“Hentikan, Ernest.” Emily membuang wajah, menghindari ciuman Ernest yang hanya akan menjadi masalah. “Apa kau lupa aku masih meminta penangguhan darimu? Aku belum siap melakukan itu. Beri aku waktu,” ucapnya tidak ingin melakukan itu sekarang walau ia sadari sudah melakukan kesalahan. Menyanggupí taruhan namun yang terjadi ia kalah. Emily belum siap untuk itu. Dan ia harus menahan diri lagi. Suara helaan nafas kecewa Ernest meluncur dari hidung. Ia pun melepaskan cengkraman tangan Emily lalu menjatuhkan tubuh di samping. “Baiklah. Aku akan menagihnya nanti,” Lalu terdiam. Tak mendengar suara Ernest lagi, Emily menoleh ke samping dan sudah mendapatkan Ernest memejamkan mata dan tertidur. Emily bangkit lalu terduduk di tepi ranjang. Ia menatap Ernest sambil tersenyum tipis, lalu mengatakan

