Khai, Rama, Papa mereka dan Naura berjalan menuju ruangan yang akan digunakan untuk rapat. Khai merasa sangat semangat sekaligus deg-degan dikarenakan ia akan ikut masuk ke dalam ruangan rapat tersebut. Mungkin akan banyak hal yang akan ia pelajari nantinya.
Ketika Naura membuka pintu ruangan yang akan mereka masuki, jantung Khai seketika berdetak semakin cepat.
Khai dapat melihat tiga orang pria yang terlihat sangat berwibawa berdiri ketika melihat kehadiran papanya.
"Bapak Ian Malik.. Akhirnya kita bsa bertemu juga," Sapa seorang pria yan Khai yakinin adalah rekan bisnis papanya.
"Terimakasih sudah mau mampir ke perusahaan saya," Balas Papanya.
"Oh perkenalkan.. ini anak saya, Khai dan ini Rama."
Ian mulai memperkenalkan kedua anaknya. Khai dan Rama pun memberikan senyuman dan menyalam rekan bisnis papa mereka itu.
"Akh.. jadi ini yang namanya Khai. Papa kamu sering memuji kamu kepada saya," Tutur rekan bisnis Ian. Khai semakin melebarkan senyumannya ketika mendengar perkataan itu. Sedangkan Rama, seketika senyumannya menghilang. Ia tidak mengerti maksud dari 'memuji' yang dimaksud rekan bisnis papanya itu. Tetapi kenapa hanya Khai saja yang mendapatkan pujian dari papanya sedangkan ia tidak.
Setelah selesai dengan basa-basi, mereka semua langsung duduk di tempat masing-masing dan menghadap ke layar yang menampilkan sebuah rencana bisnis yang akan dilakukan. Khai yang kebetulan duduk di sebelah papanya terlihat sangat sangat sering bertanya beberapa hal yang membuat Ian merasa senang melihat antusias yang Khai berikan.
Sedangkan Rama, ia hanya diam melihat interaksi Khai dan Ian. Ia merasa ada yang berbeda ketika Ian berbicara dengan Khai. Ada sedikit pancaran yang berbeda ketika Ia berbicara dengan Khai. Sedangkan dengan dirinya, Rama merasa papanya tidak seperti itu.
Dia tinggal dengan papanya setiap hari tetapi interaksi dirinya dan papanya sangatlah minim.
Saat ini, fokus Rama bukan lagi kepada meeting yang sedang mereka adakan saat ini. Ia hanya berfokus kepada papanya dan Khai.
Hingga Khai yang menyadari hal tersebut. Khai menyenggol tangan Rama. "Kenapa?" Tanya Khai kepada Rama.
Rama langsung menggelengkan kepalanya dan memberikan senyuman kepada Khai. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Khai pun kembali berfokus ke arah depan ketika mengetahui keadaan Rama.
Satu jam berlalu, dan akhirnya meeting yang diadakan tersebut telah selesai. Khai, Rama, Ian dan Naura kembali berjalan menuju ruangan Ian untuk beristirahat setelah berpamitan dengan klien tadi tentunya.
Tidak butuh lama mereka akhirnya sampai di ruangan Ian. Naura kembali kepada pekerjaannya yang masih menumpuk.
Di dalam ruangan Ian, Khai dan Rama langsung di tes oleh Ian. Ia menanyakan apa yang bisa Rama dan Khai ambil dalam rapat yang tadi diadakan.
Khai dengan santai dan terperinci menjelaskan apa yang sudah ia lihat tadi. Sedangkan Rama, ia hanya diam mendengar semua perkataan Khai. Ia bahkan tadi tidak fokus dengan apa yang tadi dibahas. Mana mungkin ia bisa menjelaskan apa yang sudah ia tangkap dalam rapat tadi.
"Rama.. giliran kamu," tutur Ian mempersilahkan Rama.
Rama seketika menoleh ke arah Khai yang juga sedang melihat dirinya. Rama menelan ludahnya dengan susah payah. Ruangan Ian seketika hening.
Bahkan suara helaan nafas panjang Ian terdengar. Ia menatap Rama dengan pandangan yang sedikit kecewa.
"Kamu seharusnya lebih fokus, Rama. Bagaimana bisa kamu enggak fokus tadi? Kamu juga yang akan mengurus semua hal ini kan? Saya gak habis pikir dengan kamu. Apa yang kamu pikirkan sampai kamu enggak fokus dan bahkan enggak bisa menjelaskan apapun kepada saya?!"
Rama mulai menundukkan kepalanya. Ia tidak berani untuk menatap Ian sekarang.
"Pah.. mungkin Rama sedang banyak pikirkan," Ucap Khai. Ia mencoba untuk menjadi tameng Rama.
Ian kembali menghela napas. Setelah itu ia berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan Rama dan Khai. Setelah kepergian Ian, Khai memegang pundak Rama.
"Gak papa kok, Ram.. tenang aja," Tutur Khai mencoba untuk menenangkan Rama.
Bukannya tenang, Rama malah kesal dengan dengan tindakan Khai. Ia langsung menyingkirkan tangan Khai dari pundaknya. Rama menatap kesal Khai.
"Gue gak butuh lo bela!" Tegas Rama dengan kesal.
"Ram.. gue gak bermaksud unt--"
"Gue tau, Khai! Lo gak usah pura-pura lagi. Lo senang kan gue di marahi sama papa? Lo senang lihat gue kayak gini, terpuruk gini lo senang kan?!"
Semua kekesalan Rama keluar dengan sendirinya. Khai bahkan membisu ketika mendengar perkataan Rama. Ia tidak mengerti maksud perkataan Rama saat ini.
"Ram gue gak senang kalau lo terpuruk. Lo saudara gue. Itu kan yang selalu Lo bilang? Kita gak boleh kayak gini."
Rama diam. Ia tidak lagi berkata-kata. Mungkin karena emosinya yang tersulut sehingga ia berkata seperti itu.
Rama pun berjalan menuju sofa dan duduk di sofa tersebut. Khai ikut duduk di samping Rama. Tetapi Khai kali ini tidak mengajak Rama untuk berkomunikasi. Ia hanya diam dan mulai mengeluarkan handpone miliknya untuk ia mainkan.
Sepuluh menit berlalu, Khai terdiam ketika mendengar suara serak Rama yang membuatnya seketika menjadi merasa terenyuh.
"Maaf.. gue emosi tadi," Tutur Rama lembut.
Khai kembali menyimpan handphone miliknnya dan langsung memeluk tubuh Rama. Khai melebarkan senyumannya ketika merasakan Rama membalas pelukannya. Tidak beberapa lama kemudian, Mereka pun melepaskan pelukan mereka dan saling tersenyum satu sama lain seolah-olah tidak terjadi masalah apapun.
Suasana di dalam ruangan ini seketika kembali seperti biasa. Terdengar suara canda tawa yang Khai dan Rama lontarkan di dalam ruangan ini.
Hingga suara ketukan pintu membuat Khai dan Rama seketika diam. Mereka pikir yang akan masuk ke dalam ruangan ini adalah papa mereka. Ternyata Naura lah yang masuk ke dalam ruangan. Ia membawa beberapa bungkusan yang Khai dan Rama tebak adalah makan siang mereka.
Khai dan Rama langsung melebarkan mata mereka ketika mengetahui makan sianng mereka akhirnya tiba. Jika sudah menyangkut dengan makanan, Khai dan Rama akan merasa sangat bersemangat.
Naura berjalan mendekati Khai dan Rama dan mulai menyusun makanan diatas meja dengan rapi.
"Papa Kemana, Mbak?" Tanya Rama dengan sopan. Naura menoleh ke arah Rama sekilas dan kembali melanjutkan menyusun makanan.
"Pak Ian makan siang dengan kliennya. Saya di suruh mengantarkan ini kepada kalian. Katanya dia akan sedikit terlambat untuk datang ke sini. Mungkin Jam lima pak Ian akan kembali lagi," Jawab Naura.
Rama dan Khai menganggukkan kepalanya. Setelah selesai menyusun makanan, Naura berjalan pergi meninggalkan ruangan dan meninggalkan Rama dan Khai berdua di dalam ruangan.
Khai dan Rama langsung menyantap makanan yang ada dengan lahap. Tanpa memperdulikan apapun lagi. Bahkan seketika mereka tidak engeluarkan suara ketika menikmati makanan yang ada di depan mereka ini.
***
Suasana di dalam mobil sangat senyap. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Khai menoleh ke arah papanya dan ia dapat melihat papanya terlihat sangat lelah. Mungkin hari ini papa nya memiliki banyak pekerjaan yang memelahkan.
Khai tau jika pekerjaan ini sangat melelahkan. Tetapi entah mengapa, ia masih sangat ingin untuk terjun ke dunia bisnis ini. Ambisinya tidak pernah berubah semenjak ia pertama kali menginjakkan kakinya di kantor papanya. Ia juga tidak akan menyerah dengan semua ini. Ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan dari dulu.
Ia juga tau jika memiliki saingan yaitu Rama. Tetapi setelah mendengar jika Rama tidak tertarik dengan dunia bisnis ini, ia semakin yakin dengan keinginannya. Cepat atau lambat Khai yakin ialah yang akan melanjutkan bisnis keluarga ini.
Mobil sedan itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah. Risma tersenyum lembut ketika melihat kedatangan mobil yang berisi suami dan anaknya. Ia kali ini spesial menyambut kedatangan suaminya beserta anaknya.
Ian yang melihat penyambutan Risma merasa sedikit ada yang berbeda. Ia tidak biasa mendapatkan senyum lembut dari istrinya ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela napas melihat kelakuan Risma.
Mereka bertiga pun keluar dari mobil. Ian berjalan di depan Khai dan Rama. Mereka berhenti di depan Risma.
"Gimana tadi di kantor?" Tanya Risma dengan senyumannya.
"Seperti biasa. Emangnya ada yang berbeda?" Jawab Ian. Setelah mengatakan itu, Ian berjalan melewati Risma.
Risma tersenyum miris melihat apa yang di katakan suaminya itu. Ian bahan sama sekali tidak menghargai dirinya yang sudah menunggu di sini.
Rama juga berjalan pergi masuk duluan ke dalam rumah. Tapi tidak dengan Khai. Ia sedikit memiliki rasa kasihan kepada mama tirinnya ini. Tetapi rasa kasihan dirinya seketika berubah menjadi rasa senang ketika ia menyadari apa yang sudah dilakukan oleh mama tirinya kepada dirinya selama ini.
"Kasihan sekali mama. Padahal saya yakin mama sudah berdiri di depan pintu ini mungkin sekitar lima menit. Tetapi bahkan papa dan Rama sama sekali tidak menghargai niat baik mama."
Khai mencoba untuk memancing kemarahan Risma. Risma mencoba untuk tidak terpancing dengan perkataan Khai. Ia tau anak dari selingkuhan suaminya ini hanya ingin melihatnya marah.
"Akh.. saya ada sesuatu untuk mama," Sambung Khai. Ia segera mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku celananya.
Khai membuka galeri yang ada di ponselnya dan tersenyum tipis ketika melihat gambar yang sudah ia ambil beberapa jam yang lalu. Ia segera menunjukkan kepada Risma photo yang ada di ponselnya.
Risma yang melihat phot tersebut langsung melebarkan kedua matanya. Ia dapat melihat Ian yang sedang duduk dan di sampingnya berdiri wanita cantik yang terlihat seperti sedang menggoda Ian. Bahkan lengan wanita itu menggelantung di pundak Ian.
"Dapat dari mana kamu foto ini?" Tanya Risma dengan suara datarnya. Ia paling tidak bisa menerima jika Ian melakukan kesalahan yang sama seperti dahulu. Khai menjauhkan ponsel miliknya ketika ia mendengar pertanyaan itu.
"Saya sendiri yang mengambil foto ini. Wanita ini sekertaris papa. Naura namanya. Sya juga terkejut ketika melihat wanita ini untuk pertama kali. Wanita cantik, anggun dan pintar. Dia juga tau apa yang papa suka dan tidak suka, terlihat seperti sudah lama mengenal papa. Dan saya juga yakin, mustahil jika papa tidak tertarik kepada Naura."
Risma menghela napas berat. Ia juga yakin jika Ian pasti akan tertarik kepada wanita itu. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui tentang hal seperti ini.
"Apa mau kamu?" Tanya Risma.
Khai semakin melebarkan senyumannya ketika mendengar pertanyaan itu. Mama tirinya ini memang sangat mengerti dirinya. Khai tidak mungkin hanya memberitahukan hal ini tanpa menginginkan suatu imbalan.
"Semester depan, saya mau sekolah. Satu sekolah dengan Rama." Pinta Khai dengan tegas. Risma menganggukkan kepalanya. Mungkin ini sudah saatnya ia menyekolahkan Khai sama seperti Rama.
"Baik, kamu akan satu sekolah dengan Rama. Jadi.. apa ide kamu?" Tanya Risma lagi.
"Mama bisa buat dia keluar dari kantor itu bahkan dari kehidupan papa degan mudah. Membuatnya terlihat buruk di depan papa. Seorang p*****r, mungkin?"
Ya.. Ian paling benci yang namanya w************n. Ia bahkan akan langsung menjauh ketika mengetahui jika wanita yang ada di dekatnya merupakan w************n.
Setelah mendengar ide dari Khai, Risma langsung berjalan pergi masuk ke dalam rumah. Ia aka melaksanakan ide yang diberikan oleh Khai itu. Ia tidak akan pernah memiarkan satu orang pun kembali merusak kehidupan rumah tangganya lagi.
Sedangkan Khai yang masih berada di luar rumah merasa berhasil dengan rencananya kali ini. Ia sangat senang bisa bekerja sama dengan mama tirinya. Ia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar ketika bekerja sama dengan mama tirinya ini.
Khai kembali melihat foto yang tadi ia ambil diam-diam. Ketika ia mencari keberadaan Ian yang meninggalkan ia dan Rama berdua di ruangan Ian. Ternyata Ian sedang berada di ruangan yang ada di sebelah ruangan Ian. Ia terlihat sangat dekat dengan Naura saat itu. Bahkan Ian tersenyum dengan sangat lebar ketika Naura membisikkann sesuatu di telinga Ian.
Khai tau momen seperti itu tidak boleh untuk di lewatkan. Ia harus mengabadikan momen itu dan melakukan kerja sama dengan mama tirinya.
Dan benar saja, Ia akhirnya mendapatkan apa yang ia mau. Mungkin Khai sudah menghancurkan pekerjaan bahkan kehidupan Naura, tetapi Khai perlu untuk melakukan hal itu demi keberlangsungan hidupnya.
Ia ingin semua hal yang Rama dapatkan juga ia dapatkan. Ia benci dibedakan. Oleh karena itu Khai rela mengorbankan Naura untuk kali ini.
Khai juga yakin jika Naura akan mendapatkan pekerjaan lagi nantinya, ya biarpun pekerjaanya jauh berbeda dari pekerjaannya yang sekarang.
Khai kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia pun masuk ke dalam rumah ini dengan perasaan yang sangat senang. Tujuan Khai saat ini adalah kamar Rama. Ia akan bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah kecilnya.
Khai tau ia tidak bisa berlama-lama di rumah ini. Cepat aatau lambat ia pasti akan kembali lagi ke rumah kecilnya. Jadi.. dari pada ia di usir oleh mama tirinya itu, lebih baik ia segera kembali dengan kemauannya sendiri. Khai yakin ia akan segera tinggal dan menetap di rumah ini.
Biapun ia hanya satu malam ada di rumah ini, ia merasa sangat bahagia. Khai akhirnya bisa merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak ia rasakan. Biarpun keluarga yang ada di rumah ini hanya keluarga yang belum seutuhnya Khai miliki.
Langkah Khai berhenti ketika meliaht foto keluarga. Foto Papa, mama tirinnya dan juga Rama. Hanya mereka bertiga. Khai tersenyum miris melihat foto itu. Padahal ia juga anggota keluarga Malik, tetapi mereka seperti tidak menganggap dirinya bagian dari Malik.