BAB 11

1142 Words
Jett menemani Elsie untuk pergi berbelanja di toko kelontong terdekat. Berhubung ini hanyalah kota kecil, kebanyakan memang hanya ada toko kelontong. Untuk supermarket berada di tempat yang lumayan jauh dan harus ditempuh dengan kendaraan. Sementara itu, Jett dan Elsie memutuskan untuk berjalan kaki saja. Mereka juga ingin menikmati waktu pagi yang sedang cerah ini. Meskipun suasananya memang sangat cerah dan kondusif, hampir segalanya terlihat normal, warga juga beraktifitas seperti biasa, tetapi bagi Jett semuanya ini tetap mencurigakan. Siapapun bisa menjadi musuh kalau sudah begini. Pembicaraannya dengan sang nenek sebelumnya cukup serius. Pembunuhan masih terjadi di kota kecil ini, dan para pelaku juga belum tertangkap. Sherrif Tom juga masih memburu mereka yang mencurigakan. Tugas Jett adalah melindungi Elsie. Sekarang, tanpa diminta pun, dia rela melindungi wanita ini. Semua itu semata-mata karena memang dia menyukainya. Benih cinta yang sudah semakin tumbuh ini sulit dikendalikan. Segalanya membahagiakan sekaligus seram. Elsie masih memandangi sekitar. Sepanjang jalan, dia menapak di atas trotoar jalan. Pandangannya kemana-mana, dan kelihatan lega. udara di kota ini sangat bersih dan segar, berbeda dengan kota tempatnya berasal. Selain itu, orang-orangnya juga kelihatan ramah, tidak seperti di tempatnya yang nyaris semua orang kelihatan marah dan berbahaya. Dia semakin betah berada di sini, terlepas semua pemberitaan bahaya tentang pembunuhan. Ini adalah yang pertama kalinya, dia diperbolehkan keluar rumah setelah menginap di rumah Nyonya Leda. Walaupun harus ditemani Jett, tapi dia tidak masalah. Malahan, ini seperti kencan. Dia sangat penasaran dengan Jett. Karena itulah, dia bertanya, “kau tidak masalah menjagaku terus?” Jett, yang berjalan di sebelahnya, menjawab, “memang aku diperintahkan nenek untuk menjagamu.” “Bagaimana dengan kesibukanmu? Maksudku ...” “Aku memiliki sebuah bengkel tak jauh dari sini, milik mendiang ayahku, biasanya aku ada disana untuk melihat situasi, tapi aku tak perlu disana sekarang karena nenek membutuhkanku.” “Wah, kau pasti ahli mesin kalau begitu?” “Memang seperti itu. Sejak remaja aku membantu ayahku di bengkel, tapi semenjak dia tiada, aku menyerahkan semua tugas perbaikan dan mesin pada karyawan saja. Aku tidak memiliki minat untuk terjun langsung di dunia mesin lagi.” “Oh, begitu. Kau memiliki sebuah bengkel ternyata. Aku tidak menyangka orang sepertimu memiliki bengkel dan seorang ahli mesin.” “Apa maksudmu? Memangnya kau pikir aku ini apa?” “Tidak, tidak, kau lebih mirip menjadi seorang model ketimbang ahli mesin.” Elsie menertawai ucapannya, yang kemudian dia sadari sebagai keceplosan. Dia tidak ada niatan untuk mengakui langsung bahwa Jett sangat tampan dan seksi. “eh ... Maksudku ...” Jett tertawa pula. “Ini kota kecil, tidak ada agensi model disini. Ternyata, kau berpikir kalau aku ini seorang model.” “Jangan besar kepala.” “Tidak, tidak, aku hanya tidak menduga kalau kau berpikir begitu." "Sudah kubilang jangan besar kepala." "Tak masalah, aku selalu dipuji tampan." "Oh iya? kelihatannya kau ini memang orang yang sombong dan menyebalkan." "Terima kasih." "Itu bukan pujian, Sialan." Jett tertawa pelan. "Astaga, kau ternyata menyenangkan, meskipun tetap saja gadis kota itu kebanyakan tidak bisa melakukan apapun.” “Enak saja.” “Aku ragu kau bisa membedakan jenis bawang.” “Aku bisa, oke, aku akan membuatkan makanan nanti siang, kita belanja beberapa bahan masakan sekarang, aku tidak mau merepotkan Nyonya Leda.” “Boleh. Kau bisa masak apa?” “Apapun, apa yang kau ingin makan?” “Daging panggang, aku selalu suka daging panggang.” “Iya, hampir semua pria menyukai daging panggang.” “Nah, kalau begitu, coba kau masakkan aku daging panggang, Nona. Apakah kau bisa melakukannya?” “Jangan panggil aku Elsie jika tidak bisa.” tempat yang dituju oleh mereka berdua sudah terlihat dan langsung mereka masuki. itu adalah tempat belanja yang cukup terkenal dan lengkap di kota. iya, sekalipun bagi Elsie itu cukup kecil, tapi dia merasa bersyukur karena bisa kemari, terutama ditemani oleh Jett. Jett mengikuti kemanapun Elsie pergi. Elsie masuk ke dalam dengan membawa keranjang belanjaan. Dia langsung menuju ke rak sayuran, kemudian dia menaruh semua sayuran yang dia inginkan, termasuk asparagus, dan beberapa kubis, wortel dan lain-lain. Setelah puas, dia melaju ke rak daging. dia memikirkan Jett yang akan melahap semua makanan yang telah dia siapkan nantinya. Jett tetap mengikuti di sebelahnya. "Kau kelihatannya senang sekali kalau berbelanja, ya?" Elsie tertawa. "Semua wanita memang suka berbelanja sekalipun hanya belanja sayur, rasanya menyenangkan memasukkan barang ke dalam keranjang ." "Iya, kurasa aku bisa paham itu." "Apa kau biasanya berbelanja sendiri? atau bersama nenekmu?" Elsie tampak berpindah ke rak bumbu yang tak jauh dari rak minuman. Jett masih mengikutinya. ",Aku biasanya berbelanja sendiri, tapi terkadang juga bersama nenek. dia terkadang membutuhkan orang untuk membawa belanjaan yang lumayan banyak. Kalau sudah begitu biasanya karena ada tamu." "Waktu aku pertama datang juga disambut dengan baik. aku jadi merasa terhormat." "Memang begitulah nenek. kau jangan kaget, ya aku duka sifatnya yang seperti itu. aku jadi sering makan di rumah." "Dia suka membuat makanan?" ",Benar, kalau saja dia tidak banyak urusan di luar, dia pasti akan membuatkan kita banyak makanan, termasuk kue apelnya yang lezat." "Kue? Pai apel?" "Iya, itu dia." "Oh begitu. kelihatannya nenekmu memang suka membuat makanan. aku menantikan untuk merasakan kue buatannya tersebut." ",Iya, kuharap semuanya cepat berlalu sehingga kita semua bisa makan bersama, dan dia bisa membuatkan makanan lezat untuk kita." "Tapi untuk sekarang, aku akan membuatkan makanan yang akan membuatmu terpana." Jett tertawa. "Aku terpana karena makanan?" "Iya, maksudku karena terlalu enak, kau jadi terharu nanti. Bukan hanya dirimu, aku juga percaya diri dengan caraku memasak." "Oke. kedengarannya memang cukup baik. oke, oke. aku menantikan apa yang bisa kau buat dengan asparagus dan daging itu." "Aku akan membuat daging gulung, nanti juga enak." "Oh, aku suka itu. kedengarannya memang enak. Jarang sekali aku memakan daging yang digulung, lalu dipanggang? di panggang bukan?" "Tentu saja. oh, aku juga harus membeli tepung jagung ..." Elsie beralih ke rak tepung dan gula. "Aku ingin menambahkan aneka rasa lain. kau mau sesuatu yang lain?" "Entahlah, aku terserah padamu saja, kau kokinya, aku ingin merasakan makanan buatanmu." "Baiklah, aku akan membuat daging gulung panggang dengan isian asparagus, itu pasti lezat sekali. aku juga akan menambahkan irisan wortel yang akan aku bumbui juga, biasanya irisan wortel selalu berasa datar, aku akan membuatkan rasa manis juga, lalu disiram dengan kaldu ..." "Aduh, aku tidak bisa membayangkan, aku tidak pernah mendengar daging gulung dengan irisan wortel." "Ini aku buat sebagai variasi saja, aku sering melakukan eksperimen dalam hal memasak. selama itu enak, aku tetap memakannya." "Iya, aku tidak masalah kalau begitu. Masukkan saja semua yang kau butuhkan, dan mari kita segera pulang." Jett memperhatikan kondisi tempat belanja ini yang agak lebih sepi dari normalnya. Dia tahu ini semua terjadi karena peristiwa kriminal yang terjadi di kota. "Tempat ini juga sepi, aneh sekali rasanya, agak menyeramkan." "Iya, kau benar. aku harus bergegas." Elsie terus memasukkan barang yang dia butuhkan, kemudian dia berjalan menuju meja kasir untuk membayar semuanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD