Petak Umpet

1244 Words
Alex menyuruh membuat alibi untuk mengelabui musuh tidak lain orang kepercayaan papanya. Alex tiba dikantor dengan hati yang sedikit kesal. Pengkhianatan Juan dan Bunga membuat dadanya sesak bukan main. Natal baru datang langsung meminta uang kepada Alex sesuai oernjanjian. "Mana uangnya?"kata Natal senang "Ini Aku TF sekarang sajah,berikan rekeningmu."kata Alex dengan nada sinis. "Bisnis adalah bisnis.Tidak usah murung begitu."kata Natal dengan nada tenang. "Kamu bisa tenang setelah kejadian kemarin?"kata Alex menyelidik. "Astaga,untuk apa kita.memusingkan semuanya?biar atasan kita sajah mengurusinya."kata Natal dengan nada santai. "Sudah aku tf yah,cek sajah."kata Alex santai. "Busyet,uang sebanyak ini kamu dapat darimana?"kata Natal curiga. "Dikasih sama Big Bosslah. Memang uangku cukup gajiku sajah UMR lebih-lebih aku baru masuk kantor."kata Alex berbohong. "Iya,lagian si Big Boss pakai acara kayak dektektif segala sih."kata Natal dengan nada tertawa. "Tapikan enak,kamu dapat uang aku juga wkwkwk."kata Alex tertawa. "Iya,orang tugas gampang. Aku juga sudah lama curiga sama Juan dan Bunga."kata Natal tenang. "Gara-gara kamu suruh mengatak ataik angka dibagian keuangan kantor?"kata Alex tersenyum. "Hem,aku muak dengan pekerjaan seperti ini. Berasa berdosa aku. Apalagi bisa masuk penjara. Lebih mengerikan dari apapun kamu tahu?"kata Natal dengan suara seraknya. "Aku tahu,kamu tenang saja. Aku jamin kamu tidak akan masuk penjara karena hal ini."kata Alex berusaha meyakinkan Natal. "Baiklah, aku percaya kepadamu."kata Natal tersenyum. Mereka berdua kembali fokus kepada pekerjaan karena sudah masuk jam kerja. Tiba-tiba Bunga datang kemeja kerja mereka berdua memanggil Alex. "Kamu kemarin pergi dengan Natal kerumah saya untuk apa?"kata Bunga dengan nada marah. "Saya hanya pergi karena diperintahkan atasan untuk mengunjungi rumah karyawan yang akan mendapatkan pernghargaan. Ibu Bunga sudah bekerja dengan baik,maka perusahaan akan membantu Ibu Bunga untuk mendapatkan rumah layak huni. Mengingat rumah Ibu Bunga banyak bocor."kata Alex berkelit namun tidak sepenuhnya salah. "Astaga,yang benar saja. Rumah aaya baik-baik sajah bahkan tidak bocor sama sekali."kata Bungan dengan nada kesal. "Iya, atasan menawarkan rumah baru yang siap huni selama Ibu Bekerja di o perusahaan ini."kata Alex lagi tegas. "Apa hubungan atasan denganmu?Kamu bukannya anak baeu diperusahaan ini?"kata Bunga menaruh curiga kepada Alex. "Ibu Bunga,kemarin bagian HRD sendiri meminta saya menyampaikan kepada anda. Namun saya tidak sempat,karena saya mempunyai banyak pekerjaan kemarin. Sehingga saya meminta tolong Natal untuk mengantar saya kerumah Ibu Bunga."kata Alex dengan tegas. "Saya terima semua tawaran itu,mana file saya kamu ambil. Kamu mata-mata yah?"kata Bunga dengan nada marah dan jengkelnya. "Apa maksud ibu menuduh saya mencuri dari rumah ibu?"kata Alex dengan nada pura-pura kesal. "Maksud saya dokumen saya ada yang hilang. Setelah saya pulang dan memeriksanya tidak ada."kata Bunga dengan nada mulai marahnya. "Yang benar sajah,pasti ada mungkin Ibu anda yang lupa menaruhnya,Ibu Bunga terhormat."kata