Gadis berdarah Jepang itu membuka matanya, memandang sekeliling dengan tatapan bertanya. Peralatan-peralatan makan zaman kerajaan dan juga perabotan terpampang di mata. "Kenapa aku bisa di dapur?" tanyanya heran. "Dan ini bukan dapur milik keluarga Li, aku di mana?" Naka memasang pose berpikir. "Kenapa semuanya tampak asing dan aneh?" Naka berjalan mendekati panci besar yang diletakkan di atas meja, membuka penutupnya. Aroma masakan pedas menusuk indra penciumannya, perutnya yang sudah diisi berbunyi kembali. "Ada masakan kesukaanku, kata orang bilang sebelum mencari jalan keluar harus membiarkan perut kenyang terlebih dahulu," ucapnya senang. Tanpa ragu sedikit pun gadis berusia sembilan tahun itu mengambil semangkuk terong tumis bawang beserta semangkuk nasi memakannya sampai ti

