BAB 09

1033 Words
Keesokan harinya. Elsie bangun dari tidurnya. Dia baru sadar kalau ketiduran di samping tubuh Jett. Dia lantas syok ketika tahu juga kalau semalaman, dia telah diberikan kehangatan. Pipinya langsung memerah, seakan ingin meledak karena terlalu malu. Dibandingkan dengan panasnya perapian, pelukan Jett jauh lebih menghangatkan. Elsie tegang hanya karena bangun, dia memandangi sosok Jett yang masih setengah t*******g dan terlelap. Sebenarnya, Jett sudah mengetahui kalau wanita ini telah terbangun, tapi terlalu malas untuk menanggapi. Dia masih mengantuk, dan selalu ingin lebih sering tidur. Musim panas akan segera berakhir, dia menantikan itu. Tetapi, dia takut kalau kebiasaannya tidur lebih banyak di musim dingin kambuh. Elsie berdiri pelan-pelan, lalu bergegas pergi menuju ke kamarnya kembali. Dia mengelus dadanya yang berdebar-debar. Tidak ada yang bisa dia katakan, semuanya memalukan dan di luar kendali. Tahu-tahu setelah berbincang sedikit, dia ketiduran dan bangun sudah dalam keadaan dipeluk oleh Jett. Kehangatan tangan dan dadanya masih terasa di tubuhnya. Dia segera masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Namun, apa daya, pengaruh itu masih menghantuinya. Jett adalah pria yang seksi, tidak diragukan lagi, dan dia benar-benar telah tergoda. Wanita manapun seharusnya jatuh cinta pada pria itu. “Tidak, tidak, tidak.” Elsie baru keluar dari kamar mandi dengan kondisi hanya mengenakan sehelai handuk, tapi masih memikirkan Jett. Dia ragu kalau memang Jett ini telah melakukan hipnotis padanya. Elsie segera mencari pakaiannya di dalam lemari. Dia telah membereskan kopernya kemarin, jadi segalanya telah rapi. Tujuannya untuk menenangkan diri di kota kecil sekarang berantakan. Dia bahkan sudah tidak tenang lagi. Bukan karena pembunuhan yang menyebar ke seluruh kota, melainkan serangan dari Jett yang luar biasa. Pengaruh pejantan itu sungguh sangat mengerikan, sampai membuat jantungnya tak berhenti berdebar-debar kencang. Pelukan itu, tangan yang besar itu, serta d**a hangatnya, segalanya tak mungkin bisa dilupakan hanya dalam waktu singkat. Elsie meratap sampai-sampai kebingungan dan lupa dengan apa yang sedang dilakukan. Alhasil, dia hanya mengacak isi lemari, dan baru menyadari kalau belum juga menemukan pakaian dalam dan gaun santai yang akan dikenakan. Pagi yang begitu buruk, dia tidak yakin akan bisa melalui ini lebih lama lagi, rasanya tidak mungkin. Jett selalu ada di pikirannya . Dengan tinggal bersamanya, maka cobaan jatuh cinta ini semakin besar. Tetapi, dia tidak tahu harus berbuat apa? Menjauh juga tidak mungkin, pindah ke rumah lain apalagi, tidak ada opsi yang paling baik ketimbang ini. Terlebih lagi di kota sedang dalam masalah. Pembunuhan merajalela, dan pelakunya belum tertangkap, bagaimana bisa dia pergi dari tempat ini dan melewatkan perlindungan dari seorang pria? Tetapi, sensasi jatuh cinta ini sulit ditolak apabila terus bersama sosok Jett, dia tidak bisa begini terus. Cinta adalah musuh alami dari Elsie, dia memantapkan diri untuk tidak memikirkan Jett. “Oke, aku akan sarapan.” Dia menghela napas panjang, dan berhasil mengambil sebuah gaun santai bermotif bunga-bunga. Tetapi, tiba-tiba terdapat suara berkata, “Hei, bari selesai juga mandi? Belum berpakaian?” Sontak saja Elsie menoleh dan kaget karena tahu-tahu, dengan tidak sopannya, Jett sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka. Dia baru sadar kalau terlalu banyak pikiran sampai tidak mendengar suara pintu dibuka. Panik, dia segera merapatkan handuk yang melingkari tubuhnya. "Kau tidak