BAB 18

1210 Words
Esok harinya,, sesuai keinginan Elsie, Jett mengajaknya keluar rumah untuk sekedar menikmati udara pagi di hutan Cemara. Nyonya Leda belum kunjung pulang sehingga dia menghabiskan lebih banyak waktu dengan Elsie. Berduaan. Rasanya godaan untuk tidak menyentuhnya makin berat seiring waktu. Setiap malam, dia ingin menyentuhnya. Tidak hanya dirinya, Elsie pun merasakannya pula. Dia tidak mau berlama-lama memendam perasaan ini, namun apa daya, dia juga tidak mungkin mengutarakan perasaannya pada Jett. Sekalipun kini, Jett sangat baik, bukan berarti kebaikan ini bermakna lain. Dia menjadi bimbang, apakah Jett menyukainya? Apakah ini hanya keramahan seorang tuan rumah? Apakah memang Nyonya Leda menyuruhnya seperti ini? Apakah tidak ada maksud tersembunyi atas semua perbuatan baiknya? Elsie berusaha untuk menepis segala macam pemikiran itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang. Antara benci, tapi juga cinta.. sebelumnya, dia memang tidak suka pada kelakuan Jett sampai jengkel padanya. Namun, setelah itu, rasa jengkel itu menjadi cinta. Dia mencintai pria itu, memang sudah tid iniak bisa dihentikan lagi. Perasaan cinta yang semakin berapi-api ini terus berkobar. Apalagi, saat mereka tidur berdua, rasanya seperti dunia memang hanya ada Jett dan Elsie. Mereka berjalan santai menyusuri sungai yang ada di belakang rumah Nyonya Leda. Di sekitar sungai tersebut banyak sekali tumbuh pepohonan cemara. Semuanya tumbuh subur dan baik. “Kau sering kesini?” tanya Elsie membuka obrolan. Jett mengangguk. “Iya, cukup sering. Aku memang tinggal di rumah nenek, maksudku anggap saja sebagai rumah.” “Kalau begitu, biasanya kau juga tinggal dimana?” “Di rumah mendiang ibuku, sekitar usaha bengkel yang ku jalankan.” “Oh, kedengarannya kau ini benar-benar jarang di rumah. Tipikal pria pecinta hura-hura.” “Katakan itu pada semua anak muda, Elsie . Ucapanmu aneh sekali. Aku tidak yakin kau berasal dari kota besar. Sebenarnya apa yang kau lakukan di kota?” “Lupakan saja apa yang sudah kukatakan barusan.” Elsie kesal karena disindir begitu. Dia mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan, “jadi, mengenai sungai ini ... Kelihatannya memang sangat jauh dan cukup jernih. ” “Iya, ini memang panjang, dan kau bisa menikmati hari-hari disini saat stress. Aku biasanya berdiam diri disini apabila sedang banyak pikiran. Memandangi air jernih membuatku tenang.” Mereka berjalan ke tepian sungai. Tidak ada satu pun yang mengatakan sesuatu untuk beberapa detik pertama. “Kau sudah ingin cerita?” tanya Jett lembut. Dia selalu tahu kalau Elsie menyimpan perasaannya dalam-dalam. Dia tahu kalau wanita muda itu sedang bersedih, hanya saja terbiasa dipendam sendiri. Elsie masih berat untuk berbagi. “Aku tidak apa-apa.” “Aku bisa tahu kau sedang sedih. Kau memang sudah membaik, tapi aku tahu jauh di dasar hatimu, kau bersedih. Ceritakan saja padaku.” Elsie mulai duduk di tepian sungai berair jernih itu. Kemudian memainkan batu kerikil kecil yang ada di sana. Dia sama sekali tidak peduli celananya akan kotor atau tidak. Jett benar, memandangi air sungai sedikit menenangkan hatinya. “Aku tidak apa apa,” katanya lagi. Jett terdiam sebentar. Dia bertekad untuk membuat Elsie bercerita padanya secara langsung sebenarnya apa yang membuatnya kabur dari kota dan menenangkan diri di desa kecil begini? Dia duduk di samping wanita muda ini. Setelah itu, ikut tertegun menatap air sungai. Sudah cukup lama sejak terakhir dia melakukan hal ini. Menatap jernihnya air sungai, menenangkan hatinya yang makin gundah dengan segala permasalahan yang ada. Dia ingin menceritakan mengenai siapa dirinya kepada Elsie. Namun, dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya sekarang. Dia bingung. Tetapi, dia sadar, jika ingin bersamanya, maka mau tidak mau harus menceritakan tentang siapa dirinya. Cepat atau lambat rahasia itu juga pasti akan terbongkar. Hanya saja, Jett tidak mau terbongkarnya rahasianya ini di waktu yang tidak tepat. Mungkin memang sebaiknya dia menceritakannya sejak awal, dan mungkin inilah saatnya. Apabila dia terbuka dengan jati dirinya, maka mungkin Elsie juga akan membuka diri tentang dirinya dan segala permasalahan yang tengah dia hadapi. “Elsie.” Jett mulai membuka pembicaraan kembali. “Kau percaya pada hal-hal yang di luar nalar?” “Seperti apa?” “Seperti eh ... Peri hutan?” “Hah?” “Iya, maksudku mitologi semacam itu.” “Iya, maksudku ... Tidak juga, tapi aku selalu percaya kalau hal itu mungkin memang ada. Kenapa?” “Tidak, hanya saja, aku ingin tanya pendapatmu saja.” “Apa ada peri hutan?” “Kau bercanda, ya?” “Kau sendiri yang menanyakan tentang itu.” “Maaf, itu hanya perumpamaan. Maksudku lebih ke ... Vampire atau manusia serigala” “Eh, vampire?” “Iya. Kau percaya itu?” “Well, entahlah, kalau manusia serigala mungkin aku agak percaya, mungkin mereka memang ada, kalau Vampire entahlah, aku pernah membaca kalau istilah Vampire itu ditujukan kepada seorang pemimpin di masa lalu yang haus Darah, dan semacam itu.” “Oh” Jett tidak menyangka malah gadis ini mempercayai tentang manusia serigala. “Kau percaya manusia serigala?” “Iya, karena menurut mitologi dan beberapa pemberitaan lama yang pernah k****a, ada orang yang berhasil memotretnya.” “Oh iya?” “Iya, aku pernah membaca beritanya. Menurut mereka, manusia serigala itu berbahaya dan seram pemakan manusia.” “Kurasa itu agak dilebih-lebihkan.” “Ngomong-ngomong kenapa kau tertarik membicarakan hal semacam itu memangnya? Aneh sekali, kau ... Sepertinya bukan tipikal orang yang akan membicarakan ini dengan seorang gadis.” “Aku hanya ingin tahu pendapatmu saja, kita ini kan hidup berdampingan dengan makhluk lain. Aku percaya dengan semua itu ... Pokoknya aku murni hanya ingin tahu pendapatmu. Kurasa kau cukup menyenangkan diajak mengobrol hal yang dibilang tak masuk akal seperti itu.” Elsie tertawa singkat. “Jujur saja, aku sedikit terkejut kau membicarakan hal ini. Tapi, iya, aku cukup suka dengan hal-hal yang berbau mitologi, menurutku itu cukup menyenangkan, aku suka sekali.” “Aku juga suka, sejarah pun aku suka. Kau pasti takkan mengira aku ini suka membaca.” “Sungguh?” Elsie kaget melihat Jett. Dia tidak akan mengirakalau pemuda tampan dan terlihat seperti berandalan ini malah seorang kutu buku. “kau suka membaca buku? Dan buku sejarah?” “Iya, aku suka menghabiskan waktu dengan membaca kalau sedang tidak melakukan apapun. Aku suka hangout dengan teman-teman di pantai atau di sekitar sini, tapi memang paling menyenangkan adalah berdiam diri sambil membaca buku.” “Oh, menakjubkan.” Elsie mulai tertarik mengobrol dalam dengan sosok Jett. Dia tersenyum bahagia sampai-sampai senyuman itu mempesona kan Jett. “Kau tidak suka membaca? Kau kelihatannya seperti orang yang menghabiskan waktu dengan tidur atau semacamnya.” Jett menyeringai, hendak menggoda Elsie, ketahuan sekali kalau dia sedang ingin berdekatan dengan gadis itu. “Aku suka tidur, aku suka bersantai, iya, kalau membaca, tentu saja aku suka, tapi hanya bacaan normal seperti novel, bukan bacaan membosankan seperti buku sejarah.” “Sejarah itu tidak membosankan. Apa bagusnya novel?” “Aku membaca kisah percintaan, tentu saja itu bagus. Setidaknya dengan membaca kisah percintaan yang bahagia, aku bisa menghibur diri sendiri. Buku adalah tempat untuk melarikan diri.” “Padahal kau sepertinya orang yang tidak percaya cinta.” Jett bisa menebak jelas melalui tatapan mata Elsie yang selalu dingin ketika membahas cinta. Perkataan tersebut lantas membuat Elsie terdiam sesaat. Itu memang benar, dia tidak mempercayai cinta, tapi sangat suka membaca kisah percintaan yang bahagia. Bisa dibilang, dia mendambakan kisah itu, tapi tersadar kalau dunia imajinasi memang berbeda dengan kenyataan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD