Chapter 41

1617 Words

Elena tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Arlan yang kini tengah menenggelamkan kepalanya di atas meja. Gadis itu merasa iba melihat Arlan yang begitu kacau. Seandainya tadi Arlan mau mendengar ucapannya atau Arkan untuk tidak memaksakan diri, tentu tidak akan sepayah ini jadinya. "Lan, mau pulang nggak?" tanya Elena hati-hati. Arlan tampak memberikan gelengan pelan, meskipun tanpa mengangkat kepala. Elena hanya bisa mendesah pasrah. Belakangan ini Arlan benar-benar keras kepala, dan sulit diatur. Laki-laki itu juga jadi mudah tersinggung, hingga akhirnya mereka lebih memilih mengikuti semua keinginan Arlan. Entahlah, banyak hal aneh yang terjadi pada Arlan sekarang. Tak berselang lama, Arkan datang membawa secangkir teh manis hangat dan roti. Elena tanpa diminta langsung pind

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD