02 - Perjanjian Nikah Kontrak?

835 Words
Gladys meletakkan dengan kasar dokumen yang baru sebagian ia baca. Ia menatap tajam pria yang telah memberikannya dokumen itu. “Nggak. Aku nggak mau,” tolak Gladys seketika. “Cuma ini satu-satunya cara, Dys. Mereka tidak akan menyerah untuk menjodohkan kita sebelum kita menikah. Lagi pula, apa kamu lupa, kalau nenekmu lah yang mengatur semua ini sejak awal?” Gladys merasakan sesak di dadanya. Ia teringat kembali dengan sang oma yang telah tiada. Seketika, ia menyesali apa yang terjadi di masa lalu. Ucapannya yang kala itu sedang kasmaran dengan sosok kakak kelas baik hatinya di sekolah, sekarang justru berakhir seperti ini. “I- itu cuma kesalah pahaman. Andai Oma masih ada sampai sekarang, Oma pasti juga akan mendukung aku untuk membatalkan pernikahan ini,” kata Gladys. “Semua sudah terlambat. Orang tuaku mengancam akan mencoretku dari ahli waris mereka kalau aku tidak menikah denganmu,” kata Gama. “Jadi, mau tidak mau pernikahan ini harus tetap dilaksanakan. Tapi, kamu tenang saja. Dua tahun setelah hari pernikahan kita, kita akan bercerai.” Gladys tetap menggelengkan kepalanya. “Meski pun kita pakai rencana itu, orang yang paling dirugikan akan tetap aku. Kamu enak, menyandang gelar duda bukanlah sesuatu yang tabu di negara ini. Apalagi, setelah denganku, kamu juga masih punya Kak Alysa yang mau menerimamu apa adanya. Tapi bagaimana denganku? Selamanya aku akan menyandang gelar sebagai janda.” “Baca sampai bawah! Aku juga akan memberikanmu kompensasi berupa tiga puluh persen dari kekayaanku. Jika dihitung, itu akan melebihi total kekayaan keluargamu sendiri. Kamu tidak akan rugi dengan kompensasi sebesar itu,” desak Gama. Gladys bangkit berdiri sambil menatap jam di layar ponselnya. “Waktu sepuluh menit sudah habis. Dan keputusanku tetap sama. Aku tidak akan menikah dengan Kakak, dan aku akan mencari cara untuk tetap membatalkannya.” Gladys beranjak pergi. Ia menuju ke pintu yang ia lewati saat ia masuk tadi. Namun, ketika tangannya terangkat untuk menyentuh pegangan pintu itu, suara Gama berhasil menghentikan langkahnya. “Jadi, kamu memilih untuk tidak patuh pada amanah terakhir nenekmu? Bukankah kamu juga tahu kalau ini adalah wasiat yang dia tinggalkan?” Tangan Gladys bergetar seketika. Jika sudah membawa serta neneknya dalam sebuah percakapan, maka dirinya tidak akan bisa menahan diri untuk meluapkan rasa sesal dan amarahnya karena tidak bisa berada di detik-detik terakhir wanita yang sangat ia sayangi itu. “Kalau perjodohan ini gagal, aku tidak akan sudi untuk jatuh seorang diri, Gladys. Jika sampai orang tuaku benar-benar melakukan ancaman mereka, maka bisa aku pastikan, perusahaan keluargamu juga akan aku buat lebih dulu jatuh sebelum itu,” lanjut Gama. Gladys tersentak. Ia kembali memutar tubuhnya ke arah lelaki itu. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Dadanya bergerak naik-turun tak beraturan karena amarah yang meledak dalam jiwanya. “Barusan Kakak mengancamku?” Apakah Gladys tidak salah dengar? Bukankah pria yang ada di hadapannya itu adalah seseorang yang dulu pernah merebut hatinya karena kebaikannya? Bukankah sosok itu yang dulunya sering membantunya secara kebetulan? Bukankah dia yang selalu menjadi standar bagi Gladys atas semua hal yang ada pada dirinya? “Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan apapun yang memang seharusnya menjadi milikku. Termasuk itu menghancurkan orang lain sekali pun,” jawab Gama tanpa gentar. Kedua kaki Gladys bergetar. Ia seolah tidak dapat menahan berat tubuhnya lebih lama lagi. Ini adalah perasaan kecewa yang paling besar yang ia rasakan selama dua puluh tiga tahun ia hidup di dunia. Dan itu semua, berasal dari seseorang yang begitu dalam masuk ke hatinya sejak tujuh tahun yang lalu. Ponsel Gladys bergetar. Tertera nama adiknya di sana. Ia menatap Gama satu kali lagi, sebelum memutuskan untuk mengangkat panggilan dari adik tertuanya itu. “Kakak ada di tempat Kak Gama. Kamu tenang aja, Kakak akan pulang kalau memang kami sudah selesai bicara,” kata Gladys pada adik kebanggaannya itu. “Apa semua baik-baik saja?” Gladys memaksakan senyumnya. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. Ia tahu, Galen memang memiliki insting yang sangat kuat jika sudah berhubungan dengan saudara-saudaranya. Dan pemuda itu pasti sedang menghawatirkan Gladys yang ditarik pergi secara kasar oleh calon suaminya di depan matanya tadi. “Baik, kok. Kami masih membicarakan rencana untuk ke depannya. Kami perlu banyak bicara, karena ini juga bukan keputusan yang sederhana buat Kakak.” hening. Galen seolah tidak dapat langsung mempercayai ucapan kakaknya dan sedang memikirkan kalimat lain yang harus ia katakan. “Kakak nggak papa, Galen. Kak Gama nanti yang bakal ngembaliin Kakak ke rumah. Sekalian Kak Galen juga mau ngobrol lagi sama Mama dan Papa. Udah, kamu fokus belajar aja, sana! Besok Senin, kan? Kamu ada kuis jam pertama,” ucap Gladys berusaha menenangkan adiknya. Setelah itu, ia memutuskan sambungan telepon. Kini, tatapan Gladys kembali fokus tertuju pada Gama yang tampak menantikan keputusannya. Gladys sadar, ia tidak punya pilihan lain. Ucapan Gama bukanlah ancaman belaka. Mengingat kekuasaan Keluarga Mahawira, tampak sangat mudah bagi seorang Ergama Mahawira untuk menghancurkan perusahaan lainnya. “Oke. Aku setuju untuk menikah dengan Kakak. Tapi, setelah ini Kakak yang harus menjelaskan pada orang tuaku, karena aku nggak mau membohongi mereka dengan mulutku sendiri,” putus Gladys pada akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD