Darah Tiara terasa berhenti mengalir mendengar suara itu bergema samar di ujung lorong yang sempit dan lembap ini. Suara itu adalah suara Kirana. Wanita yang selama ini menyamar sebagai rekan setia, yang selalu ada di sisi Satria seolah pendukung paling tepercaya, ternyata adalah otak utama di balik semua peristiwa mengerikan yang menimpa mereka. Bahkan Arga, sahabat karib yang dianggap saudara sendiri oleh Satria, hanyalah alat yang digerakkan oleh ambisi gelap wanita itu.
Di kegelapan yang dingin ini, Satria merasakan genggaman tangan istrinya menjadi kaku dan dingin. Perlahan, ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya satu-satunya cara ia bisa berkomunikasi tanpa suara, memberikan kekuatan dan jaminan bahwa ia ada di sana, bahwa mereka akan melewati ini bersama. Sejak awal, hubungan mereka dibangun atas dasar perjanjian dan kewajiban. Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah bahaya dan perhatian tulus Tiara, perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan nyata. Bagi Satria, wanita di sisinya ini bukan lagi sekadar istri kontrak, melainkan satu-satunya orang yang ia percaya sepenuhnya di dunia yang penuh kebohongan ini.
Mereka berdua diam mematung di balik tikungan dinding batu yang tebal, menahan napas, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Suara Kirana masih terdengar jelas, seolah wanita itu berdiri tepat di depan wajah mereka.
"Rencana mereka terlalu sempurna. Satria selalu lebih cerdas dari yang kita duga. Dia membawa si dokter itu lari lewat jalan rahasia peninggalan pangkalan lama," suara Kirana terdengar dingin, tajam, dan penuh kekesalan karena gagal menguasai situasi. Langkah kakinya terdengar berat mendekat ke arah lorong tempat mereka bersembunyi. "Kau lengah, Arga. Kau pikir karena dia terluka parah, dia tidak punya akal lagi? Kau lupa siapa ayahnya. Satria mewarisi ketajaman naluri militer terbaik yang pernah ada di negara ini."
Di sampingnya, terdengar suara Arga yang rendah dan penuh amarah tertahan. "Aku kira dia sudah lemah, Kirana. Aku kira dia sudah dikendalikan oleh perasaannya pada wanita itu. Si Tiara itu... dia hanya dokter biasa, wanita sipil yang tidak mengerti apa-apa soal strategi atau rahasia negara. Aku tidak menyangka dia berani melawan dan punya pengaruh begitu besar pada Satria."
Satria mengerutkan kening mendengar percakapan itu. Ia menoleh sekilas ke arah Tiara, dan di bawah cahaya remang yang masuk dari celah udara, ia bisa melihat kerutan bingung di dahi istrinya. Wanita biasa? Lalu kenapa Kirana dan Arga begitu ingin menyingkirkannya?
"Jangan salah paham, Arga," sahut Kirana dengan nada mengejek dan penuh perhitungan. "Memang benar dia hanya dokter bedah dari keluarga biasa. Tidak ada latar belakang militer, tidak ada koneksi politik. Tapi justru itulah kelebihannya. Dia adalah kelemahan terbesar Satria. Selama wanita itu ada, Satria tidak akan pernah mengambil keputusan berisiko tinggi semata-mata demi negara. Dia akan berpikir dua kali, dia akan takut kehilangan, dia akan menjadi manusia biasa yang punya hati dan rasa takut. Dan rasa takut adalah celah terbesar yang bisa kita gunakan untuk menghancurkannya."
Hati Tiara bergetar mendengarnya. Jadi selama ini, posisinya di mata musuh hanyalah sebagai titik lemah suaminya? Mereka menganggapnya beban, pengalih perhatian, sesuatu yang membuat Satria tidak lagi menjadi prajurit dingin dan kejam seperti dulu. Namun, di saat yang sama, ada rasa lega yang menyelinap masuk karena artinya, tidak ada rahasia kelam tentang dirinya sendiri. Ia memang hanyalah Tiara, dokter yang jatuh cinta pada suaminya dan berjuang melindunginya dengan cara sendiri.
"Tapi itu bukan satu-satunya alasannya," lanjut suara Kirana, kali ini terdengar lebih rendah, lebih serius, dan sarat dengan ambisi yang membara. "Ada alasan lain kenapa kita tidak boleh membiarkan mereka berdua lolos begitu saja. Satria membawa sesuatu. Sesuatu yang dia simpan jauh di dalam ingatannya, sesuatu yang bahkan tidak pernah dia catat di kertas apa pun. Rahasia Operasi Bayangan. Kau ingat operasi rahasia tiga tahun lalu? Misi yang dianggap gagal total dan dihapus dari semua arsip resmi?"
Jantung Satria seakan berhenti berdetak. Napasnya tertahan. Rahasia itu... hal itu adalah masa lalu kelam yang selama ini ia kubur dalam-dalam, misi yang penuh kekacauan, kesalahan strategi, dan hilangnya banyak nyawa prajurit di bawah komandonya. Pemerintah menyebutnya kegagalan, menutup kasus itu rapat-rapat, dan melarang siapa pun membahasnya lagi. Tapi jelas sekarang, ada lebih banyak hal di balik kegagalan itu daripada yang diketahui publik.
"Aku ingat," jawab Arga pelan, nadanya berubah menjadi tegang. "Itu operasi pengamanan kargo strategis. Kargo yang hilang. Yang sampai sekarang tidak pernah ditemukan jejaknya. Kau bilang... Satria tahu di mana benda itu berada?"
"Satria tidak hanya tahu di mana benda itu berada, Arga. Dialah satu-satunya orang yang menyaksikan apa sebenarnya isi kargo itu, dan dialah satu-satunya orang yang menyembunyikan sisa bukti serta lokasi persembunyiannya dengan aman," jawab Kirana dengan nada kemenangan yang nyaris tidak bisa ditahannya. "Benda itu bukan sekadar amunisi atau dokumen. Isinya adalah teknologi militer terlarang yang dikembangkan diam-diam, teknologi yang jika jatuh ke tangan kita, bisa membuat siapa pun yang memilikinya menjadi penguasa tunggal kekuatan pertahanan negara ini. Dan Satria... dia menyadari bahayanya. Dia menyadari bahwa jika benda itu disalahgunakan, jutaan nyawa bisa melayang. Makanya dia menyembunyikannya, bahkan dari kami, bahkan dari komando pusat. Dia menguburnya bersama reputasinya yang hancur setelah operasi itu gagal."
Tiara menatap suaminya dengan mata terbelalak kaget. Selama ini ia tahu Satria pernah mengalami masa sulit, pernah merasa bersalah atas kegagalan misi, tapi ia tidak pernah tahu bahwa suaminya memikul beban seberat itu. Bahwa di balik gelar dan pangkat Letnan Kolonel yang disandangnya, ia memegang kunci kekuatan yang bisa mengubah nasib bangsa.
"Dan si dokter itu? Apa hubungannya dia dengan kargo itu?" tanya Arga lagi, kini terdengar semakin bingung.
"Hubungannya sederhana," potong Kirana cepat. "Satria mengubah sifatnya sejak menikah. Dia menjadi lebih berhati-hati, dia mulai berpikir tentang masa depan, tentang keamanan orang yang dicintainya. Aku yakin, Satria berniat menyerahkan benda itu kembali ke pihak berwenang atau menghancurkannya selamanya demi menjaga keamanan istrinya. Dia tidak mau hidup dalam bahaya selamanya. Kita harus mencegahnya. Kita harus menangkap mereka berdua hidup-hidup sebelum Satria memindahkan barang itu atau membocorkan kebenaran pada siapa pun. Dan wanita itu... dia akan menjadi alat paling ampuh untuk memaksa Satria berbicara. Kau pikir dia akan diam saja kalau kita mulai menyakiti istrinya di depan matanya?"
Darah Tiara mendidih mendengarnya, bukan karena takut, tapi karena marah. Mereka mempermainkan nyawa orang lain demi ambisi kekuasaan. Mereka menganggap cinta dan perasaan sebagai kelemahan yang bisa dieksploitasi. Dan yang paling menyakitkan, mereka berniat menggunakan dirinya sebagai alat penyiksa bagi suaminya sendiri.
Satria merasakan getaran kecil dari tubuh istrinya. Ia tahu Tiara mendengar semuanya. Ia tahu betapa beratnya kenyataan ini bagi wanita yang hanya menginginkan kehidupan tenang dan damai bersamanya. Perlahan, Satria menarik tangan Tiara mendekat ke dadanya, membiarkan wanita itu merasakan detak jantungnya yang kuat dan tetap teratur meski dalam bahaya maut. Ia menatap mata indah itu, dan dalam tatapan itu, ada janji yang tak terucapkan.
Di tengah lorong gelap ini, jauh dari suara langkah kaki musuh yang mulai menjauh, Tiara akhirnya berbisik pelan, suaranya bergetar namun tegas.
"Mas... kau menyimpan rahasia besar ini sendirian selama ini? Semua bahaya ini... semuanya demi melindungi negara dan mencegah kekacauan?"
Satria mengangguk perlahan, raut wajahnya penuh kepedihan namun juga keteguhan. "Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri, Tiara. Aku pikir aku cukup kuat menanggung beban ini agar tidak ada orang lain yang terluka. Aku salah. Justru karena aku menyembunyikannya, pengkhianat seperti Kirana dan Arga punya waktu bergerak. Dan sekarang... kau terseret ke dalam ini. Maafkan aku, Tiara. Maafkan aku karena membawamu masuk ke dalam dunia berdarah ini."
Namun, bukannya menjauh atau menyalahkan, Tiara malah mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke manik mata hitam suaminya itu. Ia menggeleng kuat-kuat, air mata mulai menggenang bukan karena ketakutan, tapi karena rasa hormat dan cinta yang semakin tumbuh besar.
"Jangan pernah minta maaf, Mas. Kau melakukan itu demi kebaikan semua orang. Kau adalah prajurit sejati yang memegang prinsip, sementara mereka... mereka hanya serigala berbulu domba yang memakai seragam demi keuntungan sendiri," ucap Tiara dengan suara berbisik namun penuh api semangat. Ia meremas tangan kekar suaminya itu lebih erat. "Dan dengar aku baik-baik... aku tidak merasa terseret. Aku ada di sini karena aku memilihnya. Aku memilihmu. Jika mereka berpikir aku adalah kelemahanmu, mereka salah besar sama seperti sebelumnya. Aku bukan beban, dan aku bukan sekadar alat. Aku adalah istrimu. Dan kalau mereka berani menyentuhku hanya untuk memaksamu bicara, mereka akan menghadapiku. Seorang dokter juga tahu cara melawan dan bertahan hidup, Mas."
Kata-kata itu menembus jauh ke dalam hati Satria, menghapus rasa bersalah yang selama ini menghantuinya. Di tengah kegelapan dan bahaya yang mengancam dari segala penjuru, ia menyadari satu hal penting: Kirana salah. Memiliki Tiara tidak membuatnya lemah. Justru karena memiliki wanita ini, ia memiliki alasan untuk bertahan hidup, alasan untuk berjuang lebih keras, dan kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar senjata atau pangkat militer.
"Terima kasih," bisik Satria parau, lalu dengan cepat menyeka sudut mata istrinya. "Mereka mau kargo itu? Mereka mau rahasia itu? Mereka harus melewati aku dulu. Dan sekarang... kita tahu apa tujuan sesungguhnya mereka. Mereka tidak hanya mengejar nyawaku, tapi barang yang aku sembunyikan demi keamanan negara. Dan kita tahu satu hal lagi: mereka belum berani membunuh kita. Kita masih bernilai bagi mereka."
"Jadi apa rencanamu sekarang, Mas?" tanya Tiara, menegakkan punggungnya, siap bergerak kapan saja.
Satria menatap ke arah cahaya samar di ujung lorong tanda jalan keluar menuju rumah tua yang menjadi lokasi kunci dalam rahasia itu. Matanya berkilat penuh tekad baja, aura komandan yang tangguh kembali muncul sepenuhnya, meski tubuhnya masih menahan sakit dari luka yang belum kering.
"Kita ke rumah tua itu. Kita sampai di sana duluan sebelum mereka. Di situlah letak jejak terakhir Operasi Bayangan. Di situlah letak barang yang mereka cari. Dan di situlah kita akan mengakhiri semua ini," jawab Satria tegas. Ia melangkah maju, menarik Tiara bersamanya. "Kita akan buka semua kebenaran, kita akan ungkap siapa dalang di balik Kirana, dan kita akan bersihkan nama baik pasukan dari pengkhianat seperti mereka."
Namun, langkah mereka terhenti seketika saat suara gesekan logam halus terdengar di bawah kaki Tiara. Satria menunduk cepat, dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Sebuah kawat tipis melintang rendah di sepanjang jalan itu, tersambung ke sebuah kotak logam kecil yang tersembunyi di balik tumpukan puing batu.
Itu adalah pemicu ranjau. Kirana dan Arga memang licik. Mereka tahu Satria akan mengambil jalan ini, jadi mereka memasang jebakan mematikan sebagai langkah pengamanan kedua. Dan yang paling mengerikan... ujung kawat itu sudah tertekan sedikit oleh sol sepatu Tiara. Mekanisme ledakan sudah aktif. Hitungan mundur kematian dimulai dalam hitungan detik.
Tanpa berpikir panjang, dengan sisa tenaga yang ada di tubuhnya, Satria dengan kasar namun cepat mendorong tubuh Tiara ke samping menjauh dari jalur itu, sementara ia sendiri terhuyung jatuh ke belakang karena kehilangan keseimbangan akibat lukanya yang terbuka kembali.