“Tunggu sebentar!” Emily berteriak sambil berlari kecil keluar kamar menuju pintu utama. “Untukmu.” Ernest mengulurkan buket bunga mawar putih dan tersenyum lebar setelah Emily membuka pintu. Emily pun membalas senyum dan bergegas menerima. “Ini cantik sekali, Ernest.” Semerbak aroma mawar itu menguap dan memaksanya tersenyum lalu melirik Ernest. “Tapi ini untuk apa? Ulang tahunku masih lama,” tanyanya penasaran. Ernest membuka kaca mata hitamnya, sedikit mengangkat dagu dan tersenyum lagi. “Ucapan selamat karena besok kau akan menghadiri interview. Bukankah kau sudah tidak sabar untuk bekerja di perusahaan itu?” tebaknya yang ingat dengan cerita Emily beberapa waktu yang lalu. “Ya.” Emily membuka lebar pintu. “Terima kasih, Ernest.” Kembali menghirup aroma mawar itu lagi lalu menutup

