Alex, dia tidak boleh tumbuh. Dia datang dari seseorang yang mungkin tidak akan mengakuinya, Alex. Aku... Aku harus—"
"Dengar, Anna. Aku setuju jika kau ingin mengugurkan kandunganmu," potong Alex membuat Annabelle keheranan. "Karena..."
Dan nyawa Annabelle seolah dicabut seketika kala Alex mengeluarkan serentetan kalimat dari bibirnya. Tangan Annabelle menyentuh perutnya sedangkan ia sendiri menangis dalam diam.