Udara segar yang baru saja mereka hirup kini terasa tercekik kembali, seolah setiap hembusan napas harus ditahan agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Di balik rimbunnya semak belukar yang menutupi mulut lubang, mereka bersembunyi dalam kegelapan samar, mendengarkan setiap langkah dan percakapan pasukan Reza yang hanya berjarak beberapa meter di atas lereng. Suara ranting yang patah dan gesekan sepatu di atas tanah kering terdengar sangat jelas, membuat jantung setiap orang berdegup serempak dengan irama yang sama—cepat dan gelisah. Kolonel Bayu memberi isyarat dengan tangan, memerintahkan semua orang untuk tetap diam dan tidak bergerak sedikit pun. Matanya menyipit mengamati celah di antara daun-daun lebat, mencoba menghitung jumlah pasukan yang berjaga serta arah pergerakan mereka.

