Dari arah pintu masuk Kafe terlihat seorang bocah tampan dengan seragam sekolah kanak-kanak. Bajunya berwarna putih, celana dan dasi berwarna kuning disertai dengan gari kotak-kotak kecil.
Umurnya sekitar tiga tahu. Kulitnya putih dan pipinya gembul sekali. Kalau diperhatikan seperti anak seorang yang memilik uang.
Dari kulit putih bersih serta baju seragam sekolah kanak-kanak ternama dan ... ada seorang suster yang menjaganya. Berdiri tepat dibelakang bocah tampan itu.
"Tante peli! Tante peli! Guna si cowok tampan udah datang nih. Tante peli! Oh Tante peli ... come hele,Tante peli," celotehannya mengalun berirama.
Sepertinya kafe ini tidak asing baginya. Baru saja berdiri didepan pintu, tapi suaranya sudah sukses menganggu para pengunjung. Membuat mereka menaruh perhatian pada bocah tampan itu.
"Syelamat sole, Tante kucil," sapa bocah berusia tiga tahun itu pada seorang wanita berhijab yang berdiri dibelakang kasir.
Bocah yang menyebut namanya Guna itu langsung berdiri dengan gagah didepan kasir. Tangannya terlipat didada. Bibirnya mengukir senyum, mempertontonkan gigi s**u yang tersusun rapi tanpa celah.
"Selamat sore gantengnya, Tante kucil," sapa Annisa.
Kucil adalah panggilan sayang bocah lucu itu untuk Annisa. Kucil artinya kucing lucu. Bocah itu memberikan julukan tersebut karena Annisa selalu menjahilinya.
Hingga membuat dia teringat sesuatu. Mengingat Maneki Neko. Kebetulan Annisa memiliki pipi chubby dan setiap Guna datang dia selalu ada di kasir.
Maka dengan inisiatif sendiri membuat, Guna memanggil Annisa dengan sebutan Tante Kucil.
Annisa langsung bergegas keluar dari stand cashier saat mendapati bocah itu sudah ada didepannya. Terlihat kecil dan lucu, apalagi bocah itu tak lebih tinggi dari meja kasirnya.
Dengan gemasnya, Annisa mencubit pipi gembul Guna. Membuat kemerahan di pipi putih bak porselen itu. Pemiliknya pun meradang marah.
"No Tante! No!" pekik Guna menolak.
Jari-jari kecilnya dengan lincah bergerak ke kiri dan kanan. Menandakan dia tengah melakukan protes pada Annisa.
"Tante kucil, pliss deh. Tante, dangan tubit-tubit pipi Guna telus," katanya dengan bibir yang mengerucut. Jari-jari kecilnya pun masih tak mau diam. "Anti kalau Guna ndak danteng lagi dimana?" Guna sudah masang hangry face. Bibirnya masih mengerucut namun, tangannya sudah bersedekap didada.
"Enggak dimana-dimana, Sayang. Di sini aja," ucap Annisa mencubit kembali pipi gembul Guna.
Terlalu gemas dengan bocah berusia tiga tahun yang kreatif ini. Membuat Annisa tak tahan kalau tidak menggodanya.
"Bukan dimana, Tante tapi dimana!" Guna paling tidak suka kalau ucapannya yang belum terlalu jelas itu dipelesetkan oleh Annisa.
"Ia, Sayang di sini. Tante bilang, 'kan juga di sini gak dimana-mana." Tak ada habisnya, Annisa bahkan tidak mau mengalah.
"Hu hu hu. Tante dahat banat," kata Guna mulai menangis.
Bocah ini terlalu pintar dan bijak. Dia kalau sedang dalam keadaan yang tidak dia inginkan atau memojokkannya. Langsung memasang wajah memelas dengan seribu duka rasa ingin dikasihani.
"Cup, cup, cup." Annisa menepuk pelan bahu Guna. "Jangan nangis dong gantenya, Tante. Kita ambil ice cream, yuk." Annisa mencoba membujuk.
Dia bahkan sudah hapal betul bagaimana sifat Guna. Kalau sudah seperti ini, Annisa dan Khanza terpaksa beramal ice cream untuk bocah lucu yang hanya mereka kenal di kafe ini.
"Heem." Guna bergumam sembari mengangguk pertanda setuju. Bibirnya mengukir senyum. Lagi-lagi bisa mendapatkan ice cream gratis tanpa membayar.
Duduk anggun dengan ice cream coklat ditangannya. Kelezatan ice itu membuat ia sejenak lupa pada tante perinya.
Hingga saat suapan terakhir ia ingat bahwa dia belum bertemu tante peri. Dengan cepat, Guna mengunyah dan langsung menelan.
Menghiraukan dinginnya ice cream itu. Dia harus bertemu Tante perinya sebelum pulang.
"Mbaknya sustel, sekalang sudah jam belapa?" tanya Guna pada susternya yang kini sedang berdiri tepat di samping bocah itu.
"Sudah hampir jam empat sore. Kita pulang sekarang?"
"Ndak lah. Guna, belum ketemu sama Tante peli. Ndak mahu, Guna pulang. Mbaknya sustel tunggu sini dulu, ya. Guna mahu cali Tante Peli dulu sebental."
Suster itu hanya mengangguk. Jam sekolah kanak-kanak sudah selesai sejak pukul sepuluh pagi tadi, tapi mereka sampai sore begini masih berkeliaran dijalan.
Menjadi anak tunggal yang hanya fokus diurus oleh seorang suster membuat Guna menghabiskan banyak waktunya diluar.
Hanya ada, Guna, suster dan juga supirnya. Setidaknya dengan cara seperti itu dia bisa merasakan kebahagiaan layaknya anak-anak normal pada umumnya.
"Tante peli!" teriak Guna menggema ke seluruh ruangan kafe. Dia berjalan ke sana, kemari demi mencari apa yang sedang ia cari.
Tak ada jawaban dari orang yang ia cari. Malah pelanggàn kafe malah melirik kearahnya.
Guna berinisiatif untuk berdiri di atas kursi. Dengan cara seperti itu dia bisa leluasa mencari Tante Perinya. Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan berharap langsung bertemu oleh sang Tante.
"Tante peli! Tante peli ... Guna datang!" teriakan kedua lebih keras dari sebelumnya.
Para pengunjung yang didominasi anak muda dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah bocah lucu yang tengah berdiri di atas kursi itu.
Susternya hanya bisa diam. Dia digaji bukan hanya untuk menjaga Guna tapi juga untuk membuat bocah itu bahagia dan tidak kesepian.
"Ini anak waktu dalam kandungan emaknya ngidam toa masjid kali, ya. Setiap ngomong suaranya selalu aja kagak bisa pelan. Heran aku tuh," gerutu Annisa yang telinganya merasa sakit karna mendengar teriakan bocah tampan itu.
"Ha ... itu dia Tante Peli." Guna menunjuk sepasang manusia yang tengah asik bercerita.
Akhirnya setelah sekian menit berteriak dan mengedarkan pandangan ke sudut ruangan Kafe ia berhasil menemukan Tante Perinya.
"Tante peli!" teriaknya lagi setengah berlari menghampiri meja dimana Tante Perinya sedang duduk.
Teriakan Guna sontak saja membuat sepasang manusia yang tengah asik mengobrol itu pun terkejut.
Khanza yang memang sudah sangat hapal dengan suara cempereng bocah menggemaskan itu langsung berdiri.
Saat dia berbalik hendak melihat si pembuat onar tiba-tiba saja Khanza terkejut mendapati anak itu sudah hampir sampai dihadapannya.
"Tante peli disini lupanya. Dali tadi Guna cali-cali gak nemu. Guna juga udah teliak-teliak tapi tante gak dengal." Guna mengomel sambil berjalan. Langkah kakinya yang kecil membuat dia sulit untuk sampai kesana.
"Guna, kenapa teriak-teriak, Sayang?" tanya Khanza menghampiri dan langsung mengangkat bocah itu ke gendongannya.
"Guna kesyal syama Tante peli. Dali tadi Guna panggilin tapi Tante gak dengal."
Bocah ini memasang mode ngambek dengan tangan terlipat ke dàda, matanya lurus ke depan tak mau memandang Khanza. Tidak lupa pula bibirnya maju lima sentimeter.
"Maaf, ya sayangnya, Tante peri. Tadi Tante lagi ngobrol sama teman lamanya Tante." Khanza mengusap lembut pipi putih bocah menggemaskan yang ada digendongnya itu.
"Yuk kita kenalan sama temannya Tante." Khanza membawa Guna duduk bersama dirinya dan Dzaky.
"Loh! Kenapa ada Daddy Om di syini?" tanya Guna saat dia melihat Omnya duduk di kursi sebelah Khanza.
Kening Guna berkerut. Bocah itu sedang berpikir kenapa Omnya bisa ada disini? Karena biasanya Daddy Om itu hanya akan berada di kantor dan pulang ke rumah saat larut malam.
"Harusnya Om yang nanya. Kamu tuh anak kecil kenapa ada disini? Inikan tempatnya orang dewasa."
Sebenarnya Dzaky kaget melihat keakraban Guna dan Khanza. Bagaimana bisa? pikirnya. Namun, dia menepis pikiran itu terlebih dahulu. Biar lah nanti saja akan ditanyakan.
"Guna kesyini mau ketemu sama Tante Peli sekalian ambil pesanan keik batik punya Oma," jelas Guna jujur.
"Suster kamu mana? Kok Daddy Om gak liat ada disini? Kamu juga kenapa jam segini masih pakai seragam sekolah?"
Shakeel memberondong bocah lucu itu dengan beberapa pertanyaan. Jarang meluangkan waktu bersama Guna membuatnya tidak tahu aktifitas bocah itu.
"Syustel ada di syana. Lagi duduk, nungguin Guna," kata Guna menunjuk meja tempat dia duduk sambil menikmati ice cream gratis dari Annisa tadi.
Dzaky melirik sekilas kearah yang Guna tunjuk kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Daddy Om syudah pulang kelja? Kita bisya main ndak?" tanya Guna dengan tatapan penuh harap.
"Oh jadi Guna ini anak kamu," ucap Khanza menebak. Dia memotong pembicaraan Guna dan Dzaky.
"Bukan!" jawab Dzaky dan Guna berbarengan.
"Loh?" Khanza bingung melihatnya.
"Guna ini keponakan,aku satu satunya. Dia adalah putra sematawayangnya almarhum kak Gina," jelas Dzaky detail.
"Guna, itu bukan anaknya Daddy Om tapi onakannya, Tante," jelas Guna tidak mau kalah.
"Jadi kak Gina udah meninggal?" tanya Khanza.
Saat mendengar Dzaky mengatakan almarhum Gina hati Khanza tiba-tiba terasa perih.
Sagina tau yang kerap disapa Gina itu adalah kakak tingkat Khanza saat kuliah dulu. Dan juga teman satu pekerjaan. Memiliki hobi yang sama membuat keduanya bersahabat.
"Iya," jawab Om dan ponakan itu dengan kompak.
"Kata, Daddy Om. Mommy meninggal kalna syakit. Sekalang Mommy syudah tenang di syulga sama Allah."
Saat mengatakan itu raut kecewa tak nampak di wajah bocah tampan itu. Dia bahkan terlihat biasa saja.
"Sus," panggil Dzaky pada suster Guna yang sedang melihat kearah mereka.
"Sus, tolong bawa Guna buat milih-milih kue yang mau dibawa pulang," titah Dzaky pada suster itu saat sudah tiba dihadapannya.
"Tante, Guna pilih-pilih kue dulu, ya. Nanti, Guna datang lagi ke syini. Tante dangan temana-mana okay," kata Guna mengacungkan jari kelingking. Meminta Khanza berjanji padanya.
"Ya, Tante disini kok. Kamu pilih-pilih kue saja. Jangan lupa bilang sama Tante Kucil kalau kamu mau ambil pesanan." Khanza tersenyum rama pada bocah itu.
"Syiiap Bos!" Katanya dengan lantang.
"Za, kamu pasti tau bagaimana sepak terjang kak Gina dulu." Dzaky membuka suara saat Guna sudah jauh dari mereka.
Hening tak ada jawaban wanita itu masih betah menerawang masa-masanya saat dengan Gina dulu.
"Za, karena kebebasan yang dimiliki kak Gina membuatnya ia mengidap kanker rahim. Penyakit itu terdeteksi saat usia Guna delapan bulan dalam kandungan. Saat usia Guna baru menginjak satu tahun kak Gina meninggal. Kankernya tidak bisa terselamatkan karna sudah memasuki stadium akhir."
Dzaky menceritakan langsung tanpa menunggu respon Khanza terlebih dahulu.
Dia membuka kembali luka lama mengenang sang kakak tercinta.
Khanza menyentuh dadanya. Sesak sekali rasanya pendengar perkataan Dzaky barusan. Dia memilih diam. Untuk beberapa menit keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
"Bagaimana dengan ayahnya Guna?" Pertanyaan pertama yang Khanza tanyakan setelah lama mereka saling diam.
Bagaimanapun mereka satu permainan. Kalau hamil sudah pasti sulit mencari ayah biologis dari bayi yang dikandung.
"Robbet Atkinson. Laki-laki berkebangsaan Jerman. Aku dengar sekarang dia tinggal bersama keluarga kecilnya di Kanada. Tidak ada banyak hal tetang pria itu yang aku tahu. Sebelum kematiannya kak Gina sempat memberikan foto serta akun sosmed milik Robbet dari situlah aku mulai menyelidiki semuanya."
Dzaky mencoba mengatakan apa yang diketahuinya. Khanza adalah teman Sagina. Menurut Dzaky wanita yang ada dihadapannya ini pasti tahu banyak soal kakaknya.
Setidaknya Dzaky bisa mencari tahu kejelasannya mengenai ayah kandung Saguna. Meski tidak memiliki nasab namun, menurut Dzaky suatu saat nanti Guna berhak tahu siapa ayahnya.
"Ja–jadi benar bahwa Gina memiliki hubungan dengan Robbet?" tanya Khanza ragu-ragu.
"Kamu tau sesuatu, Za?" Dzaky bertanya balik. Dia mendekatkan wajahnya ke hadapan Khanza agar bisa berbicara lebih leluasa.
"Robbet adalah salah satu investor di tempat kami bekerja dulu. Dia terkenal sebagai pria 'Ramah' hampir seluruh karyawan sudah pernah bermalam dengannya tapi tidak dengan aku dan Gina. Itu yang ku tahu dulu."
Khanza menjeda kalimatnya, mencoba menghirup napas dalam-dalam supaya ia kuat untuk bercerita.
Menceritakan sedikit pada Dzaky sama saja seperti mengorek masa lalu yang sudah susah payah dikuburnya.
"Hingga suatu hari ada seorang perempuan cantik. Wajahnya hampir mirip Kate Middelton. Datang ke kantor, membuat keributan."
Khanza tersenyum sinis kala mengingat masa itu. Masa dimana dia yang terlihat tak berbuat apa pun untuk menyelamatkan Gina dari amukan istri sah.
"Saat itu ... saat itu, Gina baru saja keluar dari toilet tiba-tiba dihajar membabi buta olehnya. Tak ada yang membela Gina sebab seluruh orang tahu bahwa wanita itu adalah istri Robbet."
"Setelah Gina tak sadarkan diri, wanita itu pun berteriak dan mengatakan bahwa siapa pun yang berani menganggu suaminya akan bernasib sama dengan Gina."
Khanza menghembuskan napas kasar setelah mengatakan itu pada Dzaky. Dia tak percaya bahwa Gina ternyata memiliki hubungan sejauh itu dengan Robbet.
"Jadi yang dialami kak Gina waktu itu bukan karena dia dirampok?" tanya Dzaky lirih. Dia tiba-tiba lemas mendengar cerita Khanza
Diam, Khanza hanya menjawab dengan menggelengkan kepala saja.
"Dzaky, aku harus pergi sekarang. Lain waktu kita sambung cerita ini lagi. " Dilihatnya jam di pergelangan tangan sudah hampir jam lima lewat.
"Ehh ... mau kemana?" tanya Dzaky bingung. Mereka baru akan bercerita, tapi Khanza langsung meninggalkan dirinya begitu saja.
"Aku harus bekerja ditempat lain sekarang. Aku pamit, ya." Khanza terlihat begitu tergesa-gesa.
"Tante Peli mau kemana?" tanya Guna saat melihat Khanza mengambil tasnya. Bocah itu sedang menunggu Annisa yang tengah menyiapkan pesanan miliknya.
"Tante peri harus pergi kerja dulu. Kamu jadi anak yang baik, ya." Khanza mencium pipi gembul itu dengan penuh kasih sayang.
"Annisa, Mbak pamit, ya." Khanza berpamitan pada Annisa yang sedang sibuk.
"Loh ... bukannya?" tanya Annisa heran. Dia bahkan sampai memberhentikan aktivitasnya.
"Urgent, Annisa." Khanza mengedipkan sebelah matanya. Memberi kode pada wanita berkerudung yang telah dia anggap adik sendiri itu.
"Siap, Mbak. Hati-hati." Annisa membalas dengan senyuman. Dia yakin pria ini pasti ada hubungannya dengan masa lalu Khanza. Kalau tidak? Tidak mungkin Khanza akan bersikap seperti itu.
"Assalamualaikum semuanya." Entah untuk siapa ditujukan. Mungkin pada seluruh orang termasuk pengunjung kafe. Yang jelas saat ini wanita itu sudah pergi setelah melepaskan Appron dan topi toque-nya.
Dzaky menatap dengan penuh kebingungan. Meninggalkan berbagai tanya di kepalanya.