34. Maaf

1067 Words

Diam-diam Angger tersenyum senang karena Ardhito mengikutinya dari belakang, kapan lagi coba pria itu dengan suka rela mau mengikutinya begini? Biasanya juga dirinyalah yang dituntut untuk mengikuti pria yang hatinya masih sekeras batu itu. Wanita itu berjalan cepat menuju mobilnya berada, tak menyangka juga kalau Ardhito kali ini begitu penurut dengan terus mengikutinya sampai benar-benar tiba di samping mobilnya. Angger jelas saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada ia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dan benar. Karena belum tentu kesempatan ini terjadi lagi di dalam hidupnya, mengingat sikap Yata selama ini padanya yang terlalu mengabaikannya itu. Tanpa kata Angger menyerahkan kunci mobilnya, Ardhito hanya diam melihat kunci mobil Angger karena tak paham dengan ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD