Tiara berdiri mematung di koridor yang remang itu, jari-jarinya menggenggam erat lencana perak yang terasa membakar telapak tangannya. Di hadapannya, Kirana berdiri bersandar di kusen pintu ruangan tempat Satria beristirahat, senyum tipis yang penuh teka-teki terukir di bibir wanita itu. Senyum yang entah kenapa membuat ngeri merambat naik hingga ke tengkuk Tiara.
"Menemukan sesuatu yang menarik, Dokter?" suara Kirana terdengar lembut, namun ada nada sindiran tajam yang terselip di sana. Ia melangkah mendekat perlahan, seolah sedang mendekati mangsa yang sudah terperangkap. Matanya menatap lurus ke arah benda kecil yang disembunyikan Tiara di balik punggungnya.
Tiara tidak bergeming. Ia menatap lurus ke manik mata wanita di hadapannya, berusaha menyembunyikan gejolak hebat di dalam dadanya. Sebagai dokter, ia terlatih mengontrol ekspresi wajah, terlatih menyembunyikan apa yang ada di pikirannya agar tidak terbaca oleh pasien atau lawan bicaranya. Dan saat ini, kemampuan itu adalah satu-satunya pertahanannya.
"Hanya sampah yang tergeletak di lantai, Komandan Kirana. Tidak ada yang perlu kau cemaskan," jawab Tiara dingin, suaranya tenang dan terukur. Ia berusaha melewati Kirana untuk kembali masuk ke dalam ruangan, namun langkahnya terhenti saat wanita itu bergerak sedikit menghalangi jalan.
"Sampah katamu?" Kirana tertawa kecil, tawa yang kering dan mengerikan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Tiara, berbisik seolah ingin berbagi rahasia kelam. "Kau tahu, Tiara... di dunia militer ini, benda sekecil apa pun bisa menjadi bukti hidup atau mati. Dan kau... kau terlalu polos jika berpikir benda yang kau ambil itu hanya sekadar benda mati. Kau baru saja memegang ujung benang yang akan menarikmu masuk ke dalam neraka ini lebih dalam lagi."
Tiara menegakkan punggungnya, menatap tajam ke arah lawan bicaranya. "Entah apa maksudmu. Yang aku tahu, tugasku ada di dalam, merawat suamiku. Minggir."
Ada kilatan kemarahan yang melintas di mata Kirana karena tidak berhasil membuat Tiara takut. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat, lalu perlahan melangkah mundur, memberi jalan namun dengan pandangan yang seolah ingin menelan Tiara hidup-hidup.
"Masuklah. Nikmati waktumu bersamanya selagi kau masih bisa. Ingatlah, kebenaran itu kadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Dan nanti, saat kau jatuh, jangan datang menangis padaku. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal bahwa kau tidak pantas berada di dunia kami," ucap Kirana dengan nada beracun, sebelum akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah tegap namun penuh amarah tertahan.
Tiara menghela napas panjang, mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Satria berada. Begitu pintu tertutup di belakangnya, rasa dingin yang menyelimuti hatinya sedikit mencair saat melihat wajah lelah namun teduh suaminya yang menunggu kedatangannya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Satria pelan, matanya langsung mencari wajah istrinya begitu ia masuk. Ada kekhawatiran yang jelas terlihat di sana. "Dan kenapa wajahmu pucat begitu? Apa yang terjadi di luar?"
Tiara segera mendekat, duduk di pinggir ranjang, dan dengan cepat menyembunyikan lencana perak itu ke dalam saku jas medisnya. Ia tidak bisa membicarakannya sekarang, belum saatnya. Bukti itu terlalu berat, dan kecurigaan itu terlalu berbahaya untuk dilontarkan tanpa persiapan matang. Jika benar orang yang terukir namanya di lencana itu adalah pengkhianat, maka nyawa mereka berdua berada di ujung tanduk. Dan jika ini hanya jebakan... maka ada orang lain yang sedang menarik tali dari belakang, dan Kirana sepertinya tahu segalanya.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya bertemu Kirana di depan tadi. Dia hanya... berusaha menakut-nakuti lagi," jawab Tiara lembut, berusaha tersenyum meyakinkan. Tangan halusnya menyentuh kening Satria, memeriksa suhu tubuhnya. "Kau tidak demam, syukurlah. Tapi kau butuh istirahat total. Luka di lenganmu cukup dalam, dan kau kehilangan banyak darah."
Satria mengangguk pelan, namun matanya tidak lepas dari wajah istrinya. Ia adalah seorang perwira tinggi, ahli membaca gerak-gerik dan ekspresi manusia. Ia tahu Tiara menyembunyikan sesuatu. Ada ketegangan di bahu wanita itu, ada kegelisahan yang berusaha ditutupi rapat-rapat.
"Tiara," panggil Satria, suaranya serius dan rendah. Ia berusaha mengangkat tangannya yang sehat untuk menggenggam tangan istrinya. "Ada sesuatu yang kau sembunyikan. Aku bisa merasakannya. Apa yang kau temukan di luar sana? Katakan padaku. Tidak ada rahasia antara kita, ingat? Apalagi saat bahaya sedang mengintai di setiap sudut ruangan ini."
Tiara terdiam sejenak. Ia menatap mata hitam suaminya yang penuh kepercayaan dan kasih sayang. Di mata itulah ia menemukan kekuatan yang selama ini ia cari. Di tengah dunia yang penuh senjata, perintah, dan pengkhianatan, hanya di dekat Satria ia merasa aman, dan sebaliknya. Ikatan di antara mereka sudah bukan lagi sekadar pernikahan kontrak, melainkan jiwa yang saling menyatu.
Dengan napas panjang, Tiara mengeluarkan benda kecil berkilau itu dari sakunya. Ia meletakkannya di telapak tangan Satria, membiarkan pria itu melihat dan mengenalinya sendiri.
"Aku menemukan ini tergeletak di lantai koridor, tidak jauh dari sini," bisik Tiara pelan, matanya mengamati perubahan ekspresi wajah suaminya.
Begitu melihat benda itu, napas Satria tertahan. Matanya melebar, dan rahangnya langsung mengeras. Ia mengenali lencana itu sangat baik. Itu adalah lencana kehormatan khusus yang hanya diberikan kepada pasukan inti, dan nama yang terukir di belakangnya adalah nama seseorang yang telah bersamanya sejak masa pendidikan militer, seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya di medan tempur, seseorang yang ia angkat sebagai tangan kanan dan sahabat sejatinya: Mayor Arga Wijaya.
"Arga..." gumam Satria parau, tangannya mengepal hingga lencana itu tergenggam kuat. Rasa sakit fisik di lengannya seketika terasa hilang, digantikan oleh rasa sakit yang jauh lebih tajam dan menusuk di dadanya. "Ini milik Arga. Aku yang menyerahkannya padanya sendiri."
"Mas... apakah mungkin?" tanya Tiara hati-hati, suaranya bergetar. "Apakah Arga yang dimaksud sebagai orang yang kau percaya tapi berkhianat?"
Satria menatap kosong ke arah dinding ruangan. Kenangan-kenangan masa lalu berputar cepat di kepalanya. Arga yang selalu ada, Arga yang setia, Arga yang selalu mengerti tanpa perlu banyak bicara. Namun potongan-potongan kejadian yang aneh mulai menyusun dirinya sendiri. Kesalahan informasi yang membuat pasukan terjebak, waktu penyerangan yang selalu diketahui musuh, dan alasan-alasan Arga yang selalu masuk akal namun membuat curiga jika dipikirkan kembali.
"Aku... aku tidak mau percaya," jawab Satria pelan, penuh kepedihan. "Arga seperti saudaraku sendiri. Tapi bukti ini... dan fakta bahwa dia selalu ada di dekatku, selalu tahu di mana aku berada, selalu tahu rahasia operasi paling rahasia... Jika benar dia yang melakukannya, maka ini adalah pengkhianatan terbesar yang pernah kualami. Dan itu berarti... dia tahu segalanya tentang kita. Dia tahu tentangmu, Tiara. Dia tahu tentang rahasia keluarga Maharendra yang menjadi incaran musuh."
Suasana di ruangan itu menjadi berat dan penuh duka. Satria merasa dunianya runtuh. Di luar sana ada musuh yang jelas, tapi di dalam barisan sendiri, di sisi paling dekatnya, ternyata ada belati tajam yang siap menusuk kapan saja. Dan yang paling mengerikan, jika Arga adalah mata-matanya, maka Kirana kemungkinan besar adalah rekan sekutunya, atau setidaknya tahu persis apa yang sedang terjadi. Semuanya terhubung dalam jaring-jaring jahat yang rumit.
"Mas, dengarkan aku," suara Tiara memecah keheningan, tangannya menyentuh pipi Satria, memaksa pria itu menatapnya kembali. "Jangan biarkan rasa kecewa atau sakit hati mengaburkan nalarmu. Kita tidak tahu apakah ini jatuh secara kebetulan, dijatuhkan dengan sengaja sebagai bukti, atau justru ditaruh di sana sebagai jebakan agar kau mencurigai orang yang salah. Ingat kata-katamu sendiri. Jangan percaya siapa pun sampai bukti mutlak ada di tangan."
Satria mengangguk perlahan, mencium telapak tangan istrinya. "Kau benar. Kau selalu benar, Tiara. Kita tidak bisa gegabah. Tapi mulai detik ini, kita bergerak seolah semua orang adalah musuh, kecuali kita berdua. Kita harus mencari tahu kebenaran ini pelan-pelan, diam-diam. Dan kita harus berhati-hati... karena jika Arga memang pengkhianat, maka dia tidak akan membiarkan kita hidup lama setelah mengetahui hal ini."
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lagi secara kasar, membuat mereka berdua menoleh kaget. Seorang prajurit masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat dan penuh ketakutan. Di belakangnya, terlihat sosok Mayor Arga berjalan terburu-buru dengan wajah cemas yang dibuat-buat, diikuti oleh beberapa petugas medis.
"Komandan Satria! Maaf mengganggu, ada keadaan darurat!" seru prajurit itu.
Arga langsung berlari mendekat ke sisi ranjang, wajahnya terlihat sangat khawatir dan bersemangat. "Satria! Syukurlah kau masih sadar. Aku baru dapat laporan ada ancaman keamanan tingkat tinggi di area markas. Ada laporan ada penyusup berbahaya yang masuk, dan sasaran utamanya adalah kau dan... Ibu Tiara."
Arga menatap Tiara dengan tatapan tajam yang samar, lalu kembali menatap Satria dengan nada mendesak.
"Kita harus memindahkan kalian berdua sekarang juga ke tempat yang lebih aman. Dan demi keamanan, aku akan memimpin pengawalan sendiri. Aku tidak percaya pada siapa pun saat ini. Ayo, segera bersiap. Waktu kita sangat sedikit."
Satria dan Tiara saling bertatapan dalam diam, keduanya merasakan hawa bahaya yang semakin pekat. Di hadapan mereka berdiri sosok yang mungkin adalah sahabat paling setia, atau mungkin justru musuh paling berbahaya yang selama ini mereka cari.