Living Robot

1700 Words
" Kamu ingat teman SMP aku si Aidan nggak?" tanya Kiran. " Ingat. Teman kelas kamu kan? Yang tinggal dekat rumah kita." " Bener. Hari ini katanya dia mau datang kesini. Ngurusin kerjaan. Dan besok mau ngajak kita jalan. Gimana?" tanya Kiran bersemangat. " Aku nggak suka sama Aidan. Dia tuh berisik dan sok ganteng banget. Nggak ah. Aku males." " Tapi kita bakalan jalan- jalan, have fun. Kamu juga bisa santai sedikit. Akhir- akhir kamu kelihatan stress banget. Mau ya..." bujuk Kiran pada kakaknya. " Definisi have fun kamu tuh nggak cocok sama aku. Kamu pergi aja dan senang- senang. Aku nggak mau ikut" " Ih... Gimana sih? Apa kamu nggak kangen kayak malam itu?" Tiara tersenyum malu membayangkan betapa gilanya mereka beberapa tahun lalu saat mereka masih di umur remaja dan masih bekerja paruh waktu. Menghabiskan malam berdua dengan menyewa mobil sewaan dan hanya berkeliling dan memasuki club malam hingga sedikit mabuk. " Ya ingatlah. Itu tuh alasan aku kabur duluan pindah kesini. Biar nggak sama kamu." goda Tiara. " Tapi kamu harus terima kalau aku akan selalu ada sama kamu. Seeeepanjang hidup kamu." " Tentu aja kamu harus selalu ada dekat aku. Kamu saudara aku dan keluarga aku satu- satunya selain bunda" ucap Tiara sambil memeluk adiknya dan mengecup rambutnya berulang kali. " Berarti kamu mau kan ikut?" tanya Kiran mencoba kembali peruntungannya. " Nggak mau... Aku males banget." " Ya udah. Tapi kamu jangan sedih- sedih lagi ya... Nanti kamu akan ketemu dengan orang yang jauh lebih baik dan lebih bisa menerima kamu." ucap Kiran dan diangguki oleh Tiara sambil mencoba tersenyum. "Dan besok kamu nggak usah nungguin aku pulang." " Iya..." " Gimana kerjaan kamu? Kamu bukannya udah jadi senior waitress ? Emang bedanya apa?" " Nggak banyak sih bedanya. Hanya aja kalau kayak aku sekarang, aku udah nggak lagi bawa tray ke tamu kecuali tamu vvip. Aku mendampingi yang masih junior saat mau pesan makanan, membuat tamu merasa nyaman, bawain tagihan mereka atau bantuin mereka pas mau bayar. Jadi lebih personal ke tamu. Kayak gitu- gitu lah." " Ow... Trus, soal si---" " Udahlah... Jangan di bahas lagi. Dia tadi ke restaurant sama temannya. Dan dia sama sekali seolah nggak kenal sama aku." " Apa?! Jahat banget sih orang itu!" " Udahlah... Biarin aja. Aku udah punya cara untuk membalas dia." " Tiara... Jangan macam- macam!" seru Kiran mengingatkan Tiara karena melihat seringai licik di wajah sang saudari. " Tenang aja... Anak manja itu akan dapat pelajaran." " Kak...!" " Udah ah... Aku mau tidur. Kamu jangan begadang. Kalau kamu capek, tinggalin aja. Biar aku yang beresin besok pagi." ucap Tiara pada Kiran yang sibuk menyeka semua permukaan benda yang ada di dalam rumah mereka dari debu- debu yang melekat. " Udah tanggung nih kak." " Ya udah. Aku tidur duluan ya" Kiran lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan berniat menyelesaikan sisanya besok pagi karena ia memiliki hal lain untuk ia lakukan. Ia kemudian mencuci tangannya dan berjalan cepat menuju kamar tidurnya dan mengunci pintunya dengan rapat. " Semoga aja nanti pak Bian bisa suka." ucapnya pada selembar sapu tangan satin berwarna abu- abu yang kini mulai ia sulam dengan inisial nama Abian di salah satu bagian sudutnya. Ia hanya ingin memberikan hadiah dan ucapan terima kasih pada Abian atas apa yang ia lakukan pada ibu Elly dan juga kata- kata Abian yang selalu membuatnya banyak belajar meski mereka selalu berdebat pada awalnya. " Maafin aku Tiara, aku tahu beli sapu tangan ini pengeluaran nggak penting. Tapi aku juga ngerasa pak Abian harus dapat hadiah atas kebaikannya. Mungkin dengan begini dia juga bisa merasa lebih di apresiasi dan nanti nggak akan canggung lagi kalau mau bikin kebaik--- aaauuwwhh...!" ucap Kiran yang tiba- tiba memekik karena jarinya tertusuk jarum dan mengeluarkan sedikit darah. *** " Halo, Aidan kamu dimana?" tanya Kiran pada Aidan. " Aku di hotel. Kamu?" " Aku di kantor. Nanti sore aja kita ketemuannya ya..." " Boleh. Emang kamu mau ngajak aku kemana? Nonton?" " Nggak. Aku mau ngajak kamu ke club. Kebetulan aku punya tiket mini konser." " Oh ya? Bagus dong. Kamu nggak bercanda kan?" tanya Aidan memastikan dan terdengar senang. " Ya nggak lah. Nanti aku kabarin lagi ya. Aku harus kerja dulu." " Oke sayang... Kamu kerja dulu aja. Aku juga mau ngurus beberapa surat dulu sebelum berangkat besok pagi." " Flight kamu besok pagi?" " Iya. Makanya aku mau ngurus dokumen aku hari ini. Udah selesai sih, cuma mau pengesahan aja di kantor sebelum aku bawa pulang." " Ya udah. Kamu selesaikan dulu. Sampai ketemu nanti sore." " Dah Kiran sayang..." Kiran lalu memutuskan panggilan teleponnya dengan Aidan sambil bergeleng- geleng kepala dan tersenyum. Inilah alasan mengapa Tiara tidak menyukai pria tersebut. " Kiran, dipanggil pak Abian. Bapak minta weekly report yang kemarin. Aku turun ke bawah dulu ya..." ucap Ivy yang melintas di hadapannya. " Oh... Oke." jawab Kiran santai sambil mengambil sebuah map di atas mejanya dan juga kotak segi empat yang ia simpan di dalam tasnya sejak tadi. Kotak yang berisikan sapu tangan yang telah ia sulam. Kiran lalu jalan dengan bersemangat menuju ruangan Abian dan mengetuknya perlahan. Dan setelah mendapatkan ijin Abian, ia baru membuka pintu tersebut dan satu tangannya menyembunyikan kotak tersebut di balik tubuhnnya. " Ini laporan yang bapak minta." ujar Kiran dengan sopan sambil meletakkan map tersebut di atas meja Abian. " Oke. Terima kasih." ucap Abian yang kini membuka map tersebut. Kiran yang berdiri di samping meja Abian nampak salah tingkah dan ragu untuk memberikan hadiah tersebut pada Abian karena melihat pria tersebut nampak sibuk. " Ada apa? Kamu mau bilang sesuatu?" tanya Abian menghentikan kegiatan membacanya karena melihat tingkah Kiran yang nampak kikuk. " Ng... Sebenarnya... Saya sangat berterima kasih atas apa yang bapak lakukan untuk ibu Elly. Terima kasih karena tidak mengecewakan dia." " Kamu sudah bilang terima kasih kemarin." " Ng... Ini pak. Ini hadiah untuk bapak" ucap Kiran akhirnya sambil mengulurkan kotak yang ia sembunyikan tadi dan membuat Abian tertegun sesaat. " Apa ini?" tanya Abian lalu membuka kotak tersebut. " Saya buat sendiri. Dan... Dan semoga bapak suka." ujar Kiran sungkan. Abian mengeluarkan sapu tangan tersebut dan melihat inisial namanya yang terukir dengan benang mengkilat yang berwarna sama. " Ini noda?" tanya Abian ketika melihat setitik noda kecil di salah satu bagiannya dan memperlihatkannya pada Kiran. " Noda?" tanya Kiran kaget sambil mendekat dan menunduk pada Abian. Ia mengambil sapu tangan tersebut untuk ia perhatikan lebih dekat. " Oh, ini semalam saya tidak sengaja tertusuk jarum. Ini darah dari jari saya pak. Biar saya---" tutur Kiran panik. " Nggak apa- apa. Sini..." ucap Abian lembut lalu kembali mengambil sapu tangan itu dari tangan Kiran. " Kamu yang buat sendiri?" " Iya pak. Saya... Saya tahu bapak punya banyak sapu tangan dan tentu bapak bisa beli sendiri. Makanya saya hanya mau kasih yang tidak biasa ke bapak. Karena itu, saya... Saya sedikit berusaha biar sedikit beda." Mendengar ucapan Kiran barusan, sungguh membuat hati Abian sangat tersentuh. Tidak pernah ada wanita yang membuatnya merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Hanya hal kecil, namun ia merasa sangat tersentuh. " Nggak usah repot- repot. Lupain saja soal ibu Elly." ucap Abian akhirnya dan memasukkan sapu tangan tersebut ke dalam kotaknya dan ia letakkan di dalam laci meja kerja miliknya. Melihat reaksi Abian barusan seketika membuat Kiran merasa tidak bersemangat dan kecewa. Ia sadar, tentu saja hadiah sederhana darinya tidak akan mempunyai arti apapun untuk seorang Abian. " Ada lagi?" tanya Abian yang kembali memeriksa laporan Kiran namun gadis tersebut masih tetap berdiri di sampingnya. " Tidak ada pak. Permisi." jawab Kiran akhirnya setelah tertegun beberapa detik. Ia lalu berjalan keluar ruangan Abian dengan tatapan sayu dari pria tersebut. " Dasar orang nggak sopan. Noda? Tau gitu aku kasi lumpur aja sekalian. Aku juga kenapa sih bego banget pake kasih hadiah gitu? Sudah tau dia orang yang kasar, sombong, egois, masih aja mau kasih hal sentimentil kayak gitu. Heran juga kenapa bisa banyak banget cewek- cewek, ibu- ibu, perempuan- perempuan yang suka sama dia. Robot hidup. Nggak punya perasaan! Hanya orang yang kurang waras yang mau jatuh cinta sama orang sesombong, seangkuh dan seegois orang itu.!" misuh Kiran sambil terus berjalan dengan kesal ke meja kerjanya. " Kiran... Kamu kenapa?" tanya Refan yang berpapasan dengannya. " Eh pak Refan... Nggak pak. Nggak apa- apa." " Oh ya, kamu jadi kan nonton konser nanti malam?" " Iya pak. Tentu saja. Saya mau pergi sama teman." " Oke. Selamat senang- senang ya. " " Terima kasih banyak pak Refan" ucap Kiran lagi pada Refan yang hanya menaikkan ibu jarinya dengan tersenyum. Refan lalu berjalan menuju ruangan kerja Abian dan masuk ke dalam setelah mengetuk pintunya. " Bos... Kamu habis marahin Kiran lagi?" tanya Refan pada Abian yang sedang meneguk kopinya. " Nggak. Kenapa?" " Well, tadi aku ketemu dan dia kayak marah- marah sendiri." Abian lalu meletakkan jari telunjuknya dan memutarnya seolah mengisyaratkan sesuatu. " Kamu tahu kan dia memang agak sedikit gila" Refan hanya tersenyum mendengar Abian dan menarik kursi yang ada di depan meja kerja sahabatnya tersebut. " Kamu nggak istirahat?" tanya Refan. " Aku baru ngajak kamu makan siang. Tapi aku selesaikan ini dulu. Oke?" ujar Abian sambil membaca laporan di hadapannya. " Oh ya Bi, kamu ingat tiket konser dari acara yang kita sponsori kan?" " Kenapa? Mau ngajak aku kesana? Emang kita anak muda apa?" canda Abian. " Nggak lah... Aku udah kasih tiketnya ke Kiran." Seketika ucapan Refan membuat Abian menghentikan kegiatannya lalu berpura- pura tidak peduli. " Kenapa bisa gitu?" tanya Abian penasaran. " Ya... Aku kan nggak mau pergi. Jadi aku kasih aja ke Kiran. Dia juga senang banget pas aku kasih. Kebetulan dia mau ngajak temannya." Abian lalu kembali membuka lemparan kertas di hadapannya dan sesekali melirik kepada Refan yang sedang asik dengan ponsel miliknya. " Mmmm... Emang dimana konsernya?" " Ya aku nggak tahu lah... Aku nggak sempat baca. Semacam club di hotel lah pastinya. Tapi kalau kamu mau tahu aku bisa cari tahu." jawab Refan santai masih fokus pada layar ponselnya dan tidak memperhatikan Abian yang sedang penasaran. " Aku nggak tertarik" ujar Abian santai meski kini matanya tertuju pada kotak sapu tangan yang ada di laci meja kerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD