Selepas apa yang sudah terjadi, Elsie dan Jett pergi makan siang ketika sudah tengah hari. Mereka berdua pergi ke ruang makan, dan makan membuat makanan bersama. Hari ini, mereka makan olahan daging lagi, karena semua isi lemari pendingin kebanyakan adalah daging sapi dan babi.
Elsie sampai heran dengan Nyonya Leda. Sekalipun sudah tua, tapi ternyata masih menyukai daging. Padahal dia saja sering sakit gigi jika kebanyakan makan makanan karnivora ini.
“Jett, kau suka sekali daging, ya?” tanya Elsie saat menyajikan daging panggang di atas meja. Dia yang mengurus meja, sementara Jett yang membersihkan meja dapur dan mencuci semua piring.
Jett membasuh tangannya di wastafel, lalu menjawab, “Iya sudah jelas. Aku suka.”
“Kurasa nenekmu juga suka.”
“Iya, itu juga jelas.”
“Jelas?”
“Maksudku kami sekeluarga suka daging panggang.”
“Oh, kalau begitu kita sisakan untuk nenekmu, siapa tahu dia akan pulang sebentar lagi.”
Jett ragu. Dia tertegun sejenak, kemudian menjawab, “sepertinya tidak akan pulang secepat ini, Elsie. Aku yakin masih banyak hal yang harus dilakukan di luar. Untuk beberapa hari belakangan, ada permasalahan yang harus ditangani oleh nenekku.”
“Itu membuatku semakin khawatir. Sekarang ada lagi pembunuhan.”
“Dia kenal dengan Sherif Tom, jadi aku yakin mereka baik-baik saja. Lagipula, sebenarnya yang perlu khawatir adalah kita. Rumah nenek ini berada cukup jauh dari pemukiman, memang berada di dekat jalan raya, tapi jarang ada kendaraan yang melintas. Tempat ini cocok untuk istirahat total, tapi untuk keamanan, jelas sangat buruk, terlebih di situasi seperti sekarang.”
“Iya, aku juga berpikir begitu. Kemarin aku tidak bisa tidur karena takut, karena itulah aku turun dan meminta untuk tidur denganmu.” Elsie tertegun karena teringat peristiwa dia tertidur dalam pelukan Jett.
Padahal dia tidak ingat sekali kalau tangan pria itu menyentuhnya. Ia ingin merasakannya lagi, tapi mendadak malu pada diri sendiri. Sejak kapan pemikirannya menjadi kotor begitu?
Jett menatap Elsie. Dia duduk di kursi seberang gadis itu, dengan pandangan yang masih lurus padanya. Dia memikirkan hal yang sama. Dia ingin tidur lagi bersama Elsie. Dia ingin terlelap dengan posisi yang romantis. Membayangkan hal itu saja membuatnya tidak nyaman dan gelisah. Tetapi, tetap saja, dia menginginkannya.
Ini bukanlah keinginan biologis. Sebagai pria dia memang membutuhkan sentuhan wanita, tapi bukan itu keinginannya untuk tidur dengan Elsie. Dia sangat ingin menyatukan diri dengan wanita itu karena memang yakin bahwa dialah gadis yang selama ini dia tunggu dan dia cari.
Gadis inilah yang akan menemaninya sampai akhir hayat nanti, sang gadis impian, pasangan sejatinya. Dia bisa merasakannya sejak awal bertemu. Segala tentang Elsie bisa dia rasakan, hingga sekarang pun perasaan itu makin membesar.
Karena keduanya sama-sama diam, situasi menjadi cukup tegang, alhasil, mereka lantas mengobrol kembali.
Jett mengawalinya dengan berkata, “Kau tidak masalah ingin tidur denganku jika takut. Maksudku dalam arti aku tidur di sofa dan kau di ranjang. Aku akan membuktikan padamu, aku ini bisa dipercaya.”
Elsie malah tertawa. Dia tidak percaya melihat sosok pria yang sama seperti awal mereka berjumpa. Dahulu, Jett sangat menyebalkan dan sombong, tetapi sekarang benar-benar bersahabat. Rasanya memang sangat sulit dipercaya.
“Kenapa kau malah tertawa?” Jett jengkel.
“Tidak, maaf, aku hanya membandingkan dirimu sekarang dengan dirimu yang pertama kali berjumpa denganku. Kau sebelumnya sangat sombong dan meremehkan ku, siapa yang mengira kau ternyata orangnya asyik.”
“Jujur saja, Elsie, aku juga menganggap kalau kau ini orangnya menyebalkan dan manja. Ternyata kau mau membantu pekerjaan dapur, jadi ya ... Aku salah menilai mu.”
“Kau kelihatannya tidak suka dengan gadis kota.”
“Sebenarnya yang tidak kusukai adalah gadis kota yang manja. Kebanyakan gadis kota tang berlibur kemari sangat menyebalkan, sombong, manja dan sok cantik. Bukan maksudku menghina, tapi memang aku benci sekali dengan tipikal wanita yang berpura-pura t***l agar dianggap manis atau cantik.”
“Oh, aku paham maksudmu. Aku sebenarnya juga tidak suka dengan gadis-gadis yang seperti itu. Tapi, sialnya, memang kebanyakan di kota seperti ini. Makanya aku jarang punya teman. Sekarang pun sama sekali tidak punya teman untuk sekedar minum kopi di luar.”
“Oh iya?”
“Iya, apa yang kau katakan di awal kita bertemu memang benar. Aku adalah tipikal orang membosankan yang jelas tak punya teman. Aku orangnya pasif, Jett, maksudku ... Tidak asyik. Tapi, aku bersumpah, aku tidak akan menyusahkan mu kalau mengenai pekerjaan rumah. Aku hanya pendiam, aku sulit mengatakan sesuatu yang panjang ...”
“Kau barusan mengatakan sesuatu yang panjang.”
“Maksudku ... Intinya pembicaraan yang kuucapkan cenderung tidak menarik di banyak teman-teman sekolah ataupun kuliahku.”
“Oh, kalau begitu kau akan betah tinggal disini. Semua pemuda dan gadis disini sangat bersahabat dan berpikiran lebih menyenangkan. Kami juga tidak akan membeda-bedakan orang hanya karena dia pendiam. Kau bisa bermain dengan kami di pantai kalau ingin.”
“Dengan teman-temanmu?”
“Tentu saja.”
“Wah, tentu saja aku mau.”
“Tapi, tidak untuk beberapa hari ini, oke? Kebetulan pantai juga sudah ditutup karena penyelidikan. Semua tempat disusuri untuk mendapatkan bukti tentang pembunuhan yang ada di kota, jadi kita sebaiknya bersabar.”
“Baiklah. Aku tidak masalah. Aku tidak sabar untuk menikmati keindahan kota ini. Pamanku selalu bilang kalau di tempat ini sangat menyenangkan, cocok sekali untuk menikmati ketenangan.”
“Iya memang, apapun yang terjadi padamu sehingga berada disini, aku jamin akan membuatmu melupakannya. Kau juga jauh lebih baik ketimbang awal kita bertemu.”
“Maksudnya?”
“Maksudku kau terlihat jauh lebih bahagia, awalnya kau seperti ingin melahap semua orang. Pandangan matamu seperti ikan mati, tapi sekarang sudah lebih baik.”
“menurutmu begitu?”
“iya, ini lebih baik, jangan bersedih seperti itu. Aku pernah bilang kan, kalau kau ingin teman bercerita, cerita saja padaku. Aku ini orangnya menyenangkan kalau sudah dekat.”
Elsie Tertawa mendengar ucapan Jett. Dia merasa lega sekaligus bahagia karena ucapan pria itu. Baru kali ini, ada lawan jenis yang mengatakan hal baik-baik padanya. Dia semakin suka dengan Jett dan ingin tahu tentangnya.
“Baiklah, aku akan memikirkannya kembali.”
“oke.”
“oh iya, bisakah kita berjalan-jalan ke sekitar rumah besok? Aku benar-benar ingin jalan-jalan. Tidak ada bahaya kalau hanya di sekitar rumah, bukan?”
“Tentu saja tidak. Iya, aku akan menemanimu berkeliling. Kau juga pasti kelelahan karena terus berada di rumah. Keluar pun hanya sebatas ke swalayan. Membosankan aku tahu.”
“Iya, aku bosan. Besok saja kita jalan-jalan.”
“kalau begitu sekarang kita makan siang, selamat makan, Elsie.
“iya, selamat makan.”
****