Bukan paha itu

1244 Words

Berusaha untuk membuka kedua matanya yang masih terasa sangat lengket. Sherena mengerjap beberapa kali. Mengusir rasa kantuk yang masih hinggap, setelah melewati permainan panas dengan sang suami. "Suami?" Sherena segera meraba tempat yang ada di sampingnya. Ia tersentak. Tidak menemukan sosok Abdi disana. Seharusnya, pria itu masih berada di sana setelah percintaan mereka tadi. Ingat apa yang dilakukan bersama Abdi tadi, kedua pipi Sherena bersemu merah. Ini untuk ketiga kalinya ia dan Abdi saling menyatu. Menghadirkan rasa nikmat dengan harapan ada buah hati yang akan tumbuh di rahimnya. Sherena mengulas senyum. Mengusap perutnya yang rata. Sungguh besar harapan yang muncul demi sebuah kebahagiaan. "Semoga benih kita segera tumbuh disini." Masih mengusap perutnya, Sherena menguc

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD