Felix baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah tinggal Veronica. Setelah mengucapkan doa bersama akan harapan di malam pergantian usia Susie, Veronica segera minta ijin pulang diantarkan Felix.
"Kau belum memberikanku jawaban," Felix memegangi lengan Veronica yang hendak turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih padanya.
Veronica menahan dirinya, menoleh pada Felix sekilas, menutup pintu mobil kembali yang sebelumnya sudah terbuka, lalu memandang jauh ke arah jalanan di depan mereka berdua, "Aku tidak memiliki jawaban selain ...maaf, aku menolak tawaran Anda, Tuan Salvatore."
"Kenapa?"
Felix semakin mengencangkan jemarinya mencekal lengan Veronica. "Apakah keuntungan yang akan kuberikan padamu masih kurang? Aku bisa membelikanmu rumah tinggal yang jauh lebih mewah dan layak untuk keluargamu, aku juga akan membantu mengembangkan restoranmu tersebar di beberapa kota besar dunia dan aku ..."
Veronica melirik ke arah tangan Felix yang mencengkeram lengannya, sehingga Felix akhirnya melepaskan juga menghentikan perkataannya. Tetapi mata pria itu masih menatap lekat ke wajah Veronica, menunggu jawaban.
"Sebagai seorang wanita, syarat yang Anda berikan sangat merugikanku. dimana aku tidak boleh menolak jika Anda menginginkan hubungan intim. Bagaimana jika aku datang bulan, bukankah itu sama aja dengan membunuhku perlahan-lahan?"
"Memang itu tujuanku!" ceplos Felix yang hampir saja kalimat tersebut meluncur keluar melewati mulutnya.
"Selain itu, jika kita memiliki anak, maka anak tersebut sepenuhnya menjadi milik keluarga Salvatore dan aku tidak berhak untuk menemui ataupun mengakui diri sebagai ibu yang melahirkannya." lanjut Veronica seraya menyunggingkan senyuman sangat tipis, mengalihkan tatapannya dari menatap jalanan, balas memandang Felix yang sejak tadi terus mengunci netra padanya.
"Anda bisa mencari wanita lain yang lebih membutuhkan bantuan dan bersedia untuk Anda hamili, Tuan Salvatore." Veronica membuka pintu mobil semakin lebar, "Tetapi aku bukan wanita yang seperti itu. Selamat malam dan terima kasih atas makan malam juga perkenalan dengan keluarga Anda. Permisi."
Felix terdiam, ia tidak menjawab perkataan Veronica. Felix terus memperhatikan dari dalam mobil, sampai wanita muda itu membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Tetapi bukan berarti Felix akan menyerah.
Felix sudah bertahun-tahun mencari keberadaan Veronica. Sekarang setelah mereka bertemu, tentu saja ia tak akan melepaskannya dengan mudah.
Tidak, sebelum dendam, kecewa dan sakit hatinya terbayarkan lunas!
--
Selena yang tertidur dalam pelukan Keanu di sofa ruang tamu, menunggu Veronica pulang, segera terbangun begitu mendengar suara derit pintu terbuka dari luar.
"Kakak ...?!"
Selena langsung bangkit untuk menghampiri serta berputar mengelilingi tubuh Veronica untuk ia teliti.
"Maaf, membuat kalian kuatir. Kakak tidak apa-apa." Veronica tidak bisa menahan desahan tak berdaya keluar dari rongga hidungnya dan tatapannya beradu dengan Keanu yang tersenyum tipis menganggukkan kepala.
"Kau bersama pria, Kak? Berkencan? Ada aroma pria di tubuhmu ..."
Veronica menangkup gemas wajah Selena dengan kedua tangan, "Duh yang memiliki penciuman sensitif ...memang tak bisa bohong ya sama kamu." kekehnya, lalu melanjutkan,"Kakak memang tadi bersama pria. Tapi bukan teman kencan juga bukan sahabat. Hanya kenalan, tak lebih."
Selena memutar bola matanya, menatap lekat-lekat ke dalam netra Veronica yang segera menghindar, berjalan ke area pantry, "Kalian mau minum s**u hangat?" tanyanya mengalihkan fokus Selena yang mungkin akan mencecarnya dengan pertanyaan.
"Ya, uhm ...sebaiknya kami istirahat." Keanu menjawab cepat pertanyaan Veronica, menutup mulut Selena yang ia juga sudah menduga tak akan melepaskan saudarinya itu dengan banyak pertanyaan.
Keanu menahan ringisan pada wajah ketika Selena mencubit pinggangnya bertubi-tubi karena istrinya itu belum rela dibawa ke dalam kamar.
"Kakakku sedang dekat dengan seorang pria, Keanu!?" protes Selena ketika berada di dalam kamar, menatap melotot pada suami tampannya.
"Kakakmu belum ingin membicarakan hal itu. Tunggu, ia terbuka, oke?"
"Tidak bisa! Bagaimana jika itu pria jahat, memanipulasi kakak dan memanfaatkannya?" Selena sudah hendak menarik handel pintu ingin kembali keluar.
"Aku akan menyelidikinya diam-diam. Tenanglah ..." Keanu bergegas memeluk pinggang Selena erat-erat dari belakang, melabuhkan wajah ke pundak istrinya yang ia sangat tahu sedang risau juga cemas pada Veronica.
"Aku mau s**u segar," bisik Keanu lembut, menjalarkan ciuman dan menggigit pelan daun telinga Selena.
"Kakak sudah melakukan segalanya untukku. Aku tidak ingin dia disakiti oleh siapapun!" tutur Selena disela-sela napasnya yang tumbuh semakin memberat akibat ciuman panas Keanu merangsang titik sensitifnya.
"Aku akan menghancurkan siapapun yang berani menyakiti kakakku, meskipun dunia ini akan ku buat tenggelam dalam lautan darah kegelapan, akan ku lakukan!" Selena masih menyuarakan apa yang ada dalam pikiran dan merupakan tekadnya selama ini, yaitu melindungi Veronica.
"Ya, ya. Aku akan menjagamu agar dunia ini tidak menjadi gelap akan lautan darah. Ayolah, tunggangi aku, Selena ..." Keanu sudah membawa Selena ke atas ranjang dan menelentangkan tubuhnya pada permukaan kasur, menarik Selena untuk menaikinya.
Tidak bisa dipungkiri, tindakan Keanu yang selalu bisa meredam emosi gelap Selena dengan percintaan memang sangat ampuh. Bibir Selena langsung mendesah begitu Keanu mencengkeram kedua sisi pinggul istrinya itu untuk menggeseknya, dimana pakaian mereka sudah mulai acak-acakan.
"Keanu ..."
"Ya, Sayang ...paculah kuda jantanmu. Ia sudah siap."
Di luar ruangan, bibir Veronica tersenyum tipis sambil berjalan membawa cangkir s**u memasuki ruangan kamar tidurnya, setelah mendengar erangan manja Selena bersama Keanu.
Veronica duduk pada kursi, sesekali menyesap s**u hangatnya. Namun pikirannya masih terus berkelana mengingat Felix.
"Seharusnya aku sadar diri, dia tak mungkin mencintaiku." gumam Veronica menertawakan kebodohan dirinya sendiri.
Veronica sudah menandaskan s**u hangatnya, kepalanya berkali-kali mengangguk membenarkan jika apa yang telah ia katakan pada Felix, memang sudah tepat adanya. Ia tak akan menjual cinta dan tubuhnya pada pria, meski mungkin hatinya menyukai Felix.
Veronica baru saja terlelap, pun juga Selena yang mendapatkan klimaks dahsyat dari Keanu. Tetapi satu-satunya pria di rumah itu justru meraih ponsel untuk menghubungi Hvitserk.
[Veronica tak bersalah. Tolong jangan biarkan Felix menyakitinya. Karena aku mungkin tak akan bisa menyelamatkan kalian semua jika terjadi sesuatu pada Veronica.]
[Apa maksudmu?] sebulan balasan masuk dari Hvitserk ke ponsel Keanu.
[Tak perlu ku perjelas. Kalian sudah tau apa yang akan terjadi jika sampai Veronica dicelakai. Aku ...Keanu, berdiri pada sisi Veronica dan istriku.]
Selesai menjawab pesan Hvitserk, Keanu meletakkan ponselnya ke atas meja. Selama ini Keanu sudah berusaha menutupi signal dan keberadaan Veronica dari keluarga Salvatore. Ia bahkan tidak keberatan dianggap sebagai anak buah yang berkhianat, jika hal tersebut bisa menyelamatkan Selena, Veronica juga keluarga Salvatore dari bentrokan.
Dosa masa lalu yang dilakukan oleh Efka Reager, Papanya Selena dan Veronica pastinya akan sangat sulit untuk dimaafkan oleh keluarga Salvatore. Dimana Efka Reager telah membunuh Marcella, wanita hebat Salvatore dan Joko, pengawal pribadi Marcella dengan cara yang sangat tragis.
--
Felix meraba bandul kalung yang selalu ia pakai dan tersimpan di balik pakaiannya, "Sebentar lagi, aku akan mengirimkan wanita yang telah membuat Mommy dan om Joko terbunuh. Tunggu sebentar lagi, Mom."
Kelopak mata Felix telah terpejam rapat, wajahnya masih menyisakan emosi yang membuatnya seperti tertekan dalam dendam.
Sebuah tangan lembut membelai wajah Felix, memberikan kecupan ke kening dan puncak kepalanya.
"Mommy ..." igau Felix dalam tidur ketika merasakan belaian lembut pada wajahnya, menahan tangan tersebut agar tidak menjauh.