Suara ledakan dan tembakan di luar semakin memekakkan telinga, membuat dinding bangunan kayu itu bergetar seolah sewaktu-waktu akan runtuh. Di dalam ruangan sempit itu, keheningan sesaat terasa begitu berat, seolah waktu berhenti sejenak tepat saat tatapan Satria dan Bayu bertemu. Tidak ada amarah yang meledak, namun ada ketegangan halus yang terasa menyesakkan, seolah pertanyaan yang selama ini tersembunyi kini melayang di udara menuntut jawaban. “Aku melihat pintu penghubung di lorong samping tidak terkunci,” ucap Bayu akhirnya memecah keheningan, suaranya rendah namun tegas, matanya tidak lagi terpaku pada Kirana melainkan beralih menatap Satria dengan penuh rasa hormat sekaligus permintaan pengertian. “Danu dan Arga sedang memantau keadaan di ujung lorong. Kita harus segera pergi dari

