Yes, Gol!

1129 Words

"Sudahlah, Sheren. Jangan lagi bercanda. Aku tidak ingin lagi diberi harapan palsu seperti hari-hari yang lalu. Kamu tahu, aku ini pria normal dan tentu saja sangat-sangat menyakitkan bagiku jika itu tidak kesampaian," keluh Abdi dengan wajah yang dibuat semerana mungkin. Agar Sherena mau berhenti mempermainkannya. Agar Sherena tidak lagi menggantungnya yang telah sampai di pucuk hasrat. Coba bayangkan, saat dirinya berdiri tegak dan menjulang tinggi, Sherena malah berhenti. Semalam saja Abdi terpaksa mengurut sendiri menggunakan busa yang sangat licin. Menumpahkannya ke dalam kloset dan menyiram dengan air. Membiarkan benihnya hanyut dan tenggelam jauh di dalam septic tank. Bayangkan, kalau satu diantara benih itu menjadi salah satu konglomerat terkaya di dunia. Tentu saja Abdi tak la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD