Hasna mencari sesuatu di dalam tas’nya. Ia mengambil air minum lalu memberikannya pada Zayn. “Minum dulu, kak!” Zayn menatap Hasna dengan tatapan segan. “Nggak papa, kak. Ambillah, lalu minum!” “Terima kasih.” Zayn meminum air tersebut sampai setengah. Punggungnya masih terasa sakit dan nyeri, hal itu membuat ia tidak bisa bergerak dengan bebas. “Sshh.. Astagfirullah’haladzim.” “Sakit banget, kak?” “Sakit, tapi tidak begitu.” “Kamu nggak papa?” tanya Zayn Bahkan di saat dirinya yang terluka Zayn masih peduli dengan orang lain. Mau bagaimanapun Hasna adalah saudara iparnya, tidak mungkin ia membiarkan dia terluka. “Alhamdulillah, Hasna baik-baik saja, kak.” “Tapi Kak Zayn nggak perlu memikirkan kondisi Hasna, karena Kak Zayn yang terluka.” ucapnya dengan nada penuh kekhawa

