Terbawa Arus tak Berarah

1090 Words
Gemuruh air seolah menelan seluruh suara di sekitar mereka, memekakkan telinga hingga nyaris mustahil mendengar teriakan satu sama lain. Pusaran air yang terbentuk di depan itu menyeret segala sesuatu yang lewat, memutar tubuh mereka seolah hanya selembar daun kering yang tak berdaya melawan kekuatan alam. Satria sudah tidak mampu lagi mempertahankan cengkeramannya. Jari-jarinya yang tergenggam kuat pada tonjolan batu itu perlahan terlepas satu per satu, luka di bahunya kembali terbuka lebar dan membuat darah segar bercampur dengan air sungai yang keruh. Rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum membuat kesadarannya perlahan melayang, matanya terpejam rapat seolah siap menyerah pada arus yang terus mendorongnya menjauh dari ketiga orang yang masih berjuang di belakang. “Satria! Tahan sedikit lagi!” teriak Tiara sekuat tenaga, suaranya pecah tertahan oleh hembusan air yang menerpa wajahnya. Ia berusaha mendayung mendekat, namun arus justru menarik tubuhnya ke arah yang berlawanan, membuat jarak di antara mereka semakin lebar. Sebagai dokter, ia tahu persis bahaya yang mengancam suaminya kehilangan banyak darah, kedinginan ekstrem, dan kelelahan fisik yang melampaui batas wajar bisa membuatnya pingsan dalam hitungan detik saja. Arga, yang kakinya masih terasa ngilu karena luka bekas benturan, berusaha berpegangan pada dinding batu sambil mengulurkan tangan sekuat tenaga. “Tarik tali! Kita ikat bersama!” serunya, meski suaranya hampir tak terdengar. Namun dalam kegelapan dan arus yang berputar kencang, koordinasi menjadi hal yang hampir mustahil dilakukan. Kirana yang sejak tadi menahan rasa cemas bercampur perasaan yang berkecamuk di hatinya, kini melupakan semuanya. Ia mendorong tubuhnya melawan arus, mengabaikan risiko terbentur bebatuan tajam yang tersembunyi di balik air keruh itu. “Aku akan menyusulnya! Kalian tetap berpegangan di sana!” teriaknya tegas, mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa sebagai mantan prajurit terlatih. Rasa cemburu yang sempat menyelimuti hatinya tadi seolah sirna seketika. Melihat nyawa Satria terancam hilang, ia sadar bahwa pria itu bukan sekadar seseorang yang membuatnya merasa kalah dibandingkan Tiara ia adalah pemimpin yang telah membawa mereka sejauh ini, satu-satunya orang yang mengetahui seluk-beluk tempat ini dan kunci untuk membongkar semua kejahatan yang disembunyikan Jenderal Aditya. Kehilangan Satria berarti kehilangan satu-satunya harapan untuk keluar hidup-hidup sekaligus membuktikan kebenaran. Dengan gerakan terampil yang dilatih bertahun-tahun, Kirana menyelam sebentar menghindari pusaran utama, lalu memanfaatkan arus samping untuk meluncur mendekat ke arah di mana tubuh Satria terhanyut. Cahaya lampu yang dibawanya hanya mampu menerangi jarak beberapa meter saja, membuat ia harus mengandalkan perasaan dan suara air yang berubah nada saat mendekati bebatuan. Di belakangnya, Tiara terus memantau kondisi sekaligus memeriksa napas Arga yang mulai terengah-engah. “Kita harus tetap bergerak mengikuti arah arusnya,” ucapnya setenang mungkin, meski jantungnya berdebar kencang. “Jika kita diam saja, oksigen di dalam air ini akan semakin menipis dan kita bisa terjebak di bagian sempit.” “Kau yakin Kirana bisa menemukannya?” tanya Arga, matanya mengikuti arah di mana sosok Kirana telah menghilang di balik buih air. “Dia terlatih menghadapi medan berbahaya,” jawab Tiara, meski di dalam hatinya ia sama sekali tidak tenang. “Tapi kita harus siap membantu segera setelah mereka muncul kembali.” Sementara itu, di lorong terowongan yang baru saja mereka tinggalkan, suara langkah kaki dan benturan keras semakin terdengar. Pasukan Jenderal Aditya telah tiba di tempat itu, dan mendapati tutup saluran pembuangan sudah terbuka. “Mereka turun ke saluran air!” teriak salah seorang prajurit sambil menyorotkan lampu ke dalam lubang gelap itu. “Jangan biarkan mereka lolos!” perintah komandan pasukan itu dengan nada marah. “Arus sungai ini berakhir di jeram besar di dasar tebing. Jika mereka tidak tenggelam di tengah jalan, mereka akan hancur terbentur bebatuan di ujungnya. Tapi tetap kirim tim pengejar lewat pintu keluar utama, pastikan tidak ada yang selamat dan bisa membawa bukti apa pun keluar dari tempat ini!” Di dalam saluran air yang semakin dalam itu, Kirana akhirnya berhasil menangkap lengan Satria yang tergantung lemas terbawa arus. Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat saat merasakan tubuh Satria yang sudah dingin dan napasnya yang nyaris tak terasa. “Satria! Bangun!” teriaknya sambil memegang erat lengan itu, lalu mengaitkan tali pengaman yang ia bawa ke pinggangnya sendiri agar keduanya tidak terpisah. Ia merasakan basah yang lebih kental dari air biasa menyentuh telapak tangannya darah yang terus mengalir dari luka di bahu Satria. Ia berusaha memutar posisi tubuh Satria agar kepalanya tetap berada di atas permukaan air, namun arus yang semakin deras membuatnya kesulitan mempertahankan keseimbangan. Mereka terus terbawa melaju melewati lorong-lorong sempit yang kadang menyempit hingga hanya menyisakan ruang sekadar untuk meloloskan tubuh, membuat punggung dan bahu mereka terbentur dinding batu yang kasar. Di kejauhan, cahaya redup mulai terlihat, namun bersamaan dengan itu terdengar suara gemuruh yang jauh lebih keras dan mengerikan dari sebelumnya. Suara itu bukan lagi aliran air biasa, melainkan benturan air yang jatuh dari ketinggian. Tiara yang mendengar suara itu memucat ketakutan. “Itu suara air terjun! Ada jeram besar di depan!” serunya, suaranya bergetar. “Jika kita terjatuh ke sana tanpa persiapan, kita bisa hancur terbentur bebatuan di bawahnya!” Arga memandang ke depan dengan tatapan tegang. “Tidak ada jalan untuk berhenti atau berbelok lagi. Dindingnya terlalu rapat dan arusnya terlalu kuat kita sudah tidak bisa melawan lagi.” Kirana yang mendengar peringatan itu merasa darahnya berdesir. Ia mencoba melihat ke depan, namun yang terlihat hanyalah kegelapan yang semakin pekat disertai kabut air yang menyembunyikan pandangan. Ia memandang wajah Satria yang masih terpejam rapat, lalu menggenggam lebih erat tubuh pria itu. “Tahan sebentar lagi,” bisiknya pelan, hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri. “Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini, bukan sekarang.” Namun sebelum mereka sempat memikirkan cara apa pun, arus semakin mendorong mereka dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuh mereka meluncur lebih cepat, seolah ditarik oleh lubang raksasa yang menanti di ujung lorong. Cahaya samar di kejauhan berubah menjadi silau yang menyilaukan mata, dan suara gemuruh air terjun itu kini terasa seperti meledak tepat di telinga mereka. Di saat yang sama, kesadaran Satria perlahan kembali menyentuhnya. Melalui kabut kesadarannya, ia mendengar suara teriakan, merasakan cengkeraman kuat di tubuhnya, dan merasakan tarikan yang semakin kuat menjauh. Dengan sisa tenaga terakhir yang ia miliki, ia membuka matanya sedikit, hanya untuk melihat sekilas siluet Kirana yang berusaha melindunginya, dan di belakangnya terlihat sosok Tiara dan Arga yang juga terbawa mendekati tepi jurang. Di dalam benaknya yang masih setengah sadar, satu pertanyaan melintas: apakah mereka akan jatuh ke dasar yang berbahaya itu, atau justru akan menemukan jalan keluar yang tak terduga? Namun belum sempat ia memahami apa yang terjadi, tubuh mereka terangkat melayang sejenak, lalu terlempar jatuh bersama semburan air yang deras menuju kegelapan di bawah sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD