Hari pernikahan tiba lebih cepat dari yang dibayangkan siapa pun. Upacara dilangsungkan secara sederhana namun penuh kehormatan di kediaman keluarga Maharendra. Tidak ada pesta meriah yang mengundang banyak orang, hanya kerabat dekat dan rekan-rekan penting kedua belah pihak yang hadir. Bagi Satria, pernikahan ini adalah sebuah prosedur, sebuah kewajiban yang harus diselesaikan secepat mungkin agar ia bisa kembali fokus pada tugas negaranya. Bagi Tiara, hari ini adalah gerbang menuju kehidupan baru yang penuh tanda tanya, namun ia melangkah dengan kepala tegak dan hati yang siap berjuang.
Di balik gaun pengantin putih anggun yang membalut tubuhnya, di balik riasan wajah yang menonjolkan kecantikannya, Tiara menyembunyikan rasa gugup yang luar biasa. Saat ia berjalan menuju pelaminan, matanya hanya tertuju pada satu sosok. Satria berdiri di sana, tampak gagah dan menakjubkan dalam seragam upacara lengkapnya yang berwarna hijau kecokelatan dengan berbagai tanda jasa berkilau di d**a kiri. Pria itu tampak seperti patung yang terukir dari batu, dingin dan kaku, tanpa sedikit pun tersenyum menyambut calon istrinya.
Upacara sakral itu berlangsung khidmat. Saat Satria mengucapkan janji suci dengan suara berat dan tegas, Tiara bisa merasakan getaran di udara. Saat itu juga, secara sah namanya berubah menjadi Tiara Putri Maharendra. Ia kini adalah istri dari seorang Letnan Kolonel, wanita yang terikat hidup dan matinya pada pria yang memegang senjata dan kekuasaan besar itu.
Selesai upacara, Satria tidak langsung berbicara banyak. Ia hanya menyodorkan siku tangannya agar Tiara mengaitkan tangan di sana, membawa istrinya menyapa tamu-tamu dengan sikap yang sangat formal. Di setiap tatapan yang mereka terima, Tiara bisa membaca berbagai arti kekaguman, rasa hormat, namun juga rasa iri dan ancaman tersembunyi. Dan di antara kerumunan itu, ada sepasang mata yang paling tajam dan dingin mengawasi mereka tanpa kedip.
Kirana.
Wanita itu mengenakan pakaian dinasnya, berdiri di sudut ruangan dengan wajah datar, namun matanya memancarkan api kebencian yang membara. Tiara bisa merasakan getaran negatif itu, seolah ada pisau tajam yang sedang diarahkan tepat ke arah jantungnya. Saat pandangan mereka bertemu sekilas, Kirana justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna mengancam, sebelum berbalik pergi meninggalkan resepsi.
"Jangan pedulikan tatapan orang lain," suara berat Satria terdengar di samping telinganya, memecah konsentrasi Tiara. "Di dunia tempat kita berpijak sekarang, banyak mata yang mengawasi. Banyak yang berharap kita jatuh. Kau harus terbiasa."
Tiara menoleh, menatap wajah samping suaminya yang keras itu. "Saya paham, Tuan. Saya sudah siap."
Satria melirik sekilas, ada kilatan tak terduga di matanya mendengar jawaban tenang itu. Wanita ini sungguh berbeda dari yang ia bayangkan. Ia kira Tiara akan gemetar ketakutan atau menangis minta perlindungan, namun yang ia temui justru ketenangan seorang dokter yang terbiasa menghadapi kematian.
Malam itu, mobil resmi keluarga Maharendra membawa mereka meninggalkan kediaman orang tua Satria, menuju rumah pribadi yang disiapkan untuk mereka. Sebuah rumah mewah dan luas yang terletak di kawasan elit, namun terpisah dari keramaian, dikelilingi pagar tinggi dan pengamanan ketat. Rumah itu indah, megah, namun terasa dingin dan sepi.
Sesampainya di kamar utama yang besar dengan perabotan serba mewah dan beraroma kayu mahoni, suasana menjadi semakin kaku. Satria melepas topi dinasnya, meletakkannya di meja rias, lalu duduk di tepi tempat tidur besar itu sambil menghela napas panjang. Ia melepas sepatunya, gerakannya lelah namun tetap memancarkan kekuasaan.
Tiara berdiri diam di dekat pintu, menggenggam tas kecilnya erat-erat. Ia merasa asing, merasa seperti orang asing yang baru saja diangkut ke istana orang lain. Ia teringat pesan ayahnya sebelum berpisah: “Ikuti saja alurnya, Nak. Jangan mundur. Di balik dinding pertahanan dirinya yang tebal, Satria sebenarnya sangat kesepian dan terluka. Hanya kesabaranmu yang bisa menembusnya.”
"Kau bisa beristirahat," ucap Satria tiba-tiba, suaranya datar tanpa melihat ke arah istrinya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari kaca besar di sudut ruangan, mengambil sebuah botol minuman keras dan gelas. "Besok pagi-pagi sekali saya harus berangkat ke markas. Ada urusan penting yang tidak bisa ditunda. Mungkin saya baru pulang malam, atau bahkan tidak pulang berhari-hari. Itulah hidup saya, Tiara. Jangan menunggu saya."
Tiara menelan ludah. Kata-kata itu tajam, langsung mengingatkannya kembali pada perjanjian awal mereka. Pernikahan ini hanya nama dan kewajiban.
"Baiklah," jawab Tiara pelan namun tegas. Ia mulai melepas selendang bahunya, melangkah mendekati meja rias. "Saya mengerti tugas Anda. Saya hanya berharap, saat Anda pergi, Anda menjaga diri Anda baik-baik. Dan saat Anda terluka... ingatlah ada saya di sini."
Satria berhenti mengangkat gelasnya ke mulut. Kalimat yang sama persis dengan saat pertemuan pertama mereka. Kalimat yang membuat hatinya yang beku itu bergetar lagi. Ia menoleh, menatap Tiara lekat-lekat. Di bawah cahaya lampu kamar yang redup namun hangat, wajah istrinya terlihat begitu lembut dan polos, namun matanya berkilau dengan keteguhan yang luar biasa.
"Kau sungguh wanita aneh," gumam Satria pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau tidak menuntut waktu, kau tidak menuntut cinta, kau hanya menawarkan bantuan. Apa sebenarnya yang kau cari dengan menikahi pria seperti saya, Tiara?"
Tiara tersenyum tipis, senyum yang meneduhkan. Ia menatap balik pria itu tanpa gentar. "Saya tidak mencari apa-apa, Tuan Satria. Saya hanya menjalankan janji. Dan sebagai dokter, saya terbiasa menyembuhkan apa yang rusak. Entah itu tubuh, atau hati."
Jawaban itu membuat Satria terdiam panjang. Ia tidak membalas lagi, hanya meneguk isi gelasnya hingga tandas, lalu berbalik punggung dan berjalan menuju ruang ganti. "Istirahatlah. Besok pagi pembantu rumah tangga akan datang. Anggap saja rumah ini milikmu. Atur sesuka hatimu, kecuali ruang kerja di lantai dua. Ruangan itu terlarang. Jangan pernah kau masuki tanpa izin saya, apa pun yang terjadi."
Perintah tegas itu terucap sebelum Satria menghilang di balik pintu. Larangan itu terdengar biasa saja, namun bagi Tiara, itu adalah tanda lain bahwa masih banyak rahasia yang disembunyikan pria itu. Rahasia yang mungkin berbahaya, rahasia yang mungkin berkaitan dengan masa lalu kelam yang selalu dibisikkan orang-orang.
Malam itu berlalu dalam keheningan yang berat. Tiara terbaring di sisi tempat tidur yang sangat luas itu, sementara Satria tidur di sisi paling pinggir, memunggunginya. Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter, namun rasanya seperti ada samudera luas yang memisahkan dua dunia mereka. Tiara mendengar napas panjang suaminya yang teratur namun berat, seolah pria itu membawa beban dunia di pundaknya. Ia ingin sekali menyentuh punggung lebar itu, ingin sekali menghapus segala luka yang ada di sana, namun ia sadar, dinding pertahanan Satria masih terlalu tinggi dan kokoh untuk diruntuhkan semalam saja.
