Evan berdiri di depan rumah dengan kedua tangan bertumpu pada pagar pembatas teras, matanya menatap pot-pot tanaman hias yang tertata rapi di atasnya. Ibunya memang tidak diragukan lagi dalam hal berkebun, mau tinggal di manapun dia selalu menyempatkan menanam bunga atau pohon. Acara akad nikahnya akan berlangsung lusa, dia berencana menyelesaikan semua masalah yang ada di dalam inti keluarga besarnya. Terutama masalah ibu, ayah, dan istri ayahnya. Entah sudah berapa kali pria itu menghela napas, memikirkan semuanya. "Ezra?" panggil Regina. Evan memutar tubuh menjadi menghadap ke sang ibu yang memanggilnya. "Ada apa, Ma?" tanyanya. "Kakek kamu sudah diperbolehkan pulang hari ini. Kamu gak ada niat buat ke rumah sakit?" tanya Regina memberitahu. Evan kembali berbalik membelakang