Alex dengan mata melotot. Tiba-tiba handphone Bunga berbunyi dan dia melihat layarnya. Bunga kemudian mengangkat Handphonenya itu. "Nak,pagi. Ibu menemukan dokumen ini didekat sofa rumah. Kamu melepukan dokumenkah pagi ini?"kata ibu dari Bunga. "Pagi ibu,iya. tapi sungguh kemarin dokumen itu tidak ada. Tolong fotokan ke w*. aku penasaran apakah itu dokumen pribadiku?"kata Bunga kepada ibunya. Setelah terkirim dan membuka foto yang diberikan ibunya,Bunga baru bernafas lega. "Iya,itu dokumen aku ibu,tolong disimpan hati-hati didalam brankas dikamarku. Benda itu sangat berharga,ibu."kata Bunga berkata dengan hati-hati. "Baiklah,jangan lupa makan siang nanti,yah,nak."kata Ibu Bunga mengingatkan. "Baik,bu. Jaga kesehatan dan janga. terlalu capek. Kamu juga makan yang sehat,bu."kata Bunga mengingatkan ibunya. "Akh, anak ibu sudah besar,baiklah dan sampai jumpa dirumah nanti."kata Ibu bunga mengakhiri percakapannya. 7jam yang lalu, Dirumah Alex. "Peter,ini dokumen yang harus kamu kembalikan,ingat suruh orang menyusup kedalam rumah, Bunga. Hati-hati dalam bertindak."kata Alex memberikan perintah. "Benar,apa kita harus membius mereka,pak?"kata Peter dengan nada sedikit tegas. "Boleh,ini kunci rumah Bunga yang saya sempat ambil tadi."kata Alex dan menyerahkan kunci itu. "Bahkan kunci rumah bisa Bapak ambil,sungguh hebat."kata Peter seraya bertepuk tangan. "Sudah,sana.Laksanakan."kata Alex seraya menyuruh Peter pergi. Setelah itu Alex menunggu Peter menyelesaiakn misinya dengan menyesap kopi. Kembali dimasa sekarang, "Sudah aku bilang,aku tidak mengambil apa-apa dari tempatmu?"kata Alex mendecih. "Aku tahu ini pasti,akal-akalanmu,bukan?"kata Bunga masih berapi-api. "Jika memang kamu tidak percaya panggil sajah Natal. Dia berani bersaksi. Jangan salahkan aku jika aku menuntutmu atas pencemaran nama baik,walaupun kita rekan kerja."kata Alex mengintimidasi Bunga. "Iiish,yasudah lain kali. Kalian jika ingin ketempatku bilang jangan seperti maling."kata Bunga dengan wajah kesal dan meninggakan Alex sendiri. Alex merasa lega untuk sementara waktu. Sudah aku duga terjadi hal ini namun mencegah spekulasi lebih jauh. Alex meminta Peter setelah me w* menghapus jejak percakapan mereka dan membuat si penyusup rumah Bunga bungkam. Lagipula uang bukan masalah bagi Alex. ****** Monica setelah kembali dari misi rahasianya membalaskan dendam. Monica melangkahkan kaki seperti penyusup kedalam rumahnya untungnya dia melihat lampu ruang kerja suaminya menyala. Kemudian Monica membersihkan diri. Disi lain suami Monica mulai curiga karena ada bunyi suara air. Karena haus dia memilih kedapur minum. Melewati area Kamarnya terdengar bunyi tetesan air. Dengan penuh curiga dia mendekati pintu kamarnya. Ketika ingon membuka pintu,tiba-tiba handphonenya berbunyi kencang. Monica sadar suaminya berdiri dekat pintu lalu. Berjalan perlahan dan mulai mengeringkan rambutnya sendiri dengan handuk,memakai pakian tidur secepat kilat. Dan masuk kedalam selimut. Menata bantal seperti dia tinggalkan tadi. "Halo,ada apa?"kata Surya kepada Samira. "Mas,kamu ini aku ngambek. Malah didiemin. apa kurangnya diriku?"kata Samira merajuk. "Ini sudah larut,tidur lebih baik untukmu."kata Surya jengkel. "Aku tahu kamu masih marah,tapi kamu harus tahu. Aku mencintaimu,mas."kata Samira dengan suara menggoda. "Hem,yahsudah aku maafkan,lain kali jangan berbuat hal menjengkelkan."kata Surya dengan nada kesal. "Baik,mas. Oh iya,mau tas baru belikan yah merk c&c ituloh."kata Samira dengan nada dilembut. "Iya,boleh berapa harganya aku tf,"kata Surya dengan nada tegas. "Sekitar 1,2Miliyar bisa tf atau besok aku ambil sendiri?"kata Samira manja. "Ambil sendiri,nanti aku berikan cek,kalau 1.2 Miliyar tidak bisa tf langsung."kata Surya mengingatkan Samira. "Aku tunggu besok,mas. Terimakasih."kata Samira manja. "Aku tutup dulu,dah sayang."kata Surya dengan nada datar. Setelah itu Surya menutup Teleponnya.Surya kemudian membuka pintu kamarnya. Melihat keadaan sekitar dan hanya menemukan Monica tertidur diranjang mereka. Setelah memastikan tidak ada oranf disana Surya kembaki keruang kerjanya menyelesaikan 1 dokumen lagi. Monica bernafas lega karena suaminya sudah pergi. Monica melanjutkan tidurnya dengan tenang. ****** Sementara itu Samira nampak sedikit gelisah. Bukan Karena dia merasa tidak bisa menaklukan Surya namun lebih keperasaan merasa di permalukan. Apalagi diusir dari kantor Surya dan dilihat banyak orang. Samira merasa semakin dendam kepada Monica. "Aku akan membuat perhitungan denganmu,Monica. Seharusnya aku membunuhmu sajah."kata Samira dengan nada marah. Samira berfikir meminta maaf dan menelepon Surya. Samira membujuk laki-laki itu memberikannya sebuah tas yang sangat dia inginkan dan seperti bisa berhasil. Samira menelepon ibunya Wulan mengabarkan akan memberikan sejumlah uang tambahan bulanan. "Ibu, aku sudah mentrasfer jumlah ibu inginkan."kata Samira dengan nada senang. "Bagus anakku,kerjamu sungguh lebih hebat daripada adikmu."kata Wulan dengan nada senang. "Dia lagi dibahas,sudahlah dia tidak bisa diandalkan bahkan menaklukan seorang g***n b*d*h dia tidak mampu."kata Samira dengan nada kesalnya. "Maksudmu,Ryan?"kata Wulan terperangah. "Iya,bahkan istrinya melabraknya. Ibu tidak tahu?"kata Samira dengan nada penasaran. "Apa dilabrak istri sahnya?"kata Wulan panik. "Otak udang sudah aku bilang jangan jatuh cinta 100%. Karena dia suami orang. Bahkan dia berniat menjadi istri sahnya."kata Samira terkekeh. "Seharusnya dia membunuh Istri sahnya terlebih dahulu."kata Wulan kesal. "Membunuh dengan racun,lebih teapatnya ibu."kata Samira dengan nada mendengus kesal. "Betul,apa katamu,adikmu terlalu polos."kata Wulan seraya membetulkan kata anaknya Samira. "Yahsudah,sementara itu sajah,aku ingin bahas dengan ibu. Ingat jangan sampe habis sebelum aku kirimkan lagi uangnya. Akhir-akhir ini Mas jadi pelit.Jadi uang jajanku juga hanya sedikit sedangkan hidup di metropolitan biayanya besar,ibu."kata Samira menjelaskan kondisinya. "Gara-gara Monica istri sahnya?kenapa kamu tidak langsung membunuhnya dirumah sakit saja waktu itu."kata Wulan dengan nada tidak senang. "Karena terlalu banyak orang yang berada disana. Situasinya cukup sulit. Jangan tanyakan aku kenapa."kata Samira dengan tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD