Saat ini, Rania tengah berada di pesawat yang akan mengantarnya pergi. Meninggalkan tanah air, meninggalkan cinta pertama, meninggalkan buah hati, dan yang pasti meninggalkan seluruh kenangan manis yang pernah mengisi hati. Menghela napas panjang, melepas seluruh sesak yang menumpuk dalam d**a. Sungguh berat. Tapi ia bisa apa? Hidup terbaiknya ia hancurkan dengan tangan sendiri. Tak menyisakan apapun selain penyesalan. Dalam lamunannya itu, muncul seseorang menyapanya. "Loh, Ran." kata lelaki itu sedikit terkejut melihat Rania duduk sendiri disana, dan secara otomatis membuat sang empu yang tampak melamun itu menoleh. "Oh, hai, Alvin." balas Rania, mencoba menunjukkan senyum terbaiknya yang sudan terlambat, karena Alvin telah memergokinya menetaskan air mata sebelumnya. "Kok, kamu
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