Keesokan paginya, saat Tiara terbangun karena cahaya matahari yang menyelinap masuk lewat celah tirai, sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong dan dingin. Satria sudah pergi. Tidak ada pesan, tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan dan kemewahan rumah besar itu yang kini terasa semakin sepi.
Tiara bangkit, membersihkan diri, dan bertekad untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia adalah Nyonya Maharendra sekarang. Ia harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar hiasan atau beban. Setelah berpikir panjang, Tiara memutuskan untuk tidak berhenti bekerja. Ia tetap akan pergi ke rumah sakit, tetap mengabdi seperti dulu. Itu satu-satunya cara baginya untuk tetap menjadi dirinya sendiri, dan membuktikan pada Satria bahwa ia adalah wanita yang mandiri dan tangguh.
Sesampainya di rumah sakit tempat ia bertugas, suasana sedikit berubah. Banyak rekan yang menyapa dengan pandangan kagum atau penasaran, berbisik-bisik membicarakan pernikahannya dengan pria paling berkuasa dan ditakuti itu. Namun, ada satu orang yang menyambutnya dengan pandangan yang jauh lebih dalam dan penuh emosi yang tak terungkapkan.
Arga.
Dokter Arga Wicaksono, rekan kerjanya sekaligus sahabat dekatnya selama bertahun-tahun. Pria itu berdiri di koridor dengan jas dokternya yang rapi, wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya. Saat Tiara mendekat dan menyapa seperti biasa, Arga justru menarik tangan wanita itu ke sela-sela lorong yang sepi, jauh dari pandangan staf lain.
"Kenapa kau lakukan itu, Tiara?" tanya Arga dengan suara bergetar, matanya menatap tajam namun penuh kepedihan. "Kenapa kau menikah dengannya? Kau tidak tahu apa dunia yang kau masuki. Satria Maharendra dia bukan manusia biasa, Tiara. Dia berjalan di atas darah dan bahaya. Kau dokter, kau penyembuh. Kau tidak pantas berada di dekat pria yang hidupnya dipenuhi peluru dan kematian seperti dia!"
Tiara menarik tangannya perlahan, tersenyum sedih namun tegas. "Arga, kau tahu aku tidak punya pilihan. Dan lagipula aku tidak melihatnya seperti itu. Di balik segala kekerasan tugasnya, dia tetap manusia. Dia punya hati, meski tertutup rapat. Aku berharap bisa ada untuknya."
"Kau bodoh!" desis Arga, hampir berteriak namun tertahan. "Kau tidak tahu masa lalunya! Kau tidak tahu berapa banyak musuh yang ingin melihatnya mati, dan melihat orang-orang yang dicintainya hancur bersamanya. Termasuk kau, Tiara. Kau sekarang target utama mereka. Dan ada Kirana wanita itu gila. Dia rela melakukan apa saja demi Satria. Kau pikir dia akan membiarkanmu hidup tenang di samping pria itu? Kau sedang berjalan ke dalam perangkap maut, Tiara!"
Napas Tiara tercekat. Nama itu lagi. Kirana. Wanita yang menatapnya dengan pandangan membunuh di pesta kemarin.
"Arga, aku sudah terlanjur masuk," jawab Tiara pelan namun penuh ketegasan. "Dan aku tidak akan lari. Terima kasih kekhawatiranmu. Tolong... biarkan aku menjalani takdirku ini. Aku harap kau tetap menjadi temanku, seperti dulu."
Sebelum Arga sempat menjawab, suara panggilan darurat bergema di seluruh lorong rumah sakit. Ada kecelakaan parah di jalan utama, banyak korban luka, dan tim medis diminta segera bersiaga. Tiara segera berbalik dan berlari menuju ruang gawat darurat, meninggalkan Arga yang masih berdiri terpaku dengan rasa cemburu dan ketakutan yang meluap-luap.
Siang itu, di tengah hiruk-pikuk pasien dan aroma darah serta obat-obatan, Tiara bekerja sekuat tenaga. Ia fokus pada pekerjaannya, berusaha melupakan sejenak masalah rumah tangganya. Namun, takdir seolah ingin terus menyatukan jalur hidupnya dengan Satria, dalam situasi yang paling tak terduga sekalipun.
Menjelang sore, saat Tiara sedang memeriksa rekam medis pasien di meja kerjanya, pintu ruangan terbuka paksa. Dua orang berseragam militer berdiri tegak di ambang pintu, wajah mereka serius dan tegang.
"Nyonya Maharendra," sapa salah satu dari mereka dengan nada hormat namun mendesak. "Kami diutus oleh Komandan. Mohon Ibu bersiap segera. Ikut kami sekarang juga."
Jantung Tiara berdegup kencang. Ada rasa takut yang menjalar. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Satria?"
"Mohon Ibu ikut kami saja. Situasinya rumit," jawab prajurit itu mengelak, tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut.
Dengan tangan gemetar namun tetap berusaha tenang, Tiara mengambil tasnya dan mengikuti kedua prajurit itu keluar. Di dalam mobil militer yang melaju kencang dengan sirine berbunyi nyaring, pikiran Tiara berpacu liar. Apakah dia terluka parah? Apakah dia diserang musuh? Atau apakah ada hal lain yang menantinya?
Mobil tidak menuju ke kediaman mereka, melainkan menuju ke sebuah gedung besar yang tertutup dan dijaga sangat ketat di tengah kota pusat komando pasukan khusus tempat Satria bertugas. Tiara turun dengan langkah cepat, dipandu melewati koridor-koridor panjang yang penuh dengan senjata dan wajah-wajah tegang para prajurit.
Akhirnya ia tiba di depan sebuah ruangan besar yang pintunya terbuat dari baja tebal. Di depan pintu itu berdiri Kirana.
Wanita itu menyilangkan tangan di d**a, menatap Tiara dari atas ke bawah dengan senyum sinis yang mengerikan.
"Kau datang juga, Nyonya Maharendra," ucap Kirana dengan nada sarkas. "Kau tahu, dokter kecil suamimu ada di dalam sana. Dia terluka cukup parah akibat serangan musuh. Tapi tahukah kau yang paling menyedihkan? Saat dia terluka dan tidak sadarkan diri satu-satunya nama yang dia sebut-sebut bukan namamu. Tapi namaku."
Darah seolah berhenti mengalir di pembuluh darah Tiara. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun.
Kirana melangkah mendekat, berbisik tepat di samping telinga Tiara dengan nada dingin dan beracun.
"Kau hanya boneka pengganti, Tiara. Hiasan untuk memenuhi syarat. Hati, jiwa, dan seluruh hidup Satria itu milikku. Dan lihatlah di dalam sana, dia sedang sekarat. Dan kau...kau hanya akan melihatku yang masuk untuk menyelamatkannya, sementara kau dilarang melangkah masuk."
Kirana tertawa kecil, suara yang menusuk tulang, lalu ia mendorong pintu baja itu dan masuk ke dalam, meninggalkan Tiara yang terpaku kaku di tempat dengan air mata yang tertahan dan hati yang mulai retak.
Di balik pintu yang tertutup rapat itu, di ruangan tempat Satria berjuang mempertahankan nyawanya, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar Kirana satu-satunya wanita di hati Satria? Dan apakah Tiara akan membiarkan dirinya hanya menjadi penonton dalam kisah hidup suaminya sendiri, atau ia akan membuktikan bahwa ikatan cinta mereka jauh lebih kuat dari apa pun?
Pintu itu tertutup rapat, namun badai besar baru saja pecah di hati Tiara. Apakah ini awal dari kehancuran perasaannya, atau justru awal perjuangan sesungguhnya untuk merebut hati sang prajurit? Jawabannya menanti di balik pintu baja yang mengerikan itu.