"Aku rasa semalam Abang kurang tidur." Zayyan tersenyum seraya memotong roti panggangnya. Ia dan Diandra pagi itu tengah menikmati sarapan pagi di hotel tempat mereka menikah kemarin. "Ternyata semalam kamu hanya pura-pura tidur saja?" tanya Zayyan balik bertanya sembari menahan senyuman dari bibirnya yang manis itu. "Enggak kok, aku tidur. Tapi Abang sudah bangun duluan. Apa Abang semalam enggak tidur?" Dia meletakkan sendok dan pisaunya. "Aku bangun lebih awal bukan berarti tidak tidur, Sayang. Aku hanya ingin lebih lama memandangimu." "Baru kali ini aku mendapati pria yang begitu pandai membuat perempuan meleleh." "Ini belum seberapa. Masih ada kejutan lagi, yang akan aku berikan padamu. Semoga kamu tidak menyesal menikah denganku yang banyak kekurangan ini." "Ini sudah jalan

