Bagian 23

2049 Words
Jam pulang sudah berbunyi, Khai segera berjalan menuju parkiran sekolah. Ia dapat melihat mobilnya sudah terparkir dengan rapi. Segera Khai berjalan mendekati mobil dan mengetuk kaca kemudi. Tak lama, Pak Abdi keluar dari mobil. "Pak.. saya mau pakai mobilnya untuk hari ini. Bapak pulang naik taksi aja," tutur Khai. Pak Abdi yang mendengar itu tidak tau harus menjawab apa. Ia takut jika ia pulang sendiri, akan mendapatkan amukkan dari Risma. "Maaf tuan.. saya enggak berani pulang tanpa tuan. Nanti nyonya akan memarahi saya, mungkin akan memecat saya juga. Lebih baik kemanapun tuan pergi, saya yang antar." Pak Abdi bersikeras. Ia tidak mau mengambil resiko yang sama seperti sebelumnya. Khai menghela napas panjang. Ia tau akan sedikit sulit untuk meyakinkan pak Abdi dalam hal ini. Terlebih lagi pak Abdi sudah sering ditegur karena dirinya. Tetapi tentu saja Khai tidak menyerah, ia berjalan mendekati pak Abdi. "Gini pak.. mama gak mungkin marah kok. Bilang aja ini untuk menjalankan misi. Lagian mobil ini kan di pasang GPS, pasti mama akan tau kemana saya pergi. Pak Abdi gak usah takut, tenang aja. Nanti saya yang jelaskan ke mama," tutur Khai mencoba untuk meyakinkan pak Abdi. Jika sudah begini, Pak Abdi tidak mungkin bisa menolak. Apalagi pak Abdi seperti yakin jika yang dikatakan oleh Khai bukanlah kebohongan. Khai juga akan kena masalah jika ia melakukan ini tanpa alasan yang jelas. Alhasil, pak Abdi akhirnya menyetujui perkataan Khai. "Ya sudah kalau begitu, tuan. Ini kuncinya," ucap pak Abdi sambil memberikan kunci mobil kepada Khai. Khai segera menerima kunci tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Kalau begitu saya masuk dulu, pak." Tanpa menunggu jawaban pak Abdi, Khai segera masuk kembali ke sekolah. Tujuannya saat ini adalah taman sekolah. Khai melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah lima belas menit berlalu dari jam pulang sekolah. Pak Abdi membuatnya menjadi terlambat berada di taman. Dan benar saja, Calla sudah menunggu dirinya di taman. Calla duduk di bangku sambil memainkan handphone miliknya. Padahal ini adalah kali pertama mereka akan jalan berdua, tetapi Khai sudah membuat dirinya terlambat dan mungkin Calla akan menilainya tidak tepat waktu. "Hai.." sapa Khai ketika sudah sampai di depan Calla. Calla yang sedang asik melihat handphone miliknya, segera menutup ponselnya. Ia sama sekali tidak menyadari jika Khai sudah berada di depannya. Calla berdiri dari duduknya dan memberikan senyuman terbaiknya untuk Khai. "Maaf ya gue lama. Ada keperluan bentar tadi," ucap Khai. "Gak papa kok santai aja. Gue juga barusan aja sampai di sini. Kalau gitu kita langsung jalan aja." "Oke." Mereka berdua pun berjalan menuju parkiran. Banyak sekali kamera yang memotret kedekatan Khai dan Calla saat itu. Para murid mengabadikan momen itu untuk dibagikan di web sekolah tentunya. Ada beberapa yang bahkan sangat setuju dengan kedekatan Khai dan Calla. Menurut mereka, Calla dan Khai sangat cocok jika memiliki hubungan lebih. Calla yang memang sudah lama menjadi primadona sekolah, serta Khai yang tampan dan pintar. Tapi banyak juga yang tidak menyukai kedekatan mereka. Menurut sebagian orang, kedekatan Khai dan Calla tidaklah adil. Tidak adil jika wanita cantik dan pria tampan memiliki hubungan. Mereka sudah sama-sama sempurna. Sampainya di parkiran, Khai membukakan pintu untuk Calla. Calla yang mendapatkan perlakukan seperti itu seketika menjadi tersipu malu. Setelah itu Khai masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya. Untung saja Khai sudah pernah belajar mengendarai mobil ketika ia memiliki waktu luang. Jika tidak, ia tidak mungkin bisa membawa Calla jalan seperti ini. "Lo udah di bolehin bawa mobil ya?" Tanya Calla membuka pembicaraan. Calla memang tipe wanita yang sangat ceria. Ia tidak suka jika tidak ada pembicaraan di sekitarnya. "Enggak sih.. sebenarnya gue masih diantar jemput juga sama sopir. Ya khusus hari ini, gue minta untuk gue yang bawa mobil. Biar Lo nyaman juga kan.." sesekali Khai menoleh ke arah Calla. "Sama ternyata. Gue dan Axel juga belum dibolehin untuk bawa mobil sendiri. Papa mama kami tuh protektif banget. Apalagi Axel, gue aja gak tahan sama sifatnya itu. Eh.. maaf gue malah curhat sama lo," tutur Calla. "Gak papa kok. Gue suka dengarkan orang bicara tentang keluarganya. Gue jadi ngerasa ikut dekat dengan mereka kalau bicara mengenai keluarga," jawab Khai. Khai tidak mungkin bisa menolak jika Calla menceritakan mengenai keluarganya. Malahan Khai akan merasa senang jika demikian. Ia akan mengetahui sedikit mengenai kehidupan Axel dan ia tidak perlu mencari informasi lebih mengenai Axel karena Khai sudah mendapatkan informasi itu dari sumber terpercaya. "Axel tuh sebenernya rapuh banget, Khai. Sebenarnya kami tuh punya satu adik cewek lagi. Cuman waktu itu keluarga gue kehilangan dia karena kelalaian. Dari sana papa dan mama sangat ngejaga gue banget. Mereka gak mau anak perempuan mereka hilang dari hidup mereka. Mulai saat itu juga, Axel sangat jarang di perhatikan. Gue kasihan sama dia.. karena itu gue enggak mau ngelarang dia di sekolah. Gue bebasin dia dengan kemauannya itu. Karena hanya di sekolah saja dia menunjukkan jari dirinya. Di rumah, Axel seperti bukan dirinya sendiri." Wajah Calla menjadi sedih ketika menceritakan mengenai Axel, saudara satu-satunya. "Bahkan dengan tindakannya yang membully orang? Lo gak akan menegurnya?" Tanya Khai. Nada suara Khai sudah berubah menjadi berat. Ia sedikit kesal mendengar perkataan Calla. Ia tau bagaimana rasanya menjadi Axel, karena Khai sudah pernah merasakannya. Tetapi melakukan pembullyan seperti itu dengan alasan yang tidak masuk akal, Khai pikir itu sudah sangat kelewatan. "Axel...Arlo dan Dante membully orang bukan karena kesenangannya, Khai. Mereka memiliki alasan yang kuat untuk membully orang-orang itu," jawab Calla dengan lembut. Calla menatap wajah Khai yang sedang konsentrasi dengan jalan di depan. "Alasan apa emangnya?" Tanya Khai lagi. Khai akan mengorek semua informasi yang bisa ia dapatkan. "Cepat atau lambat Lo pasti akan tau kok, alasan yang membuat mereka membully orang-orang itu." Calla sangat mengangumi ketampanan Khai. Apalagi di hari pertama ia bersama Khai seperti ini, Khai sudah mampu membuat Calla nyaman berada di dekatnya. Calla sangat jarang merasa nyaman berada di dekat orang yang baru ia temui. Tapi kali ini sangat berbeda. Akhirnya mereka sampai di sebuah mall yang cukup besar dan terkenal di kota ini. Khai memarkirkan mobil miliknya di basemen mall. Setelah memarkirkan mobil, Khai dan Calla keluar dari mobil dan berjalan untuk masuk ke dalam mall. "Kita ke mana dulu nih?" Tanya Khai. Calla mendekatkan tubuhnya ke Khai. Ia ingin membuat momen ini menjadikan kesempatan untuknya agar lebih dekat dengan Khai. "Ke toko buku dulu, yuk. Gue mau langsung beli buku yang gue cari. Takutnya nanti kelupaan lagi untuk belinya," jawab Calla. Khai menganggukkan kepalanya. Ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Calla. Calla yang merasakan itu langsung menoleh ke arah Khai. "Biar lo gak hilang nanti," tutur Khai. Khai kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan. Calla tidak berhenti tersenyum ketika mendapatkan perlakukan yang sangat sweet seperti ini. Sesampainya di toko buku, Khai dan Calla langsung berjalan menuju rak buku yang ingin mereka beli. Calla mulai melihat-lihat buku yang ingin ia beli nanti, begitu pula dengan Khai. Lima belas menit mereka melihat-lihat buku hingga Khai mendekati Calla dengan membawa dua buku yang menurutnya bagus untuk di miliki. "Ini.. bukunya bagus. Rumus dan penjelasannya juga lengkap." Khai memberikan buku yang ia maksud kepada Calla. Dengan senang hati Calla menerima buku tersebut. "Kalau gitu gue ambil ini aja," putusnya. "Lo gak beli buku juga?" Tanya Calla kepada Khai. Khai sudah melihat-lihat buku yang ada di toko ini dan sebagain besar Khai sudah memilikinya. Bahkan dengan versi yang lebih tinggi. Mama tirinya tidak pernah lepas membelikannya buku pembelajaran di setiap Minggu. Kadang satu Minggu Khai akan mendapatkan delapan sampai sepuluh buku yang diberikan oleh mamanya. Khai juga wajib harus mempelajari setiap buku yang diberikan. Ia akan diberikan soal-soal mengenai buku yang sudah ia pelajari. Karena itulah Khai sangat cepat jika menjawab soal-soal terutama soal menghitung. "Gue udah ada di rumah. Lo aja yang beli," jawab Khai. "Gue jadi penasaran sama buku-buku yang Lo punya. Kapan-kapan gue boleh dong ke rumah Lo.. gue juga mau belajar bareng sama lo, biar kepintaran lo nular ke gue," canda Calla. Ini yang belum Khai pikirkan. Jika ada temannya yang ingin mengetahui tempat tinggalnya, Khai akan menjadi bingung. Tidak mungkin ia memberikan alamat rumahnya yang saat ini ia tempati. Mereka pasti akan tau jika ia dan Rama tinggal di tempat yang sama. "Pasti.. nanti kita cari waktu yang pas biar Lo bisa main ke rumah gue." Hanya jawaban itu yang bisa Khai lontarkan. Ia takut akan menjadi masalah jika ia menjawab lainnya. Calla dan Khai berjalan menuju kasir. Mereka berdua menunggu giliran. Tak berapa lama, giliran mereka akhirnya tiba. Calla menyerahkan dua buku yang Khai pilih kepada kasir. "Totalnya 568.500 ya mbak," kasir memberitahukan Calla jumlah yang ahrus dibayar. Calla hendak mengambil dompet miliknya. Tetapi Calla kalah cepat dari Khai. Khai sudah memberikan nominal yang diminta oleh kasir. "Kembaliannya ambil aja, mbak." Ucap Khai. Kasir tersebut seketika tersenyum ramah mendengar perkataan Khai. "Terimakasih." Paper bag yang berikan dua buku Calla akhirnya diberikan kepada Khai. Khai dan Calla berjalan keluar dari toko tersebut. "Kenapa lo yang bayar belanjaan gue?" Tanya Calla. "Itu hadiah buat Lo dari gue. Jadi lo harus pelajari buku itu dengan baik. Nanti gue tes kapan-kapan. Ingat harus di pelajari," tutur Khai. Calla tersenyum tipis. Ia tau Khai memang sengaja membayarkan buku ini untuknya. "Setelah ini kita makan dulu, ya. Udah waktunya makan siang soalnya," ucap Khai. Khai terlihat sangat gentleman saat ini. Mulai dari membukakan pintu mobil untuk Calla, membayarkan buku yang Calla mau, dan ia bahkan mengajak Calla untuk lunch bersama. Tentu saja hal tersebut tidak ditolak oleh Calla. Ia malah sedang jika menghabiskan waktunya lebih lama lagi dengan Khai. *** Calla dan Khai sedang berada di salah satu restoran yang menyajikan dimsum dan teman-temannya. Restoran ini merupakan requestan dari Calla. Khai hanya mengikuti keinginan Calla saja. "Lo suka dimsum gak?" Pertanyaan itu membuat Khai melakukan pembohongan lagi. Ia sangat tidak suka dengan yang namanya dimsum. Tidak ada alasan bagi Khai untuk menyukai Dimsum. "Lumayan. Tapi emang gue jarang aja makan makanan ini," jawab Khai. "Nanti pas lo makan dimsum di tempat ini, gue pastikan lo akan jatuh cinta sama dimsum di tempat ini. Gak nyesel deh Lo makannya." Tak lama setelah Calla mengatakan itu, pesanan mereka akhirnya tiba. Aroma dari berbagai macam seafood tercium dengan sangat. Senyuman di wajah Calla sudah sangat sumringah. Ia tidak sabar untuk memakan makanan yang sudah ia pesan ini. "Ayo makan, Khai." Calla mulai mengambil satu dimsum udang kesukaannya menggunakan sumpit. Satu kali hap masuk ke mulut Calla. Sesekali Calla menganggukkan kepalanya. Ia sangat menyukai makanan yang sedang ia kunyah saat ini. Khai juga mulai memakan dimsum tersebut. Tidak ada kesan yang menarik untuk Khai ketika memakan dimsum tersebut. Mungkin memang lidah Khai tidak cocok dengan makanan yang sedang ia makan. Tetapi Khai tetap akan menikmati makan yang ada di depannya untuk menghargai keinginan Calla. "Lo tau.. dulu ada cowok yang ngajak gue jalan dan gue bawa ke tempat ini. Kami malah rebutan makannya. Seru banget waktu itu," tutur Calla di sela-sela makannya. "Oh iya? Siapa?" Masih dengan gelengan kepalanya yang sedang menikmati makanan itu, Calla tanpa sadar mengucapkan nama yang membuat Khai diam untuk beberapa saat. "Rama. Dia itu baik banget. Sejak saat gue bawa di tempat ini, dia jadi malah suka banget sama dimsum. Khususnya di tempat ini," jawab Calla tanpa memikirkan apapun. Mendengar nama Rama membuat Khai diam mematung untuk sesaat. Ia tidak mengerti mengapa Rama bisa jalan berdua dengan Calla seperti saat ini. Rama sama sekali tidak pernah menceritakan apapun mengenai Calla. Jangankan Calla.. Rama juga tidak pernah menceritakan mengenai sekolahnya. "Gue gak pernah lihat anaknya. Dia di kelas mana?" Tanya Khai lagi. "Udah gak sekolah di tempat kita, Khai. Katanya sih pindah sekolah Khai. Tapi gue gak tau kejelasannya sih." Khai menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia sebenarnya tidak tau bagaimana bisa pihak sekolah mengatakan ia pindah ke sekolah. Padahal realitanya tidak seperti itu. Semuanya memang tertutup sangat cepat. Tidak ada satu orang pun yang berani mengungkapkan kejadian bunuh dirinya Rama kepada dirinya. Khai yakin pasti Sekolah memiliki rahasia-rahasia lain yang selalu mereka tutupi tanpa memikirkan apa konsekuensi yang akan mereka dapatkan kedepannya. "Emang pindah beneran? Pindah ke sekolah mana dia?" Tanya Khai lagi. "Gak tau.. lagian itu kan juga rumor aja. Gak ada beneran atau enggak," jawab Calla santai. Ia kembali memasukkan dimsum ke dalam mulutnya dan akan dieksekusi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam lambungnya. Khai semakin penasaran dengan hubungan Rama dan Calla. Kenapa Calla bisa keluar dengan Rama dan mengapa mereka terlihat akrab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD