“Maksud kamu?” Kening Jefry mengernyit, mendengar jawaban Mita juga raut wajahnya yang tampak cuek-cuek saja. Ia bahkan mempersilahkan, jika Jefry ingin bertemu lagi dan berdua-duaan dengan Rania. Satu kalimat menohok yang Mita katakan pada Jefry sebelum beranjak dari posisi duduknya. “Yaah… aku nggak peduli sih, kalau pun kalian melakukan sesuatu yang aku nggak tau, masih ada Allah kok, yang maha tau segalanya. Tinggal tunggu tanggal mainnya aja, kapan tabir itu dibuka satu persatu.” Ujarnya. Dengan langkah tertatihnya, Mita berjalan menuju kamar. Sedangkan Jefry tampak melongo di tempatnya berdiri saat ini. “Nih bocil mau nasehatin orangtua apa gimana?” gumamnya menaikkan kedua tangannya ke atas pinggang. “Woy!” serunya memanggil Mita dengan suara bernada tinggi. Itulah alasan ke

