Sebuah kartu nama berwarna hitam telah menyita perhatian Leviana. Setelah tragedi kemarin yang begitu menyakitkan hatinya, dia ingin lagi bertemu dengan Raira. Tatapan mata teduh serta mendamaikan hati membuat dia mengagumi sosok Raira. Selain penasaran akan hal-hal yang disukai Aldo dari Raira, dia juga ingin dekat dengan wanita itu. Entah segila apa Aldo mencintai Raira, sesosok wanita sempurna, tidak! Nyaris sempurna. Pada dasarnya, manusia tidak ada yang sempurna. Semuanya pasti memiliki celah, termasuk Raira.
Leviana menekan beberapa digit nomor telepon di kartu nama Raira. Dia menimang-nimang, apakah dia akan meneleponnya sekarang atau tidak. Saat bicara dengan Raira tadi sore, hatinya langsung tenang. Pelukan wanita itu begitu tulus, langsung terasa nyata melalui respons otaknya.
Akhirnya Leviana menekan icon panggilan. Tidak menunggu lama, Raira mengangkatnya. Ada suara sapaan ringan dari seberang sana. Dia tidak mungkin membenci orang sebaik Raira. Wanita itu orang yang sangat terpandang, tapi dia tidak sedikit pun melihat keangkuhan dalam diri Raira. Ramah-tamah, sopan, berwibawa dan murah senyum, bagaimana cara membuat dia benci pada orang seperti itu?
Lagi pula, Raira tidak bersalah. Di sini, Raira hanya korban yang diberikan akhir bahagia oleh Tuhan. Setelah masa-masa sulit, akhirnya Raira bisa merasakan kebahagiaan. Sama seperti Raira, suatu hari nanti Leviana akan bahagia bersama Aldo. Seiring berjalannya waktu, Aldo pasti akan mencintainya juga.
“Maaf Raira, ini saya Leviana. Kakak sepupu Reisa.”
Raira, di seberang sana tertawa kecil. “Oh astaga. Iya, saya ingat.”
“Maaf mengganggu waktumu, Raira. Pasti kamu sibuk,” ucap Leviana canggung, tidak enak hati karena menelepon malam-malam.
“Tidak, santai saja. Ngomong-ngomong, apa ada sesuatu hal ingin kamu bicarakan? Sorry, tadi sore saya harus cepat-cepat kembali ke rumah jadi tidak bisa menemanimu lebih lama. Sekarang, kamu bisa berbicara sesuka hati.”
Leviana menggeleng cepat. “Tidak Raira malahan saya mau berterima kasih, beban di kepala saya sedikit berkurang karenamu.”
“Syukurlah kalau gitu. Anggap saja saya temanmu, sahabatmu, kakakmu, keluargamu, aku pun akan menganggapmu sebaliknya.”
Kenapa wanita itu begitu baik?
“Raira ...,” panggil Leviana lirih, seharusnya dia membenci Raira tapi kenapa sebaliknya. Raira tidak bisa dibenci, Aldo pasti sangat kesusahan melupakan Raira toh Raira terlihat sempurna di segala sisi. “Kenapa kamu sangat baik? Saya ini orang asing, kenapa kamu bisa sepercaya itu?”
“Orang baik?” Raira tertawa lucu. “Di mata saya, semua orang itu sama. Saat orang itu baik ke saya, maka saya lebih baik lagi ke orang itu dan ... begitu sebaliknya. Bila orang itu jahat, saya gak bisa balas perbuatan jahatnya.”
“Kenapa?”
Lagi-lagi Raira tertawa. “Saya tidak diberi kesempatan untuk berbuat jahat, karena sebelum saya membalas perbuatan jahatnya lebih dulu ada orang lain membalas kejahatannya.”
Seketika Leviana terdiam, ucapan Raira mengandung makna tertentu. Dia jadi teringat cerita Aldo. Pria itu hampir memperkosa Raira, dan kakak Raira yang membalas semuanya dengan hal yang lebih kejam. Itu pun dengan permohonan Raira, Aldo bisa hidup selamat.
“Entah kenapa, saya percaya sama kamu. Percaya sepenuhnya, aneh ‘kan? Padahal kita baru ketemu tapi saya bisa langsung percaya sama kamu.”
Leviana merasa ... dia sudah berbuat jahat pada Raira. Tanpa sadar, di luar kendalinya. Niat awal Leviana tidak baik, dia ingin mencari tahu lebih soal Raira. Mencari tahu sampai akar tentang kehidupan Raira sekarang, apakah masih ada cinta untuk Aldo atau tidak. Sekarang dia merasa tidak enak, menghianati kepercayaan Raira untuknya.
“Makasih Raira, makasih kamu udah percaya sama saya.”
“Kamu ngomong kaku juga ya sama orang terdekat kamu?” tanya Raira penasaran.
“Hm, enggak sih.”
“Yaudah, kita santai aja. Kalau kamu kaku, saya juga kaku. Santai aja, santai ...,” balas Raira sambil tertawa.
Leviana ikut mengiringi tawa Raira. “Iya, saya usahakan santai.”
“Kamu mau bicara sesuatu? Ayo bicara, suami dan anak saya sedang tertidur.”
“Ah, saya gak enak. Pasti saya udah ganggu kamu.”
“Ayo cerita, gak papa. Siapa tahu saya bisa kasih kamu saran ‘kan?”
“Jadi, saya ini udah tunangan tapi calon suami saya masih suka dan cinta sama mantannya. Saya gak tahu, keputusan saya terima perjodohan ini benar atau tidak. Menurut kamu, apa yang harus saya lakukan?” Leviana meminta pendapat. Batinnya seakan ingin menjerit, dia ingin memaki Raira sekarang juga. Memaki pun tak ada gunanya, Raira tidak bersalah untuk apa menyalahkan orang yang tidak bersalah?
“Pasti menyakitkan untukmu, Lev. Aku belum pernah ngerasain ada di posisi kamu, tapi saya bisa ngerti betapa sakitnya hati kamu. Bukankah cinta ada karena terbiasa? Kita tahu ke depannya ‘kan? Siapa tahu, calon suamimu bisa melupakan mantannya dan mulai mencintaimu,” ujar Raira, “sama seperti saya, saya dan suami saya juga dijodohkan. Tidak ada cinta di antara kami, tapi suami saya mencoba untuk mencintai saya dan suami saya juga membantu saya agar bisa mencintai dia. Akhirnya saya luluh, dia adalah sosok yang sangat luar biasa bagi saya.”
“Apa mungkin, calon suami saya bisa cinta sama saya?”
“Mungkin, tidak ada yang tidak mungkin. Waktu yang bisa merubah segalanya.”
***
Sama seperti kemarin, Leviana menunggu Nathan datang di depan kantor. Wanita itu duduk di kursi sambil menggerak-gerakan kakinya ke depan dan ke belakang, membiarkan kakinya mengambang dan bergerak sesuai keinginannya—kursinya sedikit tinggi jadi kakinya mengambang bebas.
Sebuah lagu mengalun merdu, terdengar sampai luar kantor. Biasanya sebelum masuk sebagai pengawalan pagi hari, pengawas kantor menyetelkan musik. Kadang Pop, lokal, religi dan K-Pop, sesuai selera pengawas—kadang juga karyawan bisa mereques lagu kesukaan mereka, semua itu kembali lagi ke mood pengawas.
Saat bibirnya bergerak sesuai irama lagu, tanpa diduga Nathan berdiri di samping Leviana sambil melipat kedua tangannya di d**a. Tampaknya Leviana tidak sadar tengah diperhatikan. Orang yang dia tunggu-tunggu sudah berdiri di sampingnya.
“Sebentar lagi masuk, ngapain masih di sini?” tanya Nathan mengagetkan Leviana. Nathan berdecak, melirik ke arah arlojinya lalu melenggang pergi meninggalkannya Leviana.
“Pak! Pak Nathan!” panggil Leviana berteriak seraya bangkit dari duduknya, dia berlari mengejar Nathan. Semua orang di sana memperhatikan Nathan dan Leviana bagai tontonan asyik dan menyenangkan.
“Pak Nathan! b***k!”
Leviana masih berlari mengejar Nathan, entah sudah makan apa pria itu sampai jalannya saja seperti lari kuda yang mengamuk. Dipanggil beberapa kali tidak menoleh apalagi berhenti. Nathan masuk ke dalam ruangannya, diikuti oleh Leviana yang menyusul dari belakang.
“Pak! Ya ampun, aku dari tadi panggil kok gak nyaut-nyaut!” omel Leviana kesal.
Nathan berbalik menatap Leviana tajam. Masuk ke ruangan atasan tanpa ada rasa sopan dan berteriak tanpa malu di hadapan semua karyawannya, kesalahan apalagi yang akan diperbuat wanita itu. Lihatlah sekarang, wanita itu malah menatap Nathan dengan wajah songong sambil berkacak pinggang.
Kedua tangan Nathan mengepal kuat, Leviana patut diberikan apresiasi. Pintar sekali membuat orang naik pitam. Dia berusaha bersikap profesional untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan kantor. Kemarahan sekarang ini hanya menyangkut urusan kantor, tidak dengan urusan pribadi. Campur aduk sudah saat urusan kantor disatukan dengan urusan pribadi. Masih kesal soal tamparan, saat ini Nathan tidak bisa bersikap profesional.
“Saya bukan Nathan, saya atasan kamu. Sopankah begitu?” ujar Nathan sedikit tegas menatap manik mata yang semakin melemah, menyadari akan sesuatu hal.
“Kalau begitu saya boleh bertemu dengan sahabat saya, Pak? Saya mau minta maaf.”
Nathan melirik jam dinding, mengode Leviana agar wanita itu segera melirik jam dinding tersebut. “Nathan pulang jam 5 sore. Sekarang kamu keluar,” usir Nathan, masih mempertahankan suara santainya—menunjuk ke arah pintu ruangannya.
Meskipun Nathan telah mengusir Leviana, kakinya masih menginjak kuat lantai ruangan Nathan seolah tidak ingin keluar dari tempat ini. Tangannya terangkat, menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya memperagakan kata ‘secuil’ yang ditujukan untuk Nathan.
“Sebentar, Pak. Saya mau ketemu Nathan. Sebentar aja, janji langsung keluar. Kemarin saya udah nunggu lama, tapi ternyata Nathan gak masuk,” mohon Leviana meminta sedikit waktu. Tampaknya Nathan tak acuh, pria itu berjalan membukakan pintu untuk Leviana keluar..
“Keluar, sebelum saya marah.”
Leviana diam, pendiriannya masih teguh.
“Leviana, saya gak main-main. Ini kantor, bukan rumah kamu.” Sekali lagi, Nathan memperingatkan.
Sama seperti sebelumnya, Leviana tidak memedulikan perkataan Nathan. Dia ingin melihat seberapa marah Nathan kepadanya. Lebih baik seperti ini daripada saling diam, tak terbuka. Pria itu, menggeram kesal, dadanya naik turun mencoba untuk tenang. Kelopak mata Nathan tertutup, kesabaran hampir habis.
“Lev, keluar!”
“Aku, aku mau bicara sama kamu, Nathan! Luapin aja emosi kamu ke aku sekarang juga! Aku Cuma mau minta maaf, apa itu salah? Aku nyesel banget, Nath! Apa kamu gak tau itu?”
Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Profesional, jangan libatin masalah pribadi ke dalam kant—“
“Kamu yang duluan libatin masalah pribadi ke kantor! Seharusnya kamu yang bersikap profesional. Kamu marah, yaudah marah aja tapi jangan bawa permasalah pribadi ke kantor,” potong Leviana marah, membalikkan perkataan Nathan.
Bukankah seharusnya Nathan yang marah, lalu kenapa Leviana bisa semarah ini? Nathan memijat-mijat pelipisnya kemudian beralih mengusap wajahnya gusar. Dia menggenggam tangan Leviana erat, menatap wanita itu dengan pandangan datar lalu mendorongnya keluar dari ruangan tanpa ada perasaan sedikit pun.
Tubuh Leviana sedikit terbanting ke lantai. Sebelum Nathan menutup pintu ruangan, Nathan melemparkan smirk pada wanita itu. Beberapa karyawan di sana menatap Leviana kaget, pasalnya ini kali pertama Leviana diusir dari ruangan Nathan. Apalagi diusir dengan sangat tidak mengenakan.
Wanita itu meringis kesakitan. “Gila ya, sadis banget,” gerutu Leviana kesal seraya berdiri, membersihkan pakaiannya.
“Cie, berantemnya kayak pasangan suami istri nih!” seru salah satu karyawan wanita berambut pendek sebahu dengan kemeja berwarna putih di meja paling ujung, tak jauh dari ruangan Nathan.
“Seru banget kayaknya.”
“Saya salut sama Mbak Levi, berani banget.”
“Ya gak salah, ‘kan Mbak Levi sahabatnya Pak Nathan.”
“Pak Nathan ‘kan profesional, gak pandang siapa dia kalau lagi jam kerja.”
Dan yang lainnya ikut menimpali, sampai suara dari mikrofon terdengar.
“Sebelum saya pecat, lebih baik kalian semua angkat kaki dari perusahaan ini!”