Khai menghentikan tangannya di sebuah foto yang menampakkan foto Calla. Calla yang tersenyum tipis menatap ke arah kamera. Khai tidak menyangkal jika Calla memang sangat mengagumkan. Axel juga sebenarnya sangat tampan, tak jauh berbeda dari Khai. Tetapi mungkin sikap Axel yang suka membully membuat ketampanannya tertutup. Serta banyaknya orang yang tidak terlalu menyukai Axel tentunya.
Khai kembali melanjutkan kegiatannya, menscroll handphone miliknya. Ia kembali menghentikan jarinya di sebuah foto yang membuatkan bingung. Kenapa sebuah foto seperti ini ada di web sekolah. Foto sesorang pria yang terlihat sedang di bully. Bajunya yang sudah sobek serta wajahnya yang sangat menyedihkan. Khai segera melihat ke kolom komentar. Ia membaca para komentar yang malah seperti mendukung dan tidak ada simpatik sama sekali. Khai tidak tau kenapa mereka bisa sampai seperti itu.
Hingga satu komentar yang membuat Khai tau kenapa pria itu di bully. 'Dia yang sudah melempar bola basket di lapangan tadi. Hampir saja bolanya mengenai wajah Calla. Wajar saja Axel geram kepadanya...'
Wajar? Khai tidak tau di mana kewajaran yang mereka maksud. Tidak ada kata wajar untuk pembullyan. Khai hanya bisa menggelengkan kepalanya membaca komentar itu. Lagian... bola itu basketnya sama sekali tidak mengenai wajah Calla. Mengapa harus ada pembullyan. Serta Khai yakin jika pria itu sama sekali tidak sengaja melakukannya. Tidak mungkin ia sengaja melempar bola itu ke wajah Calla.
Bahkan hal sepele seperti ini saja mampu membuat pria itu mendapatkan bullyan, apalagi di kasus Rama. Khai sangat yakin Rama mungkin hanya melakukan kesalahan sepele kepada Axel.
Khai menutup handphonenya. Ia sudah malas jika menyangkut pembullyan seperti ini. Khai membuka satu persatu kancing bajunya dan menyisahkan baju dalamnya yang bewarna putih. Hawa dingin dari ac masuk ke tubuh Khai. Khai kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mata Khai perlahan ia pejamkan. Ia ingin melupakan masalahnya untuk sesaat.
***
Khai menatap pintu gerbang sekolahnya. Pagi ini Khai datang lebih awal dari sebelumnya, dan tentu saja masih belum banyak para murid yang datang. Khai mulai berjalan masuk ke dalam pekarangan sekolah dan berjan di sepanjang koridor yang menuju kelasnya.
"Khai!"
Khai yang merasa namanya di panggil segera menoleh ke sumber suara. Ia dapat melihat Calla yang sedang melambaikan tangannya. Calla pun sedikit berlari untuk menghampiri Khai. Setelah ia sampai di depan Khai, Calla memberikan senyumannya.
"Hm.. gue mau bilang makasih ke lo," ucap Calla membuka pembicaraan.
"Makasih buat apa, Calla?"
Calla menundukkan kepalanya. Ia sedikit grogi berhadapan langsung dengan Khai seperti ini. Melihat tatapan yang diberikan Khai semakin membuat Calla merasa salah tingkah.
Khai tertawa tipis mendengar alasan Calla berterima kasih kepada dirinya. Perlahan tangan Khai memegang pundak Calla. "Bukan apa-apa lagian. Gue senang kok bisa bantuin lo dan.. gue juga senang lo baik-baik aja." Suara Khai yang lembut membuat ia semakin terlihat berkarisma. Khai memang sengaja melakukan itu. Ia ingin sekalian memancing Calla agar jatuh ke dalam perangkapnya.
Calla menyelipkan anak rambutnya di sela telinganya. Perlahan ia mulai berani untuk menatap wajah Khai.
"Hm.. Khai kalo lo gak keberatan, pulang sekolah nanti mau temanin gue ke toko buku gak? gue dengar lo itu pintar banget.. kebetulan gue lagi nyari buku untuk pembelajaran Kimia, mana tau rekomendasi dari lo bisa membantu gue dalam memilih buku. Kalo lo gak sibuk sih," ajak Calla. Entah keberanian dari mana yang membuat Calla berani untuk mengajak Khai menemaninya mencari buku sambil berkedok jalan berduaan.
Tentu saja Khai tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini, Tanpa berpikir dua kali Khai langsung mengiyakan ajakan Calla. "Boleh kok. Nanti sepulang sekolah gue tunggu di taman depan ya," jawab Khai. Senyuman Calla semakin mengembang mendengar jawaban yang diberikan Khai.
"Ya udah.. kalau gitu gue duluan ke kelas ya. Sampai jumpa nanti, Khai." Setelah mendapatkan anggukan dari Khai, Calla pun berjalan pergi meninggalkan Khai. Khai melihat punggung Calla dari belakang. Bahkan dari belakang saja, Khai sudah bisa menebak jika Calla sedang dalam mood yang sangat baik.
"Khai.."
Jantung Khai seperti melayang ketika mendengar suara yang memanggil namanya dengan lirih dan begitu dekat dengannya. Ia kembali menoleh ke belakang dan mendapati Lamia yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Lo bikin gue jantunga.. Lamia," tutur Khai dengan wajah yang masih terkejut. Lamia tertawa mendengar omelan Khai. Ia sedari tadi mengintip interaksi Khai dengan Calla. Lamia bahkan mendengar percakapan mereka, tetapi ia menunggu Calla pergi dengan sendirinya.
"Gue mau bikin lo mengenal lebih jauh lagi mengenai Axel dan kedua temannya itu, ayo ikut gue!" Ajak Lamia. Lamia menarik tangan Khai dan membawanya berjalan pergi.
Lamia membawa Khai ke sebuah taman. Kali ini mereka berada di taman depan sekolah, taman yang banyak di singgahi para murid. Seperti saat ini, banyak murid yang sudah berada di taman ini. Padahal masih pagi.
Untung saja ada sebuah bangku yang masih kosong. Khai dan Lamia pun memutuskan untuk duduk di bangku tersebut. Tak beberapa lama kemudian, Axel dan kedua temannya berjalan menuju taman.
"Lo lihat yang ada di sebelah kiri Axel, namanya Arlo. Papanya seorang Kontraktor besar di Kota ini. Mamanya memiliki butik dan beberapa klinik kecantikan. Tiga bersaudara dan Arlo adalah anak laki-laki satu-satunya. Sangat perfeksionis."
Khai melihat ke arah Arlo yang Lamia maksud. Pria itu memang kelihatan sangat perfeksionis dari penampilannya saja. "Di sebelah kanan, namanya Dante. Dia yang paling pintar di kelas dan diantara mereka bertiga. Papanya seorang Profesor di rumah sakit dan memiliki beberapa cabang rumah sakit di kota ini, bahkan ada dua di luar negeri. Mamanya Dosen ternama di fakultas kedoteran dan tentunya juga memiliki beberapa klinik kesehatan. Anak tunggal dari kelurganya. Paling di sayang tetapi ia juga di tuntut untuk sempurna oleh orang tuanya. Dante takut dengan ketinggian, ia juga tidak bisa berenang. Setiap praktek berenang, ia hanya duduk melihati kami. Dante terlihat sangat kuat di luar, tetapi gue yakin dia sangat rapuh. Dante juga menjadi penenang dalam grup mereka itu. Banyak orang-orang yang tidak jadi di bully karena Dante."
Wajah kalem Dante memang sesuai dengan sikapnya. Dante juga lebih terlihat pendiam di antara Axel dan Arlo. Di tuntut menjadi sempurna memang sangat melelahkan. Khai sudah khatam dengan itu. Ia tau betul bagaimana rasanya dan bagaimana tersiksanya hal itu.
"Dan yang terakhir, sang alpha. Axel. Kaya raya, tampan dan juga berkuasa. Papanya orang terkaya di kota ini dan keluarga mamanya yang kedua. Pernikahan politik, bisa di bilang. Dua bersaudara dan lo tau betul siapa saudaranya. Axel lebih pintar ketimbang Calla, tetapi Calla lebih sering dimanja. Sangat menyayangi adiknya, bahkan ia tidak mau adiknya mendapatkan goresan sekecil apapun," sambung Lamia.
Khai tidak tau alasan apa yang membuat Axel, Arlo dan Dante melakukan pembullyan. Latar belakang keluarga yang baik, kekayaan yang sangat cukup bahkan melimpah, serta pintar. Mereka seperti tidak kekurangan apapun. Tetapi mereka mampu melakukan pembullyan yang tidak mendasar.
Axel, Arlo dan Dante hanya berjalan melewati taman saja. Khai juga tidak tau mengapa mereka hanya lewat begitu saja.
"Mungkin informasi yang gue sampaikan ini akan sedikit berguna untuk lo."
"Tapi gue butuh satu informasi lagi, Lam." Khai menatap Lami.
"Gue mau tau gimana tentang lo? Lo udah menceritakan semua informasi yang sangat banyak mengenai mereka, tetapi gue masih belum mendengar informasi apapun mengenai lo. Ceritakan sedikit aja tentang diri lo, Lamia." Sambung Khai. Ia juga penasaran mengenai Lamia. Bukan berarti Khai tidak mempercayai Lamia ataupun ingin menilai dirinya. Khai hanya ingin lebih jauh mengenal Lamia.
Lamia sedikit berpikir. Ia tidak tau bagaimana cara menceritakan dirinya kepada Khai. Ia tidak tau harus mulai dari mana pembicaraan ini di mulai. Karena menurut Lamia, kehidupannya sama sekali tidak menarik.
"Gue dua bersaudar, gue punya seorang kakak yang sangat cantik dan baik hati. Dia yang selama ini biayain hidup gue, karena sedari kecil kami sudah gak mempunyai siapa-siapa. Gue sangat menghargai dan menyayangi kakak gue. Gue kadang suka ingin mneyerah dengan kehidupan gue ini, Khai. Tapi dia yang selalu menguatkan gue. Dia yang selalu ada di saat gue butuh seseorang. Dia rela tidak melanjutkan sekolahnya agar gue bisa sampai bisa sekolah ini. Gue jadi pengen ngenalin lo ke dia," Jelas Lamia. Khai tersentuh mendnegar perkataan Lamia. Kakak Lamia mampu membuat Khai terenyuh karena kebaikan dirinya.
"Kehidupan gue gak ada yang menarik, Khai. Karena itu gue mau ngebantuin lo. Gue mau lo mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Karena gue tidak mau lo mendapatkan ketidakadilan seperti gue ini. Jadi kita harus bertekat untuk menyelesaikan semua ini sesuai dengan rencana awal. Biar pengorbanan lo dan gue enggak akan sia-sia," Lamia memberikan nasihannya untuk Khai.
Khai tidak mungkin menyerah dengan perjuangannya yang begitu rumit. Ia pasti akan menuntaskan semuanya dengan baik. Khai juga tidak mau pengorbanan dirinya yang sudah sejauh ini percuma.
Untuk sesaat Khai dan Lamia hanya diam satu sama lain. Bel masuk masih lima belas menit lagi, tetapi mereka sudah tidak tau apa lagi yang harus di omongin. Lamia pun berdiri dari duduknya. Ia membersihkan roknya dengan kedua tangannya. Biarpun sama sekali tidak ada kotoran di rok Lamia. Lamia menoleh ke arah Khai dan memegang pundaknya.
"Gue dengar lo mau jalan sama Calla. Itu salah satu kemajuan yang bagus, Khai. Tapi saran gue.. Lo harus minta izin sama Axel. Dia sangat sayang sama Calla. Mungkin dengan Lo minta izin sama dia, lo akan dianggap sebagai pria yang gentle. Gue juga yakin dia gak akan mungkin bisa nolak lo, karena dia udah mulai percaya sama lo."
Tanpa menunggu jawaban yang diberikan Khai, Lamia berjalan pergi meninggalkan Khai. Kepala Lamia menunduk, teihat sangat jelas jika Lamia sedang tidak dalam mood yang bagus.
Khai hanya bisa memandang dari kejauhan tubuh Lamia. Semakin Khai memandang Lamia, semakin ia teringat akan Tasya. Wanita yang sudah membuatnya merasakan jatuh cinta begitu dalam. Mungkin jika Tasya masih ada, Khai yakin kalau ia tidak boleh untuk melakukan pembalasan seperti ini. Khai tidak dapat membayangkan bagaimana Omelan yang diberikan oleh Tasya jika Tasya masih ada di sini.
Khai kembali memikirkan ucapan Lamia tadi. Mungkin akan ada baiknya jika ia mengikuti saran dari Lamia. Sebenarnya sangat mudah bagi Axel untuk mengetahui keberadaan Calla jika ia tidak mengizinkan. Tetapi Khai yakin Axel bukan orang yang kolot. Ia pasti akan mengizinkan Calla untuk jalan sebentar dengan dirinya.
Khai pun akhirnya berdiri dari duduknya. Ia mulai kembali berjalan menuju kelas. Jarak dari taman dan kelas lumayan jauh untuk Khai.
Sesekali Khai merutuki Lamia yang sangat lelet. Bagaimana bisa Lamia mengajaknya di tempat ini, bahkan hanya untuk memperkenalkan mereka. Padahal jika di pikir-pikir mereka bisa membicarakan masalah ini di kelas atau di tempat yang sepi di sekolah.
Khai masuk ke dalam kelas dengan santai. Ia dapat melihat Lamia yang menatapnya tanpa ekspresi. Yang memberikan senyuman tipisnya kepada Khai agar Khai merasa lebih baik kan nyaman.