perlu menutupi tubuhmu seperti itu." Jett menyeringai. dia sudah memeluknya sepanjang malam, jadi menurutnya sudah tidak perlu lagi malu-malu di depannya. entah mengapa, dia merasa sudah sangat dekat, padahal mereka belum melakukan apapun untuk menyatukan ikatan dalam diri mereka. jelas saja Elsie malu mendengar semua perkataan asal tersebut. pipinya merona, dan matanya melotot kesal. dia lantas berseru, "jangan banyak bicara, sana pergi dari kamarku, aku akan pergi keluar setelah selesai berganti pakaian." "Oke." "Jangan oke-oke saja, cepat pergi dan tutup pintunya." Jett malah terbahak. dia benar-benar sudah kelihatan sekali kalau sedang tertarik dengan sosok Elsie. dia membayangkan bagaimana tubuh gadis itu tanpa menggunakan sehelai pakaian. "Kau menjadi ganas lagi," katanya. Elsie tak mau kalah. "Oh apa kau betah disini karena ingin mengintipku? kau kan memang dasar tukang intip." "Jangan begitu, Elsie. aku hanya ingin menertawaimu." "Dasar tukang intip. cepat pergi kau." Elsie tidak tahan lagi karena tergoda. dia menarik satu bantal dari ranjangnya, kemudian dia lempar ke arah Jett. tanpa sadar, dia tertawa pula karena melihat pria itu tampaknya rela terhantam bantal ketimbang melarikan diri. "Oke, Nona Wilson, aku akan pergi sekarang." Jett mengambil bantal itu, lalu dilemparkan kembali ke atas ranjang. setelah itu, dia pergi keluar serta menutup pintunya rapat. tak lupa, sebeluk itu, dia eempat tersenyum sekali lagi pada wanita muda tersebut. rasanya ini adalah hari yang membahagiakan Karena bisa bersama gadis yang dia sukai. rasa suka ternyata semenyenangkan seperti ini. Jett sama sekali tidak menyangkanya. ternyata apa yang dikatakan oleh semua anggota kelompoknya memang benar, cinta adalah sebuah anugerah yang menabhagiakan. dia pergi ke dapur dengan senyum-senyum lebar. andaikan saja, neneknya di rumah pastinya sudah akan tahu apasaja yang terjadi padanya. semua ini terjadi secara tiba-tiba. siapa yang menyangka akan bertemu dengan wanita yang ditakdirkan di saat seperti sekarang? dia berjalan menuju ke dapur, lalu kembali meracik makanan untuk sarapan pagi itu. hari ini, dia hanya akan memanggang roti serta membuat telur orak-arik yang disukai oleh Elsie. mendadak, dia juga sudah mengetahui tabiat dari wanita itu, apa yang dia sukai, dan bagaimana lucunya ketika dia tertawa. Elsie sudah berbeda dari sebelumnya. hanya dalam beberapa hari setelah mereka berjumpa, gadis itu jauh lebih baik dan bahagia. tidak lagi seperti gadis suram yang terlalu banyak mengemban beban hidup. gadis itu kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang telah menemukan orang yang dia sukai. Jett mingan, cucu dari Nyonya Leda. pemuda lokal yang culas tapi makin kemari makin lucu dan baik hati. dia adalah tipikal idaman Elsie yang memang sangat ingin dimiliki sebagai pasangan. Elsie keluar dari kamarnya, kemudian dia pergi ke dapur, dan membantu sedikit Jett dalam mempersiapkan makanan. tak lupa, dia juga sedikit mencicipi makanan saat itu. mereka tak banyak bicara tentang apapun kecuali makanan. dari Jett, Elsie belajar banyak hal, terutama tentang bumbu masakan yang sebelumnya belum pernah dia pakai saat memasak sesuatu. ternyata, Jett jauh lebih baik dalam meracik makanan dari pada dirinya. alih-alih menyindir seperti biasa, Jett memilih untuk mengajari Elsie cara yang baik dan benar. dalam benaknya, dia juga ingin merasakan masakan Elsie suatu hari nanti setiap pagi, siang dan malam. intinya kehidupan rumah tangga yang ia impikan. sarapan pun dilakukan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD