BAB 44

1130 Words
Jett yang mendengarnya langsung patah hati bukan main, Dia tidka tahu kalau ini jauh lebih menyakitkan ketimbang yang seharusnya. Dia tidak mau mendengar ini, tapi dia tidak mau juga kehilangan Elsie. Dia menatap wanita itu dalam-dalam, lalu menegaskan. “kau sudah terkena guna-guna. Orang yang terlalu singkat bertemu denganmu dan kau jatuh cinta padanya adalah aku Elsie, cobalah memahami ini dan cobalah untuk tidak mengatakan hal buruk seperti itu, Sayang, kau sungguh menyakiti hatiku sekarang. Sekarang minggirlah, karena aku ada urusan dengan si b******k yang sudah mengubahmu menjadi seperti sekarang.” “Dia bukanlah orang b******k, dan kau jangan pernah bermimpi kalau akan melakukan hal buruk pada kekasihku. Dia adalah kekasihku, dan kau sampai kapanpun, tidak akan bisa membuatnya sakit lagi. Kau pikir aku manusai biasa dan aku akan takut padamu. Demi South, maka aku akan melakukan apapun. Kau tidak akan bisa menduga bagaimana rasa cintaku padanya. Dia adalah cinta pertamaku, aku akan bersamanya mulai sekarang, jadi hentikan semua omong kosong yang tadi sudah keluar dari mulutmu itu. Kau sangat aneh dan itu menggangguku. Bisa saja aku melaoorkan ini pada Sherif, kau melakukan k*******n pada kekasihku, tapi setelah kupikir kembali, rasanya itu mustahil akan diperiksa karena sherif juga manusia serigala, dan kalian pasti akan beramai-ramai menghajar South.” . . . Elsie tidak tenang dalam tidurnya malam ini. Dia memimpikan sosok Jett kembali. Pertengkaran mereka malam itu bersama South pun terngiang-ngiang kembali. Ada yang salah disini, dan jiwanya telah menyadari itu. Tetapi, dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jauh di lubuk hatinya, dia sebenarnya tidak mempercayai adanya guna-guna. Namun, setelah mengetahui South adalah penyihir, tentu saja hal semacam itu adalah hal yang tidak mustahil sekarang. Tetapi, menuduh South sampai hati mengguna-gunanya itulah yang mustahil. Untuk apa dia diguna-guna? Dia adalah kekasihnya? Lagi-lagi mimpinya sama saja yaitu dirinya yang menolong seorang pria yang tidak lain adalah Jett. Ketika itu Jett bertelanjang d**a berada di tengah gedung yang hendak runtuh, dan dengan kemampuan telekinesis, Elsie menyingkirkan semua bangunan yang hendak menimpanya. Dalam hati, dia sendiri juga bingung. Bagaimana mungkin dia mengendalikan semua barang bangunan itu? Bagaimana caranya dia mendapatkan kekuatan itu? Jett menatapnya dengan heran, “bagaimana kau bisa melakukannya Elsie? Siapa kau ini sebenarnya?” Elsie mendekatinya dengan melihat kedua tangan yang sudah mengendalikan bongkahan tembok yang hendak jatuh tadi. Dia menggeleng sembari menjawab, “aku tidak tahu ... Rasanya aku bisa mengendalikan benda-benda. Ini terjadi begitu saja.” Jett mendekatinya pula. “Ada sesuatu dalam dirimu, Elsie, dan itu tidak benar. Kau bukan dirimu saat ini, tolong percayalah padaku ..” Tanpa disadari, Elsie mundur selangkah demi selangkah, kemudian berkata, “apa maksudmu? Aku tidak apa-apa. Tolong jangan mendekat.” Tapi Jett terus melaju dan bahkan menangkapnya, lalu mendekapnya dalam pelukan yang menghangatkan. Tubuh kekar itu memang benar-benar hangat. Namun, akibat pelukan tersebut, Elsie langsung memberontak dan terbangun di tengah malam. Setelah bangun dari tidurnya, ia masih masih mengingat apa yang sudah terjadi di mimpi tersebut. Mimpi yang aneh, tetapi itu seperti sebuah pertanda kalau hatinya sedang gelisah. Namun, alih-alih memikirkannya, dia malah menepis semua mimpi itu dan fokus untuk menjalani kehidupannya seperti biasa dengan sang kekasih. Kekasih yang dia anggap serius ini adalah South. Ada yang janggal ketika mengingatnya, tapi dia tidak tahu hal tersebut. Dia masih berbaring telentang di atas ranjang di kamar yang masih gelap. Seluruh kelambu jendela kamar tersebut masih tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kalau akan dibuka juga. Kelihatannya Elsie juga masih ingin merebahkan diri sambil membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. South menyadari kalau wanita di sebelahnya sudah terbangun. Jadi, dia pun membuka matanya, lalu menoleh ke samping, kemudian berkata, “selamat pagi, Sayang. Kau sudah bangun.” “Iya begitulah.” “Kau ada masalah. Kelihatannya baru bangun kau sudah tidak enak begitu. Ada apa?” ‘Tidak apa-apa, hanya mimpi buruk. Tapi, kau tidak perlu mengkhawatikrna itu, South.” Elsie memandangi South, kemudian mengalihkan pembicaraan, “daripada memikirkan hal yang tidak penting, bukankah lebih baik kalau kita membicarakan hal lain saja, maksudku aku belum sepenuhnya menjelajahi tempat ini, terutama di lantai dua. Bagaimana kalau kita ke atas, siapa tahu nanti ada sesuatu yang menakjubkan.” “Menakjubkan?” “Kau adalah penyihir dan ini adalah peninggalan keluargamu kan?” South hanya mengangguk. Sebenarnya ini bukanlah peninggalan keluarganya, sudah jelas ini hanyalah bangunan tua yang memang dia beli dahulu dari orang lain untuk dijadikan tempat melakukan aktifitas sihir jika diperlukan. Tetapi karena dahulu dia memang tidak butuh, maka tidak pernah digunakan hingga sekarang. “Kau berharap ada Frankenstein disini?” dia menggoda Elsie. “Tentu saja tidak, tapi kalau memang iya, itu keren sekali pasti.” Elsie menertawai ucapannya sendiri. Dia kemudian bangkit terduduk, lalu mengatakan kembali. “kau juga belum sepenuhnya menceritakan siapa dirimu, South, aku merasa kita asing sekali padahal kita pasangan. Apa kau memikirkan itu?” “Eh …” South harus mempertegas ini sebelum mantera sihirnya tidak bekerja kembali. Dia pun mengatakan, “kau benar sayang, ada banyak sekali yang belum kuceritakan, terutama tentang keluargaku yang penyihir berdarah campuran.” “Iya, tempat ini menyimpan banyak misteri bukan, jadi lebih baik kita mencari tahunya juga.” “Baiklah jika kau memang ingin tahu segalanya, tapi jujur, aku sendiri juga tidak terlalu mengenal keluargaku, tolong jangan memandang aku jelek ya, aku memang seperti anak buangan.” “Kenapa kau berkata demikian.” South bangkit terduduk di sebelah elsie. Dia masih terlihat sangat sayu. “Memang itu kenyataannya. Kalau aku bukan penyihir, aku ini hanyalah orang biasa yatim piatu yang sekarang benar-benar sebatang kara.” Elsie meraba kulit pipi South, lalu menjelaskan, “siapa bilang kau sebatang kara? Kau adalah kekasihku, aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu, Jadi tolong berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal begitu.” “Kau benar, kadang-kadang aku menjadi sangat sentimen, ini memuakkan, tapi terima kasih, Elsie. Berkat kehadiranmu, aku merasa lebih baik. Rasanya hari kemarin yang sangat suram, mendadak sangat indah.” South meraba kulit pipi Elsie juga. “Aku juga mencintaimu, Sayang.” “Aku senang mendengarnya, meskipun ya … aku tidak tahu kenapa tahu entah mengapa kita sangat jauh padahal begitu dekat.” “Itu …” South takut kalau gadis itu mengetahui segalanya. Di saat dia sudah bisa melupakan Natalia dan mendapatkan kasih sayang yang asli, kenapa malah semuanya akan berakhir? Tidak, dia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. “Ada apa? Aku benar kan?” “Tentu saja salah.” South tersenyum palsu. Ia kemudian turun dari ranjang, lalu mengatakan, “ayo kita mandi, kemudian akan kutunjukkan lantai atas, aku juga agak lupa dengan isi lantai atas, menurutku hanyalah gudang penyimpanan barang-barang lama milik orang terdahulu, maksudku keluargaku.” “Oh, itu yang aku tunggu, aku malah menanti akan menemukan sesuatu yang menarik.” “Seperti jin dalam botol?” Elsie tertawa. “Jangan meledekku ya.” South tertawa pula. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD