Kun dan Bonita bertemu dalam beberapa lompatan waktu. SMP dan SMA, ia tak tahu Kun berada dimana dan bertemu kembali di perguruan tinggi,, ketika bapak masih punya banyak uang dan mampu menguliahkannya di salah satu universitas swasta bergengsi nan mahal. Di sana, ia tak punya banyak kawan, karena ia tak memiliki kepercayaan diri untuk masuk ke salah lingkaran pertemanan manapun. Kun mendekatinya karena mereka memang saling mengenal. Kun, si tampan nakal pujaan semua gadis di kampus, selalu memepet si gendut pendiam Bonita yang tak pernah menganggap Kun lelaki istimewa hanya teman saja.
Namun hal itu justru disalahartikan oleh semua orang. Karena Kun tak pernah terang-terangan mendekati lawan jenis terlebih dahulu dan parahnya tampak selalu nyaman jika berdekatan dengan Bonita. Pelet si gendut itu hebat juga. Frasa yang di dengarnya di sepanjang tahun masa-masa kuliahnya. Tuduhan-tuduhan aneh dan tak masuk akal juga dialamatkan kepada dirinya, seperti orangtuanya yang memiliki pekerjaan beternak tuyul dan dirinya yang mmenerima jasa santet premium.
Ketika hal itu diberitahukannya pada Kun, pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
“Mungkin karena mereka tiap hari lihat kamu bawa tuyul kemana-mana?” kata Kun diantara derai tawanya.
Boni berdecak. “Apaan.”
“Lha itu? Kepalanya pada nongol.” Kun menunjuk kedua bongkahan buah d**a Boni yang menggembung di balik bajunya.
Tawa Kun masih keras apalagi ketika melihat dagu Boni berlipat tiga dan masih betah melontarkan candaan-candaan yang sama sekali tidak lucu. Si gadis memutuskan untuk berhenti memberi suka cita pada ego Kun yang besar. Ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan taman kampus menuju area parkir. Ia ingin pulang.
Kun berhenti datang ke kampus pada awal semester tujuh selagi semua teman-temannya sibuk dengan tugas akhir. Tidak ada yang tahu pemuda itu pergi atau berada dimana. Ia hilang diraup gelapnya malam, di tebalnya kabut. Bonita yang selama ini diketahui sebagai mahasiswa yang dekat dengannya, juga tidak bisa memberikan informasi yang memuaskan karena ia sendiri juga tidak tahu Kun kemana, hingga semua teman seangkatan mereka lulus dan meninggalkan kampus dengan ijazah. Begitupun dengan Boni, ia wisuda dengan perasaan hampa dan kebingungan saat tahu kalau ia akan kembali bertemu dengan hari-hari, dimana Kun tidak akan berada di sana dan bertanya-tanya, kapan mereka akan bertemu kembali.
Tuhan menjawabnya tak terlalu lama. Di umur ke dua puluh empat, ia bertemu Kun kembali di tempat kerjanya, di sebuah kafe di Jakarta. Bonita bersirobok dengan pemuda itu pada hari kedua ia bekerja sebagai salah satu pramusaji di sana.
“Bon Bon?”
Kun tak perlu berteriak sekencang itu ketika melihat Bonita keluar dari ruang loker karyawan. Pemuda itu masih sama, riang dan selalu terlihat bahagia. Badan Boni terasa ngilu ketika dipeluk seerat dan selama itu. Hari masih sore, kafe baru buka jam tujuh malam jadi saksi pertemuan mereka kembali hanya segelintir orang saja.
“Ngapain? Oh, kamu kerja di sini?” Kun menjawabnya setelah melihat seragam Boni yang berupa kaus polo, jins dan apron yang melilit pinggang.
“Iya. Kamu sendiri?”
“Aku ngisi live band di sini.”
Boni dan semua orang tahu, kalau Kun punya suara indah dan keahlian bermain gitar setara profesional. Laki-laki itu sering mengisi pentas seni di kampus mereka dulu yang melengkapi kesempurnaannya sebagai seorang idola. Wajah tampan, badan bagus serta sihir yang datang dari petikan gitarnya, adalah tiga hal yang membuat siapapun mabuk oleh kharismanya.
Boni datang terlalu cepat ke kafe jadi ia masih punya aktu untuk mengobol dengan Kun yang ternyata tak banyak berubah. Tetap ceria, hobi berceloteh dan mampu menaikkan mood siapa saja dengan gurauannya.
“Kau kemana saja? Kenapa tak kuliah lagi?”
Kun menjentik abu rokoknya. Satu kaki ditumpangkan di atas kaki yang lain. Suasana sore di area outdoor kafe berbias warna jingga. Langit magrib akan muncul sebentar lagi dan malam akan datang memeluk. Nuansa yang tercipta semakin syahdu dengan hijaunya rumput dan tanaman rambat. Boni bisa berlama-lama di sini, mendengarkan cerita Kun.
“Ke sini dan ke sana. Kuliah cuma buang-buang waktu,” jawab Kun. Ia seperti menolak untuk menjelaskan lebih banyak. “Boni sendiri bagaimana? Bahagia nggak?”
Boni menatap mata Kun sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku nggak tahu, apa aku bahagia atau tidak. Aku cuma pengin tahu apa besok masih hidup atau tidak.”
“Aih, bikin merinding aja jawabannya.” Kun bergerak-gerak di kursinya, berpura-pura mengusir hantu yang tak terlihat. Keduanya lalu tertawa.
Ketika tiba waktunya bekerja Kun pamit sebentar entah kemana. Tepat jam delapan malam, lelaki itu naik ke atas panggung kecil yang diletakkan di sudut ruangan. Ia ditemani oleh beberapa orang dengan membawa alat music masing-masing. Ketika sebuah lagu mengalun dari bibir Kun, Boni merasa kalau ia telah diberi karcis istimewa untuk menonton sebuah pertunjukan paling memukau selama hidupnya.
Mereka berpacaran tak lama sesudahnya dan ketika aktunya tiba, Kun kembali menghilang.
Memori itu terputus. Bayangan-bayangan memudar. Kun muncul di depannya dengan sebuah kantong plastik. Lelaki itu duduk di sebelahnya sembari menyerahkan sebotol mineral, sekaleng kopi kemasan dan dua bungkus roti.
“Habisin. Kalau masih lapar, nanti beli mie ayam di den sana. Tapi kamu yang bayar.” Alis Kun naik turun menggoda.
Boni cemberut. “Lha kocak, kok aku?”
“Aku nggak punya uang, sayang….”
“Dasar miskin!” tembak Boni langsung ke ulu hati Kun.
Kun tak marah, sebaliknya, ia justru tersenyum-senyum mendengar umpatan Boni soal nasibnya. Ia menjulurkan kakinya yang panjang ke depan dan dengan santai mengunyah roti. Boni melakukan hal yang sama, sesaat mereka hanya memamah dan menikmati semilir angin patah-patah di siang hari yang terik.
Baru saja Boni hendak bertanya, Kun terlebih dahulu memotong. “Jangan tanya aku kemana selama ini.”
Bonita keki. “Enggak kok. Lagian aku juga nggak peduli.”
“Sadis.”
“Biar.”
“Aku cuma mau nanya kabar.” Boni mengungkapkan niatnya.
Kun mengacak rambut Boni dengan gemas. “Baik. Aku berada dalam kondisi terbaik.”
“Memangnya selama ini enggak baik ya?”
“Ya. Aku baru sembuh.”
Boni melepaskan tawa sinis. “Kamu nggak akan pernah sembuh, Kun. Selamanya sakit. Di sini.” Lalu mengiris keningnya sendiri dengan telunjuk.
Lagi-lagi pria itu tertawa sedangkan Boni mencoba untuk menyembunyikan tawanya.
Keduanya kembali mengobrol, meskipun tanya lebih banyak datang dari Kun dan jawabannyapun lebih sering datang dari Kun karena Boni seolah enggan untuk membuka dirinya dan semua cerita di masa lalu. Kun merasakan Boni tengah bersembunyi darinya, ia tak lepas dan bebas, ada rantai yang terpasang di kedua kakinya.
Akan tetapi, Kun masih ingin berlama-lama di sana,, meski hanya sekedar duduk berdua memandangi mobil yang keluar masuk dari tempat parkir atau para pegawai supermarket yang kelelahan mendorong puluhan troli yang meliuk-liuk malas.
“Udah nikah, Bon?”
“Aku janda.”
“Canda gimana?”
Boni menjewer kuping Kun. “Janda, bodoh! Janda!”
“Itu baru bener, janda bodoh.”
Lelaki itu terpaksa menjauh ketika Bonita menyasar badannya dengan tinju sebesar palu Thor. Meskipun semua serangannya meleset, Boni masih mencoba peruntungan terakhirnya dengan cara menjambak rambut panjang Kun dan berhasil.
“Jangan rambut, Bon. Ini buat mikat cewek.” Kun meringis-ringis setelah rambutnya terbebas dari renggutan tangan Bonita yang kuat.
“Rasakan!”
Mereka kini berdiri berhadap-hadapan dan Boni bisa melihat dengan seksama dan menyeluruh, seperti apa Kun yang sekarang dan ia sama sekali tak kecewa dengan temuannya. Rambut ikalnya memanjang sedikit melewati bahu. Helaiannya terasa halus ketika tadi sempat dirasakannya. Bahu lebarnya memaksa mata siapa saja untuk terus menjelajahi keseluruhan tubuhnya yang indah. Dibalut pakaian sesederhana t-shirt dan celana jins, kesempurnaan itu tak berkurang nilainya. Sorot mata dan senyum itulah pelengkap keseluruhan dirinya. Menyeret siapapun masuk ke dalam sebuah pesona.
“Apa aku pernah bilang kalau kau tampan?” tanya Boni tanpa sadar.
Kun menggeleng. “Yang sering kudengar cuma betapa gilanya aku.”
“Tidak. Aku memang pernah menyebut hal itu padamu. Apa kau tak ingat?”
Kun terdiam sesaat. Matanya terlihat sedih. “You did?”
Kali ini Bonita-lah yang kebingungan. “Yea. I did tell you about that.” Bagaimana bisa Kun melupakan perkataan itu? Ia membisikkannya diantara o*****e pertamanya, ketika mereka berkeringat bersama, setelah Kun mencintainya begitu dalam dan menyakitkan.
Bonita benar-benar kecewa. Hal yang sedari ditunggunya ternyata sia-sia saja. Benar kata orang, hubungan yang tak berlandas cinta itu mudah rapuh, dan ketika pihak yang bohong tentang perasaannya sudah bosan, ia akan pergi dan sangat gampang sekali untuk melupakan semuanya.
Tapi…Kun pernah berkata kalau ia mencintai Boni, sebagaimana Bonita mencintainya. Apakah itu juga bagian dari sebuah dusta? Jadi Kun selama ini sudah menipunya soal ucapan itu? b******k!
“Maaf. Aku tak ingat apapun,” kata Kun. Rautnya terlihat kesal alih-alih merasa bersalah.
Ya. Teruslah berbohong, Kun. Aku sudah tak mempercayaimu lagi.
Bonita muak. Ia berbalik dan memunguti kostum gorilanya. Ia akan mengembalikannya lalu meminta gaji dan pulang. Pertemuan dengan Kun anggap saja kebetulan semata dan tak perlu diromantisasi. Pria itu sudah menunjukkan sikap yang sejujurnya bahwa ia tak tertarik lagi dengan masa lalu mereka, dan itu berarti, Bonita sudah bisa beranjak dari tempatnya menunggu.
Kun menahannya. “Kau mau kemana?”
“Pulang, Kun. Tempatku bukan di sini.”
“Tentu. Kau seharusnya tinggal di rumah, bukan di mall.”
Bonita mendengus.”Kau masih bisa bercanda?”
“Apa yang perlu diseriusi? Kepalaku belakangan ini tak sanggup memikirkan apa-apa lagi.” Kun tersenyum miring. Mengenai sikap Boni yang tiba-tiba jengkel padanya, he’s clueless.
“Bagus. Baiknya memang seperti itu.”
Bonita melewati Kun dan pergi, ia tak menghiraukan Kun yang memanggil namanya berkali-kali.
“Bon?”
….
“Yuhuuu! BON?!”
….
“BON?! YOU FORGET SOMETHING?!”
Bonita jengkel. Ia menghentakkan kakinya sebelum berbalik. Jauh di belakang sana, ada kepala gorilla bergerak-gerak di atas badan Kun. g****k! Boni lupa kepala gorilanya!
Dengan terpaksa dan malu hati, ia menuju ke arah Kun untuk mengambil kembali kepala gorilanya. Laki-laki itu tertawa sembari mengulurkan apa yang diminta Boni, tapi belum sempat kedua tangannya meminta, pria itu terlebih dahulu menjatuhkan kepala gorila dan menarik Bonita ke dalam pelukannya.
What the hell? Apa yang sedang terjadi.
Di dalam kungkungan badan Kun, Boni kebingungan dan ia bisa merasakan pipinya memerah. Rasa hangat mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Tubuh Kun terasa pas membungkus dirinya, seperti memang diciptakan untuk satu dan lainnya. Boni ingin lepas namun juga tak ingin melerai pelukan lelaki itu. Ia tercabik diantara dua pilihan. Apa yang harus dilakukannya?
Kun berbisik di telinganya. “Aku serius dengan ucapanku, Bon. Aku tak ingat apapun.”
Rindu. Sejujurnya Bonita sangatlah merindu. Kun tidak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya pasca perpisahan tiba-tiba di masa lalu. Kun tidak tahu betapa cemasnya ia memikirkan keberadaan lelaki itu. Kun juga tidak akan pernah tahu betapa Boni masih haus akan kehadiran dan support darinya. Dan ketika, Kun kembali muncul dan berkata kalau ia tak ingat apapun lagi, hanya menambah kesedihan yang tak perlu.
Boni melepaskan pelukannya. Keputusan yang ia rasa sudah tepat. Melepaskan.
“Senang bertemu kembali denganmu. Aku senang kau sehat,” ucapnya tulus.
Kun bingung. “Kau seperti aktor di film tahun 50-an. Senang bertemu denganmu? No! kita pasti akan bertemu kembali, besok atau nanti malam. Lihat saja.”
“Live your life, Kun. I have mine.”
“So? Dunia ini kecil, Bonita. Kalau kau berbalik nanti kau pasti akan melihatku lagi. That’s life.”
Kun menyelipkan sehelai kertas kecil ke tangan Bonita. “Catch me up, okay. Bye.” Lalu ia pergi. Meninggalkan Bonita yang tertegun memandangi kartu nama di tangannya.
“Bonita?”
Boni berbalik dan bisa melihat Kun melambaikan kedua tangannya.
“See ya soon!”